Mendengar suara Dita, Julia terpekik kaget. Tanpa sadar, Julia memelototi Dita, namun tak lama ia tersadar hingga ia kembali menunduk.
"Ma-maaf, Kak!" ucap Julia terbata. Ia meremas tangannya gugup saat Dita maju ke arahnya.
Dita memandang Julia dengan sinis, ia bersidekap kemudian maju ke arah Julia. "Apa kau tau, sehina apa kau sekarang," ucap Dita. Ia menekankan setiap kalimat, hingga ucapannya langsung menusuk ke jantung Julia, hingga sepertinya, Julia tak bisa bernapas
"Kalian bagai iblis. Tak mempunyai nurani," ucap Dita lagi, membuat mata Julia semakin memerah. Jika saja Dita bukan kaka iparnya. Sudah pasti, ia sudah menghajar Dita.
Dita menghela napas, lalu ia menelisik dari bawah sampai atas, kemudian berdecih sinis. "Kau tau apa yang paling keluarga kami benci?" Tanya Dita ia kembali menekankan suaranya, agar Julia mengerti.
"Keluarga kami, tak pernah memandang semuanya dari harta. Tapi, kami paling benci orang sepertimu dan seperti Albi ... Kau pikir, setelah masuk di keluarga kami, kau akan menikmati harta kami ... Jangan bermpi!" Setelah mengatakan itu, Dita pun memutar gagang pintu dan berniat masuk.
Namun, ia kembali menghentikan langkahnya dan kembali memandang Julia. "Jangan pernah menyentuh barang-barang Iren. Atau aku akan mematahkan tanganmu!" seru Dita, setelah itu ia pun masuk.
Mata Julia mengenang, ia terisak. Marah, sedih merasa terhina, semua menjadi satu. Saat dia mengangkat kepalanya dan berniat pergi , di depannya sudah ada Khaila yang rupanya ingin ikut melihat sang Bunda, ia sengaja berhenti di depan Julia untuk berbicara pada wanita yang sekarang ini menjadi kaka iparnya.
"Kau masih muda, kau masih sanggup bekerja dengan halal. Tapi, kau malah merebut dan memoroti suami orang ... Sungguh menjijikan!" Ujar Khaila, ia memandang remeh pada Julia, setelah mengatakan itu, ia pun masuk untuk melihat sang Bunda.
Julia rasanya tak sanggup bernapas, ia harus menerima hinaan dari seluruh keluarga suaminya. Tapi ia tak bisa mundur. Dalam pikirannya, ia harus membuat sang suami bekerja keras untuk memenuhi semua keinginannya.
•••
Iren meninggalkan rumah mantan suaminya dengan perasaan berkecamuk. Ada rasa sedih, senang, lega dan perasaan tak rela. Selama setahun ini, rumah mantan suaminya yang memberikan tempat untuk pulang. Tempat untuknya bersembunyi dari kenyataan yang sangat menyakitkan.
Saat berada di mobil, Iren menyenderkan kepalanya ke jendela, ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi ia tak bisa, ada Nio di sampingnya sedang menyetir. Alhasil ia hanya bisa terisak.
Sedangkan Nio sama sekali bergeming. Ia tetap datar dan melihat ke arah depan, seolah dia tak perduli pada wanita yang kini menjadi istrinya. Padahal nyatanya ...
••••
Iren melihat kesana kemari, keningnya mengkerut bingung saat melihat ia berada di sebuah basement, ia pun langsung melirik ke arah Nio. "Kenapa kau membawaku kemari!" Seru Iren sambil melotot galak. Entahlah, rasa benci masih menjalar ke d**a Iren saat melihat Nio. Bayang-bayang Nio saat menyebutnya p*****r dan memarahinya di depan semua staff masih melekat jelas di otaknya.Terkadang, ia merasa sesak saat melihat Nio.
Mendengar ucapan Iren, Nio menoleh. "Kau bisa pulang sendiri atau kau bisa pergi kemana pun kau mau," jawab Nio dengan datarnya. Membuat Iren menghela napas kasar.
Ia pun mendahului Nio dan turun dari mobil. Ia menggeram kesal saat ternyata pintu lorong sudah tertutup otomatis. Ia pun kembali berbalik untuk menghampiri Nio dan meminta Nio untuk membukakan pintu lorong
"Buka! Aku ingin keluar dari sini!" seru Iren saat Nio sudah keluar dari mobil.
Seperti biasa, Nio menatap Iren dengan datar. Lalu memasukan kedua tangan ke celananya. "Pintu itu akan terbuka jika mobilku masuk atau keluar. Jadi jika kau mau keluar, mungkin kau harus menunggu aku keluar nanti sore," jawab Nio acuh. Ia berbalik dan meninggalkan Iren yang kesal setengah mati.
Saat berjalan, Nio menarik sudut bibir, ia tersenyum samar saat mendengar suara derap langkah yang mengikutinya, dan tak perlu melihat lagi, ia tau ... bahwa istrinyalah yang mengikutinya.
Saat sampai di ruangannya. Nio langsung melepas jasnya dan langsung berjalan ke arah meja, sedangkan Iren langsung mendudukan dirinya di sofa. Ia tak punya pilihan, selain mengikuti lelaki yang kini menjadi suaminya.
Iren mengadahkan kepalanya kebelakang, ia menatap langit-langit. Tak di pungkiri, Iren merasa ada yang hilang dari dirinya. Bulir bening langsung terjatuh di kedua matanya saat meningat apa yang terjadi di hidupnya. Tak lama, Iren tersadar saat ponselnya berdering, ada satu pesan masuk kedalam ponselnya dan ternyata Albi lah yang mengiriminya pesan.
Iren tersenyum getir saat melihat nama kontak Albi yang ia beri nama my husband dan ia belum sempat mengganti nama kontak Albi di ponselnya. Dulu ia selalu berharap nama kontak suaminya muncul di layar ponselnya sekedar mengiriminya pesan atau menjawab pesannya.
Sebelum membuka pesan dari Albi, Iren menghela napasnya, menguatkan hatinya. Tak di pungkiri, mengingat nama Albi, hatinya masih berdesir.
["Iren, maafkan aku ... Ampuni aku! bisakah kau beri kesempatan untukku"] tulis Albi dalam pesannya. Membuat Iren kembali tersenyum getir. Dulu, Iren sangat ingin dan berharap Albi mengiriminya pesan seperti ini. Tapi sekarang, ia sungguh muak.
Iren tampak berpikir, ia rasa ... Ia harus bertemu Albi, bukan untuk memberi Albi kesempatan. Tapi untuk mengembalikan kartu-kartu yang di berikan oleh Albi.
["Temui aku di restoran xxx besok"] Balas Iren. Setelah itu, ia masuk ke daftar kontak dan mengganti nama kontak Albi. Sebenarnya ia ingin mengembalikannya saat tadi. Namun, karena da kedua mertuanya dan kondisi tak memungkinkan untuk Iren berbicara dengan Albi. Iren pun harus menegaskan bahwa ia tak akan memberi Albi kesempatan kedua dan meminta Albi untuk tak mengangunya.
Nio yang sedang duduk di mejanya diam-diam memerhatikan gerak gerik Iren. Entah kenapa feelingnya mengatakan bahwa Iren baru saja menerima pesan dari Albi, apalagi melihat ekpresi Iren.
Tak lama, telpon di sebelahnya berbunyi. Nio pun mengangkat gagang telpon dan menaruhnya di telinganya
"Suruh mereka masuk!" titah Nio saat sekretarisnya mengabarkan ada yang ingin bertemu dengannya.
Tak lama, pintu terbuka dan Iren pun menoleh ke arah pintu. Dua orang masuk dengan menunduk, membuat kening Iren mengernyit.
Saat melihat kedua orang itu masuk, Nio bangkit dari duduknya sambil membawa iPad miliknya. "Silahkan duduk!" ucap Nio pada kedua orang itu. Nio pun langsung mendudukan dirinya di sebelah Iren.
Saat kedua orang itu duduk, mata Iren melebar, ia menutup mulut saat mengetahui siapa yang duduk di depannya. Pasangan yang dulu menjebaknya di hotel.
"Kalian!" bentak Iren. Tiba-tiba, Iren meradang. Ia emosi saat melihat kedua orang tersebut. Baru saja ia bangkit, ia harus kembali duduk kala Nio menarik lagi tangannya, membuat Iren langsung menatap tajam pada Nio.
"Silahkan katakan apa yang kalian ingin katakan!" ucap Nio pada kedua orang di depannya. Ia menyenderkan tubuhnya kebelakang, lalu meyilangkan kakinya, kemudian kepalanya menunduk karena melihat iPad di tangannya.
"Maafkan Kami Bu Iren" ucap si perempuan yang dulu memukuli Iren saat di hotel dan berteriak memanggil Iren sebagai p*****r Wanita itu menunduk, tak berani menatap Iren.
"Apa kalian tau, akibat yang harus istri saya tanggung gara-gara tingkah kalian," ucap Nio. Ia masih tetap dalam posisinya yang sedang menunduk melihat iPad di tangannya.
Iren menghapus air matanya, lalu menatap kedua orang di depannya dengan tatapan nyalang. "Kita tak saling mengenal. Tak mungkin kalian datang tiba-tiba ke hotel. Pasti ada yang menyuruh kalian, siapa yang menyuruh kalian?" tanya Iren dengan bibir bergetar.
"Pak Albi, yang memerintahkan kami, Bu!"
