72- Keputusan

1105 Kata

Lisna mengambil napas panjang lalu membuangnya dengan perlahan. Beberapa kali ia lakukan untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba saja memenuhi hati. "Bismillah ... semoga ini adalah jalan terbaik." Lisna masih berada di dalam mobil yang terparkir di depan semua restoran. Karena sebuah alasan, Lisna akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Marini untuk dijodohkan dengan cucunya. "Aku harus realistis. Hidup harus tetap berjalan demi Aga dan aku sendiri," gumamnya, meyakinkan diri bahwa keputusannya sudah tepat. "Tapi, kenapa eyang minta aku ketemu di sini? Bukankah aku dan Aldi udah sering ketemu? Buat apa ketemu di restoran? Kalau cuma mau bicara dan memastikan semuanya, di panti juga bisa." Lisna bertanya-tanya. "Ah! Mungkin maksudnya biar gak keganggu sama anak-anak dan fokus bi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN