Bab 1 : Bukan Harapan Semata
Siang begitu terik, matahari tak pernah puas memancarkan panas. Semua orang di bawah sana berperilaku sama, ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan melakukan sesuatu untuk meredam kekeringan dalam tenggorokan, atau tetap di luar namun tidak membiarkan sinar surya menyentuh kulit mereka. Isu pemanasan global dan ultra violet yang makin menggila rupanya cukup efektif untuk menyingkirkan sebagian pejalan kaki dari jalanan Kota Houston, Texas. Kesempatan besar bagi para pelaku bisnis bidang minuman dan kosmetik, demikian isi benak Trevor Jordan, tiga puluh enam tahun, dari menara gedung pencakar langit yang sedang dibangun perusahaan kontraktor tempatnya bekerja. Dari ketinggian itu, ia memilih membuka kantong pembungkus roti lalu menikmati isinya sebagai makan siang, ketimbang repot-repot turun untuk sekadar membeli makanan. Perkara minuman, gampang. Sebentar lagi, sahabat sesama pekerja, Ben, akan membawakannya sebotol air mineral dingin.
“Yakin tidak turun? Bos bilang ada kabar bagus, mereka sedang mendengarkan ceramahnya.” Suara Ben membuyarkan lamunannya. Pria itu menyerahkan minuman pesanannya.
“Lalu apa yang kau lakukan di sini, Benjamin Hadley? Kita benar-benar ketinggalan berita!” sesal Tre, nama panggilannya, seraya menerima minuman tersebut dan menikmati air dingin yang langsung merambat melalui tenggorokannya.
“Hm, hanya sampah bonus! Aku tidak percaya perusahaan akan sebaik itu. Akhir tahun ini pasti sama saja, kecuali kau mengalami kecelakaan kerja, jadi lupakan saja.”
Mendengar nada ketus dari kalimat Ben, Tre nyaris tersedak. “Kecelakaan adalah sesuatu yang paling menakutkan. Kau tahu, kita, para pria, hanya punya satu ‘harta’ berharga untuk tetap dipertahankan di depan wanita dan peristiwa buruk seperti itu sudah pasti merenggut segalanya.”
“Kau benar. Wanita hanya peduli pada kejantanan, hal lain seperti tampang dan postur tubuh adalah urutan ke sekian. Sesungguhnya, kita dilecehkan!” Ben merenung.
Tre tergelak sampai nyaris menjatuhkan botolnya. “Bukan itu maksudku, Tukang Khayal! Satu ‘harta’ itu adalah kesetiaan, Ben. Saat seorang pria terjatuh, dia berpotensi kehilangan segalanya. Jadi, aku tak peduli pada bonus. Asal hidupku nyaman, tenang bersama anak dan istriku, itu sudah cukup.”
“Oh, ya, bagaimana kabar Vanessa?” Binar di matanya tak terbaca oleh Tre. Ben benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya.
Tre memeriksa sudah pukul berapa di arlojinya. Masih ada lima menit sebelum ia wajib memanfaatkan otot lengannya lagi. “Keduanya baik dan sehat, terima kasih,” jawabnya atas perhatian Ben pada keluarganya.
“Tunggu, keduanya?” Ben ikut berdiri dan menyingkirkan sampah makan siang ke wadah aman untuk mereka bawa turun nantinya.
“Vanessa mengandung, kemarin kami ke dokter dan hasilnya positif.”
Bola mata kebiruan milik Ben semakin terang, ia tampak senang. Benar kata orang, antara cinta dan benci, bahagia dan derita hanya dipisah sekat tipis, suatu saat robek dan menguak luka. Itulah yang dirasakan Ben. Andai tidak terlalu lama hobi melajang, tentu Vanessa sudah jadi miliknya. Menyadari kesalahannya, Ben tidak membiarkan cemburu memperkeruh persahabatan dengan Tre yang sudah lama terjalin. Seorang pria dewasa harus mampu berpikir matang dan berusaha memperbaiki kesalahannya.
“Hidupku hanya untuk mereka berdua. Bila anakku lahir, mungkin akan kucoba pekerjaan lain dengan risiko minimal. Kata ‘kecelakaan’ tadi tiba-tiba menghantuiku. Mungkin sudah saatnya kumanfaatkan ijazah sarjanaku dengan nilai pas-pasan itu.” sambung Tre lagi.
“Boleh juga, apapun rencanamu, aku mendukungmu.” Tangan Ben menepuk bahu Tre, tahu bahwa pria yang lebih muda dua tahun darinya itu hanya merendah. Nilai pas-pasan yang dikatakan Tre cuma gurauan. Ia pernah membaca transkrip nilai Tre pada dokumen lamaran pekerjaan dan sangat yakin bahwa suami Vanessa itu cerdas. Entah mengapa, Tre lebih suka kerja kasar daripada kerja kantoran. Hal itulah yang membuat alis Ben selalu berkerut hingga saat ini.
Sirine proyek menyala tanpa suara yang menyakitkan. Hanya berlangsung singkat, sudah cukup untuk memerintahkan para pekerja agar kembali sibuk dengan porsi tugas masing-masing. Termasuk Tre dan Ben, berkutat dengan pekerjaan untuk setengah hari ke depan. Pulangnya, sangat melelahkan.
“Baiklah, sampai besok!” Tangan Tre melambai pada Ben yang segera melaju setelah mengantarnya hingga ke depan halaman rumah. Berikutnya, berat suara langkah kaki pria itu telah mengantarnya ke dalam rumah. “Sayang, aku pulang!”
Seorang wanita berpostur tinggi langsing menyambutnya. Ditambah kecupan mesra, mengurangi rasa lelah setelah seharian bekerja. “Hei, aku harus mandi dulu. Keringatku, lumayan.” Diendusnya aroma tubuhnya sendiri yang memang tidak sedap.
“Keringatmu seksi.”
Komentar pendek yang berbahaya, selalu berhasil memunculkan hasrat lelakinya. Kali ini, Tre berusaha menahan diri. Ia harus yakin kondisi kehamilan Vanessa baik-baik saja. “Aku sangat ingin menyentuhmu, tapi ada Trevor Kecil di dalam rahimmu. Untuk sementara, kita harus memberinya kesempatan.”
“Kesempatan?” Vanessa tertawa, suaminya itu memang sering bersikap lucu namun itu juga yang menawan hatinya. Sorot mata Tre tak tergantikan, selalu menembus ke lubuk hatinya yang paling dalam sejak pertama jumpa.
“Ya, kesempatan untuk tumbuh lebih kuat. Aku bukan suami egois, jadi … menahan bermesra bukanlah apa-apa.”
“Kau yakin?”
Tatap wanita itu nyaris membuatnya hilang kendali. Cukup lama untuk menjawab ‘ya’ hanya dengan sekali anggukan saja.
“Jika itu keputusanmu, Tuan Jordan. Sekarang mandilah, sudah kusiapkan air hangat. Handuk bersih ada di dalam.” Vanessa segera berlalu.
“Air hangat? Aku bukan bayi!”
Vanessa tegas menjawab dari kamar, “Untuk saat ini … iya. Tunggu sampai anak kita lahir, barulah kau kuperlakukan berbeda.”
“Ya, Tuhan!” seru Tre berpura. Ia selalu mencintai perhatian dan kasih Vanessa. Wanita lembut yang tak pernah menuntut banyak darinya. Setelah menikah, raut wajah wanita itu tak berubah kala Tre membawanya ke rumah kayu di pinggir kota. Keanggunannya tiada dua, dibalut kesederhanan dalam setiap penampilannya.
Lupakan fashion terkini termasuk tas dan sepatu bermerek! Meskipun demikian, Vanessa selalu pandai memadukan busana di depan suaminya, dilengkapi riasan natural laksana bidadari suci, sudah pasti memancing sentuhan intens yang siap diberikan Tre untuk membuainya.
“Baiklah, aku akan mandi. Air hangat, aku datang!”
Terdengar tawa terpingkal.
Tre berendam setelah membasuh tubuhnya yang kotor dan berdebu di bawah kucuran shower. Ingatannya membayang, meneruskan rencana yang ia bahas bersama Ben tadi siang tentang mengganti pekerjaan. Ya, keputusannya sudah bulat. Demi Vanessa dan janin mereka berdua, Tre akan lebih serius. Baginya, memastikan keselamatan kerja sangat penting di samping gaji yang lebih besar, jika ia ingin menikmati sisa hidup bersama keluarga kecilnya.
Sekarang, tinggal membicarakannya bersama Vanessa.
“Hei, Babe,” sapanya saat bergabung dengan istrinya di atas peraduan mereka yang nyaman.
Vanessa langsung tahu di mana harus menyandarkan tubuhnya. Tentu saja di pelukan laki-laki itu. Tempat yang hangat dan menimbulkan rasa aman. Mencium aroma segar dari kulit tubuh Tre, membuat wanita itu semakin mempererat dekapannya. “Sepertinya serius. Ada apa?” tanyanya lembut.
Tre mencium kening istrinya. “Aku akan mencari pekerjaan lain. Secepatnya.”
“Kenapa? Tidak cocok dengan kebijaksanaan perusahaan? Kupikir gajinya lumayan, apa yang membuatmu berubah pikiran?” Vanessa mendongak dan tetap memeluknya.
“Keselamatan. Akhir-akhir ini aku sering ditugaskan di bagian menara. Terus terang, di tempat setinggi itu, tentu banyak yang kupikirkan. Jika tidak hati-hati … .”
“Aku mengerti.” Vanessa kembali larut dalam rengkuhannya sambil meninggikan selimut. Mengelus tubuh bidang Tre seraya berkata, “Jangan khawatir, kita akan baik-baik saja. Apapun keputusanmu, aku akan selalu ada untukmu.”
Mata Vanessa terpejam.
Dalam keheningan itu, Tre menangkap suara detak jantung mereka berdua. Detak dua manusia yang telah bersatu dalam ikatan pernikahan yang bahagia. Lantas berjanji dalam hati, apapun yang akan terjadi, ia akan menyayangi, melindungi, dan tidak mengecewakan istrinya.
Langkah awal adalah bicara dengan Bos-nya.
“Apa ini, Tre? Bisa kau jelaskan?” Pemimpin proyek membanting surat pernyataan pengunduran dirinya di atas meja kerja.
“Aku mengundurkan diri.”
Pria setengah baya tersebut memandangnya tak percaya, curiga bahwa Tre menerima tawaran perusahaan kontraktor lain. “Berapa mereka membayarmu?”
Raut wajah Tre berganti mendung karena bingung. “Maksud Anda? Apakah Anda pikir … .”
“Jangan munafik! Apalagi alasannya selain uang?!” Nada bicara yang mulai meninggi tentu menarik perhatian pekerja lain yang kebetulan lalu lalang di depan kantor Sang Mandor. “Kau adalah tenaga profesional, pekerjaanmu dihindari banyak orang, tentu saja memberimu alasan kuat untuk sedikit merajuk. Atau bisa jadi kau belum diterima kerja di tempat lain, benar ‘kan?”
Tre garuk-garuk kepala. Masalahnya malah bertambah runyam. Sungkan repot, diambilnya kembali surat itu dan langsung keluar begitu saja. Tak diduga, mengundurkan diri tak semudah membalik telapak tangan. Di luar, ia menghempaskan kertas yang sudah berubah menjadi bola hasil remasannya ke dalam tempat sampah.
“Sudah? Bagaimana?” Ben menghampirinya.
“Kau lihat, gagal total!” ucap Tre kecewa, sebab semua tak berjalan sesuai harapannya.
Ben yang sempat melihat Tre membuang sesuatu di tempat sampah, sudah paham maksudnya. Pengunduran diri Tre tidak disetujui. “Mungkin setelah proyek ini rampung, mereka akan rela melepasmu dan mencari orang baru. Tidak mudah menemukan pekerja setia dan bertanggung jawab seperti dirimu. Kau juga harus berpikir dari sisi perusahaan.” Ia tersenyum ketika Tre masih keras berpikir. “Sudahlah, tidak ada yang akan terjadi. Ayolah, kita sudah terlambat.”
Tre menurut. Ibarat kakaknya sendiri, kadang ajakan Ben terdengar seperti kalimat sakti. Mereka naik ke menara dengan menggunakan lift untuk memulai aktivitas yang sama.
“Lalu, apa rencanamu?” tanya Ben sembari menunggu lift membawa mereka ke tempat tujuan. “Masih ingin keluar? Sebaiknya tunggu hingga akhir tahun, bagaimana?”
“Kucoba mengajukan lamaran untuk beberapa bulan ke depan sebelum akhir tahun. Jadi, jika aku keluar, sudah ada pekerjaan. Tidak ada salahnya mencoba pemasaran afiliasi. Jika beruntung, prospeknya akan bagus.”
“Rasanya perusahaan ini akan kehilangan dirimu, Kawan. Orang seperti dirimu pantas mendapatkan segalanya. Karier, rumah tangga … .”
“Kau sendiri? Kalau tidak salah, aku tidak pernah mendengarmu berkencan.”
Pertanyaan Tre ibarat bumerang, imbas dari kata-katanya sendiri. Dalam hati, Ben sedikit menyesal karena untuk ke sekian kali … ia harus membohongi diri sendiri. “Aku? Kencan? Itu soal gampang. Tinggal kusodorkan jumlah uang dalam rekeningku, siapapun mau menjadi kekasihku. Masalahnya, lebih rumit dari itu. Aku tidak mau berkencan atau menikahi wanita yang tidak mencintaiku.” Padahal dalam hati, Ben ingin berkata bahwa ia sudah lama menyukai Vanessa dan sangat sulit pindah ke lain hati.
“Baiklah, Ben. Aku tidak akan memaksamu. Semoga ada jalan terbaik untuk kita berdua.”
“Amin!”
Pintu lift terbuka, mengantar mereka pada titik tertinggi seolah sangat dekat dengan langit. Berikutnya mereka tidak bicara, hingga pekerjaan di sana selesai dan kehidupan berputar seperti biasanya.
***