CHALYA AGRANIA "Agil..." Yang dipanggil hanya bergumam sambil menonton televisi, serial kartun doraemon menemaninya di hari Minggu ini. Gelas s**u yang isinya tinggal setengah terapit di antara kedua lututnya yang ditekuk. Matanya tak berkedip sedikit pun dari layar televisi. Aku bergabung dengannya, yang mengabaikanku. Sejak malam itu, Ragil tidak pernah lagi merengek untuk memintaku menghubungi Yoga. Aku mungkin kelewatan karena membentaknya, dan tidak memberi pengertian dengan sabar. Namun, fokusku terpengaruh oleh ucapan Eriska. Makanya aku bersyukur karena Ragil tidak banyak tanya soal Yoga sebelumnya, karena itu artinya aku tidak harus menghubungi pria itu. Ternyata perkiraanku meleset, lubang yang sudah kubuat tidak akan tertutup begitu saja. "Agil, masih ngambek sama Ibun?" A

