Prolog
Suara pecahan piring terdengar dari kamar kami. Aku memeluk erat Nelly yang ketakutan. Ini bukan pertama kalinya pertengkaran kedua orangtua kami tertangkap olehku maupun Nelly. Namun masih saja terasa seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Maksudku adalah saat Mama membacakan dongeng sebelum kami tidur. Atau, berceloteh bagaimana Papa sangat mencintai sosok Mama. Semuanya berawal begitu indah bagi kami. Bagaimana kami mempunyai orangtua yang begitu perhatian dan memberi kasih sayang yang teramat cukup.
Suara pintu dibanting begitu keras. Jantungku berdegup sangat kencang. Pertama kalinya aku merasa gugup dan ketakutan pada waktu bersamaan. Aku mempunyai firasat kalau hal besar akan terjadi malam ini. Yang bisa saja mengubah hidupku maupun kembaranku.
Air mata mengaliri wajahnya. Tetapi aku tidak bisa berkata apa pun. Bukan menenangkan atau pun berbohong masalah orangtua kami yang berseteru. Dulu aku terpaksa berbohong kepada Nelly. Menjelaskan kalau orangtua kami hanya berdebat kecil, dan dengan segera aku akan datang ke tempat tidurnya dan memeluknya erat hingga terlelap. Namun, kondisinya jauh berbeda sekarang. Kami dapat mendengar barang-barang yang dibanting atau pun suara frustasi dari Mama.
Rasanya aku ingin menangis tersedu-sedu. Tapi, enggan kulakukan karena Nelly di sini. Ia begitu rapuh seakan-akan bisa hancur kapan saja. Dan, hal itulah yang kutakutkan sekarang. Ia meringkuk dibalik piyama langit malam bertabur bintang kesukaannya. Menangis tersedu tanpa suara di dalam rangkulanku.
Suara derap kaki terdengar jelas. Aku masih memeluk erat Nelly dan takut membayangkan yang akan terjadi. Sosok Mama muncul dengan wajah kelelahan dan bekas air mata yang masih tersisa. Aku tidak ingat kapan terakhir kali Mama terburu-buru seperti sekarang. Merapihkan semua pakaian dari dalam lemari pakaian Nelly. Memasukkannya ke dalam koper yang tadi diseretnya. Aku terdiam. Bingung harus mulai dari mana. Atau, menghalangi tindakan Mama sekarang.
Tanpa berkata-kata apa pun Mama memeluk kami berdua. Mengecup puncak kepalaku, sebelum akhirnya menarik tangan Nelly untuk bangkit. Lalu, hal yang kuingat adalah Nelly yang masih tersedu mengikuti langkah kaki Mama keluar dari kamar kami. Dengan kepala tertunduk tanpa ada kata perpisahan, atau pelukan hangat. Semuanya berawal dari sini.