bab 11

1888 Kata
Flashback Nio erus melepaskan tembakan ke arah depan, ia tak perduli dengan suara adiknya yang sedari tadi memanggilnya. Hanya di area tembak ini, ia bisa melampiaskan amarahnya. Dalam beberapa hari ini, perusahaan yang dia dirikan dengan susah payah harus mengalami kerugian yang cukup banyak. Beberapa brand yang bekerja sama perusahaannya membatalkan sepihak kontrak yang telah di setujui, hingga Haidar Entartaiment merugi. Ia membangun kerajaan Haidar grup dengan susah payah, penuh perjuangan dan penuh air mata. Butuh waktu bertahun-tahun untuk Nio membangun kerajaan bisnisnya. Dan kini hanya satu model yang terkena masalah, perusahaannya menderita kerugian yang cukup banyak, ia harus memutar otak untuk membuat perusahaannya stabil kembali. "Haishhh!" umpat Nio saat pelurunya habis. Ia pun mendudukan dirinya di kursi lalu mengambil minum dan menenggaknya hingga tandas. Walau sudah beberapa hari berlalu, emosi Nio masih tinggi karena setiap hari selalu ada keluhan dan ia harus bekerja keras untuk membuat publik percaya lagi padanya. Isu pelakor dan orang ke 3 sangat di benci oleh publik, hingga citra Haidar Grup sedikit tercoreng. Dan kini, Nio harus memutar otak agar citra perusahaannya kembali bagus seperti sedia kala. "Kau belum makan dari tadi, mau ku ambilkan?" tanya Adnan saat menghampiri Nio. Pandangan Nio masih lurus kedepan. Ia sama sekali tak menggubris ucapan sang adik. Bukan hanya karyawannya saja yang terkena amarah dari Nio, Adnan pun terkena amarah sang kaka, hingga Adnan sama sekali tak menegurnya. Tanpa membalas ucapan Adnan, Nia melenggang pergi meninggalkan sang adik, membuat Adnan menggeleng. Ia cukup mengerti dengan sikap Nio. Ia tau, bagaimana kerja keras sang kaka selama ini. ••• Nio membuka laptopnya, ia kembali mencari-cari nama orang yang selama ini ia cari. Orang yang telah banyak berjasa di hidupnya hingga kini, ia bisa sesukses ini dan berhasil keluar dari masa sulitnya. 15 tahun lalu Saat itu, Nio kebingungan bagaimana mencari uang untuk sekolahnya. Dari awal sekolah dasar Nio dan adnan sekolah mengandalkan beasiswa dan bantuan warga sekitar karena sang bibi kekeh tak mau menyekolahkan Nio dan Adnan, karena keterbatasan biyaya. Nio dan Adnan kecil selalu kompak dalam melakukan hal apa pun, termasuk cara mereka untuk mendapat uang agar bisa jajan di sekolah. Sepulang sekolah, Nio dan Adnan selalu berjualan layangan dan menjajakannya keliling kampung. Rutinitas hal yang selalu mereka lakukan agar bisa mendapatkan uang untuk jajan dan untuk membeli makan. Nio dan Adna kecil benar-benar saling berpegangan satu sama lain. Mereka saling membantu dalam hal apapun. Tak pernah mengeluh walaupun terkadang menahan lapar. Saat sudah lulus sekolah menengah pertama, Adnan terpaksa tak melanjutkan sekolahnya karena tak ada biyaya, alhasil hanya Nio yang melanjutkan sekolahnya ke sekolah menengah. Perjuangan Nio begitu besar, ia harus bekerja extra mencari uang untuk biyaya sekolah dan juga membayar kontrakan yang sangat kecil, karena Nio dan Adnan di usir oleh sang bibi, mereka di usir dengan alasan rumah sang bibi tak cukup lagi, untuk menampung mereka. Nio berusaha keras untuk bisa lulus sekolah menengah, agar ia bisa mendapat pekerjaan yang layak. Dan saat akan ujian, Nio di landa kebingungan. Ia yang biasa berjualan atau bekerja serabutan saat siang hari, menambah jam mencari uangnya di malam hari dengan menjadi tukang parkir atau sekedar mengontrol jalan, berharap ada uang recehan yang di lemparkan padanya. Walaupun Adnan dan Nio sudah bekerja keras, tapi uang mereka tidaklah cukup. Hingga Nio memutar otak, mencari jalan pekerjaan apa lagi yang bisa ia ambil dan tak menganggu waktu sekolahnya. Dan disinilah titik perubahan hidup Adnan dan Nio. Nio memutuskan untuk menjadi tukang semir. sehabis sekolah atau sebelum sekolah. Ia selalu diam di daerah perkantoran, rumah sakit dan kantor polisi, berharap ada yang mau memakai jasanya Hingga ada satu orang yang takjub dengan kegigihan Nio, orang itu sudah sedari lama memerhatikan Nio dan kagum pada Nio. Ia mulai mendekati Nio dan memakai jasa Nio Orang itu pun bertanya basa-basi pada Nio tentang asal-usulnya dan tempat tinggal Nio ... Nio yang memang ramah pada semua orang menjawab semua pertanyaan orang itu. Dan orang itu adalah Aryan Mendengar semua kisah Nio, Aryan tertegun ... Nio mengingatkannya pada masa mudanya, ia juga pernah mengalami masa sulit sebelum ia bisa sukses seperti sekarang ini. Dengan hati yang tulus, Aryan merangkul Nio dan Adnan, mereka di ajak tinggal di rumahnya. Tentu keputusan Aryan di sambut baik oleh Nio dan Adnan. Bukan hanya Aryan yang menerima mereka, Iren remaja pun menerima mereka dengan baik. Walaupun Aryan sudah menjamin semuanya. Tapi, Nio dan Adnan tak mau leha-leha. Mereka membalas kebaikan Aryan dengan menjadi tukang kebun atau melakukan hal lain. Walaupun sudah di anggap keluarga oleh Aryan dan Iren, Tapi Adnan dan Nio tetap tahu diri. Mereka tak berani untuk berbaur, dan tetap memposisikan diri menjadi seorang pegawai. Tepat saat Nio lulus sekolah menengah, Aryan menguliahkan Nio di fakultas terbaik luar kota karena keinginan Nio sendiri, ia mengambil jurusan hukum, karena sedari dulu, cita-citanya adalah seorang pengacara. Semua berjalan lancar, Aryan selalu mengirim uang pada Nio dan Adnan. Namun, seiring berjalannya waktu. Nio dan Adnan memafaatkan waktu mereka untuk membuka usaha kecil-kecilan dan rumayan cukup untuk hidup mereka berdua. Hingga Nio dan Adnan memutuskan untuk tak menerima bantuan lagi dari Aryan, mereka terlalu sungkan untuk menerima kebaikan Aryan. Dan setelah Nio lulus dan mendapatkan gelarnya, Nio dan Adnan kembali lagi ke kota mereka untuk menemui Aryan..Namun sayang, rumah Aryan kosong, karena ternyata Aryan sudah pindah keluar kota bersama Iren. Dan setelah ia memulai pekerjaannya sebagai pengacara, ia memulia bisnis di bidang entertaiment, hingga berdirilah Haidar Grup. Saat perusahaan yang di dirikannya maju dengan pesat, Nio lebih memilih tetap menjadi pengacara dan tetap merahasiakan bahwa dia Ceo dari Haidar grup. Ia bisa saja membuka firma hukum sendiri. Namun, ia lebih memilih bekerja di firma hukum orang lain. Hingga 15 tahun berlalu, Nio masih berusaha mencari Aryan dan Iren. Sayangnya, Nio tak sadar, bahwa Iren yang selama ini ia cari ada di depannya. Nio tak mengenali Iren, karena Iren memang telah melakukan operasi plastik hingga wajahnya sedikit berubah. Nio memang tak mengenali Iren, tapi ... Adnan masih jelas mengenali suara Iren, dan Adnan lah yang merekrut Iren untuk bergabung di Haidar entertaiment, padahal jelas-jelas Juri tak meloloskan Iren. Tadinya, Adnan akan memberitau Nio bahwa Iren yang selama ini ia cari adalah Iren yang menjadi model di agensinya. Tapi ternyata sebelum Adnan memberi tau, Iren sudah terlibat kasus hingga Adnan tak ada kesempatan untuk berbicara. Ia lebih memilih menunggu amarah sang kaka mereda. |•• Saat Nio masih sibuk dengan laptopnya untuk mencari-cari keberadaan Aryan dan Iren, ponsel di sebelahnya berdering dan dengan cepat, ia pun mengangkatnya. "Apa! penjara!" pekik Nio dengan terkejut, ia bahkan bangkit dari duduknya karena tak percaya dengan apa yang orangnya katakan. Nio mengusap wajah kasar saat anak buahya membeberkan tentang Aryan, orang yang selama ini ia cari. Ternyata selama ini, orang yang ia cari berada di kota yang sama dengannya. ••• Setelah mendapat kabar di mana Aryan di tahan, Nio pun dengan segera bergegas pergi ke penjara, karena ia mendapat nfo bahwa Aryan akan di pindahkan besok ke sel khusus terpidana korupsi. Dan di sinilah Nio berada, ia menunggu Aryan di ruang kunjung. Ia sengaja meminta ruangan khusus bertemu Aryan, karena ia akan menjadi pengacara Aryan 5 menit berlalu, munculan Aryan di dampingi oleh polisi. Mata Nio berkaca-kaca saat melihat malaikat yang dulu merubah hidupnya. Aryan tertegun saat melihat lelaki muda yang sedang duduk memandangnya, "Ardi," lirih Aryan dengan tersenyum. Melihat senyuman Aryan, Nio tak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dari duduknya, kemudai sedikit berlari dan memeluk Aryan. "Om!" lirih Nio saat memeluk Aryan. Nio terisak, hatinya teriris perih saat melihat Aryan begitu kurus. "Gimana kabar kamu, Ar?" tanya Aryan saat Nio melepaskan pelukannya. Masih dengan terisak, Nio mengangguk. Ia mengambil tangan Aryan kemudian menciumnya. Setelah itu, mereka pun mulai berbincang-bincang dengan berderai air mata, Aryan menceritakan semuanya pada Nio, termasuk ke dzoliman menantunya. Nio berkata, akan membebaskan Aryan bagaimana pun caranya. Dan ia akan menjadi pengacara Aryan ••• "Adnan ... Adnan!" teriak Nio saat sampai di rumah, ia berteriak karena tak menemukan Adnan di manapun. Ia melupakan amarahnya pada sang adik dan berniat memberitaukan bahwa ia menemukan Aryan. "Ada apa?" tanya Adnan yang sedang bermain ps di ruang keluarga. Ia mengernyit heran saat sang kaka lembali menegurnya. "Aku menemukan om Aryan," ucap Nio dengan girang, terlihat jelas wajahnya berbinar. Mendengar ucapan Nio, Adnan kembali melihat ke arah depan dan bermain ps. "Apa kau tidak senang?" tanya Nio saat ekpresi Adnan terlihat biasa saja. "Kau terlambat, Nio!" ucap Adnan membuat Nio bingung. "Kau sudah tau selama ini di mana om Aryan?" tanya Nio, membuat Adnan menggeleng. "Aku tak tau di mana Om Aryan, tapi aku melihat Iren beberapa kali," jawab Adnan "Dimana? kenapa kau tak memberitauku, dimana dia sekarang?" tanya Nio, ia bertanya bertubi-tubi pada adiknya "Kau terlambat. Dia pasti sudah membencimu!" Mendengar jawaban Adnan yang tak jelas, Nio mengambil stik ps dari tangan Adnan. "Apa maksdumu!"seru Nio. " Kau sudah memakinya dan menghinanya, dia pasti sangat membencimu sekarang!" "Adnan!" seru Nio dengan rahang yang mengeras Karena sang adik berbelit-belit. "Iren ... Iren yang kau hina kemarin dan kau sebut p*****r adalah Iren yang selama ini kita cari, Bodoh!" untuk pertama kalinya, Adnan berani menghardik kakanya dan menyebut Nio bodoh. "Ti-tidak mungkin, bukan. Dia bukan Iren yang selama ini kita cari!" seru Nio sambil menggeleng. Tiba-tiba, kilatan saat ia menghina Iren dan saat Iren tertunduk muncul di otaknya Adnan mengehela napas sejenak, kemudian ia menggeleng saat melihat sang kaka yang seperti orang linglung. Adnan pikir, inilah saatnya ia berbicara pada sang kaka. "Aku tau perjuanganmu membangun Haidar grup tak mudah. Tapi, kau sudah keterlaluan saat kau menghinanya, aku menjemputnya dari kantor polisi dan mengajaknya ke kantor untuk mendengarkan apa yang terjadi. Tapi, kau malah menghinanya." "Ta-tapi, wajahnya ...." "Dia sudah melakukan operasi plastik" "Kau tau di mana rumahnya?" tanya Nio, "kau bisa cari alamat suaminya. Kau tau bukan siapa suaminya?" Mendengar kata-kata Adnan, tiba-tiba, Nio teringat percakapannya bersama Aryan tentang menantunya, dan kini ia tau bahwa Iren yang kemrin ia hina ternyata tak bahagia Tak lama, ia kembali mengingat bahwa Iren pernah menabraknya saat di pengadilan. ••• Beberapa minggu berlalu, dengan bantuan beberapa tim hukumnya, Nio berhasil memecahkan kasus korupsi yang menjerat Aryan. Ia terpaksa harus meminta bantuan Rivalnya karena ternyata, Kevin yang tak lain adalah rivalnya, menjadi cucu menantu dari pemilik rumah sakit tempat Aryan bekerja. Dan Akhirnya, karena kerja kerasnya, kasus di buka kembali. Bukti yang kuat sudah di kantongi oleh Nio hingga akhirnya pengadilan memutuskan Aryan bebas dan namanya sudah di bersihkan. Saat ia berjuang memecahkan kasus, Nio diam-diam melihat rumah yang Iren tempati. Ia belum berani bertemu Iren, yang ia bisa lakukan adalah melihat Iren dari jauh, terkadang, Nio pun mengikuti Iren ketika Iren pergi keluar. Dan saat Aryan bebas, ia tau bahwa Iren sedang berada di rumah sakit, hingga ia langsung membawa Aryan untuk menemui Iren. Flashback off Albi berjalan dengan linglung, kejadian di ruang rawat Iren membuatnya tak bisa berpikir jernih..Bagaimana bisa secepat itu .... Bagaimana ini terjadi, pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan dalam hatinya. Setelah kejadian di ruang rawat Iren, Albi tak bisa berpikir jernih. Ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Saat ia membuka pintu dan berjalan masuk, dalam penerangan yang gelap, ia bisa melihat siluet seseorang tengah duduk di sofa ia bisa merasakan bahwa orang itu menatapnya dengan tatapan tajam. Ia memang tak bisa melihat siapa yang sedang duduk, Tapi dari gesturnya ia yakin, bahwa di depannya adalah sang ayah. "A-ayah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN