28

1226 Kata

Matahari sudah bersembunyi diperaduan. Hari semakin gelap dan sunyi. Kami pun sudah pulang kembali ke rumah. Sebelum masuk ke kamar kami menemui ibu yang kebetulan masih duduk di ruang tengah. Mungkin memang sengaja menunggu kami pulang. “Bu, dompet yang dulu dititipin di toko, Ibu simpan di rumah saja ya? Takut ada yang mencurinya,” ucap mas Lutfan. “Lho, kenapa? Simpan saja di laci meja tokomu, Fan.” Aku sudah mengira ibu mertua akan menjawab seperti itu. “Nggak bisa, Bu. Takut hilang.” “Nggak lah, nggak mungkin hilang, Fan.” “Gini lho, Bu. Sudah beberapa kali ada orang jahil yang naruh tanah, ya … tanahnya mirip tanah kuburan. Aku jadi khawatir kalau orang itu tiba-tiba masuk terus ambil dompet Ibu yang mungkin isinya surat-surat berharga. Ibu sementara simpan dulu di rumah ya?”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN