Minggu berganti tapi tidak dengan suasana hatiku. Ia masih kukuh menolak panggilan Gazza dan enggan membalas pesan-pesan yang Gazza kirimkan. Ia ingin percaya bahwa pesan terakhir Gazza adalah benar, tapi semua artikel terus merilis foto-foto kencan tersembunyi mereka. Bahkan, banyak foto-foto yang tak lagi disensor, semuanya nampak jelas. Gazza membual padaku, merayuku, mengatakan bahwa semua berita itu bohong tapi dia terus menemui perempuan cantik dengan penggemar internasional yang tak terhitung.
Hatiku dibuat bingung olehnya. Mungkin benar kata Juna, "Cinta mungkin tidak mengenal kasta, tapi untuk bersama sebuah kasta menjadi pertimbangannya." Aku mungkin jatuh cinta dengan lancangnya tapi aku perlu banyak kata permisi untuk bisa bersama Gazza dan itu sudah pasti melewati rintangan yang tidak biasa. Ah, ini sebuah kemustahilan yang diharapkan oleh hati kecilku.
"Ya, pamanku bilang dia melihat anggota Super X di depan Toko Bibi Ni bulan lalu. Apa yang dimaksud pamanku itu Gazza?"
"Sungguh?"
"Iya."
Itu percakapan antara 2 siswiku di depan kamar mandi saat aku sedang mencuci tangan dan merapikan rambutku.
"Sungguh, dengan mobil hitam. Haruskah kita bertanya pada Pak Juna? Kudengar Pak Juna bekerja paruh waktu di sana. Toko itu milik bibinya. Itu malam hari, sudah pasti yang menunggu toko Pak Juna."
"Aish, kalian ini kenapa terlalu mencari kehidupan pribadi orang lain. Belajar yang rajin, jangan mengganggu kehidupan pribadi orang lain. Kalian juga tidak mau kan kalau kehidupan pribadi kalian dicampuri orang lain?" tegurku sembari mengeringkan tanganku.
"Bu Hara, itu sudah risiko menjadi seorang selebriti. Ketika dia memutuskan untuk debut, itu artinya dia sudah menjual kehidupan pribadinya untuk publik," bantah salah satu di antara mereka.
"Tapi kan, mereka juga manusia yang bisa saja tidak suka kehidupannya dicampuri terlalu dalam. Lagipula, mau kencan dengan siapapun itu haknya dia sebagai manusia."
"Ah, Bu Hara tidak akan mengerti."
"Kalian akan mengerti saat kalian dewasa nanti." Meninggalkan mereka dengan perasaan gugup sejujurnya. Aku takut mereka benar-benar mencaritahu kebenaran yang sesungguhnya. Seminggu lebih desas-desus itu santer terdengar di sekolah ini. Banyak orang ingin mencaritahu di mana tempat Ohnara dan Gazza berkencan di Guangsi.
"Juna," panggilku tepat setelah keluar dari kamar mandi.
"Apa? Mau curhat? Nanti saja pas pulang."
"Bukan, anak-anak sepertinya akan menemuimu. Bertanya apakah Super X pernah ke Toko Bibi Ni bulan lalu..."
"Pernah," potong Juna.
"Ya!"
Juna terkekeh. Dia mengatakan bahwa dia sudah tahu harus menjawab apa. "Yang terpenting adalah lupakan Gazza. Ini sudah beberapa Minggu sejak foto-foto kencan mereka tersebar tapi agensi tidak memberikan pernyataan apapun. Itu artinya bukan hanya sekadar rumor, Ra. Tolong pikirkan lagi perasaanmu. Cinta bukan hanya soal hati, tapi juga permainan logika," imbuhnya.
Aku mengangguk paham. Akan tetapi, tidak semudah itu baru jatuh cinta langsung dipatahkan dan dipaksa melupakan. Bahkan saat perasaan aneh ini sedang hangat-hangatnya.
Satu bulan berlalu dengan mengabaikan Gazza. Satupun panggilan dan pesannya kubalas. Yang ada, aku terus mematikan ponselku sepanjang waktu. Hanya akan hidup pada waktu-waktu tertentu saat aku membuka sesi tanya jawab daring bersama siswaku. Kudengar Gazza juga sibuk dengan konser luar negerinya, dia tidak mungkin menemuiku. Ditambah pihak agensi yang terus bungkam saat semua artikel membeberkan bukti-bukti kencan.
Pukul 21.00, bel rumahku berbunyi. Saat aku hendak membuka pintu, aku mendengar suara tombol password yang ditekan. Lagi dan lagi, trauma teror itu belum damai. Aku takut orang yang menerorku kembali memberikan ancaman.
"Hara, aku tahu kamu di rumah. Aku, aku ingin berbicara denganmu." Suara yang akrab di telingaku meski tak seakrab suara Juna. "Hara, aku Kim Gazza."
Jika sudah begini, aku tidak berniat membukakan pintuku untuknya. Bukankah terlalu berbahaya? Bahkan anak-anak di pusat Distrik Guangsi sedang mengawasi jalanan distrik, hendak menangkap basah Gazza. Dia harus segera pulang, hanya itu yang kupikirkan meski aku rindu tapi aku harus realistis.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini sampai kamu membukakan pintu untukku. Aku benar-benar harus berbicara denganmu."
Lagi dan lagi aku tidak menjawabnya. Hanya berdiri membelakangi pintu.
Malam ini ramalan cuaca untuk Provinsi Borneo adalah hujan ringan dan aku selalu menyukainya. Hujan adalah cerita masa kecil yang menyenangkan bagiku. Ah, aku mungkin sudah memberitakannya. Menatap jendela dan ramalan cuaca itu benar adanya. Tanpa sadar aku membuka pintu dan mendapati Gazza sedang menengadahkan tangannya, bermain air hujan.
"Aku tahu kamu akan membukakan pintumu untukku. Kamu khawatir aku mati kedinginan, bukan?"
Tentu aku menyangkalnya. "Aku hanya ingin menikmati hujan."
Gazza hanya tersenyum. "Entah hujan atau aku, aku senang melihatmu sekarang."
"Pulang lah!"
Tidak ada jawaban, dia hanya tersenyum dan terus menyentuh rintik yang jatuh. Sungguh, membuatku kikuk.
"Soal skandal itu, bukan, itu rumor yang tidak benar. Aku tidak sedang berkencan dengan Ohnara, kami sengaja bertemu dengan tertutup karena dia ingin meminta bantuan padaku soal..."
"Kenapa kamu menjelaskannya padaku?"
"Aku tidak mau kamu salah paham."
"Tapi itu tidak berarti apa-apa."
"Jika tidak berarti apa-apa, mengapa mengabaikan pesan dan teleponku?"
"Aku hanya tidak ingin membalasnya."
"Kamu sungguh tidak menyukaiku?"
"Ya, aku tidak menyukaimu." Aku benar-benar membohongi hatiku, tapi otakku bekerja lebih baik. Ia dapat berpikir realistis daripada hatiku yang penuh dengan obsesi memiliki.
"Tatap mataku, biar aku membacanya dengan baik," pintanya memutar tubuhku, mencengkram bahuku, dan mendekatkan kepalanya di depan kepalaku. Dia menunduk susah payah di bawah terang lampu teras untuk memastikan bola mataku mengatakan sesuatu yang dia mau.
Aku terus memalingkan bola mataku. "Pulang lah!" Mendorongnya hendak masuk ke dalam rumah.
Gazza menahanku dengan cengkraman kuatnya. "Tatap mataku!"
Tentu saja aku tidak menuruti perintahnya sampai hujan bertambah deras. Percik kecilnya lambat laun membasahi separuh tubuh kami. Terasku memang bukan teras rumah yang luas.
"Pulang lah!" bentakku.
"Aku akan pulang setelah bola mata kita bertemu selama 15 detik."
"Pulang!"
"Tatap aku 15 detik."
Perdebatan ini tidak akan berhenti sebelum salah satu di antara kami mengalah. Baiklah, aku akan mengalah dan menatap matanya. 15 detik saja, dia tidak akan menemukan apa-apa di bola mataku.
"Satu, dua, tiga, empat..." Aku berhitung setelah menatap matanya. "... Lima belas. Pulang lah!"
"Kamu menghitungnya terlalu cepat. Mari gunakan stopwatch!" Mengeluarkan ponselnya, membuka kunci ponselnya, dan sesuatu membuatku terkejut.
"Ya!" Merebut ponselnya. "Kenapa kamu memakai fotoku di ponselmu? Darimana kamu mendapatkannya?"
"Laptopmu."
"Tolong, berhenti mengusik hidupku jika kamu hanya ingin bermain-main. Jika kamu ingin membalas perlakuanku karena membuat dahi dan punggungmu terluka, lakukan hal yang sama, jangan melakukan hal yang lebih kejam!" cecarku.
Gazza menghela napas. "Kamu masih mengganggap perasaanku hanya bualan semata? Kenapa?"
Aku tertawa jahat. "Seorang selebriti jatuh hati dengan guru dari desa, ya, itu bualan klasik yang seringkali menjadi alur sebuah FTV."
"Apa cinta peduli dengan kasta?"
"Tapi untuk bersama..."
Tiba-tiba saja Gazza mendekatkan wajahnya ke wajahku. Membuat kata-kata menghilang dan pikiranku membeku.