"Oliv!" teriakan seorang emak-emak menggema di seluruh ruangan.
Seorang gadis remaja berwajah bulat nan imut lari terbirit-b***t dari arah dapur menghampiri seorang wanita paruh baya di sebuah kamar. "Ada apa, Ma?"
"Ada apa, ada apa. Dari mana aja kamu?! kamu lihat ini!"
"Astaga!" pekik Olivia, gadis itu lalu bergegas mencabut kabel setrika dari stop kontak ketika melihat asap muncul dari baju yang dia tinggalkan hingga membuat baju itu bolong. "Maaf Ma, aku nggak sengaja. Tadi aku lagi—"
"Nggak usah banyak alasan. Kamu tuh nggak pernah becus kalau kerja. Nggak berguna! Kamu lihat baju Mama jadi bolong gini!" wanita itu menggoyang-goyangkan bajunya yang bolong di depan wajah Olivia yang duduk di lantai. "Dasar anak nakal!"
"Aduh, aduh sakit Ma. Maafin aku Ma." Olivia mengaduh kesakitan sambil memejamkan matanya erat saat orangtua yang mengadopsinya menyabet punggungnya dengan tali pinggang. Ia memeluk tubuhnya ketakutan sampai air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. "Sakit, Ma. Maafin Oliv, Ma."
"Berhenti Ma, sakit Ma! Maafin Oliv Ma, Oliv nggak sengaja. Sakit, Ma."
"Oliv! Oliv!" Damian menggoyangkan tubuh istrinya yang meracau dalam tidurnya.
Olivia membuka matanya, dadanya naik turun dan wajahnya basah karena air mata. Tatapan matanya seperti orang linglung, manik matanya bergerak pelan menyapu ke sekitar dengan takut-takut.
Damian sontak menangkup wajah istrinya, mengarahkannya kepadanya. "Oliv, kamu nggak apa-apa?"
Olivia menarik napas dalam-dalam, kelopak matanya bergetar namun dia hanya diam. Damian pun membawa istrinya ke dalam pelukannya, mengusap lembut punggung istrinya. "Tenang ya, kamu hanya mimpi buruk." Damian menatap lurus ke depan dibalik tubuh Olivia sambil terus mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Setelah merasa Olivia agak tenang, mereka duduk bersandar di sandaran ranjang. Olivia menyandarkan kepalanya nyaman di pundak Damian, tatapannya masih kosong namun napasnya sudah lebih stabil dan tenang.
Damian melirik Olivia sekilas dengan ekor matanya. "Apa sekarang sudah lebih baik?"
Olivia menghela napasnya. "Maaf, aku menganggu tidurmu."
"Jangan berkata begitu. Aku nggak terganggu sama sekali kok." Olivia hanya diam, matanya mulai sayu. "Kamu mimpi buruk? aku dengar kamu menyebut mamamu."
Olivia menelan ludahnya. "Iya, aku ... Aku mimpi mama tiriku." Damian menoleh, mendengarkan dengan baik. "Setiap kali mama marah, aku selalu dipukul dan setiap kali aku dipukul, aku selalu mimpi buruk." Suara Olivia kembali bergetar saat menceritakan kisahnya saat masih tinggal dengan orangtua angkatnya dulu.
"Saat aku kecil, aku senang banget bisa diadopsi oleh sebuah keluarga, aku senang akhirnya bisa merasakan gimana kehangatan keluarga itu, kasih sayang orangtua dan aku benar merasakan kasih sayang dari mereka namun setelah kehadiran anak pertama mereka dan aku beranjak remaja, orangtua angkatku berubah. Mereka sering bersikap kasar padaku, memperlakukan seperti pembantu dan merendahkanku." Air mata kembali mengalir di pipi Olivia namun Damian dengan cepat menyekanya.
"Padahal aku cuma butuh kasih sayang dan dihargai hiks." Olivia kembali larut dalam kesedihan dan Damian hanya bisa mengusap kepala Olivia, menenangkannya. Damian akhirnya tahu sedikit kisah dari kehidupan Olivia sebelum bertemu dengannya.
Damian menarik napas dalam. "Apa kamu tahu mamaku yang sekarang bukanlah mama kandungku," celetuk Damian membuat Olivia mengangkat kepalanya. Damian belum pernah menceritakan tentang mama tirinya pada Olivia. "Dan Arjuna adalah adik tiriku."
"Tapi, Mama Sonya dan Arjuna kelihatan baik."
"Ya, mereka memang baik. Tapi mereka lah alasan yang membuat Papa berubah." Damian menatap lurus ke depan dengan wajah dinginnya. Olivia menghapus air matanya kasar lalu mendongak, menaruh fokus pada Damian.
"Mama kandungku meninggal karena sakit dan stres. Papaku tidak pernah mencintai Mama. Di hatinya hanya ada mama tiriku bahkan perhatiannya lebih besar ke Arjuna dari pada aku. Aku selalu salah di matanya." Damian mendengus, tersenyum miris. Matanya berkaca-kaca.
Olivia mengedipkan-ngedipkan matanya, matanya kembali memanas seolah merasakan luka yang dipendam oleh lelaki itu. Ia merasa kisah mereka agak mirip. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat ternyaman justru jadi tempat yang membuat trauma.
Keduanya saling pandang, sorot mata mereka tulus, menunjukkan kepedulian pada satu sama lain. Sekali lagi, mereka kembali berpelukan. Kali ini pelukan yang lebih erat, hangat dan penuh kasih sayang.
Beberapa saat kemudian, mereka melepas pelukan dan kembali saling pandang. "Kita hanya punya satu sama lain. Jadi, mulai sekarang jangan sungkan untuk cerita apapun padaku."
Olivia mengangguk ribut. "Kamu juga ya, nggak perlu selalu bersikap dingin dan tegas di depanku."
Damian menyunggingkan senyum tipis kemudian menganggukan kepalanya. Perlahan ia mendekat, melayangkan kecupan di dahi Olivia, lembut dan tulus hingga membuat darah Olivia berdesir, merasakan benar-benar dicintai.
"Ya udah, tidur lagi yuk."
Olivia mengangguk, Damian pun mengusak kepala Olivia lembut sebelum keduanya kembali berbaring dengan posisi menyamping dan saling berhadapan.
***
"Hueek ... Hueekk ..." Laura memejamkan matanya rapat saat merasakan perutnya mual dan kepalanya kliyengan. Ia berusaha keras memuntahkan isi perutnya namun yang keluar hanyalah cairan bening.
"Kamu sakit apa sih, Laura? sejak kemarin kamu muntah-muntah terus," tutur mamanya yang sedang mengurut leher Laura. Laura membuka matanya, kelopak matanya bergetar gugup, napasnya masih belum teratur. "Kamu udah periksa ke dokter? atau mau mama antarin?"
Laura mengusap bibirnya lalu berbalik. Wajahnya pucat dan lelah. "Nggak usah Ma. Aku bisa periksa sendiri kok."
"Ya kamu cepat periksa dong. Jangan ditunda-tunda."
"Iya Ma."
"Ya udah mama buatin bubur dulu buat kamu. Hari ini kamu cuti aja, nggak usah berangkat kerja." Laura mengangguk lemah. Mamanya pun mengusap lengan Laura lembut sebelum keluar dari kamar mandi.
"Hueek ...." Laura dengan cepat berbalik menghadap wastafel ketika rasa mual kembali menyerang. "Hueek ... Hueekk ...."
Laura mengangkat kepalanya, menatap dirinya di depan pantulan cermin, bibirnya pucat dan bergetar, peluh keringat membasahi wajahnya, ia berantakan sekali di pagi ini. Di kehamilan pertamanya ini dia benar kewalahan menghadapi morning sickness yang baru pertama kali ia rasakan.
Beberapa saat kemudian, Laura sudah duduk di meja makan sambil mengoleskan minyak angin ke dahinya. Papanya sudah berangkat kerja sejak pagi-pagi sekali.
Lena, mamanya Laura tampak sedang menata makanan ke atas meja. Namun tiba-tiba. "Hueekk ... Ih Mama~" Laura menjepit hidungnya sambil menahan mual.
"Kamu kenapa sih?"
"Sambal terasinya jauhin Ma, bau banget."
Lena mengernyitkan dahinya. "Loh, biasanya kamu suka sambal terasi."
"I-iya ... Tapi 'kan aku lagi sakit, jadi nggak selera makan. Hueekkk ... Bau banget mami~" ujar Laura sambil merengek manja.
"Iya-iya mama pindahin. Udah kayak orang hamil aja kamu."
Deg.
Jantung Laura seakan berhenti saat mamanya mengatakan kalimat barusan. Ia menelan ludahnya sambil menunduk perlahan. Tangannya dibawah meja menyentuh perutnya yang masih datar. Ada rasa khawatir yang menyelinap ke dadanya.
'Gimana reaksi Mama kalau tahu aku hamil diluar nikah?' batin Laura cemas seraya menatap punggung Mamanya.