"Om!" panggil Nio pada Aryan yang sedang memberi makan ikan. Aryan menoleh kemudian tersenyum.
"Kopi, om!" ucap Nio, ia membawakan kopi untuk Aryan lalu menaruhnya di meja. Aryan pun berbalik kemudian ia duduk di kursi, hingga kini Nio dan Aryan duduk sambil melihat taman.
"Kamu masih inget om suka kopi ini?" tanya Aryan saat menyeruput kopi yang di bawa Nio. Membuat Nio tersenyum. Mana mungkin Nio melupakan semua tentang malaikat penolongnya
"Om, saya udah urus keberangkatam om. Om bisa ikut kloter pertama minggu depan," ucap Nio membuat Aryan langsung menoleh.
"Bukannya harus nunggu beberapa tahun dulu, ya?" tanya Aryan dengan nada tak percaya saat Nio mengatakan bahwa minggu depan ia berangkat. Karena setaunya, pasti harus menunggu dan melakukan proses yang lain-lain.
"Saya udah urus semua, Om. Jadi om bisa berangkat sama jamaah yang lain minggu depan," jawab Nio.
"Makasih, ya, Ar." Belum Nio menjawab, Iren datang menghampiri Aryan dan dirinya.
"Yah, Iren pamit ya. Iren mau ketemu temen Iren," pamit Iren. Seketika Nio menaik turunkan alisnya karena merasa Iren menyembunyikan sesuatu.
"Kamu pergi sendiri, Ren?" tanya Aryan, Iren pun mengangguk ragu. "Temen Iren udah jemput yah," jawab Iren.
"Oh yaudah, hati-hati," ucap Aryan.
"Iren pergi, ya, Yah," ucapnya. Setelah itu, ia pun melenggang pergi tanpa menyapa dan menegur suaminya. Membuat Aryan menggeleng.
"Maafin sikap Iren ya, Ar," kata Aryan yang merasa bersalah pada menantunya.
Nio tersenyum. "Saya ngerti, kok, Om. Kalau begitu saya masuk ya om!" pamit Nio. Aryan pun mengangguk.
Secepat kilat, Nio naik ke kamarnya. Ia mengambil jaketnya dan kembali turun kebawah. Ia tau, istrinya sedang berbohong, hingga ia memutuskan untuk mengikuti Iren, karena ia yakin Iren belum jauh.
Benar saja, saat mobilnya keluar dari gerbang, Iren baru saja menaki taxi hingga ia bisa mengikuti istrinya.
Saat Iren berhenti di sebuah Caffe, Nio sengaja menunggu di mobil. Ia bisa melihat Iren dari jendela hingga ia memutuskan untuk menunggu dan melihat siapa yang di temui oleh istrinya.
Nio mencengkram kemudi dengan keras saat melihat Albi turun dari mobil dan ia yakin, Albi akan menemui istrinya. Rahang Nio mengeras, ternyata benar dugaannya, Iren berbohong.
Tanpa menunggu lagi, Nio pun keluar dari mobil dan dengan langkah lebar, ia masuk kedalam caffe. Tanpa basa-basi, Nio menarik kursi di sebelah Iren, hingga membuat Iren terkejut.
Iren bergidik saat melihat Nio, kenapa ia merasa bahwa Nio sedang dikuasai amarah. Lalu, kenapa Nio ada sini dan kenapa Nio mengikutinya.
Sedangkan Albi tak kalah terkejutnya dengan Iren. Ia menyangka Iren datang bersama Nio, seketika rasa cemburu menjalar dalam dadanya.
Seketika suasana di meja itu menjadi tegang, Albi dan Nio saling memandang dengan tatapan yang sama-sama tajam, membuat Iren mengigit bibir dan meremas tangannya karena ketegangan yang sedang berlangsung dan seketika, Iren merasa seperti pencuri yang tertangkap karena Nio menemukannya dan menyusulnya.
Iren tersadar saat Nio menggenggam tangannya, ia sedikit meringis karena Nio menggenggam tanganya begitu kuat. Iren sungguh bingung, ada apa dengan Nio, kenapa Nio terlihat semarah ini. Bukankah hubungan mereka tak begitu baik, tapi kenapa ....
"Kau sudah selesai?" tanya Nio, ia berbicara dengan menekankan setiap kalimatnya, membuat Iren bergidik.
Ia melepaskan genggaman tangan Nio dan merogoh sakunya. Ia harus benar-benar berbicara dengan Albi dan harus berusaha mengabaikan keberadaan Nio.
"Albi, aku lupa mengembalikan ini padamu. Ini semua kartu yang selama ini kau berikan. Kuharap, ini terkhir kalinya kita bertemu," ucap Iren, membuat d**a Albi terasa sesak. Dulu, Iren selalu mengiba untuk bertemu dengannya. Tapi sekarang ....Tidak, ia tak ingin kehilangan Iren. Sudah cukup Bunga pergi dari hidupnya dan ia takan membiarkan Iren pergi.
Saat tangan Iren masih berada di meja, Secepat kilat Albi menggenggam tangan Iren. Membuat Iren membelalakan matanya. Rahang Nio mengeras, urat-urat di sekitar lehernya menonjol menandakan dia benar-benar sedang dikuasai amarah. Ia ingin sekali mengamuk dan mematahkan tangan Albi yang berani-beraninya menyentuh istrinya.
"Bisakah anda menghargai saya sebagai suaminya," ucap Nio, dengan menekankan suaranya, karena berusaha menahan amarah.
Sungguh, Iren bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ia merasa, suasana semakin mencekam. Hingga ia bingung harus berbuat bagaimana.
"Kalian menikah dengan terpaksa, jadi tak ada sal ...." Perkataan Albi terputus saat Iren menarik tangannya.
"Kami memang terpaksa. Tapi, bukan berarti kami akan berpisah," jawab Iren, membuat amarah Nio sedikit mereda. Padahal tadinya, ia akan mengamuk dan menghajar Albi.
"Tidak ... Kau pasti bercanda, kan!" seru Albi dengan tak percaya membuat Iren menggeleng, lalu bangkit dari duduknya.
"Aku harap, ini pertemuan kita yang terakhir. Jangan memanggilku atau menegurku jika kita bertemu tanpa sengaja!" ucap Iren, membuat Albi langsung terpaku. Ia tak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut Iren.
Setelah mengatakan itu, Iren pun meninggalkan meja termasuk meninggalkan Nio. Setelah Iren pergi, Nio pun bangkit dari duduknya tak lupa ia memandang Albi dengan tatapan menyala dan kemudian berdecak sinis.
•••
Saat Iren akan menyetop taxi, tangannya di tarik oleh Nio, dan secepat kilat Nio berjalan ke arah mobilnya dan membukakan pintu untuk Iren serta menutup pintu dengan keras membuat Iren terkejut setengah mati.
Saat Nio masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobilnya. Iren menyenderkan kepalanya ke mobil. Entah kenapa, ia sungguh takut melihat Nio. Ia merasa awan hitam masih menyelimuti wajah suaminya. Bahkan, saat ini, Nio mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, sesekali ... Ia menyalip dan menekan klakson jika ada mobil yang menghalanginya.
Iren menghela napas kasar, saat tau bahwa Nio membawanya ke kantor. Ia ingin protes..Tapi, ia masih belum berani menatap suaminya. Saat Nio turun dari mobil dan membanting pintu. Membuat Iren tersadar dan langsung mengikuti Nio untuk turun..
Saat Nio dan Iren sudah berada di lift, Nio tak bisa menahan diri lagi. Dengan secepat kilat, Nio berbalik dan menghimpit tubuh Iren ke sisi.
"A-apa yang kau lakukan!" teriak Iren saat Nio menghimpit tubuhnya. Ia memukul-mukul tubuh Nio dengan tangannya dan secepat kilat, Nio mengunci kedua tangan Iren.
"Kenapa kau berbohong dan menemuinya," jawab Nio dengan rahang mengeras. Ia menatap Iren dengan marah. Namun, ada tatapan lain yang ia tunjukan selain amarah.
"Memang apa urusanmu! itu hakku ... Aku bertemu dengan siapa saja kau tak berhak mengaturku!" Seru Iren sambil melotot galak pada Nio.
"Kau istriku. Dan aku tak suka kau bertemu dengan lelaki lain. Apa kau mengerti!" kata Nio dengan nada suara yang menggeram. terlihat jelas, emosinya masih di ubun-ubun.
Iren semakin bertambah bingung. Ada apa sebenarnya dengan suaminya. "Kita menikah hanya karena keadaan. Aku bisa saja mengugatmu!" seru Iren dengan berteriak. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya dari himpitan Nio.
Mendengar ucapan Iren, darah Nio mendidih. Ia semakin mencengkram tangan Iren membuat Iren meringis. Nio menggertakan giginya dan berbisik di telinga Iren. "Jangan pernah bermain-main denganku, Iren. Aku tak pernah kehilangan apa yang sudah aku dapatkan dan aku juga tak akan membiarkanmu bertindak semaumu. Kau miliku! ingat itu!" ucap Nio dengan menakankan suaranya agar Iren sadar, bahwa ia tak bisa lari dari Nio.
Kekesalan Iren sudah di ubun-ubun saat mendengar ucapan Nio. Kenapa sekarang Nio begitu menyeramkan. Sekuat tenaga, Iren berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Nio, hingga akhirnya tangannya terlepas. Lalu, secepat kilat, ia menampar pipi Nio dengan keras hingga suara tamparan itu begitu nyaring.
"Aku bukan benda dan aku juga bukan milikmu sialan!" seru Iren, mendengar Iren menyebutnya dengan kata sialan. Emosi Nio kembali bangkit. Ia kembali menghimpit tubuh Iren dan mencekal tangan Iren lebih kencang dari sebelumnya.
"Perlukah kubuat kau menjadi miliku," ucap Nio dengan menyeringai membuat Iren bergidik. Belum Iren melawan, Nio kembali menarik tangan Iren, keluar dari lift dan menghempaskan tubuh Iren ke sofa dan langsung memencet tombol di ujung sofa, hingga sofa itu bergerak dan melebar dengan sendirinya.
"Ka-kau, mau apa?" tanya Iren terbata-bata. saat Nio membuka jaketnya. "Menjadikanmu milikku," jawab Nio.
Saat Iren akan bangkit dari sofa, Nio langsung naik ke sofa dan mengunci kaki Iren dengan kakinya. Kemudian ia menindih tubuh Iren dan kembali mengunci tangan Iren.
"Kau mau apa!" kali ini Iren berteriak. Ia meronta karena takut oleh Nio.
"Bukankah sudah kubilang. Aku akan menjadikanmu milikku!" ucap Nio, membuat Iren di landa kepanikan. Apalagi ia merasakan bahwa salah satu bagian tubuh Nio menegang.
"Lepaskan aku b******n!" teriak Iren, membuat Nio semakin menggila. Secepat kilat, ia mencium bibir Iren dengan paksa, sedangkan Iren terus meronta. Air mata tergelincir dari pelupuk mata Iren saat Nio menciumnya secara paksa dan brutal.
Setelah ia mencium bibir Iren. Ia beralih mencium leher Iren. Saat ciumannya akan turun lebih ke bawah Nio menghentikan gerakannya karena menyadari bahwa Iren tak lagi meronta. Lalu, tak lama ... ia merasa bahwa tubuh Iren bergetar. Dengan cepat, ia bangkit dari tubuh Iren dan langsung melihat Iren.
Nio tersadar saat melihat Iren yang sedang menangis sambil memejamkan matanya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena hilang akal akibat cemburu hingga ia melukai dan menyakiti Iren. Ia mengusap wajah kasar saat melihat pakaian Iren yang acak-acakan karena ulahnya, bahkan hijab Iren pun hampir terlepas.
Nio kembali memakai jaketnya. Ia meringis saat melihat kedua tangan Iren yang memerah karena ulahnya.
"Iren ... Iren!" panggil Nio. Ia mendudukan dirinya dan mengelus wajah Iren, membuat Iren membuka matanya. Mata Iren tampak kosong, bagai seseorang yang kehilangan nyawanya.
Nio pun membangunkan tubuh Iren. Lalu membenahi pakaian Iren. Sedangkan Iren masih menatap kebawah dengan pandangan kosong."Ayo kita pulang!" ajak Nio, Ia menarik lembut tangan Iren, sedangkan Iren masih bergeming ia berjalan seperti mayat hidup.
Saat menyetir, Nio berkali-kali melirik ke arah Iren. Ia kembali mengutuk dirinya saat melihat Iren masih melamun.
Saat sampai di rumah. Nio dengan cepat turun dan membukakan pintu mobil untuk Iren dan melepaskan sabuk pengamannya, karena Iren masih terdiam dan menatap kedepan dengan tatapan kosong seperti orang linglung.
Saat sampai di kamar, barulah Iren bereaksi. Iren melepaskan genggaman tangannya dan dengan langkah pelan Iren berjalan ke arah ranjang dan menaikinya. Ia berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Nio mengusap wajah kasar saat melihat tubuh Iren bergetar di balik selimut. ia juga bisa mendengar bahwa Iren sedang terisak.
Dengan pelan, Ia pun maju ke arah ranjang dan mendudukan dirinya di sebelah Iren.
"Iren!" panggil Nio. Namun, Iren bergeming.
Dengan pelan, Nio menarik selimut Iren, dan mengelus pipi Iren. Membuat tubuh Iren semakin bergetar.
"Ja-jangan sakiti a-aku. A-aku berjanji takan membuatmu marah lagi," ucap Iren. Ia bahkan tak berani menatap Nio. Saat ini, ia merasa benar-benar hancur. Luka dan Traumya karna Albi belum hilang dan sekarang, ia harus menerima perlakuan tak menyenangkan dari Nio.
Jantung Nio serasa di tusuk ribuan jarum saat mendengar ucapan Iren, sesak menghimpit dadanya kala ia mendengar ucapan Iren yang takut padanya.
"Maafkan aku, Iren!" ucap Nio. "Istirahatlah!" sambung Nio lagi. ia mengelus rambut Iren kemudian bangkit dari duduknya.
2 jam kemudian.
Setelah puas merenung di ruangan pribadinya. Nio pun kembali ke atas untuk melihat Iren. Dan ternyata, Iren masih di posisinya yang semula. Dengan pelan, Nio pun melangkahkan kakinya dengan pelan. Tak lupa ia membawa kotak obat di tangannya untuk mengobati tangan Iren yang memar karena ulahnya.
Dengan pelan, Nio menarik selimut dan mengobati tangan Iren..Tak lama, ia terisak saat melihat tangan Iren yang memar karena ulahnya. Ia tak menyangka bahwa ia akan hilang kontrol hanya karena cemburu dan mengakibatkan Iren takut padanya.
Setelah selesai, Nio pun kembali menaikan selimut Iren. Lalu mencium kening Iren dan kemudian bangkit dari duduknya.
Tepat saat Nio pergi, Iren membuka matanya. Di tengah rasa yang berkecamuk dalam d**a. Iren di buat heran dengan tingkah suaminya. Di sisi lain, Iren merasa Nio menyebalkan dan membuatnya takut. Tapi di sisi lain, ia merasa bahwa Nio seperti mencintainya.
Saat Nio keluar dari kamar, tiba-tiba, Abdan lansung datang dan tanpa aba-aba ia mencengkram kerah baju Nio lalu. Menyudutkan Nio ke dinding. Terlihat jelas tatapan Adnan berapi-api.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Nio.
"Apa ini caramu memerlakukan istrimu!" seru Adnan yang rupanya melihat apa yang di lakukan kakanya pada Iren, ia tak sengaja melihatnya lewat cctv yang terhubung ke ponselnya.
"Bukan urusanmu!" jawab Nio sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Adnan.
"Kau sudah mencarinya selama 15 tahun dan sampai sekarang, kau masih mencintainya bukan! apa kau ingin dia meninggalkanmu, Hah!" bentak Adnan dengan suara yang keras.
Mata Nio membulat saat mendengar ucapan Adnan. Ia langsung menyeret tubuh adiknya karena ia takut Iren akan mendengar pembicaraan mereka. Apalagi pintu kamar tak tertutup dengan rapat.
"Tutup mulutmu!" seru Nio pada Adnan. Lalu tak lama Adnan menyeringai dan mengatakan hal yang membuat tubuh Nio membeku.
Adnan mengatakan ....