Setelah beberapa hari sejak kejadian di Mur Metal. Sebelum Ryou mendapat undangan dari Sastry untuk datang ke teater, Ryou memutuskan masa depannya bersama Peter di hutan mistis pegunungan Hulao. Rexxar, profesor ahli Luminox atau inti energi roh menjabarkan kebenaran dari ritual Rite of Passage.
Sebelum manusia pertama tercatat dalam sejarah, ada kehidupan makhluk lain yang menyerupai peradaban manusia. Pengetahuan dan sejarah makhluk itu sebagian berhasil diturunkan pada manusia melalui perputaran roh dari dunia dan Prana. Roh yang berhasil berevolusi memulai lagi kehidupan baru sebagai manusia. Dari sana manusia punya ilmu untuk mengembangkan zaman. Semua pengetahuan di dunia ini hanya berputar, perlahan turun dari kehidupan sebelumnya hingga pada akhirnya lenyap di dimensi Prana.
Kiamat adalah akhir dari kehidupan dan juga awal menuju kehidupan yang lain. Manusia belajar dari kehidupan sebelumnya dan memprediksi kiamat akan datang ketika iblis dan malaikat saling bertempur di atas bumi. Dengan pertarungan Sargeras dan Luoja sebagai lembar akhir dari buku kehidupan.
Rexxar berkata pada Dark Ryou apakah dia sanggup menjalani hidup seperti itu. Akankah dia siap melawan Peter jika dia juga berhasil melewati ritual Rite of Passage. Dark Ryou bisa mundur untuk menghindari kiamat, atau Peter yang mundur. Tetapi apakah salah satu dari mereka mau mengalah, Rexxar katakan hal itu di depan Ryou dan Peter.
Ada banyak teori dikemukakan di Zorozirgardean, tetapi teori yang paling lazim adalah ketika hanya ada salah satu dari Sargeras atau Luoja. Kehidupan di dunia akan berubah seperti kehidupan di dimensi Prana.
Jika Sargeras lahir tanpa adanya Luoja, kehidupan manusia akan jatuh ke dalam jurang tanpa ujung penuh kebencian, keangkuhan, amarah, keserakahan, determinasi, kehampaan, dan keputusasaan tanpa akhir. Perjuangan tanpa akhir untuk keluar dari dasar jurang tak kan pernah usai hingga semua manusia mati tanpa pernah menang.
Namun jika Luoja lahir tanpa adanya Sargeras, kehidupan manusia hilang dalam kehampaan. Mata hati manusia akan buta karena cahaya kebaikan, kerendahan, kesabaran, kemurahan, kesederhanaan, ketekunan, dan kesucian. Manusia perlahan pudar dalam hangat cahaya lalu hilang tak berbekas seperti mati karena ekstasi.
Dark Ryou berdebat dengan Peter tentang tiga pilihan itu. Mereka harus memilih salah satu atau The Apocalypse akan terus menghantui manusia. Conquest sudah bilang kalau iblis tidak akan menunggu sampai waktunya tiba, mereka akan datang ke dunia membawa kiamat tak peduli dengan aturan yang ada di kehidupan generasi sebelumnya. Rexxar menengahi, Dark Ryou dan Peter tak harus menjawabnya sekarang. Masih ada waktu sebelum para malaikat ikut campur tangan mengganggu stabilitas bumi.
Peter belum memutuskan, tetapi dia akan selalu mengawasi Ryou mulai detik ini. Sebagai pahlawan, Peter tidak akan membiarkan siapa saja terluka karena Ryou. Rexxar mengatakan kalau Dark Ryou bersama Ryou mungkin bisa membuat keajaiban. Mereka tidak harus menjadi raja iblis untuk bisa menang melawan The Apocalypse. Dia berkata seperti itu karena keadaan Dark Ryou yang unik, meski secara natural Dark Ryou kini adalah iblis, sebagian hatinya masih sensitif layaknya manusia. Dan Ryou yang menjadi kunci keberhasilan apakah Dark Ryou bisa mempertahankan kemanusiaannya ketika kekuatannya telah mencapai puncak. Rexxar berani mengungkapkan hal itu karena dia melihat Dark Ryou bisa berubah pikiran untuk menyelamatkan orang-orang di pabrik Mur Metal. “Aku akan bertanggung jawab jika perkataanku salah.” Rexxar memutuskan untuk tinggal di Kuzech lebih lama agar bisa membantu Ryou menciptakan keajaiban itu. “Kalau begitu, aku butuh bantuan kalian.” Ryou meminta bantuan mereka untuk menemukan tiga The Apocalypse lainnya.
Di ruangan Anita, Emillia sedang bersemangat melacak perangkat tak dikenal yang masuk ke dalam sistem ponsel Tenacity. Dugaan kuat Evriza adalah pelakunya karena pada saat Emillia memindai ponsel Tenacity dia menemukan jejak digital Evriza. Dapat diasumsikan bahwa yang memberi peta Mur Metal, mematikan CCTV, dan memberikan Tenacity modul api, angin, dan tanah adalah Evriza. Tenacity jelaskan semua keanehan di dalam tubuhnya belakangan ini, dia merasa sangat tidak nyaman setelah menjenguk Karin bersama Sastry. Ketika dia pergi dari rumah Karin, tiba-tiba dia merasa tubuhnya sangat ringan dan kuat, dan terkejutlah dia saat melihat ponselnya punya tiga modul tersebut.
“Aku boleh pinjam HP-mu kan?” kata Emillia sambil melotot ke layar laptop.
Tenacity tidak yakin sebab dia tak memegang topeng air lagi, “Sebenarnya tidak boleh, hmm... bagaimana ya...”
“Anggap saja hari libur, biarkan Emillia membantu kita,” kata Anita.
Tenacity duduk di sebelah kanan Emillia, Anita di sebelah kiri. Mereka ingin tahu bagaimana caranya mencari jejak Evriza. Berharap melihat sesuatu yang canggih dan futuristik, mereka malah melihat Emillia menonton video tutorial pemrograman.
“Katanya hacker?” kata Tenacity yang melihat Emillia sedang belajar.
“Memangnya aku Google?” jawab Emillia ketus. Dia tutup laptopnya karena tak nyaman diperhatikan.
“Oy buruan!” Tenacity ingin segera menggunakan ponselnya kembali.
Emillia pergi membawa laptop dan ponsel Tenacity ke tempat lain, dia ingin fokus tanpa gangguan siapa pun. Anita menyuruh Tenacity untuk berlibur dan akan mengabari secepatnya ketika dia sudah bisa memakai ponselnya kembali. Ketika Tenacity hendak pergi, Peter datang menemui Anita. “Aku keluar dari Liga Pahlawan.” Dia tak mau lagi melanjutkan ritual Rite of Passage setelah mengetahui konsekuensinya.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Ryou pada Sastry semalam, Tenacity semakin yakin kalau perkataan Peter benar. Dia sudah melihat jiwa Ryou yang baik, Peter juga berkata demikian. Mungkin sudah saatnya bagi Tenacity mempercayai Ryou secara utuh. Dia ajak Ryou untuk bertemu di teater Sastry untuk meminta maaf karena telah menjebaknya. Kala itu Tenacity bekerja sama dengan Rexxar untuk melenyapkan roh Dark Ryou. Tetapi setelah melihat Ryou mampu membelokkan hati Dark Ryou dengan kekuatan topeng kegelapan, Tenacity ingin percaya.
“Mulai saat ini, aku hanya ingin bilang kalau aku dan dia adalah sama. Meski berbeda, tetapi apa yang kami rasakan sama. kalian tidak perlu membedakan apakah aku baik dan dia buruk karena tidak ada gunanya,” tegas Ryou.
Sastry dan Picilla senang mendengarnya, Tenacity menepuk pundak Ryou, “Baguslah kalau begitu, aku jadi tidak khawatir lagi.”
Ryou melihat teman-temannya tersenyum, “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
Sastry merangkul Tenacity dan Ryou, “Kita ini keluarga, benar kan?”
“Hatiku berkata iya,” Tenacity menunggu jawaban Ryou.
“... ya.” Ryou mengangguk, dia senang bisa mengenalkan Dark Ryou ke dalam kehidupannya.
Picilla melihat pencapaian adiknya begitu hebat, dia bisa menyatukan berbagai macam orang menjadi sebuah keluarga. Begitu senang hingga Picilla ikut ke dalam pelukan, dia melompat bersama Sastry, Tenacity, dan Ryou merayakan kembalinya Ryou ke dalam teater.
“Kau tak harus tidur di jalan lagi sekarang, teater ini selalu terbuka untukmu, ya Ryou?” Sastry akan menyiapkan ruang untuk Ryou.
“Aku akan membantu!” Picilla ikut terbawa arus semangat.
Ryou memandang teman-temannya, mereka sama sekali tidak takut padanya meski telah mengetahui bahwa setengah dirinya adalah iblis. Pikirannya jadi tenang, Ryou tak pernah merasa sesenang ini sebelumnya. “Ayo kita bereskan!”
Kursi penonton teater Sastry sudah terisi penuh. Peter dan Asha bisa melihat penampilan spesial akan disajikan malam ini. Teater itu dalam keadaan kekuatan penuh. Semua pemainnya hadir, ditambah Picilla yang kini bertugas sebagai narator. Kali ini teater boneka diganti menjadi teater orang, akan ada pakaian klasik, legenda, dan latar tradisional Kuzech. Di meja rias Sastry menyisir rambut Ryou yang keras karena jarang menyuci rambut. Dia tertawa, Ryou tertawa karena tidak ada lagi yang harus ditutupi. Tenacity sudah selesai menghafal naskah, tidak terlalu sulit karena drama yang akan dimainkan hanyalah cerita kilas balik perjalanan teater Sastry. Judul teater malam itu adalah Teater Mimpi.
Sambil menonton, Peter mencurahkan sedikit perasaannya pada Asha. Dia senang dengan kedamaian yang terjadi setelah pabrik Mur Metal ditutup. Kementerian Ketertiban Umum berada di jalan yang benar, tugas Peter jadi banyak berkurang, malah hampir tidak ada kejahatan yang dia atasi minggu ini.
“Ketenangan ini membuatku gugup,” kata Peter melihat betapa bahagianya tim teater Sastry tampil.
Asha menyandarkan kepalanya di bahu Peter manja, “Ini kan hasil kerja kerasmu.”
“Iya sih, tapi rasanya aku belum melakukan apa-apa.” Peter tidak pernah membayangkan rasanya menjadi salah satu dari tim teater. Perjuangan mereka jauh lebih berat dibanding nasib Peter yang mulus.
“Jangan bilang begitu, kau berhasil mengalahkan Conquest. Itu pencapaian besar!”
“Benar, hanya saja aku takut lengah karena terlena dengan kedamaian.”
Pelukan Asha makin erat di lengan Peter, “Jangan takut, aku yakin kamu bisa.”
Penampilan Sastry ditutup dengan tepuk tangan meriah. Asha sampai berdiri karena tahu cerita itu nyata dari hati mereka masing-masing. Betapa lega mereka menyampaikan keresahannya di atas panggung. Asha ingin menangis, tapi dia takut make up-nya luntur sehingga dia tahan semua emosinya. Tapi cepat haru di d**a hilang ketika melihat Rexxar dan dua muridnya ada di dekat pintu keluar.
Asha sudah berbaring di kasur bersama Peter seperti hari-hari sebelumnya. Namun kali ini mereka hanya berbincang sebelum tidur.
Sambil memeluk Peter, Asha mengusap rambut Peter dan berbisik, “Semua akan baik-baik saja. Kamu yang terbaik.”
Peter masih memikirkan apakah dia sanggup menangani Ryou jika suatu saat ritual Rite of Passage berhasil dan mengubah Ryou menjadi ksatria kegelapan yang sesungguhnya.
Asha tak mendapatkan respons apa pun dari Peter. “Apa yang kamu ragukan lagi?”
Peter bangun lalu duduk membelakangi Asha. Dia merunduk sambil memejamkan mata. Kemudian pergi, “Aku ingin meluruskan pikiranku sebentar.”
Di ruang tamu David melihat Peter pergi, sekarang pukul sebelas malam. Dalam hati David berpikir kalau Asha melakukan tugasnya dengan baik untuk mengurusi Peter.
Setelah yakin Peter sudah jauh dari klinik. David beranjak menuju kamar Asha. “Boleh saya masuk?” katanya sambil mengetuk pintu kamar Asha.
Sejenak tak ada balasan. “Oh pak tua? Ada apa?” teriak Asha dari dalam.
“Peter sudah pergi.”
“Sigh... baiklah masuk!”
Senyum tipis David yang begitu dingin muncul, “Ayo?”
“Huuuh... ok ok jangan lupa kunci pintu.”
David mengunci pintu kemudian mematikan lampu. Gelap sudah klinik itu seperti tak berpenghuni lagi.
Sudah tiga hari Asha tidak membuka kliniknya. Dia hilang dari klinik tak bisa dihubungi. Asha bahkan tidak pamit pada Peter. David memberitahu Peter kalau Asha pergi ke Zorozirgardean untuk mengurus sesuatu tetapi dia tidak menyebutkan apa yang ingin dilakukannya di sana.
Peter pengertian dan tak masalah dengan itu. Sebab dia sendiri sedang sibuk dengan film terbarunya. Kian hari tugasnya sebagai pahlawan makin tidak diperlukan. Hampir tidak ada kejahatan kecuali tindak kriminal kecil yang bisa dengan sigap diselesaikan polisi. Kasus pencarian Evriza juga belum menemukan titik terang. Sejak Mur Metal hancur, Elementalist tidak lagi muncul. Hanya ada kedamaian, tenteram dan aman.
Santai David meminum teh di ruang tamu sambil menonton satu lagi film yang dibintangi Peter tampil di layar kaca.