Setelah Nio masuk ke ruang sidang, Iren yang sudah duduk pun kembali bangkit. Ia mulai berjalan dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang-layang pada hal sangat menyakitkan. Iren berjalan tanpa arah, dia bahkan tak memerhatikan langkahnya. Beruntung, pengadilan cukup sepi, hingga tak ada yang memerhatikannya. Saat ia sudah menuju ujung dan menuju jalan buntu, Iren terdiam, memandang tembok di depannya. Ia benar-benar seperti orang linglung. Namun, tak lama ... Suara decitan mobil dan suara tabrakan menggelegar. Membuat Iren terhenyak. Tanpa sadar, Iren berlari ke arah sumber suara. Ia menutup mulut tak percaya saat melihat tabrakan beruntun di depannya. Terlihat beberapa orang yang turun dari mobil untuk membantu. Tak lama, mata Iren menatap seorang korban yang masih di dalam mobil

