"Kalian pikir, aku dan Nio akan perduli pada kalian," ucap Adnan setelah mendengar apa yang di katakan oleh kedua orang di depannya.
Orang itu langsung menunduk tak berani menatap Adnan. Tatapan Adnan begitu berapi-api. Terlihat jelas, Adnan menahan amarah dan rasa muaknya saat melihat ibu kandung dan bibinya.
Tanpa tau malu, mereka datang dan mengiba agar diijinkan tinggal bersama Adnan dan Nio di rumah mewah milik Nio.
Setahun lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun sang ibu yang telah menelantarkan mereka datang menemui Adnan dan Nio.
Firda datang ke rumah mewah Nio dengan tanpa tau malu. Ia mengetahui kesuksesan sang putra dari koran yang memuat foto Adnan, hingga ia langsung mencari tau tentang semua tentang Adnan dan mencari rumah tinggal dari kedua putranya.
Ia sempat di hadang saat di pintu gerbang, Namun Firda mengatakan bahwa ia adalah orang tua Adnan dan Nio hingga ia pun diijinkan masuk.
Begitu pun saat ia akan masuk ke rumah utama. Ia mengatakan pada penjaga yang menjaga di pintu depan, ia mengatakan bahwa ia adalah ibu dari pemilik rumah ini.
Mata Firda berbinar saat melihat rumah mewah milik Nio, bayangan-bayangan kehidupan yang elit nan megah langsung menari di otaknya.
Setelah menikah dengan suami barunya, hidup Firda bergelimang harta. Namun, saat suaminya meninggal ... hidup Firda kembali jatuh miskin. Dan saat mengetahui kedua putranya sudah sukses, tentu saja ia takan menyia-nyiakan kesempatan..
Tapi, bayangan kembali hidup mewah dan glamour hanya bertahan sebentar. Saat Nio baru pulang dari pengadilan dan melihat sang ibu di rumahnya. Nio mengamuk. Ia murka ... Sangat murka, Dia langsung memecat pegawainya karena telah memasukan sang ibu ke rumahnya.
Terlalu banyak kesakitan yang Nio dan Adnan tanggung hingga, jika bisa Nio ingin sekali melenyapkan sang ibu.
Firda pulang dengan gigit jari. Ia tak menyangka bahwa ia akan terkena amukan sang putra.
Firda masih tak menyerah. Ia pun menemui sang adik yang dulu mengasuh Nio dan Adnan. Awalnya, sang adik pun ikut murka pada Firda karena meninggalkan Nio dan Adnan hingga ia mendapat banyak beban. Namun, saat mendengar Nio dan Adnan sudah sukses membuat Fitri mengikuti rencana sang kaka untuk merongrong Nio.
Saat mereka menemui Adnan. Reaksi Adnan sedikit tenang. Namun, ucapan Adnan tak kalah menusuk dari Nio. Namun, rupanya Adnan cukup berbaik hati, dengan mengabulkan keinginan sang ibu untuk membelikannya rumah, jika ada keinginan, mereka akan menunggu Adnan diluar kantor atau di post penjagaan.
Tapi rupanya, kebaikan Adnan pun di salah gunakan oleh kedua orang itu, hingga Adnan merasa muak karena sang ibu dan bibinya selalu memelas meminta jatah. Dan Adnan memutuskan untuk tak mendengarkan semua keluhan mereka.
Dan sekarang, tanpa tau malu ... Bibi dan Ibunya malah mengiba untuk tinggal di rumah mewah milik Nio, dan membuat Adnan ingin sekali tertawa. Kenapa ada orang yang sangat tak tau malu seperti mereka.
"Pergi kalian, sebelum aku mengamuk!" Seru Adnan membuat fitri dan Firda bergidik. Tiba-tiba, Fitri teringat saat Nio mengamuk.
"A-Adnan ...." Fitri mengiba. Namun, Adnan malah menatap kedua orang di depannya dengan bengis. Tanpa menunggu lagi, kedua orang itu langsung pergi meninggalkan ruangan Adnan, membuat Adnan menghela napas lega.
Setelah kedua orang itu pergi, Adnan mendudukan diri di sofa. Ia mengadahkan kepalanya ke atas, memandang langit-langit, lalu ia memegang dadanya karena terasa sesak. Kilatan masa lalu itu kembali hadir, di mana ia dan Nio kerap kedinginan, menahan lapar, menahan rasa sakit dan harus bekerja keras untuk makan.
••••
Nio menatap punggung Iren yang sedang meringkuk membelakangi dirinya. Setelah semalam. tidur bersama dan saling memeluk, Nio pikir ... Iren tak akan takut lagi padanya dan akan kembali bersikap seperti biasanya.
Namun, Nio salah. Iren masih tetap menjadi pendiam. Bahkan, saat sarapan dan turun ke bawah, Iren seperti mayat hidup, memandang kedepan dengan tatapan kosong, ia hanya menyaut jika Aryan bertanya dan selebihnya Iren akan kembali terdiam.
Iren hanya wanita biasa, ia rapuh. Semua yang di lalui Iren dan rasa sakit yang di rasakan Iren begitu luar biasa hebat. Ia harus menerima kebencian dari Albi, perselingkuhan Albi, sikap Julia yang memanas-manasinya.
Belum lagi rasa bersalahnya terhadap sang ayah, karena sang ayah di penjara juga karena ulahnya hingga membuat Albi bertindak di luar nalar, Ia juga menderita penyakit yang cukup mematikan dan ia harus berjuang seorang diri, menahan kesepian, menahan takut dan menahan sedih.
Setahun Iren memupuk luka, hingga ia menyerah dan melepaskan semuanya. Saat dia, akan bangkit dan berusaha bangkit, ternyata Nio membuat mentalnya kembali down. Iren merasa, bahwa hidupnya tak berarti, dan tak ada yang menginginkannya hingga dia di perlakukan buruk, oleh Albi maupun oleh Nio.
Nio yang sedang duduk di sofa sambil memegang IPad pun menaruh IPad miliknya ke meja. Ia pun bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah ranjang, lalu mendudukan diri di sebelah tubuh Iren yang sedang meringkuk.
Jantungnya terasa di remas saat lagi-lagi, ia melihat Iren yang sedang menatap kosong kedepan. Dengan pelan, ia mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Iren, membuat Iren mengerjap dan tersadar.
Saat merasakan sentuhan Nio, Iren pun langsung bangkit dari berbaringnya dan mendudukan dirinya. Tangannya gemetar. Ia bahkan tak berani menatap Nio. "Maaf ...." Setiap Nio datang padanya, menyentuhnya, yang di pikiran Iren adalah meminta maaf karena takut membuat Nio marah, dan itu sungguh membuat Nio sesak.
Nio mengangkat dagu Iren memaksa Iren untuk melihat ke arahnya. Mata Nio dan Iren saling mengunci, kemudian Nio tersenyum dan mengelus lagi pipi Iren. "Mau berjalan-jalan mengelilingi rumah?" tawar Nio, Iren pun mengangguk.
Alam bawah sadar Iren memerintahkan untuk meminta maaf pada Nio dan menurut pada Nio, karena takut membuat Nio murka dan berujung seperti kemarin.
Nio pun bangkit dari duduknya, ia mengulurkan tanganya pada Iren dan mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan.
Saat berjalan, ia mengigit bibir bawahnya. Rasanya, pinggangnya begitu nyeri dan begitu menyengat. Saat bangun tidur, tubuh Iren pun terasa remuk, tangannya pun begitu perih, pinggangnya bertambah nyeri. Selain sakit karena kemarin Nio menghempaskan tubuhnya dengan keras, Pinggangnya mengenai ujung sofa yang cukup runcing.
Mereka terus berjalan, Nio membawa Iren ke semua sisi rumahnya. Namun, saat mereka akan masuk lift Iren menghentikan langkahnya.
"Iren, kau tidak apa-apa?" tanya Nio. Ia semakin panik kala Iren meringis
"Bo-bolehkah, a-aku istirahat di kamar saja?" tanya Iren dengan ragu. Dengan cepat, Nio pun menghampiri tubuh Iren dan menangkup kedua pipi Iren. "Apa ada yang sakit?" tanya Nio. Iren menggeleng. "A-aku, hanya ingin istirahat," dustanya berbohong.
Nio pun kembali melepaskan kedua tangannya dari pipi Iren dan kembali menggegam tangan Iren, lalu mereka pun berjalan ke kamar.
Saat sampai kamar, Nio membantu Iren untuk berbaring. Kemudian menyelimuti tubuh Iren. Lalu kembali mendudukan dirinya di sebelah Iren.
"Apa ada yang sakit, hmm?" tanya Nio lemah lembut, nada suaranya terdengar hangat dan penuh cinta.
Iren menggeleng, lemah. "Maaf aku mengantuk," jawab Iren. Namun, Nio merasa ada yang di sembunyikan oleh Iren.
"Iren!" panggil Nio lagi, membuat Iren yang baru saja menutup mata kembali membuka matanya.
"Apa ada yang sakit?" tanya Nio dan lagi-lagi, Iren menggeleng lemah.
"Bukankah kau tak ingin membuatku marah?" ucap Nio, membuat mata Iren membulat. Ia pun langsung bangkit dari berbaringnya dan langsung memeluk tubuhnya. Itu respon alami yang bahkan Iren pun tak sadar dengan gerakannya. Bayang-bayang, Nio melecehkannya kemarin langsung melintas di otaknya.
Batin Nio teriris perih saat melihat reaksi Iren. Ia Benar-benar ingin mengulang waktu, di mana ia tak memerlihatkan amarahnya.
"Sekarang jujur padaku. Apa yang kau rasakan," ucap Nio. Ia menarik lembut tangan Iren dan menggenggamnya.
"Semua tubuhku sakit," jawab Iren, tak lama, ia terisak. Membuat mata NIo membulat. Saat Nio akan lebih mendekatkan diri pada Iren, Iren kembali memeluk tubuhnya ia bergidik saat Nio akan mendekatinya.
"Kumohon, biarkan aku beristirahat," ucap Iren, ia memandang Nio dengan tatapan memohon
"Aku akan memanggilkan terapis pijat untukmu," ucap Nio. Ia pun langsung bangkit dari duduknya. Ia sadar, kehadirannya membuat Iren takut.
Setelah Nio pergi, Iren pun dengan pelan kembali membaringkan dirinya. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut lalu ia memejamkan matanya.
•••
Seminggu kemudian.
"Mau menungguku?" Tanya Nio, seperti biasa, Iren akan mengangguk dengan pandangan kosong membuat Nio menghela napas kasar.
Saat ini, mereka sedang berada di mobil, mereka baru saja pergi mengantar Aryan ke bandara karena Aryan pergi ke tanah suci.
Selama seminggu ini, Iren tak berubah. Ia masih terus diam, seperti orang linglung dan seperti mayat hidup.
Selama seminggu pula, Nio tak pernah meninggalkan Iren, ia terus di samping Iren berusaha membuat Iren percaya padanya dan menunjukan cintanya.
Namun, Iren bergeming. Sikapnya masih sama, selalu terdiam. Bahkan Aryan pun heran atas apa yang terjadi pada putrinya, karena terkadang, jika ia mengajak Iren mengobrol, jawaban Iren malah tak nyambung
Dan saat ini, setelah mengantar Aryan ke bandara, Nio harus pergi ke pengadilan untuk mendampingi clientnya.
"Aku takan lama. Kau tidak apa-apa menunggu di sini?" tanya Nio saat sampai di depan pengadilan. Seperti biasa, Iren pun mengangguk dengan pandangan kosong.
Satu jam kemudian
Setelah sidang usai, Nio pun bergegas untuk keluar dari ruang sidang. Matanya membulat saat tak melihat Iren di mana pun. Dengan cepat, ia berlari ke arah mobilnya, berharap Iren ada di sana..Namun, Sayang. Iren tak ada membuat Nio semakin panik.
Sedangkan Iren ....
Nyesek sih jadi Iren. Traumanya berat banget. Di sakitin Albi, di selingkuhin terus mau di lecehin sama lelaki lainp