Part 2: Tajam

1997 Kata
Dark Ryou dibebaskan oleh Abraham dari kantor Vanguard Label Society di pusat kota Batul. Langit hitam kelabu milik Batul masih sama dengan ingatannya, aktivitas pabrik begitu tinggi hingga asap menutupi pancaran sinar matahari. Bangunan lama di Batul banyak yang hancur, hanya tersisa beberapa yang masih berdiri. Kondisinya juga sudah tak layak. Meski demikian, orang berebut tinggal di sana karena harganya jatuh akibat perang sipil. Makin ke tengah menuju lingkaran hitam, makin terasa denging di telinga Dark Ryou. portal hitam menuju neraka itu ditembaki gelombang Zonosphere dengan generator Ionicube besar dari tiap sudut kota. Belum ada satu iblis yang berhasil melewati gempuran rudal robot Chimera Tech yang berjaga 24 jam non stop di dekat portal. Salah satu petugas menegur Dark Ryou, dia telah melewati batas terlarang. Dark Ryou kemudian mundur dan kembali ke batas aman. “Saya orang baru di sini. Kenapa saya dilarang ke sana?” tanya Dark Ryou. “Tempat ini berbahaya! Matamu buta?” kata petugas dengan seragam Vanguard Label Society. “Kalau boleh tahu, apa lingkaran hitam itu?” “Itu adalah portal menuju neraka. Kalau kau tidak segera pergi aku akan melemparmu ke sana!” “Memang ada apa di sana?” “Hal buruk! Sedetik saja di sana kau pasti merengek!” nadanya mulai mengintimidasi. “Kalau cyborg? Apa mereka bisa masuk ke sana?” “Mana aku tahu! Sudah sana pergi!” katanya sambil mendorong Dark Ryou.   Ryou memanggil dari dalam hati, dia ingin bertukar tempat sebab melihat hancurnya Batul membuat hatinya sakit. Dia ingin melihat dan merasakan sendiri berada di tempat-tempat bersejarah dalam hatinya. Dark Ryou mengizinkan dan bertukarlah roh mereka. Ryou pergi menuju Batul timur melihat rumah Restu, teman lamanya. Di sana bersama Wahid, Darwin, dan Cristian. Mereka bersama bermain game dari pagi sampai pagi. Kehidupan bodoh dan sederhana tanpa tumpah darah. Kini semua tinggal puing-puing berdebu. Ryou kini pergi menuju istana presiden, rumah Dark Ryou dulu. Bersama Dark Ryou dia memastikan portal yang berada di dekat lokasi pembunuhan ayahnya masih ada. Ryou menyusuri rumah berlumut itu dengan perasaan takut. Meski memori pembunuhan itu bukan miliknya, tetapi rasa takut luar biasa yang dulu dirasakan Dark Ryou masih melekat di hatinya. Sedangkan Dark Ryou sudah tak lagi gentar. Dia jauh lebih kuat sekarang. Pertarungan hidup mati yang dijalaninya mulai dari dalam neraka, merangkak melawan puluhan iblis sendiri hingga mampu berdiri keluar dan kembali ke tubuhnya sendiri membuatnya jauh lebih tangguh. Namun bayarannya adalah Dark Ryou mulai bersikap layaknya iblis, tidak ada simpati dan empati. Sehingga dia memanfaatkan Ryou untuk menutupi efek negatif tersebut.   Dark Ryou menyusuri tiap sudut jalan, meneliti beberapa orang, dan melihat bagaimana alur kehidupan Batul. Hingga malam tiba, mulailah Batul mengeluarkan aura aslinya. Gelap dan penuh kengerian. Dengan topeng hitam, Dark Ryou bersembunyi dalam bayangan menghindari patroli polisi. Sesekali patroli polisi ada yang membawa robot. Ada juga polisi cyborg mengelilingi daerah tertentu. Hampir mustahil ada kejahatan di Batul. Semua perlawanan dibungkam. Suara mereka tak terdengar. Batul adalah lumbung masyarakat kelas paling bawah saat ini. Tidak ada jalan keluar. Untuk kembali ke Hefei, Ryou menggunakan kekuatan topeng hitamnya dan bersembunyi dalam bayangan selama perjalanan di kereta hingga sampai ke perbatasan. Setelah dari perbatasan, Ryou sudah bisa duduk tenang.   Setelah dari Hefei lalu lanjut menuju New Yelin. Ryou dikejutkan dengan kehadiran Anita yang menunggunya di pantai Golden Resort bersama Emillia. Dark Ryou langsung mengambil alih dan duduk di samping Anita yang sedang duduk di pinggir pantai. “Punya rencana?” tanya Dark Ryou. Dia tahu ada maksud kedatangan Anita. “Aku sedang memikirkan cara untuk mengorbankan seseorang di kementerian. Tetapi Emillia tak bisa berlama-lama lagi, setelah musim panas ini dia sudah harus kembali ke Neurderladen. Kau harus membantuku, Ryou!” “Hmm... Kalau aku laporkan saja, apa yang akan terjadi?” “Maksudmu!” bentak Anita. “Liga pahlawan sudah tidak ada gunanya lagi, kapan kau terakhir kali menugaskanku untuk mengatasi seseorang?” “Umm..." “Kita sudah berada di jalan buntu. Evriza sampai sekarang belum terlihat tanda-tandanya, Elementalist tak menghasilkan bukti apa pun, pabrik peristiwa Mur Metal juga tidak memberi hasil signifikan.” Anita masih kukuh, “Apa kau benar-benar akan mengatakannya...” “Kita butuh cara baru.” “Tidak! Kita harus pergi sekarang.” Anita langsung pergi menuju mobilnya. “Biar ku tebak, David?” kata Dark Ryou. Emillia menjawab, “Dia seperti itu beberapa hari ini, agak menyebalkan.”   Mereka bertiga kini sudah duduk di bersama David di ruang tamu di klinik Asha. Anita tidak mau mengambil keputusan sebelum David menentukan. “Jadi intinya pekerjaan kalian habis?” tanya David. Cepat Anita menjawab, “Tapi, bagaimana dengan liga pahlawan? Bukankah ini kunci untuk mengalahkan The Apocalypse?” “Kalau begitu korbankan saja beberapa orang di kementerian,” jawab David. Dia katakan ada beberapa orang yang bisa ditumbalkan karena mereka juga dulu terlibat. “Saya boleh kalian salahkan,” tambahnya. Anita mencoba menyusun rencana sambil berbisik dengan Emillia. Lalu David berkata pada Ryou yang diam saja, “Oh iya, setelah pemalsuan ini selesai. Anda bisa lanjut melawan Conquest bersama Vanguard Label Society.” “Bagaimana kau tahu?” tanya Ryou. “Mata dan telingaku ada di mana saja. Aku tetap agen rahasia meski sudah tua,” jawab David santai.   Tak lama, Asha datang dari belakang membawakan teh. David seketika merunduk dan melihat HP. Dark Ryou tak sengaja melihat p****g merah tua besar di kedua p******a Asha karena lingerie  Asha tembus pandang. Dark Ryou sinis tetapi dia menikmati pemandangan yang tersaji. Anita memejamkan mata karena tahu kecentilan Asha memang tiada tanding. “Silakan,” kata Asha. Mereka kemudian mulai meminum teh di cangkir kecil dari keramik. Hiasan dari emas berkilau di gagangnya. Ada gambar burung bangau dari emas dan butiran berkilau dari berlian. Emillia memegangnya dengan dua tangan takut gelas itu pecah. Anita berbisik ke Emillia setelah Asha kembali ke belakang, “Jangan porno seperti itu ya kalau sudah besar.” Teh Emillia habis sekejap untuk menghangatkan tubuh, dia kedinginan karena AC ruangannya sangat dingin. Dark Ryou tak peduli, dia tetap hangat dengan jaket yang selalu dia kenakan. “Boleh saya turunkan suhu AC-nya Tuan?” Anita meminta David. “Jangan! Nanti Pak tua itu kulitnya rusak kalau berkeringat!” jawab Asha dari belakang. Anita langsung membatin, “Judes juga dia kalau soal pasiennya.” “Ryou, pinjamkan jaketmu. Kasihan Emillia,” kata Anita. “Ok,” santai Dark Ryou membuka jaket seperti tak merasa bersalah.   Setelah David menanyakan beberapa hal pada Anita. Ditentukan tiga nama yang harus diurus. Yang pertama adalah Danny Boy dari divisi siber. Anita harus bisa merayunya agar bisa tutup mulut. Menurut penilaian David, semasa dia menjabat Danny adalah orang yang cukup terbuka, selalu memberikan berbagai informasi karena dia juga pandai mencari informasi. Rekomendasi dari David adalah mendekatinya dengan cara persuasif. Dia diduga sebagai penyebar informasi adanya kejanggalan dokumen perintah di divisi pengamanan. Target kedua adalah Yusuf Basaria. Seorang kepala divisi bidang keuangan. Dulu menjabat sebagai staf keuangan di divisi pengamanan. Dia adalah kambing hitam yang akan di framing atau dijadikan tersangka. Sebab Yusuf adalah staf lama dari jaman perang sipil, dan punya sedikit andil dalam mengkudetakan Astaman Rouza. Kemudian target ketiga adalah Evander. Detektif ambisius yang kini mengisi kursi jabatan yang diinginkan Anita yaitu kepala divisi anti teror. Evander adalah petugas disiplin yang cekatan dan andal. Latar belakangnya sebagai detektif akan menyulitkan rencana Anita sehingga David menginstruksikan Anita untuk menyingkirkannya. Meski Anita punya sentimen negatif terhadap Evander, dalam hatinya dia tidak mau mencelakai Evander. Begitu juga dengan Yusuf yang akan kehilangan pekerjaan dan masuk penjara. Sebelum David menjelaskan secara rinci, dia mengusir Ryou agar tidak tahu rencana mereka. “Setelah ini saya akan membicarakan beberapa rahasia pemerintahan. Tuan Rouza silakan keluar,” kata David. Dark Ryou langsung keluar. Dia tak tahu apa yang direncanakan David. Tetapi, Dark Ryou akan mencoba mencari tahu. Dia lirik ke atas untuk mencari posisi kamera CCTV. Perbincangan mereka dimulai ketika Emillia mengintip dari jendela. Ryou ada di seberang klinik menunggu sambil duduk di tanah. Dark Ryou menunggu sebentar lagi. Ketika Emillia sudah tak lagi mengintip, Dark Ryou mulai menyusuri sekeliling klinik. Ponsel Ryou menunjukkan waktu pukul 21:30. Dia tak menemukan siapa pun, tidak juga CCTV. Dark Ryou mulai hilang dalam bayang lalu mengendap masuk ke dalam Klinik melalui celah jendela belakang klinik. Sensasi luar biasa dingin terasa hingga bulu kuduk Dark Ryou berdiri. Dia lihat ada banyak botol ramuan dan alat kecantikan tersusun rapi di atas meja. Dipastikan ini kamar Asha. Tetapi, dia tak ada di sana. Ada aura kengerian yang menusuk, gelap ruangan yang lampunya dimatikan itu tak biasa. Tetapi, Dark Ryou tak perlu berlama-lama sebab perkataan Davidlah yang ingin dia tahu.   Emillia bertanya pada David, “Kenapa Bapak usir Ryou kalau kita cuma membahas masalah kuliahku?” “Keacuhannya membuat saya sedikit sentimen,” jawab David. Dia mengomentari cueknya Ryou ketika Emillia kedinginan. David berdiri. “Mau ke mana, Tuan?” tanya Anita. David pergi ke belakang mengambil selimut untuk Anita dan Emillia, “Kalian pasti sudah kedinginan sekarang.” “Tak usah repot-repot, Tuan!” kata Anita. “Sudah seharusnya saya menjamu kalian dengan baik,” jawab David. “Biar saya bantu.” Anita ikut ke kamar mengambilkan selimut.   Emillia sudah meminum teh tiga gelas. Kini dia ingin buang air kecil. Emillia pergi ke belakang pelan-pelan. Dia perhatikan klinik itu ditata rapi penuh dengan perabotan tradisional. Hiasan dari keramik dan porselen ada di sudut-sudut meja. Di belakang, Emillia melihat banyak gulungan kain sutra yang sangat mahal. Warnanya indah dan teksturnya halus. “Jadi dokter memang benar buat kita cepat kaya,” kata Emillia dalam benaknya. Dark Ryou melihat Emillia masuk ke dalam kamar mandi. David dan Anita masuk ke kamar di sebelah kamar Asha, samping kanan kamar mandi. David dan Anita kembali ke ruang tamu. Anita duduk nyaman dengan selimut menutupi kaki. Emillia bergabung kembali, dia melingkari tubuhnya dengan selimut, seketika dirinya jadi nyaman di sana. Lima belas menit berlalu, Dark Ryou hanya mendengar celoteh David. Tidak ada hal penting, hanya obrolan seputar Emillia dan keluarganya. Dark Ryou beranjak keluar melalui kamar Asha. Tiba-tiba David berkata, “Sekarang saatnya.” Dark Ryou langsung kembali. Ternyata David memberikan ponsel Chimera Tech jenis terbaru pada Emillia karena telah membantu Anita. “Saya harap ponsel ini bisa membantu pekerjaan kalian,” kata David. Emillia akan mencobanya besok, dia sudah mulai mengantuk.   Dark Ryou bergegas kembali sebelum mereka curiga. Bayangan melintas cepat dari kiri ke kana, Dark Ryou sudah keluar. Dia berjalan santai untuk kembali ke depan klinik tempat duduknya tadi. Tiba-tiba dari belakang seseorang menarik tangan kirinya ke belakang dan menutup mulutnya. Dark Ryou tak melawan sebab tarikannya lemah. “Tidak melawan?” goda Asha. Dia membuka mulut Dark Ryou. “Ada apa?” tanya Dark Ryou. Asha memukul p****t Dark Ryou, “Ku lihat kau mengendap-endap di kamarku.” Dark Ryou sedikit terkejut, “Kau bisa melihatnya?” “kemampuan terkenal pembunuh bayangan, Phantom. Lagi pula Peter sudah sering cerita padaku.” Dark Ryou memutar balik badannya, menarik balik tangan kanan Asha dan memelintirnya. “Hmp! Sifat kasarmu mulai keluar,” senyum centil Asha keluar. Dia betot tangan Dark Ryou dengan tangan kirinya yang dipelintir. Asha bebas. “Kau tidak mau pak tua itu curiga kan?” senyum Asha mulai lebar. Sekejap cakar Dark Ryou ada di ujung nadi leher Asha. Asha sedikit gugup tetapi dia tak gentar, “Salah tingkah lagi maka aku akan berteriak!” Dark Ryou menurunkan tangannya, “Baiklah.” Keduanya berjalan ke tempat gelap. Asha mengambil sekantung serbuk dari belahan bokongnya, lalu menaburkan sedikit serbuk itu di ujung telunjuk Dark Ryou. “Coba jilat sedikit saja, ini obat tidur.” “Kau ingin menjebakku?” sinis Dark Ryou. “Hehe tidak. Aku ingin meyakinkanmu kalau serbuk ini benar-benar bekerja. Soalnya tadi aku taburkan serbuk ini ke cangkir si pak tua.” Dark Ryou menjilatnya sedikit. Cuma dua menit dia langsung menguap. Asha mengambil kantung serbuk lainnya dari belahan dadanya. “Ini penawarnya.” Sambil menguap Dark Ryou menjilat serbuk yang diberikan Asha. Dua menit kemudian rasa kantuk Dark Ryou hilang. Senyum centil Asha keluar, dia mengajak Dark Ryou kembali ke klinik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN