CHALYA AGRANIA Jam sepuluh pagi, kami bertiga-aku, Gilang dan Ragil berangkat ke rumah Ibu. Sengaja tidak terlalu sore untuk menghindari pertemuan dengan Ayah Ahmad. Memang terkesan tidak sopan, namun aku memilih untuk tidak bertemu dengannya daripada harus diberi tatapan rendah. Ibu tahu aku tidak nyaman berada di rumah, makanya membebaskanku untuk tinggal dengan Ayah. Awal-awal aku tinggal bersama Ayah, Ibu sering kali bertanya sikap ibu sambungku bagaimana. Kubilang jauh lebih respek daripada sikap suaminya itu. Makanya Ibu tidak lagi berkomentar apa pun. Aku sedang memotong puding untuk dihidangkan sebagai jamuan, saat telingaku mendengar keributan kecil dari arah ruang tamu. Kufokuskan telinga untuk mendengar debat argumentasi dari dua generasi yang memiliki kemiripan wajah itu.

