Chapter 3 – Replica | Part 1: Tenang

2292 Kata
Liburan tahun 2177 memecahkan rekor penumpang kereta bawah tanah terbanyak selama musim panas. Agustus menjadi puncak terik matahari, begitu juga dengan para penumpang kereta. Orang berbondong-bondong berlibur ke pantai untuk menikmati gulungan ombak dan angin segar. Puncak liburan ini terkesan seperti perayaan keberhasilan pemerintah yang disenjatai cyborg Chimera Tech menekan angka kriminal. Semua orang keluar dengan transportasi umum yang cepat daripada harus membawa kendaraan sendiri. Masyarakat kelas menengah pun banyak yang berlibur berkat stabilnya pertumbuhan ekonomi. Pantai di Provinsi New Yelin merupakan destinasi wisata paling banyak dikunjungi. Tidak hanya pantainya asri, ombaknya juga cukup besar untuk para peselancar. Seketika pantai-pantai di New Yelin berubah menjadi lautan manusia.   Mobil truk box yang biasa Sastry pakai sementara ditepikan karena teaternya diminta oleh salah satu pemilik pantai untuk mengadakan teater besar. Beberapa tukang sedang mengangkut papan dan tiang ke dalam truk besar untuk membangun panggung di pantai. “Tolong Pak, angkat patung ini ke truk. Jangan di banting,” perintah Sastry. Pemilik teater lain bernama Dziyad datang menyusul Sastry untuk mengadakan pentas kolaborasi. “Sudah siap, Mbak Sastry?” tanya pak Dziyad. “Sebentar lagi ya, Pak.” Sastry berteriak, “Ryou! Cepat!” “Ya sabar,” jawab Ryou sambil menggotong properti.   Semua barang sudah sampai di pantai Golden Resort, tempat Sastry melakukan pentas. Ryou tergeletak di pondok kelelahan. Satu botol soda kosong dan satu lagi berisi setengah ada di samping kepalanya. Ryou membuka kaos yang dia pakai, lalu mengipasi rambut panjangnya karena keringat bercucur. Sastry di pinggir pondok melihat teaternya sedang dibangun. Serasa tak percaya dirinya sampai di titik ini. Di bawah pohon ketapang Sastry menyaksikan kakaknya sedang berlatih. Senandung merdu Picilla semakin syahdu. Setelah sekian lama tampil di bawah tekanan, Picilla kini bisa mengekspresikan perasaannya tanpa ada paksaan melalui lagu yang akan dibawakannya. “Senang rasanya semakin banyak orang gembira. Rasanya setelah ini aku akan pergi memulai tur ke luar negeri. Sudah terlalu sedikit orang bersedih. Kota ini, tidak, Kuzech sudah terlalu damai. Aku tidak dibutuhkan lagi di tempat ini.”   Lamunan Sastry terhenti ketika suara telepon Ryou berdering. “Latihan? Maaf Tuan Rexxar, aku harus membantu Sastry minggu ini menjalankan teater,” jawab Ryou. Ryou ditunggu oleh Rexxar untuk berlatih masuk ke dalam dimensi Prana. “Kau harus datang.” Rexxar memaksa. Sastry mendengar pembicaraan mereka. “Pergilah Ryou, terima kasih sudah membantuku,” senyum Sastry cerah.   Ryou kini sampai di hutan mistik Hulao. Portal menuju neraka telah dibuka oleh Jin dan Bao. Nafas Ryou pendek, keringatnya bercucuran saking panas cuaca. Langkah kaki kanan Ryou sudah masuk ke dalam neraka, seketika kakinya mati rasa. Ludah kental terus ditelan Ryou. Jakunnya naik-turun berusaha menahan sakitnya aura negatif dimensi Prana. Setengah badan sudah masuk, perih luar biasa terasa menyiksa. Ketika Ryou sudah masuk secara utuh, halusinasinya mulai muncul. Ryou merasa sedang dibakar hidup-hidup oleh Dark Ryou. Rasa takutnya belum mampu dia lawan namun dirinya tahan dengan rasa sakitnya. Bau hangus tercium kuat di hidung Ryou, kulitnya jadi hitam hangus terbakar. Tetapi Ryou terus melangkah, dia bertahan sekuat tenaga. Dari luar Rexxar melihat kemampuan Ryou yang masih jauh dari ekspektasi. Untuk bisa masuk ke sana, dibutuhkan jiwa tangguh yang mampu melawan rasa takut. Dan jiwa Ryou masih begitu kecil dan rapuh, aura negatif neraka akan menghancurkan jiwanya jika dia terlalu lama di sana. Sudah tiga menit Ryou bertahan sebelum jeritan pertama terdengar. Tetapi Rexxar sudah ancang-ancang untuk menarik Ryou keluar. Sebab kaki Ryou sudah gemetar hebat, tanda dia menahan rasa sakit yang diciptakan oleh aura negatif. Belum sampai menit ke empat, Rexxar menarik Ryou secara paksa. Nafas Ryou megap-megap, matanya melotot jelalatan, badannya menggelinjang seperti ikan yang berada di tanah tandus. Rexxar menunggu sampai sepuluh menit agar Ryou sadar dari mimpi buruknya. Kulit Ryou melepuh, dia merintih ketika sadar sudah keluar dari dimensi Prana. Rexxar meminta Ryou untuk bertukar dengan Dark Ryou. Ketika Dark Ryou mengambil alih tubuh, dia langsung memejamkan mata menahan perih. “Giliranmu.” Rexxar menyuruh Dark Ryou masuk ke dalam dimensi Prana. Dark Ryou melangkah mantap dengan tatapan tajam. Cepat dia melewati portal antara dunia dan neraka. Rexxar melihat tubuh Dark Ryou memantulkan aura negatif Prana berkat aura hitam pekat yang diciptakan dari jiwa Dark Ryou sebagai perisai. Dark Ryou tak takut sama sekali, tubuhnya pun tak terpengaruh. Tetapi di dalam hati, Ryou menjerit di dalam kotak hitam tempat dia bersemayam. Teriakan Ryou berdenging di telinga Dark Ryou, dia keluar dari sana agar Ryou tidak mati ketakutan.   Selama tiga bulan berlatih, Ryou hanya mampu bertahan selama tiga menit. Artinya tiap bulan perkembangan Ryou menahan aura negatif dimensi Prana hanya satu menit. Butuh lima tahun agar Ryou bisa bertahan selama sejam saja. “Pak, kurasa aku tidak akan menemuimu lagi,” kata Dark Ryou. Rexxar mengerti kesabaran Dark Ryou mulai habis. Dia tak bisa selamanya menuntun Ryou yang lemah tetap berada di dalam hatinya. “Baiklah, kalau begitu kami akan pulang ke Zorozirgardean.” “Sebelum kalian pulang, bisakah kalian menghilangkan sihir yang mengikat jiwaku dengannya?” “Sayangnya tidak bisa, kami harus meneliti lagi bagaimana cara memutus rantai selain membunuh salah satu di antara kalian. Selain itu, tidak mungkin The Apocalypse diam saja jika kita mencoba menghilangkan mantranya. Mereka pasti punya rencana.”   Satu jam Dark Ryou berjalan kaki untuk sampai ke halte bis terdekat dari hutan Hulao. Keringat di tangannya membuat luka bakarnya makin perih, ditambah sorot sinar matahari yang makin membara. Sambil kembali menuju pantai Golden Resort, Dark Ryou menelepon Anita untuk menanyakan perkembangan kasus Evriza. Anita menjawab, “Maaf, Ryou. Aku dan Emillia sudah berusaha-“ Emillia memotong, dia ingin bicara langsung, “Dia terlalu cerdik! Orang sepintar Evriza tidak mungkin bisa-“ Anita balas memotong, “Dengar Ryou, kau tunggu saja info dari kami. Paling tidak setelah pentas teater Sastry selesai.” “Kenapa dengan pentas itu?” tanya Dark Ryou. “Kami lelah dan butuh liburan, sudah setengah tahun kasus ini diselidiki dan masih belum menemukan setitik pencerahan. Kuharap kau mengerti.” “Ok.” Dark Ryou menutup teleponnya. “Hmm kurasa aku harus benar-benar bergerak sendiri.” Harapan Dark Ryou saat ini hanyalah Evriza. Dia harus mendapatkan ponsel Chimera Tech dan mengoperasi tubuhnya dengan tubuh sintetis yang tahan terhadap gelombang aura di dalam Prana. Dark Ryou harus segera mendapatkan bantuannya atau dia tak akan bisa membalaskan dendamnya.   Sebelum ke stasiun kereta, Dark Ryou mampir ke klinik Asha terlebih dahulu. Jaraknya tidak jauh sehingga dia sempatkan untuk menanyakan sedikit tentang Chimera Tech pada David. Lonceng di pintu berbunyi ketika Dark Ryou membuka pintu. “Silakan masuk... oh dirimu, pak tua ada di sebelah,” sahut Asha. Dia sedang bersantai sambil menonton TV. Dark Ryou bisa merasakan kulitnya mengering. AC di set 16 derajat dan ada 6 AC di ruangan berdimensi 7 x 7 meter. Dia melihat Asha yang mengenakan tanktop tipis dan rok pendek dengan santai tak merasa menggigil sedikit pun. Bahkan David tidak merasa bergeming dengan suhu ruangan ekstrem itu. “Aku tidak melihat Peter.” Kata Dark Ryou pada David. Dia duduk di kursi dan merasakan dinginnya kayu kursi itu. “Oh? Anda memperhatikannya?” “Ya.” Sesaat keduanya diam. Kemudian David membuka percakapan. “Ada apa gerangan datang kemari?” “Ruangan ini cukup sejuk.” Pipi David naik turun, bibirnya berusanya tersenyum tinggi. “Lelucon yang bagus.” Dark Ryou menggebrak meja, “Kau tahu di mana keberadaan Evriza bukan?” tatapnya tajam. David tak gentar, dia tak mempan intimidasi. “Semua pengetahuanku telah dikubur bersama mayat palsu itu.” David tak mau mengatakan apa pun. “Lelucon yang bagus.” Ryou pindah duduk ke depan Asha. Asha cuek pura-pura tak melihat Ryou. “Berapa David membayarmu?” tanya Dark Ryou. Asha tak mau melirik, dia tetap menonton TV. Dirasa percuma, Ryou pergi tanpa kata.   Di dalam kereta, Dark Ryou duduk di antara penumpang lainnya. Suasananya begitu tenteram. Tak ada rasa takut di wajah orang-orang. Terasa begitu hampa bagi Dark Ryou setelah tak beraksi lebih dari tiga bulan. Dark Ryou memejamkan matanya sejenak lalu berbicara dengan Ryou di dalam hatinya. Sambil memegang rantai yang mengikat jiwa Dark Ryou dan Ryou, Dark Ryou berkata, “Bagaimana kalau kita ke Batul?” “Kenapa? Di sana banyak orang VLS.” “Aku hanya ingin sesekali merasakan ketegangan. Di sini terlalu tenang.” “Hmm bagaimana ya...” Ryou berpikir. Terlalu lama berpikir, Ryou sudah sampai di stasiun kota New Yelin. “Pikirkan lagi, sudah lama kita tidak ke Batul. Kita tidak tahu seperti apa kondisinya sekarang.” Dark Ryou duduk di sudut gelap ruang hati.   Ryou dan Dark Ryou bertukar tempat, dia bangun memejamkan mata dan melanjutkan kehidupan Ryou. Sampai pintu kereta menutup, Ryou tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia kembali ke Hefei lalu mengambil kereta jurusan Batul. Kereta Batul sangat sepi penumpang. Kontras dengan kereta New Yelin. Penumpangnya pun rata-rata masyarakat kelas menengah bawah para pekerja pabrik yang sudah diaktifkan kembali di Batul. Kereta berhenti sejenak. Di perbatasan antara Hefei dan Batul diadakan inspeksi penyihir menggunakan gelombang zonosphere. Petugas dari Vanguard Label Society memeriksa satu persatu penumpang dengan melihat reaksi ketika penumpang disorot gelombang zonosphere. Denging di telinga Ryou mulai hebat, koneksinya dengan Dark Ryou semakin pudar. Gelombang zonosphere mampu mendistorsi lubang dimensi, sehingga manusia tidak bisa menggunakan kekuatan supranatural. Keringat bercucuran, kepalan tangan Ryou makin kuat karena mulai kesulitan bernafas. Petugas langsung menarik Ryou keluar dari kereta. Salah satu petugas menodongkan pistol ke kepala Ryou. Satu petugas menarik rambut dan menyeret Ryou sampai ke pos keamanan. “Hey busuk! Beraninya sampah sepertimu naik fasilitas umum?” kata salah satu petugas keamanan. Seorang dengan seragam Vanguard Label Society datang. Dia ingat wajah Ryou lalu tersentak. “Tembak terus orang ini dengan gelombang zonosphere! Jangan berhenti meski dia pingsan!” katanya sambil merogoh ponsel menelepon seseorang. Ryou masih terus bertahan meski rasanya dadanya akan meledak. Darah tiba-tiba mengalir dari telinga kiri, Ryou mulai sulit mendengar karena denging semakin kuat. Pandangannya berputar, Ryou tak bisa lagi melihat sekeliling. “Tuan...” Ryou memanggil petugas Vanguard Label Society. “Tolong bebaskan aku...” Petugas itu langsung menendang mulut Ryou. Tak lama kemudian Ryou pingsan.   Ryou sadar dirinya telah pingsan dan kini ada di dalam ruangan penuh cahaya. Duduk di kursi besi, di depannya ada meja putih kosong. Ryou melihat Anita, Menteri Ketertiban Umum Julian Etienne, dan seorang pria tua berkulit hitam berambut keriting ada di hadapannya. Pria hitam itu berkata, “Saya sudah dengar kejadian di Chang’an. Ada yang bisa saya bantu?” Ryou kaget melihat pimpinan Vanguard Label Society, Abraham Jaffar Khomeini ada di hadapannya. Dark Ryou meminta Ryou untuk bertukar tempat. Ryou setuju. Kini Dark Ryou yang berkomunikasi. “Oh sepertinya sedang serius?” tanya Abraham. Dark Ryou tanggap dengan pertanyaan itu, menyangka Abraham merasakan aura dalam jiwanya berubah. “Apakah ada sesuatu hal penting sehingga pemimpin aliran suci datang menemuiku, seorang penyihir yang hina ini?” Abraham menarik kursi lalu duduk di depan Dark Ryou. “Bisa Anda jelaskan kenapa Anda pergi ke Batul? Apakah karena portal besar yang ada di kota? Atau?” “Aku hanya ingin mengunjungi kampung halaman.” “Haha... benarkah?” Abraham mulai serius. Dia mengutarakan maksud kedatangannya. “Sempat beredar berita tentang pembunuh bayangan, Phantom, yang menyerang para kriminal? Apakah itu Anda?” “Oh! Kau tidak tahu?” “Tidak. Maukah Anda mencari tahu untuk saya?” “Untuk apa?” “Sesama manusia harus saling membantu. Mungkin saya bisa memberi imbalan, seperti informasi, tenaga, atau akses...” “Untuk apa identitas Phantom? Bukankah kalian memperlakukan semua penyihir sama?” “Tentu, tetapi akan lebih sopan jika saya tahu siapa Phantom sebenarnya?” “Jadi hanya soal formalitas?”   Abraham memajukan kursinya, dia bertanya pada Julian. “Bagaimana Tuan Etienne?” Julian menumpu badannya dengan dua tangan di meja di antara Abraham dan Dark Ryou. “Jadi begini, belakangan ini kondisi Kementerian Ketertiban Umum agak kurang stabil. Data tentang Phantom sering hilang tak jelas. Maukah kau mencari siapa orang yang bekerja dengan Phantom di Kementerian Ketertiban Umum?” tanya Julian. Dark Ryou mulai teliti berkata, sepertinya mereka mengendus kecurangan Anita. Liga pahlawan adalah warisan David yang tidak disetujui. Kementerian Ketertiban Umum hanya mengakui Masked Heroes Simphony sebagai pahlawan yang berfungsi sebagai pengaman negara selain kepolisian dan tentara. “Kami bisa berbelas kasih, atau kami harus menggunakan sedikit kreativitas?” tanya Julian.   Abraham bersandar di kursi melihat situasi mulai berpihak padanya. “Sebagai imbalan, Vanguard Label Society akan membantu melindungimu dari gangguan iblis yang sempat menyerangmu di Chang’an.” Anita diperintah Abraham untuk menampilkan rekaman pertarungan Ryou dengan Conquest di sebuah tablet. Dark Ryou terkejut ada kamera yang bisa merekam roh. Jelas gambar Conquest dan Dark Ryou asli di rekaman itu. Seharusnya makhluk dari dimensi lain tidak bisa dilihat manusia biasa. “Bukannya dia merupakan ancaman bagi Kuzech? Kenapa mengandalkan warga sipil sepertiku?” Dark Ryou menawar. “Kalau boleh jujur, aksi Anda ketika masih menjadi Flanagan di Batul sangat menginspirasi. Saya tahu ada niat baik di dalam sana.” “Kalian bahkan tahu siapa aku sebelumnya, kenapa repot-repot minta bantuanku mencari penghianat dalam institusimu?” “Oh? Baiklah kalau memang tidak mau. Kalau begitu sisanya saya serahkan pada tuan Etienne.”   Abraham mulai berdiri. Dia menyudutkan Ryou untuk mengambil kesempatan terakhir. “Ok! Akan kucari!” lekas jawab Dark Ryou. Anita kaget, dadanya mulai sesak. “Ok, sebelum itu kami punya beberapa pertanyaan.”   Dark Ryou menjelaskan semua. Siapa dirinya, dan iblis bersayap yang terbelenggu dengannya. Kemudian julukan Phantom yang melekat di namanya. Lalu dia ceritakan bagaimana dirinya bisa bertemu dengan Conquest, masa lalunya dengan War, juga The Apocalypse. “Apa kalian siap? Apa negara ini mampu mengalahkan mereka?” tanya Dark Ryou. Julian menjawab, “Tak usah pusing, lautan penyihir saja bisa kita kalahkan, apalagi hanya segelintir.” Kemudian Abraham berkata, “Kami akan cari cara, The Apocalypse adalah iblis berbahaya. Mereka adalah arwah pejuang yang sangat hebat saat masih di dunia.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN