Tidak! Iren tak boleh menyerah. Sepahit apa pun hidupnya kini, ia masih mempunyai sang ayah, dan ia tak ingin melihat sang ayah sedih. Ia masih harus berjuang untuk membebaskan ayahnya.
Iren maraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia meminggirkan mobilnya lalu, menaruh kepalanya di stir kemudi dan menangis sekencang-kencangnya. Ia sungguh rapuh, bagaimana esok ia akan menghadapi dunia.
Saat ia puas menangis dalam waktu yang lama, Iren pun mengahapus air matanya dan kembali menjalankan mobilnya untuk pulang. Namun, saat dia akan menyebrang untuk putar arah, dia melihat masjid.
Hatinya langsung tergugah saat melihat masjid. Ia menyadari sesuatu. Selama ini, ia jauh dari Tuhannya, bahkan tak pernah menyebut nama Tuhannya. Dan kini, ia sadar. Untuk menggenggam dunia ... Dan memerbaiki semuanya. Ia harus mendekatkan diri pada sang pencipta.
••••
Beberapa minggu kemudian.
Albi menghela napas saat pekerjaannya selesai. Selama beberapa minggu ini, ia bisa bernapas lega karena ia tau, istrinya telah berhenti menjadi model. Ia juga senang, ia di cap lelaki baik oleh publik karena ia membela istrinya.
Waktu menunjukan pukul 05. sore. Ia bangkit dari duduknya dan kembali memakai jasnya. Hari ini, ia terpaksa pulang ke rumahnya karena harus mengambil paspor karena besok ia akan pergi ke. luar negri untuk urusan pekerjaan.
•••
Saat ia masuk kedalam rumah, ia mengernyit heran saat melihat rumah dalam kondisi sepi. Namun, ia tak ambil pusing. Ia melenggang masuk untuk pergi ke kamarnya.
"Bapak!" panggil salah satu asisten rumah tangganya. Ia berbicara saat melihat Albi karena ingin memberi tau tentang apa yang terjadi pada Iren.
"Tolong buatkan saya kopi!" titah Albi pada artnya. Ia pun langsung naik ke atas untuk mengambil paspor. Membuat Art itu menghembuskan napas kasar karena belum sempat memberi tau yang sebenarnya tengang kondisi Iren.
Karena paspornya berada di kamar Iren, Albi pun terpaksa harus masuk ke kamar tersebut. Ia akan acuh jika melihat Iren.
Saat ia membuka matanya, ia mengernyit heran saat melihat kamar kosong. Tapi, apa perdulinya. Ia pun masuk dan berjalan ke arah lemari.
Namun, saat dia akan membuka lemari, matanya menangkap sebuah botol obat di atas nakas. ia pun mengambilnya dan melihat botol tersebut.
Keningnya mengkerut bingung saat melihat botol obat tersebut. Albi mantan dokter kandungan. Tentu Albi tau obat macam apa yang dia pegang.
"Apakah Ini milik Ir ...." Albi tak sanggup lagi meneruskan ucapannya saat berpikir obat ini milik Iren.Seketika, Ia menjatuhkan obat di tangannya.
Seketika lututnya melemas, ia langsung membuka lemari milik Iren dan mencari sesuatu. Kemudia ia menemukan map yang berlogo rumah sakit. Ia pun membukanya dan memeriksanya.
"Ja-jadi ...." Albi menjatuhkan map di tangannya saat menyadari apa yang terjadi dengan Iren. Tubuhnya limbung. Kilatan kekejaman-kekejamannya pada Iren langsung terlintas di otaknya.
"Maafkan, aku Iren ...." lirih Albi dengan bibir bergetar. Ini titik balik perasaanya. Seketika rasa bencinya pada Iren sirna saat saat mengetahui penyakit Iren. Penyesalan-penyesalan langsung mengisi rongga dadanya hingga ia terasa sulit bernapas.
"Dimana Iren?" tanya Albi pada art dengan napas ngos-ngosan karena berlari dari atas kebawah
"Anu, Pak ... Non Iren masuk rumah sakit, Non Iren ...."
"Rumah sakit mana?" sela Albi yang tak sabar. Saat tau di rumah sakit mana Iren di rawat, Albi dengan segera meninggalkan rumah dan pergi ke rumah sakit.
•••
Dan di sinilah dia berada, tepat di depan ruangan yang di tempati Iren.
Dengan tangan gemetar, Albi mendorong pintu dan masuk kedalam ruangan, Iren yang sedang melamun menoleh ke arah pintu, ia tertegun saat melihat Albi yang masuk. Apakah Albi akan membuat onar lagi. begitulah pikirnya
Dengan lutut gemetar, Albi berjalan ke arah brankar, dan Iren pun bangkit dari berbaringnya berusaha untuk duduk.
Albi tertegun saat melihat Iren memakai jilbab, wajah Iren semakin tirus tubuhnya semakin kurus. Tapi, Iren sangat terlihat cantik
"I-Iren," lirih Albi terbata saat sudah dekat di brankar Iren. "Maafkan aku, Iren," lirih Albi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tertegun saat melihat Iren yang santai dan tak menatapnya dengan tatapan benci.
Tanpa membalas ucapan Albi, Iren berusaha menggapai nakas dan mengeluarkan sesuatu.
"Kau sudah lama tak pulang. Jadi aku membawa ini kemanapun aku pergi," ucap Iren sambil menyodorkan map pada Albi. Ia berbicara dengan nada yang riang nan hangat, seoalah tak pernah terjadi hal buruk di antara mereka.
Dan sikap Iren membuat Albi terpaku, bukankah seharusnya wanita di depannya ini membenci
-dirinya. Tapi, kenapa sekarang ....
"I-ini apa?" tanya Albi dengan tangan gemetar karena ia melihat cap pengadilan di map tersebut.
Iren tersenyum sambil menahan perih di hatinya. "Itu akte cerai, Al. Kita sudah resmi bercerai," ucap Iren. Ia berusaha setenang mungkin.
Jederr, dunia Albi menggelap saat mendengar ucapan Iren, Albi meremas map itu dan menggeleng.
"Tidak, Ren. Aku belum menceraikanmu!" lirih Albi dengan mata berkaca-kaca.
"Faktanya kita sudah resmi bercerai, Al. Terimakasih atas selama ini," jawab Iren dengan memaksakan senyumnya. Setelah Hijrah, ia menyadari sesuatu tentang keiklasan. Jika jalan hidupnya sudah begini, Iren memilih pasrah dan iklas serta berusaha tak membenci siapa pun, termasuk Albi yang selama ini menyakitinya.
Tubuh Albi limbung, ia berlutut dan bersimpuh di lantai. "Maafkan aku Iren, ampuni aku ... Beri aku kesempatan kedua," lirih Albi dengan terisak, membuat Iren pun ingin menangis.
Belum ia menjawab ucapan Albi, pintu terdengar terbuka. Membuat Iren menoleh ke arah pintu. Iren menutup mulut tak percaya saat melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
Dan orang itu adalah Aryan. Kehadiran Aryan membuat Iren terkejut ... Bagaimana sang ayah bisa bebas secepat ini, siapa yang membebaskan sang ayah. Pertanyaan itu, berputat-putar di otaknya.
Albi yang sedang berlurut menoleh ke arah pintu, ia langsung terduduk lesu saat ia melihat Aryan sudah bebas. Lalu bagaimana dengan dirinya. Jelas- jelas kasus ini akan kembali di buka dan polisi akan menemukan bahwa dia bersalah dan dia yang memanipulasi semuanya.
Sangking tak percayanya bahwa yang masuk adalah ayahnya. Iren melepaskan selang infus lalu turun dari brankar, Iren berjalan dengan terseok-seok. Ia menagis tergugu saat menyadari bahwa ia tak berkhalusinasi, di depannya benar adalah sang ayah.
Saat sudah mendekat pada sang ayah, tubuh Iren hampir terjatuh dan dengan sigap, Aryan langsung menangkap tubuh putrinya.
"A-ayah ... I-iren ga mimpi, kan?" tanya Iren saat ia menatap intens sang ayah. ia berbicara dengan bibir gemetar karena masih tak percaya.
"Ini ayah, Ren. Ini ayah!" balas Aryan, membuat Iren langsung berhambur memeluk sang ayah. Saat ia menangis di pelukan Aryan. Matanya menangkap seseorang yang berdiri di belakang ayahnya, dan kehadiran seseorang itu membuat Iren terkejut setengah mati.
Dan lelaki itu adalah .....