26

1246 Kata

“Dek, maafkan aku ya? Aku sama sekali nggak bisa mengingatnya. Kamu jangan marah ya sama aku. Kalau aku nggak mungkin bisa marah sama kamu, Dek. Perasaanku masih tetap sama. Nggak mungkin akan pernah berubah.” Mas Lutfan kembali mencoba menjelasakan apa yang dia bisa. Kami baru saja selesai sholat subuh. Sejak kejadian tadi, aku memutuskan untuk berdiam tanpa kata untuk sementara waktu. Aku tak tahu perasaanku saat ini seperti apa. “Dek, aku mohon. Kamu jangan marah dan diam kayak gini. Aku benar-benar berkata jujur sama kamu. Nggak ada kebohongan dalam ucapanku, Dek.” Aku masih bergeming dan menata perasaan di dalam hati ini. “Dek, apa aku harus terjaga sepanjang malam, agar aku tau alasannya kenapa bisa meninggalkanmu dan tidur di depan tv. Harus begitu, Dek? Aku nggak mau kamu diam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN