1. Night With You

1525 Kata
Terdengar suara lenguhan saling bersahutan di dalam ruangan dengan ukuran 4x5 dengan nuansa putih berpadu cokelat tersebut. Terlihat seprai yang berantakan menandakan jika sang penghuni kamar telah melakukan aktivitas malam yang penuh hasrat. Saling mencumbu dan memuja untuk saling memberikan kepuasan. Tak lama suara lenguhan panjang tanda puncak kenikmatan telah diraih oleh sepasang pria dan wanita tanpa ikatan tersebut. "Kapan aku bisa menemui kedua orang tua kamu Sayang?" ujar pria itu seraya menetralisir degup jantungnya yang masih memburu setelah percintaan panas mereka yang baru saja usai. "Untuk apa?" balas si wanita bernama Alicia itu sembari merebahkan kepalanya di atas d**a pria itu. Ia mainkan jari jemarinya di atas d**a bidang milik pria yang sudah menemani malam-malamnya tersebut. "Ayolah Sayang, mau sampai kapan kita seperti ini? Usiaku sebentar lagi genap 30 tahun. Usia yang tak bisa dibilang muda lagi. Aku ingin meresmikan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius!" sambung pria bernama Tony tersebut, lalu meraih jemari Alicia untuk dikecupnya. Entah sudah berapa kali Tony harus menerima penolakan setiap kali ia menawarkan sebuah pernikahan pada wanita yang telah tinggal bersamanya lebih dari 2 bulan tersebut. "Hahaha, jawabanku tetap sama Tony sayang. Aku hanya butuh pria untuk bersenang-senang, pria yang menemaniku saat kesepian, bukan seorang pria pendamping hidup," balas Alicia dengan tawa berderai. Lalu ia beranjak dari atas d**a Tony dan memakai kaos milik pria itu yang teronggok di sudut ranjang. "Mau ke mana?" Tony meraih pergelangan tangan Alicia yang hendak bangkit. Masalahnya Tony belum selesai berbicara. Dan pria itu bosan dengan sikap Alicia yang selalu menghindar setiap kali Tony ingin membicarakan tentang hubungan mereka. Alicia menoleh, "Ambil minuman dingin, aku haus Tony," kesal Alicia dengan melayangkan tatapan malas. Namun tangan kekar milik Tony masih tetap menahannya. "Biar aku saja yang mengambil. Kamu tetap di sini." Tony segera turun dari atas ranjang lalu memakai bokser miliknya, ke luar kamar mengambil air dingin untuk Alicia. Sedangkan Alicia hanya tersenyum tipis seraya memposisikan tubuhnya untuk duduk bersandar pada bantal yang ia letakkan pada kepala ranjang. Ia meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas lalu mengecek jadwal pemotretan dirinya. Alicia sangat bersyukur karena setelah kegagalan pertunangan dirinya dan Nevan menjadi tranding topic di seluruh media masa, baik media cetak maupun elektronik Indonesia ternyata hal itu tidak mempengaruhi karirnya. Justru kini banyak job dari agensi ternama yang menawarkan kerjasama padanya. Seperti malam-malam sebelumnya. Pergumulan panas itu selalu mereka lewati bersama tanpa status yang jelas. Tony memang pria b******k yang tak bisa melewatkan malam tanpa wanita di ranjangnya. Tapi bersama Alicia ia berubah, ia sudah tidak pernah menyentuh tubuh wanita mana pun. Dan itu tanpa disadarinya. Tony tidak pernah dan tidak ingin tahu apa itu artinya cinta? Melihat perubahan drastis sikap aneh Nevan pada Hannah sekretarisnya di kantor setiap hari saja sudah membuat Tony muak. Nevan yang dengan mati-matian ingin mendapatkan cinta Hannah hingga rela menukar kehormatan keluarganya sudah cukup menjadi bukti bagi Tony jika cinta begitu memalukan. Tapi kini ia sendiri seperti pria penghibur bagi wanita kesepian layaknya seorang gigolo. Hubungan dirinya dan Alicia hanya sebatas suka sama suka. Tak ada status pacar, kekasih, ataupun suami istri. Semua mengalir begitu saja mengikuti arus hingga akhirnya perasaan jenuh menghampiri hati Tony. "Aku ingin kita menikah, cepat atau lambat kehadiran janin dalam rahimmu pasti terjadi karena selama kita bersama aku tidak pernah memakai pengaman. Dan aku tidak ingin anak kita lahir di luar pernikahan," jujur Tony mengungkapkan kegelisahan yang ia rasakan akhir-akhir ini. Seminggu yang lalu kedua orang tua Tony kembali mengungkapkan keinginan mereka agar Tony segera menikah. Selain itu mereka juga menyuruh Tony untuk meninggalkan pekerjaannya di Setiadi Company dan membantu usaha minimarket kedua orang tuanya yang semakin berkembang pesat. Alicia tak acuh. Wanita itu menerima segelas air dingin dari tangan Tony lalu meneguknya hingga habis. Lantas mengalungkan tangannya ke belakang kepala Tony hingga tubuh pria itu sedikit condong. Alicia mengecup bibir Tony sekilas lalu mengulas senyuman. "Ayolah Tony, di sini tidak ada yang dirugikan. Kita sama-sama suka dan enjoy. Lalu apalagi yang kamu khawatirkan? Aku hamil?" ucap Alicia dengan santai tanpa melepaskan tatapan matanya ke dalam mata pria di hadapannya. Tanpa Alicia duga pria itu mengurai kedua tangan Alicia yang masih melingkar di lehernya secara paksa. Tatapan tajam Tony sempat membuat Alicia bergidik ngeri. Tapi bukannya merasa takut Alicia justru semakin gencar ingin menggoda lelakinya. Wanita itu sadar, mungkin Tony sedang berada dibatas kesabaran karena harus selalu mengalah menghadapi sikap egoisnya. "Apa kamu yakin jika kita menikah kita akan hidup bahagia? Lalu benarkah kamu mencintaiku?" balas Alicia dengan sarkas. Ucapan Alicia itulah yang selalu berhasil membungkam bibir Tony. Tampak rahang Tony mengeras, tatapan pria itu kian meredup seiring rasa keputusasaan yang mulai menyergap hatinya. Tony bangkit. Terdengar hembusan napas kasar lolos dari bibir pria itu seraya naik ke atas ranjang. Ia menarik selimut lalu memejamkan mata dengan posisi memunggungi Alicia. Sedangkan Alicia tetap bersikap santai seperti biasa. Wanita itu merebahkan tubuhnya di sisi Tony lalu memeluk pria itu dari belakang dengan erat. Menghidu aroma maskulin yang selama ini selalu berhasil memberikan kenyamanan baginya hingga mereka terlelap dalam buai mimpi. Tony mengerjapkan mata secara berulang kala bias mentari mengintip dari sela gorden di kamarnya. Dari celah itulah pertanda mentari telah merangkak naik. Setelah perdebatan kecil antara dirinya dan Alicia semalam Tony begitu gelisah. Lantas setelah memastikan Alicia terlelap ia bangun dan menghabiskan malam dengan duduk merenung, meresapi waktu yang sudah ia lalui hampir 30 tahun di balkon kamar. Membiarkan malam menemani keresahannya. Membebaskan semilir angin bercengkerama dengan keraguan yang masih juga terendap di dasar hatinya. Tony memang tak bisa memberi jawaban atas pertanyaan Alicia yang menyudutkan dirinya semalam karena ia sendiri masih dalam keraguan. Tapi sekuat dan sebisa mungkin Tony akan berusaha membahagiakan Alicia dan menjadikan satu-satunya wanita di sisa hidupnya jika mereka menikah kelak. Ia singkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tony ke luar dari kamar dengan mengenakan setelan celana pendek berpadu T-sirt berwarna biru terang. Warna yang semakin membuat pria itu terlihat tampan dan segar karena kontras dengan kulit putihnya. Suara spatula yang tengah beradu dengan penggorengan tertangkap indera pendengaran Tony yang seketika menunjukkan langkah kakinya menuju orang yang tengah dicarinya. Senyuman terkembang saat melihat Alicia tengah serius memasak sarapan untuk mereka, hal yang jarang sekali Alicia lakukan. Tony berdiri di ambang pintu lalu bersandar dengan kedua tangan bersidekap, menyaksikan koki seksi si hadapannya. Alicia tetap terlihat cantik meskipun hanya mengenakan kaos milik Tony yang tampak kebesaran dengan rambut terikat asal, tampak sebagian anak rambut mencuat dari ikatan yang justru menambah keseksian wanita itu. Merasa diperhatikan Alicia menoleh ke arah pintu, "Good morning Baby, " sapa wanita itu dengan senyuman lembut. "Masak apa?" balas Tony seraya melangkah mendekati Alicia. Kedua tangan Tony menyusup di antara tangan Alicia. Memeluknya erat. Lantas mendaratkan dagunya di atas bahu Alicia dengan nyaman. Aroma lembut nan manis yang menguar dari tubuh Alicia membuat Tony semakin ingin memiliki wanita itu seutuhnya. Aroma yang selalu membuat dirinya candu dan ingin selalu menghidunya sepanjang waktu. "Hanya membuat nasi goreng," jawab Alicia seraya memiringkan wajahnya untuk memberikan kecupan manis di pipi Tony. "Jangan memintaku untuk mengingatkanmu jika aku memang tidak bisa memasak selain ini." Tawa Alicia berderai seiring tangannya yang terlihat mematikan api kompor. Tanpa merasa terganggu Alicia menuangkan nasi goreng buatannya ke dalam piring yang tadi sudah ia siapkan. "Apa hari ini kita perlu refresing ke luar? Atau di apartemen saja? Sepertinya menghabiskan waktu di kamar bersamamu sepanjang waktu tidak akan pernah membosankan bagiku," rayu Tony yang hanya disambut tawa renyah Alicia. Dengan terpaksa Tony mengurai pelukan dari tubuh ramping di hadapannya. Tony memang berniat menghabiskan hari Minggu bersama Alicia selagi bosnya membebastugaskan dirinya. Nevan sang bos tengah sibuk berkencan dengan kekasihnya, Hannah. Seperti biasa rayuan manis Tony selalu berhasil membuat hati Alicia berdesir. Namun, Alicia selalu menolak hatinya untuk mengakui jika hanya Tony lah pria yang selalu mampu membuatnya terbang melayang. Bersama Tony ia merasa menjadi wanita paling istimewa, ucapan dan perilaku manis dari pria itu membuatnya merasa selalu diinginkan. Terutama ketika mereka tengah bercinta, seolah hanya Alicia lah satu-satunya wanita tercantik di dunia. Pria itu selalu memuja dirinya setiap kali bersama. Meskipun begitu Alicia tidak pernah menginginkan komitmen apapun dari pria itu. Apalagi untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Tidak akan. Ia hanya membutuhkan teman. Tepatnya teman bicara dan berbagi ranjang. Sejak percintaan mereka untuk yang kedua kalinya Alicia seolah tertarik ke dalam pesona Tony. Pria itu begitu lihai memanjakan dirinya di atas ranjang hingga membuat Alicia yang awalnya menolak seks bebas kini malah terjerumus dalam kenikmatan yang tak pernah membosankan tersebut. Alicia sadar apa yang ia lakukan adalah dosa besar, tapi siapa lagi pria yang bisa memperlakukan dirinya dengan sangat baik selain pria yang kini tengah tinggal bersama dengan dirinya. Apalagi melihat rekan sesama model yang justru hobi bergonta-ganti pasangan membuat Alicia semakin membenarkan perbuatannya bersama Tony. "Sepertinya aku perlu berbelanja kebutuhan kita sehari-hari. Emmm... sekalian berbelanja dress untuk acara fashion week Minggu depan," balas Alicia yang kini telah duduk di kursi sebelah Tony. "Ok, terserah kamu," balas Tony singkat lalu menyesap kopi yang sedari tadi ia abaikan. Uap panasnya pun sudah mulai memudar pertanda jika kopi itu sudah terlalu lama di atas meja. Seperti dirinya, perasaan jemu perlahan menyerap kebahagiaan semu yang berlandaskan nafsu belaka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN