Part 10: Latihan untuk Ryou

1321 Kata
Di tengah hutan mistik Hulao. Rexxar, Jin, dan Bao sedang membantu Ryou untuk mengontrol gelombang negatif yang ada dalam dirinya. Ryou sedang berlatih untuk bisa masuk ke dalam dimensi Prana. Rexxar bisa membuka portal menuju Prana. Ryou pun sebenarnya sudah bisa masuk. Namun ketika dia berada di dalam jiwanya langsung penuh dengan rasa takut. Semua energi negatif dalam diri Ryou keluar dan menyiksanya sejak pertama Ryou masuk ke dalam dimensi Prana. Berbeda dengan Dark Ryou yang sudah biasa. Jiwa Ryou yang lemah dan rapuh tidak mampu mengendalikan energi negatifnya. “Kalau kau ingin tahu rasanya neraka, seperti itu kira-kira,” kata Rexxar setelah menarik Ryou keluar dari dalam Prana. Seluruh tubuh Ryou bergetar kuat, jantungnya berdebar, matanya membelalak. Di dalam Prana dia melihat ada ratusan Conquest menyerbunya. Bayangan itu menghantui jiwa Ryou sampai tubuhnya merasakan sakit yang amat perih. Selain Conquest, dia juga takut dengan Sastry dan Dark Ryou. Berkali-kali Ryou mendapati bayangan Dark Ryou membunuh Sastry. Ryou hampir membunuh Sastry dengan tangannya sendiri karena pengaruh Dark Ryou, di Prana semua itu menjadi nyata. Dark Ryou menggantikan Ryou mengendalikan tubuh, langsung hilang sekejap rasa takut. Rexxar melihat perbedaan kekuatan drastis antara Ryou dan Dark Ryou. Seorang manusia yang berubah menjadi iblis sudah tidak akan mempan dengan halusinasi di dimensi Prana.   Mereka beristirahat. Kemudian Ryou bertanya. “Kalian tahu kan Conquest belum mati?” Rexxar mengedutkan dahi, “Uh?” “Tepat saat aku memotong kepalanya, aku tak merasakan beban apa pun di tangan. Seperti hanya sedang menebas bayangan.” Dark Ryou mengingat sekali lagi kejadian di Mur Metal. “Jadi kau tahu?” tanya Rexxar. “Tentu, sudah yang kedua kalinya Conquest berhasil kabur.” Dark Ryou menceritakan kejadian di Batul saat pertama Ryou dan Peter menumbangkan Conquest. “Hmm... dia tidak sedang bermain-main. Menurutku Conquest malah sedang melatih kalian berdua,” kata Rexxar setelah mendengar cerita Dark Ryou. “Kenapa? Apakah dia setuju jika aku menjadi Sargeras?” “Dia menyebut War sebagai dalangnya kan?” “Benar.” “Baiklah, kita hanya bisa menunggu langkah mereka selanjutnya.”     Sekali lagi Ryou gagal memasuki dimensi Prana. Setelah dirinya cukup tenang dia kembali menjalani hidupnya. Dia memutuskan untuk pergi ke kantor Kementerian Ketertiban Umum untuk menemui Emillia untuk mencari tahu perkembangan penyelidikan Evriza. “Belum ketemu!” Emillia sekejap pergi tak ingin konsentrasinya buyar. Anita juga sedang amat sibuk. Dia bekerja ekstra hati-hati sekarang. konsentrasinya sama tinggi dengan Emillia. Ryou tak lama di sana lalu pergi. Resah dia mencari cara agar bisa masuk ke dalam dimensi Prana.   Ryou mengunjungi Tenacity yang sedang berjaga di dermaga Hefei. Dia bertanya lagi apa yang dirasakan Tenacity ketika melakukan teleportasi menggunakan ponselnya. Tenacity simpel menjawab, “Seperti berada di dalam terowongan.” Ryou heran kenapa Tenacity tidak takut, namun Tenacity juga tidak tahu. “Kenapa tidak tanya David saja. Dia kan ilmuan.” Dalam perjalanan menuju klinik Asha, Ryou mampir sebentar ke warung untuk membeli kola. Kebetulan warung itu sedang ada promo sehingga Ryou dapat satu lagi kola secara gratis. Mungkin itu pertanda baik, semangatnya muncul dan harapannya pada David jadi tinggi. Di jalan ketika menuju stasiun, Ryou memperhatikan begitu damainya kehidupan. Tidak ada huru-hara lagi. Ketika di kereta juga orang-orang duduk tertib, bertegur sapa dan tertawa. Ryou jadi terbawa suasana dan mulai mengobrol dengan penumpang di sampingnya.   Kini Ryou di depan pintu klinik Asha. Dia mulai resah mendapatkan jawaban. “Tuan Rouza, selamat datang,” sambut David. Ryou langsung ke inti, “Kenapa Tenacity tidak takut ketika masuk ke dalam dimensi Prana saat melakukan teleportasi?” “Karena jiwanya kuat.” Pukul David dengan kata. Ryou langsung membuang mata, rasa kesal langsung muncul. David tertawa dua kali, “Ha ha.” Tawanya tidak natural. “Saya bisa buat lelucon juga sekarang.” “Apa maksudnya?” Ryou marah. Portal yang terbentuk dari ponsel Chimera Tech mengantarkan penggunanya menuju portal lain melalui dimensi Prana netral. Tempat itu adalah perbatasan antara Prana negatif dan positif. Di mana tidak ada roh yang bisa melewatinya. Ponsel Chimera Tech memanfaatkan dimensi itu sebagai terowongan. “Singkat cerita, Tenacity hanya terbang dengan kecepatan cahaya di sana.” “Jadi dia tidak berada di dalam Prana yang sebenarnya?” “Anda salah paham. Tenacity memang masuk ke dalam Prana. Hanya saja dia masuk ke dalam Prana yang manusia dapat jelajahi.” “Berarti aku pun bisa?” “Tidak. Tubuh manusia tidak mampu menahan kecepatan cahaya. Tubuh Anda akan hancur lebur jika melesat di sana.”   Ryou beranjak pergi. Belum ada metode yang tepat agar dia bisa ikut ke dalam dimensi Prana bersama Dark Ryou. Memandangnya saja Ryou sudah kewalahan, apalagi harus merasakan kengerian di sana. Peter menyapa Ryou dari sudut jalan, kebetulan dia mau mampir. “Sedang apa kau?” “Maaf aku sibuk.” Ryou langsung pergi.   Peter masuk ke dalam klinik mencari Asha. Sudah seminggu belum ada kabar. David kini mendengar keresahan Peter. “Apa Tuan Miracle benar mencintai Asha?” Sebelum Peter mengiyakan jawaban itu, David meminta Peter untuk berpikir jernih dan mengesampingkan rasa khawatirnya. “Bukan maksud ingin menyinggung, tetapi Asha memaksa Tuan untuk mencintainya. Benar kan?” kata David lagi. Peter renungkan sejenak, memang benar Asha selalu menyudutkannya dan memaksanya untuk berlaku mesra. Pada awalnya Peter merasa berhutang budi namun lambat laun Peter mulai menemukan sisi sensitif Asha yang dia kagumi. Yaitu rasa peduli Asha pada kekurangan Peter. Semua wanita buta ketika berada dekat Peter. Seluruh citra dan kehebatannya di TV menutupi kelemahan kalau Peter sebenarnya tidaklah sempurna. Namun Asha mampu melihat itu, dan terus memaksa Peter untuk berbenah menjadi lebih baik. Hal itu yang membuat Peter kini jatuh hati. “Rumit menjelaskannya, namun aku benar mencintainya,” jawab Peter. “Jangan khawatir, nona Asha adalah wanita independen, kuat, dan pemberani.” David mencoba menenangkannya. “Oh iya, Ryou tadi kenapa ke sini?” tanya Peter. David kemudian menceritakan kesulitan Ryou.     Ryou kini berada di makam Teuron bersama Karin. Setelah menemaninya hingga petang, Ryou mulai mengutarakan maksud kedatangannya. “Portal jauh di luar kemampuanku,” jawab Karin. Ryou makin frustrasi, “Tapi kau pernah membantu Teuron untuk melintasi dimensi Prana kan?” Ryou ingat Teuron pernah masuk ke dalam hatinya untuk bertemu dengan Dark Ryou yang berada di dalam Prana. “Tidak, aku tidak bisa.” Karin begitu dingin pada Ryou.   Ryou akhirnya pulang tanpa hasil. Setelah selesai membantu pentas teater Sastry, Ryou duduk berdua di tengah panggung sepi menceritakan harinya pada Sastry. Ryou menghela nafasnya, “Aku malu pada Ryou.” “Kau sudah melakukan yang terbaik!” senyum Sastry mencoba menghangatkan Ryou. “Tidak, aku hanya menghambat.” Sastry menyentil hidung Ryou, “Ayolah, jangan murung!” “Tapi-“ “Coba ajak bicara Ryou yang asli.” Ryou terdiam, dia menyesali ketidakmampuannya. “Sini biar aku yang bicara padanya,” pinta Sastry. Tatapan mata Ryou berubah, Dark Ryou kini mengambil alih. “Bisakah kau memberinya waktu?” pinta Sastry. “Sejujurnya, aku tidak masalah mau sampai kapan dia seperti ini.” “Syukurlah kau mengerti.” “Tapi...” “Eh? Tapi apa?” tanya Sastry penasaran. “Tak apa.”   Malam semakin dingin, suara semakin sepi hingga sunyi senyap terasa di dalam teater. Sastry mendekati Ryou, “Kurasa waktunya tepat, situasi saat ini sangat sepi. Jika aku bicara, suaraku pasti sampai ke dalam hatimu.” Dark Ryou hanya melirik. “Aku ingin mengutarakan perasaanmu padamu...” perlahan Sastry berkata. Mata Dark Ryou berkedut sedikit, dia menunggu. “Sudah empat tahun aku memendam perasaan ini. Aku sudah mengatakannya pada Ryou yang lain. Tapi aku belum sempat mengatakannya padamu secara langsung.” “Katakan,” kata Dark Ryou tib-tiba dingin. “Aku mohon maaf telah mengacaukan dirimu. Maaf kalau Ryou yang lain menyulitkanmu. Aku mohon maaf sebesar-besarnya, karena kecerobohanku semua jadi seperti ini.” “Ya,” Dark Ryou berkedip. Dia membuang muka. “Akan kucari cara untuk memisahkan kalian berdua, aku berjanji.” “Waktu terus berdetik, cepat atau lambat dia akan musnah.” Berat hati Sastry mendengarnya, “Aku tahu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN