Duka Seorang lbu dan Kakak
-*-*-*-
"Tanda tangani surat ini!".
"Apa ini?".
"Surat perjanjian pranikah".
"Tapi Pak Juan tidak bisa menikahi ku begitu saja.Aku tidak mencintai Bapak,jadi tidak mungkin aku menikah dengan Pak Juan.".
"Jika kamu berani menolak.Jangan salahkan aku dan jangan mengutuk ku!,Syakina".
"Apa yang akan Pak Juan lakukan?".
"Aku akan berpesta saat kamu menangisi jasad Aditya".
"Apa???".
"Pikirkanlah baik-baik sebelum kamu menyesal,Syakina".
Syakina memandangi surat perjanjian pranikah yang diletakkan Juan di meja dengan mata berkaca-kaca.Haruskah la tanda tangani atau tidak.Tetapi jika tidak menandatangani surat perjanjian pranikah itu,nyawa Aditya yang ada digenggaman Juan,akan melayang.Keluarga satu-satunya yang tersisa itu maka takkan pernah dilihatnya lagi.
Akhirnya Syakina menyerah demi Aditya yang sangat la sayangi.Syakina mengusap air matanya yang telah luruh dan menandatangani surat itu dengan tangannya yang bergetar.Syakina tak punya pilihan lain selain menikah dengan Juan Mirza Prayudha yang merupakan CEO diperusahaan tempat la bekerja.Menikah yang didasari dendam dan bukan atas nama cinta.Sudi mengorbankan perasaan nya dan menjadi istri Boss arogan demi mempertahankan nyawa Aditya.
-*-*-*-
Flashback.
"Yuna,Yuna...Buka pintunya,Nak!"
Sudah lebih dari satu jam putri kesayangan nya mengurung diri dikamar mandi,dan tak jua keluar sepulangnya dari kampus.Hal itu membuat Anne khawatir sehingga berusaha membuka pintu yang dikunci Yuna dari dalam,namun tak berhasil.Anne
"Yuna sayang!.Apa yang kamu lakukan didalam,Nak?.Cepat buka pintunya!.Jangan buat Mama khawatir".Putri bungsunya tak menjawab panggilan nya membuat Anne menggedori pintu yang tak kunjung dibuka Yuna.
Tak putus asa Anne mencoba mendobrak pintu walaupun sadar jika tenaga nya yang sudah memasuki usia senja mustahil dapat membuat pintu itu terbuka.Khawatir dan cemas sementara sudah melanda hatinya.
"Yunaaa!,Yunaaa...!".Sia-sia usahanya pun pada akhirnya saat pintunya masih kuat tertutup,Anne pun terduduk lemas dengan berderai air mata dan meraung pilu.
Asa Anne pun lebur ketika tak bisa berbuat apa-apa.Apalagi tak ada yang bisa la mintai tolong karna rumah yang ditinggali jauh dari tetangga dan rumah pun dalam keadaan sepi.Asisten rumah tangga nya,Ratih,pergi membeli makanan kesukaannya diantar sopir pribadinya yang hingga kini belum juga pulang.
Baru saja tiba di rumah sepulang bekerja di perusahaan yang didirikan mendiang Papa nya,bergegas Juan ke kamar Yuna saat mendengar suara tangis Mama nya yang menggetarkan kalbu nya menyeruak masuk ke gendang telinga nya.
"Mama".Menemukan Mama nya terduduk di lantai,Juan mendekati Anne yang terlihat memilukan."Mama apa yang terjadi?.Kenapa Mama menangis?".Miris hati Juan melihat Mama nya tersedu hingga bahu Anne yang bergetar Juan rengkuh,dan tetesan air mata yang membasahi pipi Anne,Juan hapus.
Terakhir kali Juan melihat air mata Mama nya menangis,adalah ketika sang Papa menghembuskan nafas terakhir setahun yang lalu,dan ini kali pertama Juan melihat Anne menitikkan air mata lagi,tetapi la tak tahan melihat itu.
Tangis Anne mereda melihat kedatangan putra sulungnya.Anne pun menatap wajah putranya yang begitu membanggakan keluarga dengan tatapan berselimut duka dan air mata."Mama mencemaskan Yuna,Juan.sejak tadi Yuna mengunci diri di kamar mandi dan tidak menjawab panggilan Mama.".
Menyadari jika ada yang janggal dengan adiknya,Juan pun bangkit guna membuka pintu dimana Yuna terkurung di dalam nya,tetapi nihil.Begitu rekatnya pintu tertutup.Tak patah arang,Juan mencoba lagi mendobrak pintu dengan kaki kokohnya hingga dapat terbuka dan akhirnya berhasil.
"Astaga Yunaaa....".Tangan sosok adiknya terlihat terkulai lemas tak berdaya diatas bathub dan bersimbah darah hingga m*****i ubin yang seputih salju,Juan hanya menatap seraut wajah cantik yang terpejam itu,seakan sedang tidur dengan pulasnya,namun terlihat pucat dan menyedihkan.
Penasaran dengan apa yang dilihat Juan hingga sehisteris itu saat melihat Yuna,bergegas Anne bangkit dan menghampiri Juan.Tatapannya terpaku pada sosok putri cantiknya yang terendam air didalam bathtub dengan tubuh berbalut kimono tetapi terlihat sudah tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan,Anne pun ambruk pingsan.
"Mama...".Suara jatuhnya Anne membuat Juan tersadar dari keterkejutannya dan keterpakuannya sesaat,Juan pun mengalihkan perhatian nya pada sang Mama yang tersungkur di lantai.
Secepatnya Juan memindahkan Anne ke tempat tidur Yuna dan membaringkannya disana.Selanjutnya menghubungi sahabat nya yang berprofesi sebagai Dokter dan bekerja dirumah sakit terdekat."Dave,kirim Ambulan ke rumah ku sekarang juga!".
Juan menunggu kedatangan Ambulan dengan perasaan cemas hingga tak bisa diam.Bolak-balik memeriksa keadaan Yuna untuk memastikan jika Yuna masih bernafas dan denyut nadinya masih ada,lalu menjaga Anne dan kemudian keluar lagi.Duka yang teramat dalam saat ini yang dirasakan Juan.Selama hidupnya,baru kali ini terjebak dalam situasi yang genting dan mendebarkan.
Rentang waktu yang tak lama,akhirnya Ambulan yang ditunggu Juan tiba dikediaman nya dan tim medis segera mengevakuasi Yuna menuju Ambulan menggunakan brangkar.Selama proses evakuasi berlangsung,Juan tak beranjak menemani Anne yang terbaring ditempat tidur Yuna dalam keadaan masih tak sadarkan diri dengan hati dihantui rasa yang pernah la rasakan saat kehilangan Papa nya.
Dengan tangan menenteng sebuah kantong plastik,Ratih bersama Bayu suaminya yang turut bekerja di rumah itu menjadi sopir,memasuki kediaman keluarga Prayudha setibanya mencari makanan kesukaan sang majikan.Namun pasangan suami istri itu terheran melihat adanya Ambulan terparkir di pekarangan rumah,sehingga Ratih dan Bayu pun tergesa-gesa menemui sang Majikan yang terlihat berada di kamar Yuna.
"Mas Juan,kenapa diluar ada Ambulan,Mas?".Kian heran Ratih melihat Anne terkapar di tempat tidur Yuna hingga sekantong makanan pesanan Anne terlepas dari genggamannya."Ibu kenapa,Mas?.Apa yang terjadi pada lbu?"Begitu paniknya Ratih dan khawatir akan Anne,Ratih berhambur mendekap Anne.
Kedatangan Ratih dan Bayu dikamar Yuna disambut lega Juan.Seketika Juan beranjak dari tempat nya."Pak Bayu tolong jaga Mama!,dan Bibi,tolong bersihkan kamar mandi Yuna!.Aku harus segera pergi ke rumah sakit".Tanpa menjelaskan kronologis kejadian yang menimpa Yuna dan Anne pada Ratih dan Bayu,Juan menyusul Yuna yang sudah dibawa pergi Ambulan ke rumah sakit.
-*-*-*-
"Kakak,tidak lama lagi kakak akan menikah.Lalu bagaimana denganku?.Aku tidak rela kakak pergi".
Takut kehilangan satu-satunya keluarga yang dimiliki sekarang lantaran kedua orang tuanya telah lama pergi menghadap yang Maha Kuasa mendera hati Syakina hingga terisak saat bersandar di bahu kakaknya,Aditya,yang akan menikah dengan Tara,wanita pilihan kakak nya yang merupakan putri konglomerat.
Usai menikah nanti Aditya akan menetap di kediaman Apartemen Tara dan akan meninggalkan Syakina seorang diri,sehingga Syakina pun berat jika harus berpisah dengan kakaknya yang selama 22 tahun ini selalu hidup bersama,ada didekatnya disaat tertentu dan tak pernah terpisahkan.
Hati Aditya yang tengah dirundung bahagia merasa tertampar dengan keluhan Syakina.Sungguh berat sebenarnya Aditya meninggalkan Syakina tanpa siapa pun yang menemani,tetapi terpaksa harus la lakukan.Itu sudah menjadi konsekuensinya jika menikahi Tara,wanita yang kerap mengulurkan tangan dimasa-masa tersulitnya.Berkat Tara,la bisa menduduki posisi Branch Manager di perusahaan milik Ayah Tara sehingga kebutuhan hidupnya dan Syakina terpenuhi.
"Syakina,sejauh apa pun jarak memisahkan kita,kakak akan tetap menyayangi mu karna kamu adik ku yang manis.Dan kakak akan selalu memantau mu dari jauh.Jadi,jaga sikap mu dan dirimu selama kakak tidak ada disamping mu,mengerti?".Demi menenangkan hati adiknya,Aditya membelai kepala Syakina yang begitu sangat berat melepas nya pergi.
"Aku mengerti,Kak".Syakina pasrah dan merelakan Aditya yang semestinya ada disisi Tara.Air matanya yang berlinang dihapusnya saat yakin la akan baik-baik saja tanpa Aditya dan akan belajar hidup mandiri.
Tak dapat dipungkiri nya karna bagaimana pun,Tara sudah berkontribusi besar membantu membiayai kuliah S1 nya hingga lulus dengan menyandang gelar Sarjana Ekonomi,dan Aditya pun mendapat pekerjaan yang lebih layak.Nyata Syakina rasakan saat kesulitan datang menerpa sepeninggal kedua orang tuanya,Dua tahun lalu.Lagipula tak mungkin Tara tinggal di rumahnya yang hanya sepetak dan minim fasilitas.Berbeda jauh dengan Apartemen yang Tara miliki.Serba mewah dan luas.
-*-*-*-
"Bagaimana kondisi Yuna,Dave?.Cepat katakan!".Begitu cemaskan kondisi Yuna saat ini,Juan tak sabar menunggu jawaban Dave yang hanya bergeming dan menghela nafas saja,dengan sangat terpaksa Juan mencengkram jubah putih yang Dave kenakan hingga Dave terkesiap.
"Sabar kawan.Tenanglah dulu!".Dave menenangkan sahabat nya yang terlihat begitu mencemaskan Yuna dengan mengelus bahu Juan.Alhasil cengkeraman tangan Juan terlepas dari jubahnya.
Dave menarik nafasnya sebelum mengungkapkan kondisi Yuna yang tidaklah baik.Sebenarnya Dave berat menceritakan catatan medis Yuna,namun bagaimana pun Juan harus tau walaupun miris.
"Yuna cukup kehilangan banyak darah,tetapi sudah mendapat transfusi darah yang sesuai dengan golongan darah nya.Beruntung kejadian nya belum lama,tapi sangat disayangkan jika Yuna terlambat dibawa kemari dan tidak mendapat penanganan Medis.Mungkin,nyawa Yuna tidak tertolong.Bersyukurlah Juan,karna Yuna masih bisa diselamatkan.Tapi maaf,kondisi Yuna koma.Jadi,bersiaplah untuk kemungkinan yang terburuk".
Penjelasan Dave mengenai Yuna sontak membuat Juan kehabisan kata-kata.Bahkan urat syaraf nya terasa lemas dan aliran darah nya seakan tersumbat saat duduk di kantor Dave yang turun tangan menangani Yuna.
Bingung,tak mengerti dan penasarannya Juan dengan masalah yang Yuna hadapi hingga nekad menyayat pembuluh darah di pergelangan tangannya sendiri,yang bisa saja mengakibatkan nyawa nya lenyap jika terlambat mendapatkan pertolongan.Sungguh Juan tak sanggup memikul derita jika harus kehilangan orang yang la sayangi tuk kali kedua.
"Sampai kapan kemungkinan adik ku bisa bertahan,Dave?.Berapa lama waktu Yuna yang tersisa?".Dengan netra penuh harap Juan menatap Dokter spesialis bedah itu jika jawaban nya akan menenangkan.
