Kehidupan tidak selalu berjalan seperti apa yang kita rencanakan. Begitu rapi dan tersusun dengan baik bukanlah menjadi jaminan kalau setiap perencanaan yang kita buat matang-matang menghasilkan akhir bahagia. Seperti sekarang, aku berdiri memakai dress berwarna merah muda bermotif anggrek bulan pada bagian bahu dengan rambut dijalin satu sambil membawa sebuket bunga mawar putih di tangan.
Aku bukannya akan menikah. Karena untuk mencapai kebebasan tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun dari sekarang. Umurku baru menginjak enam belas tahun. Menyukai hal-hal berbau manis. Aku tidak sedang membicarakan cemilan dengan banyak gula dalam tiap kepingnya. Tapi, maksudku di sini adalah hal-hal manis semacam dongeng. Aku justru mempunyai pigura dari setiap tokoh utama pada kisah dongeng yang diceritakan Mama sebelum aku tidur.
“Milly!”
Aku kembali tersadar di antara kerumunan orang yang membawa sebuah piring kecil berisi banyak kudapan manis. Aku tidak hapal semua jenis cemilan manis di acara. Yang pasti cheese cake termasuk salah satunya. Kini seseorang tengah memanggilku. Aku lebih suka menyebutnya demikian. Karena menurut pendapatku secara pribadi tidak ada satu hal yang mengharuskanku untuk berkata sopan pada siapapun yang merebut posisi Mama di hati Papa.
“Kenapa?” jawabku singkat kemudian menghampirinya di dekat meja makanan.
Rambutnya yang dicepol ke atas dan dihias dengan macam-macam manik juga aksesoris aneh membuatku berpikir kalau tampilannya sekarang terlalu wah. Apalagi gaun pernikahan berlapis-lapis berwarna krem dengan panjangnya yang tidak manusiawi –siapapun bisa terjatuh jika tidak sengaja menginjak gaun pernikahannya. Kurasa itu yang akan dipikirkan oleh kembaranku, Nelly. Kami adalah kembar identik. Yang membedakan hanyalah tanda lahir yang dimiliki saudariku di telapak tangan kanan. Seperti gambaran api yang membara. Aku sangat dekat dengannya. Hingga keegoisan orang tua kami membuat hari-hari hangat itu pergi. Membawa turut serta Nelly.
“Kamu kan pengiring pengantin.. Ada baiknya kalau kamu menemani Bunda bersama dengan Ayahmu..” gumamnya sedikit pelan. Berusaha agar tidak terdengar oleh tamu lain.
“Oke..” jawabku seadanya. Jujur saja aku malas menghadiri acara semacam ini. Apalagi ini pernikahan kedua Papa.
Nelly mendapat undangan dari Papa tapi ia menganggap semuanya angin lalu dan tidak menggubrisnya, malahan menyibukkan diri dengan lukisan yang dikerjakan. Itulah yang dikatakan terakhir kali aku menghubunginya. Aku lebih suka memanggil Papa daripada harus menyebutnya Ayah. Dengan mengatakan hal tersebut, aku benar-benar sadar kalau banyak yang sudah berubah. Termasuk rasa cinta Papa untuk Mama.
“Bersikaplah lebih manis, Milly.. Tamu yang datang mungkin berpikiran kalau aku sosok Bunda yang jahat..” ucapnya dengan tersenyum.
Membuatku semakin terheran mengapa gadis muda sepertinya bisa mengenal Papa. Bahkan, jatuh cinta dan setuju untuk menikah. Harus kuakui ia memiliki paras cantik khas jawa yang berbeda dengan Mama. Mama memiliki hidung mancung, kulit putih s**u, dan rambut pendek serta bola mata berwarna cokelat tua.
“Maafkan Milly, Bun..” ucapku menunduk.
Aku benar-benar paham kalau ini tidak adil tapi yang dapat kulakukan hanya mengikuti Bunda menyapa tamu lain. Tidak lupa menyunggingkan seulas senyum yang aku paksakan. Entah terlihat tulus atau tidak. Yang pasti aku sudah berusaha terlihat baik-baik saja. Menerima segala keputusan Papa.
Pesta yang tengah berlangsung cukup mewah. Papa bahkan menyiapkan pemain musik klasik untuk memeriahkan acara. Berusia sekitar tiga puluh tahun. Menyapukan jemari dengan gemulai di atas tuts piano. Detik berikutnya terdengar alunan nada lembut lalu temponya lebih cepat.
Aku tidak paham dengan musik klasik. Tapi, aku benar-benar yakin kalau jenis musik semacam ini sangat indah. Aku bahkan melupakan sejenak kekesalanku. Untuk hiasan di ruangan sangat beraneka ragam. Banyak sekali jenis bunga-bunga cantik namun tidak kuketahui namanya. Dan juga prasmanan dihidangkan dengan mewah. Hanya kue-kue dengan nama yang sulit kuhafal disajikan. Belum lagi makanan utama khas eropa dengan jumlah sangat sedikit dihias dalam satu piring.
Jika dibandingkan dengan pernikahan Papa dulu dengan Mama. Kalau tidak salah ingat tamu undangan hanya seratus orang lebih. Termasuk keluarga kedua pengantin. Dulu Mama selalu menceritakan banyak hal. Cinta pertamanya yang kandas karena tanpa restu, berbagai macam dongeng atau bagaimana Papa berhasil memenangkan hati Mama. Selain menyukai cerita dongeng yang sering dituturkan Mama, beliau juga sering menceritakan bagaimana pernikahan tersebut akhirnya digelar. Dan juga awal mula kisah cinta orang tuaku. Kami akan begadang menceritakan banyak hal dengan Mama hingga Nelly tertidur duluan.
Waktu berjalan lambat. Sudah satu jam berlalu namun tamu yang datang seperti tidak akan pernah habis. Aku bahkan sempat berpendapat kalau mungkin saja Bunda mengundang satu komplek perumahan untuk menghadiri pernikahannya.
Aku sedikit kesal mengingat kenyataan kalau perbedaan umur kami hanya terpaut sembilan tahun. Awal bertemu Bunda, Papa tidak mengatakan apa pun dan mengajak berjalan-jalan di taman kota. Waktu itu Mama tidak hadir di antara kami sejak pertengkaran terakhir. Tidak satu kali pun beliau ingin menemui Papa. Selama beberapa hari keluarga kami berantakan. Papa yang tidak mengerti bagaimana menyiapkan sarapan atau bagaimana hari-hariku dan Nelly semakin sepi karena tidak tahu harus menceritakan keseharian di sekolah kepada siapa.
Aku memisahkan diri dari kerumunan tamu yang datang. Mungkin menghirup udara segar di luar. Karena beberapa jam berada di dalam ballroom hotel membuatku sesak. Tamu yang datang memang sangat banyak. Tapi, masalahnya bukan karena itu. Melihat pandangan menusuk dari mereka membuat nyaliku menciut. Rumor itu sudah terlanjur menyebar.
Kalau Papa ditinggalkan karena sudah mempunyai wanita idaman lain. Lalu, akhirnya undangan pun disebar. Menimbulkan rumor lain yang tidak jarang membuat telingaku terasa gatal. Namun, menurut pendapatku hal itu sangat tidak mungkin. Papa yang kukenal bukanlah orang yang mampu mengkhianati Mama.
Bukan cuma tamu undangan tapi dari keluarga besar Bunda menatapku seakan mahkluk asing. Itulah alasan mengapa aku berpikir untuk segera keluar dari ruangan menyesakkan di sana. Saat ini, kurasa aku memerlukan pelukan dari Nelly untuk membuatku nyaman. Kami selalu berbagi pelukan jika ada yang mengganggu suasana hati. Atau bagaimana hari-hari berat harus dilewati semenjak kepergian Mama. Aku sudah tidak peduli lagi seandainya nanti Papa akan marah karena aku yang tiba-tiba menghilang dari keramaian. Karena aku perlu ketenangan dan tempat untuk berpikir. Sudahkah keputusanku ini benar?
.+.+.+.+.
Pagi-pagi sekali aku bangun. Mengecek jika ada pesan masuk dari Nelly di ponsel layar sentuh milikku. Semalam, aku mengirimkan pesan singkat kalau aku memerlukan seseorang untuk mendengarkan keluhanku. Sepulang dari acara pernikahan, aku dimarahi oleh Ayah karena mengabaikan tamu-tamu yang datang. Dan hal paling menyebalkan adalah hukuman satu minggu berdiam di rumah yang menurutku tidak adil. Semua itu kutuliskan kepada Nelly. Tapi, tidak satu pun balasan pesan kuterima. Aku tidak tahu sejak kapan ia belajar untuk mengabaikanku.
“Milly! Sudah waktunya kau belajar memasak..” teriakan Bunda terdengar dari ruang tengah.
Aku heran dengan kebiasaan baru-baru ini yang membuat tensiku sedikit naik. Harus kuakui kalau ia memang sudah menjadi Bunda resmi bagiku. Hanya saja untuk membiasakan sikap sok akrabnya kepadaku adalah hal tidak menyenangkan. Dan, baru saja ia berkata kalau sudah waktunya bagiku untuk belajar memasak.
“Ya, Bun..” ucapku pelan. Memang aku awalnya ingin berontak. Mengingat kalau tidak semua hal baik terjadi jika aku melakukannya, membuatku berpikir berulang kali. Mungkin sampai suatu saat ada seorang pangeran menjemputku pergi dari sini. Tidak perlu istana megah bak dongeng. Yang aku perlukan hanyalah sebuah rumah hangat tempatku menyambut pangeranku sepulangnya dari bekerja.
Aku menyingkirkan selimut. Memakai sandal bulu yang mempunyai telinga kelinci berwarna merah muda. Lalu, beranjak mandi. Kurasa jika tidak bergegas keluar kamar, Bunda pasti akan mengetuk pintu kamar dan menyuruhku untuk segera keluar membantunya memasak.
Hanya beberapa puluh menit terlewat hingga aku menyelesaikan mandi, berpakaian dan juga merapihkan kamar bercat dinding merah muda. Tempat tidurku di dekat jendela. Di tengah-tengah kamar persis depan tempat tidur diletakkan lemari kayu jati dengan kaca memanjang untuk bersolek. Saat menoleh ke arah berlainan, aku melihat tempat tidur milik Nelly. Masih dengan boneka sapi dan sprei yang sama –sprei bermotif bintang.
“Menyebalkan..” gumamku pelan.
Aku masih tidak dapat mengusir rasa sedih dalam hati saat Nelly dengan senyum yang dipaksakan berpamitan denganku. Ia merasa kalau Mama membutuhkan seseorang untuk menghiburnya. Dan, orang yang paling mengerti adalah Nelly.
Kami terlahir hanya berbeda tiga menit. Aku adalah yang pertama lahir setelah itu ia menyusulku menghirup napas kehidupan untuk pertama kali. Ayah bercerita kalau ini adalah sebuah keajaiban karena Nelly masih bisa bertahan hidup. Menurut dokter, Nelly tidak mampu untuk hidup lama karena ada masalah pada jantungnya. Tapi, aku percaya kalau Tuhan masih melindungi saudariku. Itulah mengapa ia tidak pernah merasakan sakit lagi sejak ulang tahunnya yang kelima, dulu.
Aku menunduk melewati tempat tidur Nelly yang masih rapi. Padahal dulu tempat tidur itu selalu berantakan dengan banyaknya tugas sekolah yang buru-buru dikerjakannya. Sekarang, aku benar-benar merindukan semua kebiasaan Nelly. Tanganku menutup pintu dengan pelan lalu berjalan menuju dapur.
“Masak apa, Bun?” tanyaku melihat Bunda tengah memotong-motong beberapa sayuran, ada kol, wortel, kentang dan seledri. Dan dua bahan tambahan seperti bakso dan sosis sapi.
Bunda tersenyum lalu menyodorkan lima siung bawang putih, beberapa merica, serta cobek kepadaku. Aku menatap dengan bingung. Seumur-umur ini pertama kalinya aku memasak. Sekarang aku bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dulu aku hanya mengambilkan bahan-bahan yang disuruh Mama.
Sedikit pun tidak membantu memasak. Karena takut aku akan terkena pisau atau terciprat minyak. Maka, Mama hanya menyuruhku untuk memperhatikan. Jika aku mempunyai niat untuk memasak barulah nanti diajarkan. Itu yang selalu dikatakan setiap kali aku atau Nelly berniat membantu.
“Bunda akan memasak sayur sup dan ayam goreng. Milly bantu Bunda menghaluskan bumbu saja.”
“Caranya?” tanyaku menaruh semua bahan-bahan serta cobek di meja masak. Aku tahu kalau semua bahan hanya perlu dihaluskan. Yang membingungkan adalah bagaimana aku harus memulainya? Apakah bawang putih duluan dihaluskan? Juga seberapa banyak aku harus menabur garam.
Di dapur rumah kami terdapat meja masak. Di mana terbuat dari keramik persis seperti di lantai. Di sebelah kanan diletakkan kompor gas. Sedangkan dekat bumbu rempah-rempah di kiri merupakan tempat untuk mencuci piring. Aku menghaluskan bahan dengan petunjuk Bunda. Hanya perlu beberapa langkah lagi agar bumbu siap digunakan. Aku harap tidak buruk karena bahan-bahan ini aku yang menghaluskannya.
“Bunda boleh bertanya?” tanyanya ragu-ragu. Tangan Bunda tengah memasukkan daun salam ke dalam panci berisi separuh air mendidih.
“Ya, boleh saja, Bun..” jawabku setengah hati. Jujur saja aku malas jika hal yang ditanyakan adalah mengenai perasaanku setelah mereka berdua menikah. Maksudku adalah Papa yang kini kupanggil Ayah dan Bunda tiriku. Menurut pendapatku pribadi kalau ia lebih cocok menjadi sosok Kakak daripada orangtuaku.
Bunda kembali memasukkan satu persatu bahan. Semangkuk irisan bakso dan sosis sapi. Lalu, menambahkan sayuran. Dimulai dari kentang dan wortel yang sudah dipotong-potong rapi. Katanya, perlu waktu cukup lama untuk memasak kedua sayuran itu. Maka, Bunda akan menunggu beberapa menit sebelum memasukkan sayuran lainnya.
“Apa kau masih sering memikirkan Nelly, kembaranmu?”
Kalau aku mengatakan secara gamblang seluruh pemikiranku sudah pasti Bunda akan melaporkannya kepada Ayah. Awalnya kukira Bunda ingin bertanya mengenai perasaanku terhadap pernikahan kemarin. Justru sekarang ia membahas masalah Nelly. Harus kuakui kalau semua itu memang benar. Sebuah pertanyaan retoris yang tidak enak untuk didengar. Membuat rasa rindu dalam hati tersiksa karena tidak tahu harus bagaimana.
Tanpa harus menjawabnya pun kurasa Bunda bisa menebak dari raut wajahku. Aku memandangi pantulan wajah pada kaca di dekat lemari perabotan. Lebih banyak kesedihan di sana. Berbeda jauh dari sosok setahun lalu. Selalu ada senyuman pada wajah saat Nelly mengumbar lelucon garing namun berhasil membuatku terhibur.
“Tebakan Bunda benar, kan?” tanyanya lagi. Kali ini kompor dikecilkan. Bahkan, Bunda beranjak dari depan kompor lalu memelukku dengan erat.
Aku benci sebuah kekalahan. Di sini aku tidak dapat membendung perasaanku lagi. Dengan kata-kata kalau aku bahagia asalkan Nelly menemani Mama. Sejak kepergiannya dengan sebuah koper besar berisi seluruh pakaian serta barang-barangnya –selain boneka sapi di atas tempat tidur. Kurasakan ada yang berbeda. Kamarku menjadi tempat terdingin untuk beristirahat. Canda tawa itu tidak lagi terdengar. Hanya suara jam dinding mendominasi.
“Milly kangen Nelly..” gumamku pelan. Membiarkan airmata mengaliri wajah dan membasahi pakaian Bunda. Aku bahkan melawan egoku untuk membalas pelukan darinya. Saat ini tidak ada hal lain yang kubutuhkan selain pelukan menenangkan yang mampu membuat perasaanku lebih nyaman.