Deg
Iren terdiam. Ucapan orang di depannya seperti melempar batu ke tubuhnya hingga ia merasa tubuhnya terasa sakit. Walaupun sudah lama berlalu, dan ia sudah berpisah dengan Albi. Tapi mendengar Albi dalang dari semuanya, membuat Iren kembali di dera rasa sakit yang luar biasa hebat
Iren menutup wajahnya, ia menangis. Merutuki dirinya sendiri yang membuang waktu karena mencintai lelaki seperti Albi yang tak jauh beda dengan seorang monster.
Melihat reaksi Iren. Nio menegakan duduknya. Ia menyimpan IPad yang di pegangnya ke meja. Lalu menatap kedua orang itu dengan tatapan tajam.
"Silahkan kalian keluar. Sekretaris saya akan menuntun kalian untuk melakukan wawancara dan berikan klarifikasi sedetail detailnya dan bersihkan nama istri saya," ucap Nio menekankan setiap kalimat yang ia ucapkan, membuat kedua orang itu bergidik dan langsung menunduk, menghindari tatapannya. Masih dengan jelas di ingatan kedua orang itu saat Nio berhasil menemukan keberadaan mereka.
Nio menghela napas saat melihat Iren masih menutup wajahnya sambil menangis. Tangannya tergerak untuk merangkul Iren. Namun, belum ia menyentuh bahu Iren. Ia menghentikan gerakannya dan lebih memilih bangkit dari duduknya dan kembali ke mejanya, meninggalkan Iren yang sedang terisak. Ini belum saatnya ... Begitulan pikirnya ...
Saat duduk, Nio mengambil gagang telpon dan menelpon sekretarisnya. "Bawakan aku makanan yang tadi aku perintahkan!" ucap Nio. Tanpa mendengar lagi jawaban sekretarisnya. Nio pun langsung mematikan telponnya.
10 menit kemudian, pintu di ketuk. Iren yang masih terisak langsung mengangkat tangan dari wajahnya dan menghapus air matanya.
Mata Iren berbinar saat melihat makanan jepang kesukaannya, membuat Nio sedikit menarik sudut bibir saat melihat ekpresi Iren. Namun, tak lama ... Ia kembali datar saat saat matanya dan mata Iren saling bersibobrok.
"Apa kau pikir kau akan kenyang dengan hanya melihatnya," ucap Nio, saat Iren belum menyentuh makanannya.,
"Memangnya ini untukku?" tanya Iren dengan polosnya. Membuat Nio mengangkat bahunya acuh.
Iren menggeleng. Bukankah seharusnya lelaki yang kini jadi suaminya itu bersikap baik padanya karena telah membuat kesalahan. Tapi kenapa sikap suaminya malah seperti ini, ah entahlah. Ia pusing memikirkannya.
Ia pun mengambil sumpit lalu menyuapkan susi ke mulutnya. Iren sudah menangis sedari tadi hingga ia mengeluarkan banyak energi dan makan adalah pilihan terbaik untuk mengisi kembali energinya.
•••
Keesokan harinya.
Iren mengaduk-ngaduk gelas di depannya dengan sedotan. Ia menghela napas dan membuangnya beberapa kali, sejujurnya ia sedang berusaha mengontrol emosinya saat melihat Albi yang sepertinya akan datang sebentar lagi.
Saat ini, Iren sedang duduk di sebuah cafe untuk bertemu dengan Albi, ia berbohong pada ayahnya, karena ia tau sang ayah tak akan menginjinkan dirinya bertemu dengan Albi.
Tak lama, ia melihat Albi masuk kedalam cafe dan tersenyum padanya, membuat Iren tersenyum getir. Dulu ia sangat ingin melihat Albi tersenyum padanya. Namun sekarang ... Dia malah ingin membunuh mantan suaminya.
"Terimakasih sudah bersedia menemuiku," ucap Albi saat mendudukan dirinya di sebrang Iren. Sedangkan Iren hanya menatap Albi dengan tatapan malas.
Jantung Albi terasa di remas saat Iren menatapnya dengan tatapan datar, sungguh Ia merindukan saat Iren menatapnya dengan tatapan cinta.
Belum Iren menjawab, kursi di sebelah Iren tergeser membuat Iren menoleh ke samping. Mata Iren membulat saat melihat Nio duduk di sampingnya. Tadi saat ia ijin pada sang ayah dan berbohong tentang tujuaannya, Nio sedang mengobrol bersama sang ayah. Bahkan sang ayah menyarankan agar Nio mengantar Iren.
Namun, Iren menolak dengan alasan sudah di jemput temannya dan sang ayah pun terlihat percaya dan Nio tampak tak perduli dengan Iren. Tapi sekarang, Nio malah duduk di sampingnya bukankah berarti Nio mengikutinya.
Iren bergidik saat melihat Nio yang sepertinya sedang menahan amarah, terlihat jelas urat-urat di leher Nio menegang.
Sedangkan Albi .....