"Tidak dapat ku tentukan,Juan.Tergantung kekuatan fisik dan kesehatan mental Yuna.Kurasa,Yuna sangat terguncang oleh sesuatu yang membuat nya berani berbuat senekad itu.Apa kamu tau hal itu?".Ingin tahu yang terjadi pada adik sahabatny itu,lekat Dave menatap Juan saat mengorek lebih dalam penyebab Yuna berniat menghilangkan nyawa nya sendiri.
"Tidak Dave.Itu yang harus ku selidiki penyebab nya,dan akan ku cari tau,siapa yang membuat adik ku begini".Tangan Juan mengepal terbayang kondisi Yuna saat ditemukannya di kamar mandi.Rasanya Juan ingin meremukkan tulang belulang sosok yang membuat Yuna nyaris tewas itu.
"Aku turut prihatin atas apa yang dialami Yuna,kawan".Apapun yang Juan rasakan,Dave dapat memahami hingga Dave mendekap bahu sahabat nya yang sedang lara."Tapi,ada lagi hal lain yang harus ku sampaikan padamu soal Yuna.Maaf Juan,aku sangat menyesal mengatakan ini".Dave terfokus menatap satu titik Netra Juan yang terlihat begitu bingung dan penasaran dengan apa yang akan disampaikan nya.
Dave melontarkan kata-kata yang klise dan abstrak,tak dapat Juan pahami.Tetapi,Juan dapat mengendus jika sesuatu yang akan diungkapkan Dave ,bukanlah kabar yang menyenangkan.
"Jangan berbelit Dave,katakan inti nya!".Manik Juan yang sehitam awan kelam dikegelapan malam menatap Dave dengan tajam,hingga Dave pun tertunduk menghindari tatapan Juan yang seakan ingin mencabik kulitnya.
"Yuna dinyatakan hamil setelah melalui serangkaian pemeriksaan secara intensif".Terpaksa dan penuh rasa sesal yang mendalam Dave mengungkap kondisi Yuna hingga membuat Juan terbelalak dan terbangun dari duduknya.
"Apa?.Yuna hamil?".Bumi seakan rubuh dan menimpa Juan,hingga nafasnya terasa tercekat dan mengusap dahinya yang berkeringat dingin mendengar sesuatu yang tak pernah la duga.
"Mustahil.Yuna tidak mungkin hamil".Alih-alih mengakui kejujuran Dave,Juan menepis klaim Dave soal kehamilan Yuna yang dianggapnya palsu dan sulit dipercaya.
Siapa sosok pria yang dicintai Yuna dan mencintainya?,Yuna tak pernah bercerita.Bahkan Yuna pun tak menunjukkan hal-hal yang absurd,selayaknya wanita hamil.Tak heran jika Juan meragukan ucapan Dave dan mengira Dave berlelucon yang sangat konyol.Tetapi kemudian Juan sadar jika Dave tak mungkin mengarang cerita yang tak pantas dan seserius itu.
Kejujuran nya diragukan Juan,Dave pun mengeluarkan kartu As nya dengan memperlihatkan Testpack hasil tes urine Yuna yang bergaris Dua,dan foto hasil USG janin yang ada didalam kandungan Yuna."Usia janinnya diprediksi sudah 6 Minggu".
Sepahit apapun kenyataan yang harus diterima Juan perihal Yuna,tetapi Dave tak ingin merahasiakan hal yang seharusnya Juan ketahui sebagai wali Yuna.Mungkin itu adalah aib dan pukulan telak bagi Juan.Namun bagaimana pun Dave harus mengungkap hasil pemeriksaan medis tentang pasiennya.
Batin Juan menjerit akan ketidak jujuran Yuna yang menutupi hal sepenting itu saat menatap benda-benda yang ditunjukkan Dave diatas meja.
'Kenapa Yuna merahasiakan ini?.Siapa pria biadab yang telah tega melakukan itu pada Yuna?'.
Sungguh Juan tak habis pikir,Yuna harus mengalami semua itu disaat la tak pernah menyentuh wanita dan menyakiti hati wanita.Setiap kali ada wanita yang ingin menerobos dinding hatinya,Juan membentengi diri dengan sikap yang dingin dan angkuh.
Juan memiliki alasan tersendiri mengapa begitu menjaga jarak dari wanita?.Kepergian kekasih yang sangat la cinta ke alam baka,meninggalkan sejumput trauma yang hebat hingga bertekad takkan mencinta lagi.