"Apa maksudmu?" Nio melotot galak pada Adnan saat mendengar ucapan Adnan. Dengan cepat, Nio memegang kerah Adnan lalu menyudutkan Adnan ke tembok. Membuat seringai Adnan semakin lebar.
"Bukankah sudah jelas. Aku juga mencintai Iren! Sejak dulu." Adnan menjeda ucapannya lalu menelisik dan melihat wajah Nio. "Jadi, jika kau memerlakukannya dengan buruk. Aku akan merebutnya darimu. Tak perduli kau adalah kakaku!" seru Adnan, membuat napas Nio semakin memburu, terlihat jelas rahangnya mengeras.
"Jangan bermimpi! Dia miliku!" jawab Nio dengan memggertakan giginya, setelah itu, ia pun menghempaskan tubuh Adnan lalu meninggalkan Adnan.
Saat Nio sudah pergi meninggalkannya. Adnan menggeleng kemudian tersenyum. Usaha memprovokasi kakanya berhasil.
Ya, Adnan memang sengaja memancing Nio. Ia sama sekali tak menyukai Iren, atau mencintai Iren. Ia hanya memancing kakanya agar bisa lebih menunjukan cintanya pada Iren.
Adnan tau, bagaimana watak sang kaka. Ia bahkan bisa menjamin bahwa sang kaka takan pernah menyatakan cintanya pada Iren. Nio adalah tipe lelaki yang cukup tertutup dan tak banyak bicara. Terkadang, ia hanya menunjukan apa yang ia rasakan lewat tindakannya. Walaupun tindakannya juga terkadang sangat melenceng.
Ia mengerti dengan sikap sang kaka. Terlalu banyak kesakitan yang Nio tanggung di masa kecil. Bahkan, jika Adnan tak memaksa, Nio tak pernah menginjinkan Adnan untuk ikut bekerja dan mencari uang Tapi, karena Adnan memaksa, akhirnya mereka mencari uang bersama-sama dari mereka kecil hingga sekarang. Saat kecil hingga sebelum mereka sukses, Nio juga sering menahan lapar, yang terpenting, Adnan bisa makan dan kenyang.
Dan sekarang, ia ingin menyatukan kakanya dan Iren, 15 tahun berlalu. Adnan tau betul bagaimana kerja kerasa sang kaka mencari Iren dan ayahnya. Dan saat semua sudah berjalan sesuai keinginan kakanya. Adnan takan membiarkan sang kaka kehilangan apa yang selama ini di carinya.
Kakanya sudah terlalu lama hidup dalam kesepian dan jika ia harus di benci oleh Nio karena berpura-pura mencintai Iren, ia tak keberatan. fokusnya adalah menyatukan Iren dan kakanya.
•••
Nio menatap langit-langit ruang kerjanya. Ini sudah 3 jam ia merenung. Pikirannya melayang memikirkan ucapan Adnan. Ya, walau sudah 15 tahun berlalu Nio masih mencintai Iren. 15 tahun berlalu, ia takan pernah melupakan saat pertama kali ia melihat Iren.
Saat ia dan Adnan dibawa oleh Aryan ke rumahnya. Iren tersenyum hangat menyapa mereka. Tanpa jijik iIren remaja menjabat tangan Nio dan Adnan yang jelas-jelas sedang dalam kondisi kotor karena sehabis mengerjakan kerja serabutan.
Mereka tak tau bahwa Aryan akan menjemput mereka secepat itu hingga mereka tak sempat berganti pakaian. Dan tanpa rasa risih, Iren memerlakukan Nio dan Adnan bagai keluarga.
Senyuman Iren begitu memikat Nio. Tapi Nio cukup sadar diri, ia kerap menjauh dari Iren ketika Iren mengajaknya makan bersama atau melakukan aktivitas lain.
Dan saat Nio kuliah, dan pindah keluar kota ... Ia tak bisa melupakan bayang-bayang Iren. Dan akhirnya, ia menyadari hatinya telah terpaut pada seorang Isabela Iren Giani..Gadis yang tersenyum manis padanya padahal dia dan adiknya begitu kotor dan dekil.
Bahkan saat ia sukses dan kehilangan jejak Iren dan Aryan. Rasa untuk Iren tak berkurang. Banyak yang mendekati Nio setelah Nio sukses. Tapi, Nio sama sekali tak terpengaruh. Hatinya, masih tetap milik Iren.
Trauma masa lalu karena ibu dan ayahnya yang meninggalkannya dan Adnan karena menikah dengan orang lain dan faktor ekonomi membuat Nio trauma.
Ia enggan membuka hati, karena takut wanita yang di mendekatinya hanya mengejar hartanya dan tak benar-benar mencintainya. Dan karena Iren adalah wanita yang pertama kali tersenyum padanya saat dia masih dalam keadaan di bawah, maka ia hanya yakin, bahwa Iren lah yang akan tulus padanya.
Dan setelah 15 tahun berlalu, dan ia berhasil menemukan Iren. Ia tak menyianyiakan kesempatan. Karena pada nyatanya, saat Aryan berhasil bebas dari penjara, ia lah yang meminta Aryan menikahkannya dengan Iren, dan kebetulan Aryan pun setuju dengan saran Nio.
Di pikirannya, ia hanya ingin secepatnya mengikat Iren. Ia tak perduli, Iren tak mempunyai perasaan padanya atau membencinya karena ia pernah menghina Iren. Bagi Nio, mengikat Iren adalah hal yang harus di lakukan secepatnya, urusan perasaan Iren dan kebencian Iren padanya akan ia pikirkan nanti.
Dan hari ini, ia tak menyangka akan melakukan hal yang di luar batas dan membuat Iren takut padanya. Ia benar-benar tak bisa menahan diri ketika Iren berbohong dan menemui Albi, belum lagi ucapan Adnan yang semakin membuatnya pusing.
Ya, Nia akui. Ia tak bisa dan tak terbiasa berbicara gamblang tentang apa yang dia rasakan. Hingga terkadang, ia hanya bisa menyampaikan perasaannya lewat tindakaan. Tapi sekarang, tindakannya pun malah melukai Iren dan membuat Iren takut padanya.
Dan sepertinya, ia harus mulai memberanikan diri menunjukan rasa cintanya pada Iren. Karena takut ucapan Adnan menjadi kenyataan.
Walau ia belum bisa berkata tentang perasaannya pada Iren. Namun saat ini, ia bertekad, bahwa ia akan menunjukan cinta pada Iren lewat sikapnya. Ia akan jujur tentang perasaannya saat Iren sudah percaya padanya dan sudah bisa membuaka hati untuknya.
Waktu menunjukan pukul 09.malam, sangking larutnya ia merenung, ia melupakan Iren yang entah sudah makan malam atau belum. Beruntung saat tadi mereka pulang kerumah, mereka tak berpapasang dengan Aryan hingga Nio tak perlu menjelaskan apa-apa.
•••
Nio membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan. Ia takut, Iren masih tertidur dan akan membagunkan Iren. Benar saja, posisi Iren masih sama, pertanda, Iren memang belum terbangun.
Setelah sampai di ranjang, Nio pun mendudukan dirinya di sebelah Iren. Ia kembali meringis saat melihat pergelangan tangan Iren yang berubah membiru padahal ia sudah mengoleskan obat memar. Seketika rasa bersalah kembali menelusup dalam d**a, apalagi wajah Iren terlihat sangat pucat.
Sejenak, Nio menatap Iren lekat-lekat. Walaupun Iren sudah melakukan operasi plastik, tapi ia masih tetap mencintai Iren karena walau wajah Iren berubah, hati Nio tetap berdesir saat melihat dan berdekatan dengan Iren. Ia sama sekali tak perduli dengan masa lalu Iren bersama Albi, karena baginya, Iren ada disisinya saja sudah lebih dari cukup.
Nio mengulurkan tangannya ke pipi Iren dan mengelus pipi Iren dengan lembut. "Iren!" panggil Nio dengan suara pelan. "Iren!" panggil Nio lagi, ia menangkat tangannya untuk mengelus kepala Iren yang masih terbungkus hijab.
Saat Nio mengusap kepalanya, Iren membuka matanya dan terperanjat kaget. Ia refleks memegang hijabnya.
"Ren!" panggin Nio, membuat Iren langsung tersadar. Seketika, Iren melihat ke arah Nio, kemudian ia kembali menaikan selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Karena jujur saja, ia masih takut melihat Nio.
"Kau sudah makan, hmm?" tanya Nio, membuat Iren reflek menggeleng. Jujur saja, ia masih terngiang-ngiang dengan kejadian tadi siang, hingga saat ini ia masih takut membuat Nio marah.
Ia sudah terlalu banyak beban dan trauma karena Albi, dan sekarang, ia juga trauma karena sikap suamimya, hingga Iren memutuskan untuk diam, tak banyak bicara dan alam bawah sadar Iren memerintahkan agar ia tak membuat Nio marah karena takut Nio akan bersikap seperti tadi.
Nio tersenyum, lalu mengelus pipi Iren, membuat Iren mengigit bibir bawahnya, ia ingin sekali menghindar dari sentuhan Nio. Tapi, ia sungguh takut. Nio yang mengerti ketakutan Iren langsung menjauhkan tangannya dan membuka selimut Iren.
"Ini sudah malam, sebaiknya kau mengganti pakaian agar lebih nyaman. Aku akan mengambilkan makanan untukmu," ucap Nio. Iren pun mengangguk lemah. Setelah itu, Nio pun bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar kamar untuk meminta asisten rumah tangga menyiapkan makanan untuk istrinya.
Iren pun bangkit dari berbaringnya. Saat ia akan turun dari ranjang, ia merasa pinggangnya begitu nyeri. Tentu saja karena ulah Nio yang saat tadi menghempaskan tubuh Iren ke sofa dengan keras. mengingat hal tadi, tiba-tiba Iren kembali bergidik. Ketakutan pada Nio sudah di level akut
Dengan pelan, Iren pun mencoba turun dari ranjang. Ia berjalan ke lemari untuk mengambil baju ia berjalan dengan tertatih-tatih, setelah mengambil baju, Iren pun berjalan ke kamar mandi.
15 menit berlalu, Iren pun selesai dengan acaranya di kamar mandi. Dengan memakai piama dan hijab yang panjang, wajah Iren tampak sedikit lebih segar.
Saat ia keluar, ternyata ... Nio sudah kembali masuk ke kamar, tak lupa Nio membawa makanan untuk Iren serta jus kesukaan Iren.
"Kemari!" titah Nio dengan suara yang lemah lembut. Membuat Iren langsung menunduk dan berjalan ke arah Nio. Iren pun mendudukan dirinya di sebelah Nio dan Nio langsung mengambil piring dan menyendokan makanan lalu menyodorkannya ke hadapan Iren. Namun, Iren langsung menggeleng.
"A-aku, bisa makan sendiri!" ucap Iren sambil menunduk. Nio pun memberikan piringnya pada Iren. Seketika kedua suami istri itu di landa kecanggungan.
Setelah Iren selesai makan, Nio membuka laci dan mengambil vitamin milik Iren. Lalu, ia memberikannya pada Iren.
Setelah itu, Iren pun kembali berbaring dan Nio langsung menyelimuti tubuh Iren. Lalu, ia pun ikut naik ke ranjang dan berbaring di sebelah Iren dan memeluk tubuh Iren dari belakang, membuat tubuh Iren menegang seketika. Ini pertama kalinya, Nio tidur seranjang dengan istrinya.
Dengan pelan, Nio pun menarik bahu Iren, mengisyaratkan agar Iren berbalik menghadapnya. Iren yang mengerti pun langsung berbalik dan kini, posisi mereka saling berhadap-hadapan.
Nio memandang wajah Iren lekat-lekat. Ada sesak menghimpit dadanya kala ia melihat Iren terus menunduk karena takut padanya.
Dengan pelan, Nio memegang dagu Iren, dan memaksa Iren melihat ke arahnya. Kini mata mereka saling mengunci, Nio memandang Iren dengan penuh cinta sedangkan Iren menatap Nio dengan rasa takut.
"Takan ada yang terjadi. Tidurlah!" ucap Nio yang mengerti akan ketakutan Iren. Ia memberanikan diri mengecup kening Iren lalu melingkarkan tangan Iren ke pinggangnya dan ia pun langsung memeluk Iren.
•••
Albi mondar-mandir di depan kamar yang di tempati ayah dan bundanya. Sejak kejadian kemarin, ia belum berani menemui Mahira. Bahkan, Mahira pun enggan keluar kamar. Tapi sekarang, ia sungguh ingin bertemu sang bunda dan meminta maaf.
Ia menghela napas, lalu mulai mengetuk. dan tak lama, suara derap langkah terdengar dari dalam kemudia pintu terbuka
"Bunda tak mau bertemu denganmu!" seru Khaila dengan ketus membuat Albi kembali menghela napas, Lalu, ia terperanjat kaget saat sang adik menutup pintu dengan keras.
Saat ia akan berbalik dan kembali ke kamarnya, pintu kamar kembali terbuka, munculah sosok Mahira. "Kemasi barang-barangmu! besok, pergi dari rumah ini!! seru Mahira, setelah mengatakan itu, Mahira pun kembali masuk ke kamar dan membanting pintu, membuat Albi langsung menitikan air mata. Ia tau, ia bersalah. Dan rasanya sungguh menyakitkan ketika wanita nomer satu di hidupnya membencinya.
•••
Keesokan harinya.
" Pak ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap seseorang pada Adnan di telpon. "Biarkan dia masuk!" jawab Adnan pada sekretarisnya. Tak lama, pintu terbuka dan masuklah dua orang yang sangat Adnan benci.
Ia pikir, yang ingin bertemu dengannya adalah model yang akan ia kontrak. Tapi ternyata bukan. Seandainya, ia tau bahwa yang datang adalah orang yang ia benci setengah mati, ia takan membiarkan mereka masuk.
Melihat kedua orang itu, Adnan melempar pulpen di tangannya dan menatap kedua orang itu dengan tajam.
"Berani sekali kalian datang kemari! Apa kalian ingin melihat Nio murka!" seru Adnan, ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah brankas untuk mengambil uang. "Ambil ini. Jangan pernah kembali kemari!" ucap Adnan lagi sambil melemparkan segepok uang pada kedua orang itu.
"Ta-tapi, kami kemari bukan meminta uangmu. Kami kemari untuk ...." Dengan terbata, salah satu dari mereka pun menjelaskan tujuaannya kenapa datang menemui Adnan.
Adnan menyeringai saat mendengar ucapan mereka. Terlihat jelas Adnan begitu muak. Lalu tanpa perasaan Adnan mengatakan .....