GILANG PRAMUDYA WIJAYA Semua penghuni rumah ini sudah masuk kamar. Tinggal gue yang masih duduk bengong di ruang tamu, lampu ruangan ini sengaja gue matikan biar nggak ada yang tahu kalau gue lagi merenung soal nasib. Otak gue beneran mati rasa, saat Ragil lebih mengharapkan Yoga daripada gue, saat Rani kelimpungan menyikapi sikap Ragil yang mendadak ingin menelepon Yoga. Sejauh ini, gue selalu menanamkan kewajaran-kewajaran yang lambat laun bikin gue frustasi. Gue selalu bilang, wajar Ragil masih kecil. Wajar, anak kecil mudah terpengaruh oleh selentingan orang-orang di sekelilingnya. Hampir tengah malam, gue beranjak dari sofa. Berjalan menuju kamar, membukanya pelan agar tidak mengganggu tidur Rani dan Ragil. Namun, pemandangan yang gue dapat justru sebaliknya. Rani yang masih duduk

