Selangkah menuju pintu depan klinik, sebelum Dark Ryou menarik gagang pintu, David telah dahulu menarik pintu ke dalam. Kunci mobil Anita ada di tangan David. Anita dan Emillia tertidur lelap di kursi. Sebelum Dark Ryou bertanya pada Asha dan David, Asha menariknya untuk berbicara empat mata di dalam kamarnya.
“Apa maksudnya ini?” tanya Dark Ryou.
Asha mengulur waktu, “Umm aku juga bingung, kenapa bisa mereka yang tertidur ya?”
“Kau mencoba mempermainkanku kan?”
“Tidak! Aku serius ingin mencoba obat itu pada pak tua.”
Dark Ryou langsung berbalik badan hendak keluar, “Kau tak akan membodohiku.”
Asha segera menutup pintu dan menguncinya. Kemudian kuncinya dia genggam kuat.
Dark Ryou tersenyum sinis, “Hmp!” langsung dia menghilang dalam bayang. Ketika hendak keluar melalui bayangan di celah pintu, Dark Ryou menghantam sebuah energi penghalang yang kuat. Dia tak bisa keluar.
Asha mengangkat kedua tangannya ke arah pintu untuk mengurung Dark Ryou dalam kamarnya dengan sihir pelindung. Aura hitam tampak jelas di ujung-ujung jarinya. Kamar itu mulai gelap hingga cahaya lampu di kamar itu hilang ditelan kabut hitam.
Dark Ryou tersenyum, hatinya mulai berdebar, “Berani juga kau.” Kedua cakar Dark Ryou sudah siap mencabik-cabik Asha. Energinya terisi penuh karena tak ada cahaya di sekitar.
“Stop!” bentak Asha. Seketika semua kabut itu hilang bersama dengan sihir pelindung.
Dark Ryou langsung keluar tetapi David, Anita, dan Emillia sudah tak ada di ruang tamu. Mobil Anita juga sudah tidak ada lagi ketika Dark Ryou keluar.
“Sekarang kita benar-benar bisa berdua saja,” sahut Asha bersandar di pintu depan klinik.
“Baiklah, aku akan mendengarkan.” Dark Ryou masuk ke dalam klinik.
Asha langsung mengunci klinik, kemudian menutup semua gorden agar tak ada seorang yang mengintip.
“Tidak ada gunanya kalian memata-matai kami.” Tiba-tiba Asha berkata seperti itu.
Asha menjelaskan kalau rambut yang pernah Dark Ryou pungut dan diserahkan pada Anita untuk dianalisis adalah rambut palsu. David sudah lama mengenakan rambut palsu. Kemudian David juga sudah tahu klinik mereka di sadap. Asha menunjuk jendela pertama dekat pintu masuk adalah tempat Dark Ryou menaruh perekam suara. Kemudian di sela-sela rak buku. Lalu di bawah kolong sofa ruang tamu.
“Pak tua itu benar-benar agen andal, jadi kuperingati kau dari sekarang,” pungkas Asha.
“Kau ingin sesuatu dariku kan?” tanya Dark Ryou.
Asha kini terlihat murung, kecentilannya seketika hilang ketika dia mulai serius. “Tidak.”
“Ada pekerjaan kotor yang ingin kau berikan untukku?”
“Sebenarnya... aku ingin minta tolong pada Ryou yang waktu itu ada di taman hiburan.”
Dark Ryou terkejut, dia mengenakan jaketnya yang ditinggal Emillia di kursi kemudian duduk di sana.
Asha duduk di samping Dark Ryou, “Aku ingin bicara padanya.”
Dark Ryou bertukar alam, kini Ryou siap mendengar.
“Ini soal perasaanku pada Peter,” ungkap Asha pelan. Tatapan tajam mata kuning Asha seketika tumpul.
“Anu, bukannya kalian bahagia ya?” tanya Ryou.
“Kelihatannya. Tapi tahukah dirimu kalau aku ini benar-benar seorang wanita yang putus asa.”
Ryou bingung, dia tak tahu kenapa Asha berpikir demikian. Tanpa aba-aba Asha mencium bibir Ryou. Tangannya cepat menjelajahi tubuh Ryou. Asha menggoda Ryou habis-habisan. Dia tempelkan dua gunung besar di d**a Ryou. Paha montok Asha menimpa kaki Ryou. Asha mulai menggoyangkan pinggulnya ke depan dan belakang.
“Bukankah ini yang lelaki inginkan?” Asha menyampingkan tali lingerie-nya hingga tampak buah d**a ranum melekat kuat dan tak kendor meski Asha sudah kepala tiga.
Ryou tak bisa mengendalikan hasratnya, AC ruangan itu mulai tak terasa dingin. “Apa maksudnya ini?”
“Kau menginginkannya kan sekarang?” Asha naik ke pangkuan Ryou lalu mencium telinga Ryou lembut.
Ryou mendesah nikmat. Asha benar seorang ratu seks.
Setelah beberapa saat, Asha berdiri di atas kursi sehingga pinggulnya sejajar dengan kepala Ryou. “Buka celana dalamku dengan mulutmu,” pinta Asha sambil memelet.
Malam itu Ryou kalah telak dengan skor 4 – 0. Ketika Asha hendak melanjutkan ronde ke lima, Ryou sudah lemas tak bisa bangun lagi. Asha mengerti, dia pakai lagi celana dalam dan lingerie transparannya itu. Kemudian membawakan Ryou satu liter air putih segar dari dalam kulkas.
“Kenapa? Apa Peter tak bisa memuaskanmu seperti aku barusan?” tanya Ryou.
Asha menahan tawanya dengan tangan kiri, “Jangan konyol, Peter bisa melakukannya sampai matahari terbit.”
Ryou selesai menegak air putih langsung dari cerek sampai habis. “Apa! Kenapa kau lakukan ini padaku?”
Asha menutup tubuh manisnya dengan selimut, hati kecilnya yang layu bicara, “Peter adalah sosok berbeda dari kebanyakan lelaki. Dia adalah pria terhormat.”
“Iya aku tahu, dia punya kepribadian selembut salju.”
“Kelapangan hatinya membuat dirinya selalu berkorban demi keegoisanku yang tinggi. Tapi dia tak mengeluh sama sekali, dia terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untukku.”
“Iya, kalian sungguh cocok. Sudah banyak beritanya di TV.” Ryou menyetujui apa pun yang dikatakan Asha.
“Bukan itu maksudku.”
“Hmm... jangan bilang kalau Peter terlalu baik bagimu?”
“Tidak, hanya saja aku yang terlalu kotor untuknya.”
Mata Ryou bergulir, “Egh... dasar wanita.”
“Baru saja aku bercinta dengan temannya, atau rivalnya. Aku juga seorang dokter yang centil, suka menggoda pasien, murahan-“
“Hey, jangan bilang begitu!”
“Lebih buruk! Aku wanita pesuruh seorang mafia robot. Aku sembunyikan pak tua itu dari seluruh orang agar dia bisa menjalankan bisnisnya yang makin mekar.”
“Memangnya apa yang dilakukan David?”
“Akankah kau mempercayai mulut jalangku ini?”
“Kau terlalu kasar pada dirimu sendiri, Asha.”
Dark Ryou penasaran lalu mengambil alih paksa kendali tubuhnya. “Sekarang apa yang dilakukan David? Aku tahu kau sengaja mengulur waktu supaya David bisa bicara dengan Anita tanpa gangguanku, benar?”
Ryou melawan, “Dengarkan dulu! Asha meminta tolong pada kita!”
“Ok!” Dark Ryou mengalah dan kembali ke dalam hati.
Asha menjawab, “Kau berhak tahu. Sebenarnya David sudah tahu cepat atau lambat kalian akan kehilangan arah.”
Dia ceritakan kalau David sudah menyusun skenario sepuluh langkah ke depan sebelum Anita memikirkan langkah selanjutnya. Semua rencana untuk melakukan framing sudah disiapkan dari sebelum liga pahlawan dibentuk.
Saat ini David sedang ada proyek kolaborasi bersama Asha dan dua dokter lainnya untuk menciptakan cyborg sempurna yang menyerupai manusia secara menyeluruh. Tidak hanya kulit saja.
Asha sudah bekerja lama di Chimera Tech sebagai dokter ahli. Kulit dan rambut yang ada di badan Tenacity adalah ide dari ilmu Asha. Saat ini satu dokter spesialis syaraf dan dokter spesialis organ dalam hampir selesai menciptakan cyborg versi terbaru yang tidak diciptakan dari besi dan baja, melainkan dari daging dan tulang sintetis.
“David adalah pebisnis besar, ilmuan jenius, dan juga agen rahasia yang licik. Jangan harap kalian bisa lepas dari tipu dayanya,” pungkas Asha.
“Hmm begitu ya, tetapi apa hubungannya dengan Peter?” tanya Ryou.
“Kau tak perlu tahu perasaanku. Intinya aku hanya minta satu hal.”
“Apa itu?”
“Kumohon ajak Karin berlibur di pantai. Sastry mengundangku untuk berlibur di pantai Golden Resort setelah pentasnya selesai. Aku malu mengajak Peter kalau hanya kami berdua yang berpasangan.”
“Hah? Tapi itu tidak mungkin! Hubunganku dengan Karin tidak begitu mulus, apalagi setelah kejadian itu.”
“Kau tahu, hubunganku dengan Peter juga sedang tidak mulus. Tiap hari jarak antara aku dan dirinya semakin lebar.” Asha merunduk frustrasi dengan perasaannya.
“Kenapa?”
“Aku tak tahu, perasaanku berkata begitu.”
“Bagaimana ya, masalahnya aku juga sulit-“
“Akan kubantu kau mendekati Karin! Sampai jadian!”
~~
Tinggal beberapa hari sebelum pentas teater Sastry dimulai. Panggung besar sudah menunggu untuk dihias. Puluhan stan sudah disiapkan di sisi kiri dan kanan panggung. Di depan panggung, tersaji gulungan ombak yang menerjang karang. Matahari terbenam merah tua ditemani semilir angin menutup hari dan menanti malam.
Lantunan nada dan lagu berpacu melintasi detik-detik datangnya bintang di langit hitam. Picilla, jari-jemari kaki menari di atas pasir. Ryou sempatkan diri untuk mendekatinya dan bertanya.
“Kau berlatih begitu keras, apa suaramu tidak takut serak?” tanya Ryou di bawah pohon kelapa yang melintir ke bawah.
Sambil terus menari, Picilla menjawab, “Ketika bintang jatuh, tandanya kekuatannya telah habis. Cahayanya meredup, inti sarinya habis, bintang berubah menjadi batu. Tapi, dialah yang selalu dinanti. Turun dari langit untuk membawa doa. Bintang menggores angkasa gemilang.”
Ryou mengerti, Picilla akan membakar semangatnya sampai akhir demi mewujudkan impian adiknya. Meski akhirnya harus jatuh, sakit perjuangan Picilla akan menjadikan kenangan indah. “Lagu yang indah,” Ryou tersenyum.
Iringan lagu Picilla menentramkan hari Ryou. Bersandar di batang pohon kepala dan menutup matanya.
Dalam hati dia menemui Dark Ryou. “Suasana seperti ini membuatku ingin berjuang untuk mendapatkan hati Karin sekali lagi,” ungkap Ryou.
Masa ini, Karin tidak bermanfaat lagi untuk Dark Ryou. Dia sudah tidak peduli lagi padanya apa pun yang terjadi. Tetapi, Dark Ryou menimbang perkataan Asha. Bukan dia mau mendekati Karin, tetapi dia ingin mendekati Asha agar bisa membujuknya untuk membelot dari David.
“Tapi, apa kau merasakan perasaanku kala itu di memoriku?” tanya Dark Ryou
“Ryou, Karin itu gadis rapuh yang lugu. Aku mengerti dinginnya dirimu kala itu agar Karin bisa jadi lebih kuat. Tetapi sudah bukan waktunya lagi untuk membiarkannya sendiri. Kulit putihnya yang sedikit pucat itu punya cerita indah dengan namamu di baliknya.”
“Jangan dipaksa jika kau tidak suka padanya,” tambah Dark Ryou.
“Eh?” kata Ryou kaget.
“Dia cuma seorang wanita setengah gila, tubuhnya sudah rusak, harga dirinya remuk. Dia tertolong karena parasnya cukup cantik setelah Picilla mengajarinya berdandan.”
“Shhh! Tidak usah khawatir! Aku akan mendapatkan hatinya.”
“Hmp! Tidakkah kau sedikit tega dengan dirimu sendiri? Terpaksa mencintai seseorang yang tidak kau suka.”
“Hey! Aku suka padanya!” spontan jawaban Ryou.
Dark Ryou melirik setengah, “Benarkah?” nadanya meremehkan.
“Aku malu mengungkapkannya, pokoknya aku sempat jatuh hati ketika kepolosannya mendebarkan jantungku.”
“Baiklah, semoga beruntung.” Dark Ryou berbalik, dia tersenyum sinis karena masih mudah memanipulasi pikiran Ryou.
Bulan pun terang, jutaan bintang di angkasa berkelip. Malam yang indah dan tenang menutup satu lagi hari melelahkan untuk Picilla. Tetapi, dia bisa melihat adiknya masih terus bekerja tak kenal lelah. Sastry masih menyusun beberapa stan lagi agar tak ada sudut yang tidak indah di hari pentas. Ryou mengambil kesempatannya untuk bertanya tentang Karin pada Picilla.
“Menurutku, dia seorang gadis rapuh yang lugu,” kata Ryou.
Picilla melongo, “Bukankah dia sebaliknya? Jika dia rapuh kenapa dia bekerja dari pagi hingga malam demi cita-citanya.”
Seketika Ryou tersadar Picilla sedang memandangi adiknya, “Oh iya, benar.”
“Ya, aku sebagai kakak begitu bangga punya adik sehebat Sastry. Aku banyak berbuat salah padanya tetapi dia tak dendam sedikit pun padaku. Malah, dialah yang menyelamatkanku dari kutukan kontrak.”
“Berkat dia, kita tidak bisa bersatu seperti ini. Berkumpul dalam suatu acara istimewa menikmati liburan musim panas terbaik dalam satu dekade terakhir.”
“Iya, sayang disayang adikku itu terlalu ambisius. Sampai lupa kalau dirinya sudah dewasa.”
“Menurutku dia cukup dewasa untuk mengatur kita semua. Maksudku teaternya tidak mungkin sukses tanpa kemampuan komunikasinya yang suka menyuruh tapi santun itu.”
“Hey Ryou, akhir-akhir ini kalian cukup akrab. Kau suka ya dengannya?”
Entah dari mana logika pemikiran itu, Ryou kaget sekali mendengarnya. “Hey jangan buat gosip!”
Picilla kini duduk di samping Ryou sambil membersihkan sela-sela kuku kakinya dari pasir. “Sastry sering cerita tentang dirimu, masa-masa dirimu jatuh dalam krisis jati diri.”
“Eh benarkah? Apa katanya?”
“Benar. Dia cerita betapa sering kalian berdua bertengkar. Tapi ada juga hal-hal lucu dan romantis di antara kesalahpahaman kalian.”
Ryou tak bisa berbohong, dia sadar betapa buruknya dirinya dulu. “Aku sering lupa berterima kasih padanya. Tetapi, ketika semua telah berakhir aku lega sudah mengucapkan rasa syukurku, mengakui kesalahanku, dan membuka lembaran baru sebagai aku yang sekarang ini. Aku dan diriku satu lagi yang lebih kuat di balik topeng hitamnya.”
“Nah, kan kalian sudah baikan, kenapa tidak coba untuk saling mengisi? Ya Ryou?” goda Picilla.
Ryou tertawa kecil, “Tidak, Sastry itu... hmm... dia... aku sulit mengatakannya yang jelas aku menghormatinya. Dia sudah jauh di atasku soal kemanusiaan.”
“Loh kenapa? Atau jangan-jangan...” Picilla mulai tersenyum.
“Apanya yang jangan-jangan?” tanya Ryou sambil menatap Picilla.
Sebelum Picilla menjawab, keduanya dikejutkan dengan kedatangan Jumbo dan kawan-kawan. Ryou lebih kaget lagi ketika Asha ada di samping Jumbo, tangannya bergelantung di tangan Jumbo tepat di depan Picilla.
Melihat kecentilan Asha, Picilla langsung menarik Jumbo kuat-kuat agar tangannya lepas dari Asha. “Sayang... kamu habis apa sama dia?” ada aura kemarahan dibalik panggilan sayang Picilla.
Suara Asha sengaja dibuat-buat mendesah, “Kami tidak aneh-aneh ah, aku hanya memberikan sedikit pelumas supaya jumbo bisa bergerak lebih nyaman. Kasihan dia telah berjaga dari Senin sampai Jumat non stop.”
Picilla menggenggam tangan Jumbo kuat. “Kalau kamu mau pelumas, aku juga bisa memberikannya, Sayang...” ada asap di atas kepala Picilla.
Asha kemudian menarik Ryou kabur sebelum Picilla marah di hadapannya.