Part 18 (Bukan Gazza tapi Delvin)

1338 Kata
"Maaf," katanya saat bibir kami hendak bersentuhan. Masih beberapa sentimeter untuk membuat dosa-dosa semakin menggunung. Plak... Aku tidak tahu kapan orang dengan mantel hitam dan topi hitam ini berdiri di antara kami. Di tengah hujan deras yang membasahi tubuhnya. "Sudah kubilang diam di asrama, kamu tahu seberapa banyak wartawan yang mengukutimu?" racaunya setelah memukul kepala bagian belakang Gazza. "Aku tidak peduli!" balas Gazza mengalihkan pandangannya. "Aish, aish, aish!" desisnya kesal dan terus memukul kepala Gazza. Laki-laki dengan tinggi sekitar 186 cm dan tubuhnya basah kuyup ini tak asing bagiku. Benar, dia Delvin, salah satu anggota Super X kelahiran tahun 1992. Anggota yang paling dekat dengan Gazza selain pemimpin Super X.  "Bontot laknat!" "Ya!" bentak Gazza pada Delvin. Aku hanya bisa menyaksikan pertengkaran tangan mereka seperti anak kecil di antara 2 raksasa. "Kak Delvin yang membuat masalah semacam ini. Ditambah lagi agensi mendadak difabel." Mungkin yang ia maksud adalah agensinya hanya diam seperti orang bisu sementara rumor terus berkembang tanpa pandang bulu. "Untuk itu diamlah di asrama karena aku yang akan meluruskannya. Aku mengecoh wartawan ke arah pantai sebelum ke mari, berlarilah ke pantai lalu pulang." "Kak, aku belum menjelaskan padanya. Aku hampir gila karena dia..." "Aku yang akan menjelaskannya!" tegas Delvin menatapku sekilas. "Besok jika ditanya wartawan dan manager memberiku kesempatan untuk menjawab, katakan bahwa kamu datang ke Guangsi untuk penyembuhan stres, kamu tertekan karena pemberitaan yang terus muncul. Cepat lah berlari ke pantai atau mereka akan menemukanmu di sini!" Mendorong Gazza pergi. "Kamu sungguh mencintainya? Maka biarkan dia hidup tenang!" Gazza sempat ragu dengan keputusannya untuk pergi meninggalkanku, tapi dia akhirnya berlari kencang setelah bertukar mantel dengan Delvin. Melegakan, tapi tidak begitu melegakan juga. Delvin pun sebenarnya membawa malapetaka untukku andaikata dia berbicara denganku dan wartawan ada di sini. "Terima kasih sudah memintanya pulang," kataku hendak masuk ke dalam rumah. "Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu, bolehkah aku masuk? Aku takut wartawan juga menemukanku di sini," pintanya menghentikan pintu rumahku agar tak tertutup. "Kalau begitu, pulang lah! Aku tidak butuh apa-apa, maksudku soal..." Delvin langsung membuka paksa pintu rumahku dan masuk ke dalam. Aku berteriak padanya karena lancang masuk ke dalam rumah orang tapi dia tidak peduli. Dia bilang, ada banyak hal yang harus dia katakan untuk memperbaiki semua keadaan pelik. "Ya, Hara. Aku tidak tahu apa yang membuat Gazza begitu jatuh hati padamu. Aku tidak peduli apakah kamu membawa namanya ke dukun atau memang dia yang terlalu mudah jatuh cinta. Aku tidak peduli tentang itu. Tapi kamu benar-benar membuatnya gila. Dia menjadi tidak bersungguh-sungguh dalam setiap latihan dan konsernya. Kami semua khawatir dia berbuat lebih nekat untuk selalu menemuimu. Jalan satu-satunya agar kegilaannya tidak semakin akut adalah dengan membalas pesan yang dia kirimkan atau mendengar suaramu meski hanya beberapa menit. Kenapa kamu terus mengabaikannya?" Aku hanya mengatakan bahwa Delvin sudah tentu mengetahui jawabannya, maka aku tidak perlu menjawab. "Aku tahu, dia bilang kamu tidak cukup percaya diri dengan dirimu sendiri. Kamu terus berbicara kasta padahal Gazza tidak pernah memperdulikan itu. Dia hidup dengan kehangatan dari sang Ibu tapi sekarang hidupnya dingin. Ketika bertemu denganmu dia bilang dia kembali merasa hangat tapi kamu juga terus-menerus bersikap dingin. Cinta tidak butuh kasta, percayalah itu. Dan untuk alasan yang satu ini, em, soal rumor kencan yang beredar. Itu tidak benar." "Saya tidak peduli soal itu. Pulang lah. Saya tidak ingin berhubungan dengan Anda maupun Gazza." "Ya!" bentaknya di tengah ruang tamuku yang sempit. Bibirnya pucat dan kakinya bergetar, dia kedinginan. "Aku menyukai Ohnara dan kata Gazza begitupun sebaliknya. Untuk itu dia membantuku bertemu dengan Ohnara karena mereka sempat satu program bersama. Kami pikir tak masalah jika mereka yang bertemu lebih dulu sebelum aku dan Ohnara bertemu. Tapi kenyataannya meledak dan terus menjadi pemberitaan." "Saya tidak peduli, pulang lah!" Mendorongnya keluar. "Hey, dia benar-benar jatuh hati padamu dan matamu pun mengatakan begitu. Aish, pantas saja dia jatuh cinta padamu, karena matamu sama seperti matanya, tidak bisa berbohong." "Tidak, Anda tidak tahu apa-apa soal saya..." "Hara, kamu tahu dunia ini sebenarnya sempit dan menyenangkan. Apa yang membuatnya terkesan luas dan berisik? Yap, karena kamu terlalu banyak mendengarkan orang lain yang tidak mengenalmu." "Saya pun tidak mengenal Anda, untuk itu saya tidak peduli dengan kata-kata Anda." Meski sebenarnya aku tahu maksud yang hendak ia sampaikan. Banyak orang sudah pasti menentang perasaan kami karena perbedaan kasta yang jauh, akan ada banyak orang yang mengkritikku andaikata kami bersama. Untuk itu dia bilang agar aku tidak mendengarkan orang lain yang tidak tahu apa-apa tentang diriku. "Aish, ini soal hatimu, hati Gazza dan ini hak setiap manusia dari Sang Maha Kuasa. Hati hendak jatuh pada siapa, hendak memilih siapa, orang lain tidak berhak mengatur hatimu. Maka, jangan dengarkan orang lain, dengarkan hatimu dan nikmati waktu bersama kalian," pesannya sebelum aku mendorongnya lagi untuk pergi. "Kamu berhak bahagia!" pekiknya.  Kembali ke kamar dengan semua kalimat yang Delvin ucapkan. Dia benar, mengapa aku terus hidup dalam ketakutan dan aturan yang orang lain ciptakan. Mengapa aku tidak membuat aturan sendiri untuk hidupku? Apapun selama tidak melanggar aturan agamaku. Bukankah boleh begitu? Jika hatiku telah jatuh pada Gazza, bukankah itu sudah kehendak Tuhan yang mutlak? Meski aku menolaknya ribuan kali, jika itu adalah takdir, tetap saja hasilnya sama. Bukankah lelah terus menghindar dari takdir? Bukankah lebih baik menikmati apa yang ada dengan batasan-batasannya?  Bukankah aku juga berhak bahagia dengan caraku? Mengapa aku terus merasa takut dan kerdil di dunia ini? Kling... Ponselku berdering beberapa kali. Aku sempat mengabaikannya tapi aku mengingat lagi ungkapan Delvin perihal aku berhak bahagia. "Kenapa?" "Apa Kak Delvin sudah menjelaskannya padamu? Sungguh aku..." Benar, Gazza yang meneleponku hampir 7 kali tanpa jeda. "Aku tahu." "Aku pun tahu." "Apa?" "Matamu menjelaskan semuanya. Mengapa terus mengelak jika jawabannya adalah iya?" Diam. "Aku dan Kak Nara tidak ada hubungan apapun." "Delvin sudah menjelaskan semuanya." "Sopan lah sedikit, dia 2 tahun lebih tua dari kita." "Ya, Kak Delvin sudah menjelaskannya." "Benar, aku tidak berkencan dengan siapapun kecuali kamu." Tak sadar, ujung bibirku tertarik. "Aku tidak merasa sedang berkencan..." "Aku yang memutuskannya dan tidak meminta persetujuanmu. Tolong jangan abaikan pesan dan telepon dari kekasihmu. Oh ya, tolong jangan percaya dengan wartawan, mereka terlalu banyak membual." Mengernyitkan dahi. "Aku mantan wartawan dan apa yang kutulis tidak pernah berisi bualan." "Ah!" Dia sedikit kikuk. Tapi aku mengerti maksudnya, karena wartawan pada dunia entertainment di negara ini memang acapkali membesar-besarkan sebuah berita. Berbeda dengan wartawan politik yang terkadang harus berhati-hati. "Apapun itu, cukup percaya padaku." Aku diam. "Boleh aku melakukan panggilan video?" "Tidak." "Baiklah." Akan tetapi dia tetap mematikan telepon dan menghubungiku melalui panggilan video. "Kamu belum berganti pakaian?" tanyanya melihat setengah bajuku basah, sesaat setelah aku memutuskan untuk menerima panggilan videonya. "Belum. Kamu, kamu belum pulang?" "Akan pulang, aku mau mampir dulu ke Toko Bibi Ni. Menitipkanmu pada beliau, aku takut ada wartawan yang mengunjungimu. Baru saja beredar foto saat Kak Delvin berada di depan rumahmu sedang menuruni anak tangga." "Aish. Tidak perlu menemui Bibi Ni, hanya ada Juna di toko dan aku yakin dia akan menghajar wajahmu yang tampan itu." Juna menahan semua emosinya untuk Gazza, jika mereka bertemu bukankah ada yang meledak? Gazza tiba-tiba tersenyum. "Apa aku tampan?" Membuatku salah tingkah. "Kalau begitu aku akan pulang. Ganti bajumu dan tidurlah, aku akan menunggumu tanpa mematikan panggilan video ini." Aku memintanya untuk mematikan panggilan tapi dia tidak mau. Itu membuatku kesal, bahkan meski aku sudah mematikan panggilan video, dia terus memanggilku dan memberondongiku dengan pesan singkat. Aku membiarkannya karena harus berganti baju. Begitu selesai, aku mencoba menerima panggilannya dan dia bilang masih ada di pantai. Enggan pulang sebelum memastikan aku tidur dengan nyaman. "Tidurlah." Tidak menjawab. "Hara, bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan kita? Mari tidak peduli dengan dunia setelah ini. Kita bisa menciptakan dunia kita sendiri. Bahkan meski aku harus sering meninggalkanmu, aku akan terus merindukanmu." Tersenyum tipis. "Bersikaplah baik padaku selagi aku ada waktu." Dia terus bergumam tentang hubungan kami. Dia melarangku menjauh karena mengejarku juga butuh waktu dan tenaga sementara ia hanya manusia biasa. Ungkapan-ungkapan manis juga terlontar, terdengar hangat dan menenangkan, membuat kantuk di mataku semakin berat. Aku lelap tanpa tahu berapa lama Gazza terus menatap wajahku di layar ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN