Bab 2 (Tetap Berdiri di Atas Kaki Sendiri)

832 Kata
Pagi datang terlalu cepat. Aluna membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang masih terasa asing. Untuk beberapa detik, ia hanya diam, mencoba memahami di mana dirinya berada. Bukan kamarnya. Bukan rumahnya. Semuanya berbeda. Ia menarik napas pelan, lalu bangkit duduk. Gaun pengantin yang semalam ia kenakan sudah terganti dengan pakaian tidur sederhana. Entah kapan ia benar-benar tertidur, ia sendiri tidak ingat. Yang ia tahu, perasaannya masih sama. Sepi. Sunyi. Dan… belum benar-benar menerima. Aluna menurunkan kakinya dari tempat tidur, lalu berdiri. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sebelum berjalan pelan menuju jendela. Cahaya pagi masuk dengan lembut. Hari baru. Tapi hidupnya… sudah bukan yang dulu lagi. Ia memejamkan mata sebentar. Aku harus tetap berjalan. Bukan untuk siapa pun. Tapi untuk dirinya sendiri. Tanpa banyak berpikir, Aluna berbalik dan mulai mencari seragamnya. Seragam sekolah. Ia menemukannya sudah tergantung rapi di lemari. Disiapkan. Bersih. Bahkan lebih rapi dari yang biasa ia lakukan sendiri. Tangannya sempat terhenti. Sejenak. Semua ini… sudah diatur. Perasaan itu kembali muncul. Tidak nyaman. Seolah hidupnya perlahan diambil alih. Namun Aluna hanya menghela napas pelan. Ia mengambil seragam itu. Memakainya dengan tenang. Saat Aluna keluar dari kamar, rumah itu masih terasa terlalu sunyi untuk ukuran tempat sebesar ini. Langkahnya ringan. Hatinya… tidak. Ia berjalan menuju dapur, melihat seorang wanita paruh baya yang tampaknya adalah asisten rumah tangga. Wanita itu sedikit terkejut melihatnya. “Nona sudah bangun? Sarapan sudah saya siapkan,” ucapnya ramah. Aluna mengangguk kecil. “Terima kasih… Bu.” Nada bicaranya tetap lembut. Sopan. Seperti biasanya. Ia duduk di meja makan, menatap hidangan yang tersaji rapi. Terlalu rapi. Terlalu sempurna. Berbeda jauh dari kebiasaannya dulu yang sederhana. Tangannya bergerak pelan, mengambil sendok. Namun sebelum ia mulai makan, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Aluna tahu siapa itu. Ia tidak langsung menoleh. “Bangun pagi.” Suara itu terdengar datar. Aluna mengangkat wajahnya perlahan. Arkana sudah berdiri di sana, dengan pakaian rapi seperti biasa. Seolah tidak ada yang berubah dari hidupnya. Berbeda dengan Aluna. “Ya,” jawabnya pelan. “Saya memang terbiasa bangun pagi.” Ia kembali menunduk, melanjutkan makan dengan tenang. Beberapa detik berlalu dalam diam. “Aku pikir kamu akan beristirahat hari ini.” Aluna menggeleng pelan. “Aku harus sekolah.” Jawabannya sederhana. Tapi jelas. Arkana menatapnya beberapa saat, seolah menilai. “Kamu tidak perlu terburu-buru kembali ke aktivitas seperti biasa.” Aluna berhenti makan sejenak. Tangannya mengepal pelan di bawah meja. Namun saat ia mengangkat wajah, ekspresinya tetap tenang. “Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Aku tidak ingin berhenti hanya karena… perubahan ini.” Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. Tidak menyudutkan. Tidak menantang. Tapi cukup untuk menyampaikan maksudnya. Arkana terdiam. “Aku juga tidak ingin terlalu bergantung,” lanjut Aluna pelan. “Selama aku masih bisa melakukan sesuatu sendiri… aku ingin tetap melakukannya.” Hening. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di tatapan Arkana. Bukan marah. Bukan juga setuju. Lebih seperti… memperhatikan. “Seperti yang kamu mau,” katanya akhirnya. Singkat. Setelah selesai makan, Aluna berdiri dan merapikan piringnya sendiri. “Nona, biar saya saja—” ujar asisten rumah tangga itu. Aluna tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah terbiasa.” Ia berbicara dengan lembut, tanpa kesan menolak dengan kasar. Hanya… memilih. Di depan rumah, mobil sudah menunggu. Seorang sopir berdiri dengan hormat. “Saya akan mengantar Nona ke sekolah.” Aluna terdiam sebentar. Ia menatap mobil itu, lalu kembali menatap sopir tersebut. “Terima kasih… tapi saya bisa pergi sendiri.” Sopir itu tampak ragu. “Ini sudah perintah Tuan—” Aluna tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Saya hanya ingin… seperti biasa.” Nada suaranya tetap halus. Namun kali ini… ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan. Beberapa menit kemudian, Aluna berjalan sendirian di pinggir jalan. Tas di pundaknya. Langkahnya tenang. Seolah tidak ada yang berubah. Padahal sebenarnya… segalanya sudah berbeda. Ia melewati orang-orang yang tidak mengenalnya. Teman-teman yang mungkin nanti akan menyapanya seperti biasa. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu— bahwa ia baru saja menikah. Bahwa ia adalah istri dari seorang pria yang namanya bahkan mungkin sering mereka dengar. Aluna menatap lurus ke depan. Aku tidak ingin hidupku berhenti di sini. Ia menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat. Aku masih punya tujuan. Sekolah. Masa depan. Hidupnya sendiri. Dan semua itu… tidak boleh hilang hanya karena sebuah pernikahan yang bahkan tidak ia pilih. Di sisi lain, dari balik jendela mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana— Arkana memperhatikan. Diam. Tatapannya mengikuti sosok Aluna yang berjalan menjauh. Sendiri. Tanpa pengawalan. Tanpa bantuan. Tanpa mencoba bergantung. Untuk pertama kalinya… ia melihat sesuatu yang tidak ia perkirakan. Seorang gadis yang tidak melawan. Tidak berteriak. Tidak menuntut. Tapi juga… tidak menyerah. Arkana menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya masih tertuju ke arah jalan yang kini sudah kosong. “Menarik…” gumamnya pelan. Sementara itu, Aluna terus melangkah. Dengan hati yang masih penuh luka. Tapi langkah yang tetap teguh. Karena ia tahu— meski hidupnya telah berubah, ia masih bisa memilih satu hal: tetap berdiri di atas kakinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN