Bab 2 : Tragedi Visitasi

1757 Kata
Vanessa membangunkan suaminya hanya dengan sebuah kecupan di pipi. Trevor termasuk pria yang cukup mudah dibangunkan. Hanya dengan sekali sentuhan saja, seluruh saraf laki-laki itu langsung menggeliat, dimulai dari kedua matanya yang terbuka. “Hai, bukankah hari ini kau bilang ada visitasi? Bergegaslah, sebaiknya berangkat lebih pagi.” Jemari Vanessa membelai rambut Tre yang sedikit menjuntai di dahi. Harum tubuh Vanessa menguatkannya untuk bangkit. Ia pun bergerak dan menghadap ke arah Vanessa yang menatapnya, kemudian pandangannya turun ke perut yang mulai membuncit setelah enam belas minggu. Penuh kasih, dielusnya perut Vanessa dan mulai bicara seolah bayinya mendengarnya. “Jangan khawatir, hari ini Ayah pulang cepat.” “Kenapa?” “Setelah visitasi, biasanya waktu bekerja dipersingkat. Orang-orang perusahaan akan memeriksa hasil kerja dan membicarakannya lebih intensif sebelum meneruskan lagi esok hari dan itu butuh waktu. Akan kuhubungi jika ada perubahan.” “Kalau begitu, kusiapkan makan malam lebih cepat. Telepon saja jika ada sesuatu.” Tre mengangguk. Dalam sekejap, ia sudah siap. Sarapan selalu ia santap separuhnya di mobil Ben keburu datang. “Itu dia. Sayang, aku pergi, terima kasih.” Disempatkannya minum beberapa teguk sebelum tangan kirinya mengambil tas perkakas miliknya. “Hati-hati croissant di tanganmu, Tre. Jangan sampai mengotori mobil Ben!” Vanessa mengingatkan. Meskipun punya mobil sendiri meskipun terbilang lawas, teman dekat suaminya itu selalu memaksa untuk menjemput sebab rumah Ben memang lebih jauh dan kebetulan, satu arah dengan rumah mereka. Wanita itu mengikuti langkah Tre hingga ke batas halaman rumahnya. Tre segera masuk ke mobil Ben. Ben tersenyum mendengar kekhawatiran Vanessa. Dalam balutan gaun di bawah lutut, ia terlihat feminin sehingga sangat berbeda dari wanita kebanyakan yang menyukai celana panjang. Cantik, paras sempurna dengan rambut cokelat sedikit berombak sebagai pigura, batinnya, namun buru-buru ditepisnya kekaguman terlarang itu. Ia harus sadar bahwa Vanessa bukanlah miliknya. “Mobilku tak keberatan dengan remah rotinya, Vanessa. Jangan terlalu memikirkan itu.” lerainya, menenangkan mereka berdua dari potensi keributan pagi. “Kau baik sekali, Ben. Entah apa yang harus kami lakukan tanpamu.” ucap Vanessa merendah. “Bukankah aku yang bersikeras menjemput suamimu? Aku justru sedih jika dia pindah kerja. Sudahkah kalian bicarakan itu?” Ben memandang ke arah mereka berdua secara bergantian. Tre yang sedang memasang sabuk pengaman pun menjawab, “Ya, Ben, sudah lama, tepatnya sebelum kuajukan surat ke pimpinan. Vanessa mendukungku, sama seperti dirimu. Sayangnya, permohonan itu ditolak hingga saat ini.” “Tidak usah risau. Lakukan saja sesuai rencanamu yang pernah kau katakan padaku. Sementara menunggu, kalian terpaksa terjebak denganku, ha ha ha!” Ben pun pamit dan mereka segera berlalu dari hadapan Vanessa. Di dalam mobil, Tre membahas agenda kerja hari itu. “Benar-benar visitasi? Tidak kusangka secepat ini.” “Kenapa? Pekerjaan kita beres, demikian pula yang lainnya. Apa yang kau risaukan?” Mata Ben terus konsentrasi pada arus lalu lintas yang semakin memadat setelah memasuki tengah kota. “Jika hasil laporan bagus, tidak menutup kemungkinan perusahaan rekanan akan menyerahkan satu proyek lagi. Itu berarti permohonan pengunduran diriku tinggal mimpi.” keluh Tre. “The Jacobson Field punya satu proyek pembangunan gedung yang macet di tengah jalan. Aku berani bertaruh kalau mereka hendak menuntaskan itu juga.” “Kita lihat saja, Tre. Bila bayarannya bagus, kita hanya harus berhati-hati. Bagaimanapun, ketakutanmu tidak beralasan. Semua rekan kita akan tertawa bila mendengar itu.” Masuk ke area proyek, Ben memarkir mobilnya ke tempat yang seharusnya lalu keluar setelah memastikan mobilnya aman. “Hei, mau ke mana?” tanyanya pada Tre yang justru melangkah keluar lokasi proyek. “Beli sesuatu. Ke ataslah lebih dulu.” Ben menatapnya ragu. “Baik, aku duluan.” Tre menyeberang jalan dan masuk ke sebuah mini market. Di sana, ia membeli dua kaleng minuman energi. Hanya menyambar merek kesukaannya dan Ben lantas menuju kasir untuk menebus harganya. “Hm, dua merek berbeda? Biasanya seorang pekerja hanya setia pada satu minuman jenis ini.” Seseorang tak dikenal yang mengantre di belakang Tre, bertanya ingin tahu. Tre memandang sekilas. Jelas bukan orang sini, batinnya. Model busananya perlente, rambut di sisir rapi ke arah belakang sehingga Tre yakin, bahkan lalat pun akan jatuh terpeleset jika nekat berjalan di atasnya. Tersenyum membayangkan itu, ia menjawab, “Yang ini untuk temanku. Kau benar, setiap orang punya kesukaan masing-masing.” “Meskipun semua bahan di dalam minuman itu belum keruan faedahnya?” Bisa jadi kalimat itu bermaksud menyindir, namun Tre sedang tidak ingin berurusan dengan orang kaya yang hendak macam-macam dengannya. Ia hanya melirik barang yang dibeli pria itu, lalu balasnya, “Oh, bir? Anda sadar sedang berada di mana? Mini market, Tuan!” Cepat dibayarnya minuman, sama sekali tidak tertarik melanjutkan percakapan. Pria asing itu justru sebaliknya, ia mengamati Tre dari jauh seraya bergumam, “Trevor Jordan, kini giliranmu.” Sampai di menara, Ben mengamati perubahan suasana hati rekannya. “Ada apa?” “Untukmu.” Tre menyodorkan bekal minum mereka untuk nanti siang. “Terima kasih.” Ben masih menatapnya dengan cara yang sama. “Bukan apa-apa, hanya orang kaya yang sok gaya.” “Oh, begitu.” Ben menyerahkan selembar kertas pada Tre, isinya berupa kuesioner yang harus diisi. “Kita harus bicara dengan anggota tim lainnya. Jika hanya berdua, akan mengabiskan banyak waktu.” “Tentang visitasi?” “Semacam itu. Kata Mandor, satu jam lagi staf perusahaan akan datang. Kuesioner dari setiap divisi sudah harus selesai diisi.” “Aku mengerti. Baiklah, tunggu di sini.” Hanya Tre, Ben, dan lima pekerja lainnya yang bertugas di bagian teratas konstruksi bangunan itu. Hanya dalam waktu lima belas menit, seseorang dari mereka bersedia turun untuk mengantar kertas tersebut. “Sekarang, apa yang harus kita lakukan di sini? Tanggung mengerjakan sesuatu dalam waktu sebentar.” ujar salah satu di antara mereka. “Kita periksa lagi kondisi dan kelengkapan struktur. Pastikan tidak ada alat yang tertinggal. Setelah itu, kita tinggal turun jika sudah menerima perintah.” Ben memberi saran. “Oh, oke.” Tepat sesuai waktu yang ditentukan, para pekerja yang berada di semua divisi, diminta berkumpul di halaman lokasi proyek yang luas. Beberapa staf perusahaan konstruksi mendampingi Bos The Jacobson Field. Pria hampir enam puluh tersebut keluar dari buntut limo-nya, sambil menghisap cerutu kuba. Topi koboi putih gading melengkapi setelan jas dengan warna senada. Dari jauh, ia tampak puas dengan hasil pekerjaan Tre dan kawan-kawan. “Bagus sekali! Aku suka. Ini bahkan lebih cepat dari rencana.” Selanjutnya, hanya pembicaraan bisnis yang tidak dimengerti para pekerja, sementara Mandor menyerahkan kertas-kertas kuesioner kepada pria gemuk itu. Mereka mencermati semua hal yang harus sesuai kontrak. Sang Bos banyak bertanya sehingga cukup merepotkan Sang Mandor. Tiba-tiba alis Tre naik, tepat ketika jari Sang Mandor menunjuk padanya. “Tre, sepertinya, dia mau kau datang ke sana.” kata Ben, begitu isyarat jari ditujukan pada sahabatnya itu. “Cepatlah, semoga ada kabar bagus.” Dugaan Ben salah! Dari tempatnya berdiri, ia menyaksikan Tre dimarahi dan dipermalukan! Kertas-kertas kuesioner dilempar ke wajah laki-laki itu hingga berhamburan di tanah. “Kau beruntung, Trevor! Lain kali orang suruhanku akan menghajarmu! Kurang ajar!” bentak Mandor murka, sebelum kembali mencari muka kepada Bos The Jacobson Field dengan menawarkan berkeliling ke sisi lokasi yang lain. Sepeninggal mereka, Ben cepat mendatangi Tre. “Ada apa?” “Lelucon, Ben. Ada seseorang dari divisi lain yang mengisi ini atas nama tim kita.” Kertas itu terulur. Isinya sama, hanya jawabannya yang jauh berbeda. “Umpatan dan tuntutan. Ini bukan milik kita! Ayo, Tre, kita cari! Kertas yang asli pasti masih ada di sini.” Dengan sabar, Ben membaca satu persatu bundel kuesioner yang dibuang Mandor. “Tidak ada ‘kan? Sudah kuduga.” Ben bingung, tidak habis pikir sama sekali. “Kau benar, ada orang yang mau cari gara-gara!” Giliran Tre yang menenangkan Ben. “Sudahlah, Sobat! Kita terima saja, lagi pula aku akan segera angkat kaki dari sini akhir tahun ini. Jika raporku merah, mereka akan senang hati memecatku.” “Tapi kau akan sulit mencari pekerjaan di perusahaan konstruksi yang lain.” “Yang benar saja, aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.” “Baiklah, kupikir juga begitu. Lama-lama menyebalkan jika mereka mulai menginjak harga diri kita.” Tre tersenyum. “Kita kembali ke atas. Jangan bahas ini lagi.” Mereka memilih melupakan kejadian itu. Untunglah, tidak berpengaruh pada cara kerja mereka selama setengah hari. Setelah matahari meninggi tepat di atas kepala, Mandor mengumumkan berakhirnya jam kerja seluruh pekerja pada hari itu. Sesuai dugaan, Tre senang bisa pulang lebih cepat, melupakan kejadian buruk yang mempermalukan dirinya. Tentu saja tidak seorang pun dari divisi manapun yang sengaja dan tega melakukan perbuatan tercela tersebut. Hanya seseorang yang terus mengawasi Tre dari jarak yang cukup jauh sambil menyeruput kopi hitamnya. Sesungguhnya, laki-laki ini mengharapkan Tre melakukan reaksi spontan emosional, seperti memukul wajah Mandor. Menyaksikan Tre mengalah, tentu saja ia kecewa. Bukan itu yang seharusnya dilakukan oleh sebuah boneka, pikirnya. Namun baginya, pertunjukan spektakuler memang harus menunggu dan dia tidak akan buru-buru. Selama perjalanan pulang, Tre menyempatkan menelepon Vanessa. “Sayang, aku bersama Ben. Kami pulang.” Memberi kesempatan istrinya bicara, tampak mengerti, lalu mengiyakan sesuatu sebelum menyudahi percakapan mereka. “Ben, kumohon, jangan ceritakan masalah tadi pada Vanessa. Dia akan membahasnya terus selama berhari-hari.” “Tidak masalah. Kau juga, sebaiknya lupakan saja.” “Oke.” Suasana hening sejenak. Ben butuh menahan napas sebelum memberanikan diri menanyakan sesuatu. “Boleh aku bertanya? Tentang Vanessa?” “Hm, ya?” Ragu, tapi sudah telanjur, ia tidak akan menahannya lagi. “Saat pernikahan kalian, tidak satupun keluarga Vanessa yang datang. Kupikir aneh, tapi … maaf, itu bukan urusanku. Lupakan saja.” Di belokan terakhir, mobil itu akan segera sampai di rumah Tre. Entah penting atau tidak, mungkin sudah saatnya Ben tahu. “Dengar, sebenarnya Vanessa gadis yatim piatu. Dia … dititipkan sejak bayi di panti asuhan, dan di tempat itu, ia tidak dekat dengan siapapun. Maka itulah sebabnya, tak seorang pun yang datang ke pernikahannya kecuali beberapa sahabat dekatnya yang tidak tinggal di kota ini lagi. Bisa dikatakan, hanya aku yang dimiliki Vanessa. Tanpaku, dia akan sendirian.” “Begitu.” Mereka telah sampai. Vanessa menyambut suaminya dengan senyum lebar dengan sederet gigi putih yang tertata rapi alami. Kecupan hangat di pipi Tre pastilah membuat pria itu bahagia, sedangkan Ben hanya bisa menelan pil pahit penyesalan. Setelah berpamitan, Ben mengamati keduanya dari spion. Sedikit barandai membayangkan pernikahan dengan Vanessa kadang menenangkannya. Andai ia lekas mengungkapkan isi hatinya, andai tak menunda ke toko perhiasan dan mempersembahkan cincin kawin untuknya, andai … andai … . Tak peduli sesering apapun ia berkhayal untuk bisa kembali ke masa lalu, waktu takkan berputar terbalik. Kini hanya sesal yang ia rasakan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN