Suara bel sekolah terdengar nyaring saat Aluna melangkah masuk ke gerbang.
Langkahnya tetap tenang. Seragamnya rapi seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari luar.
Namun begitu ia melewati beberapa siswa di sekitarnya…
bisikan-bisikan kecil mulai terdengar.
“Itu Aluna, kan…?”
“Iya… katanya orang tuanya…”
“Kasihan banget…”
Aluna menunduk sedikit.
Bukan karena tidak mendengar.
Tapi karena ia memilih… untuk tidak menanggapi.
Aku sudah menduganya.
Ia terus berjalan.
Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya, meski ia berusaha menjaga ekspresi tetap tenang.
Begitu sampai di kelas, suasana langsung berubah.
Beberapa temannya yang sudah duduk menoleh ke arahnya.
Ada yang terdiam.
Ada yang saling pandang.
Dan ada yang langsung berdiri menghampirinya.
“Aluna…”
Seorang gadis mendekat dengan raut wajah penuh khawatir.
“Kamu… gak apa-apa?”
Aluna mengangkat wajahnya perlahan.
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang rapi. Sopan. Seperti biasanya.
“Ya,” jawabnya pelan. “Aku baik-baik saja.”
Jawaban itu terdengar ringan.
Terlalu ringan… untuk sesuatu yang sebenarnya tidak ringan sama sekali.
“Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ya…” lanjut temannya.
Aluna mengangguk.
“Terima kasih.”
Sederhana.
Tapi tulus.
Ia berjalan menuju bangkunya, duduk perlahan, lalu mulai mengeluarkan buku pelajaran.
Tangannya bergerak seperti biasa.
Terlatih.
Teratur.
Seolah rutinitas ini adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia pegang.
Namun di sekelilingnya, tatapan-tatapan itu masih ada.
Bukan lagi tatapan biasa.
Melainkan…
rasa iba.
Dan entah kenapa, itu terasa lebih berat.
Aku tidak ingin dikasihani.
Aluna menunduk, membuka bukunya.
Fokus.
Atau setidaknya… mencoba.
Jam pelajaran dimulai.
Guru masuk, menjelaskan materi seperti biasa.
Aluna mencatat dengan rapi.
Tidak ada yang berubah dari caranya belajar.
Ia tetap mendengarkan.
Tetap mencatat.
Tetap berusaha memahami.
Karena baginya…
ini adalah bagian dari hidupnya yang tidak boleh hilang.
“Aluna, kamu yakin gak mau izin dulu beberapa hari?”
Suara guru itu membuat kelas kembali hening.
Semua mata tertuju padanya.
Aluna mengangkat wajah perlahan.
“Aku tidak apa-apa, Bu,” jawabnya lembut.
“Tapi kamu baru saja kehilangan orang tua…” lanjut sang guru dengan nada hati-hati.
Ada jeda.
Hening.
Aluna menarik napas pelan.
“Iya…” katanya lirih.
“Tapi… kalau aku diam di rumah, aku justru akan lebih banyak memikirkan itu.”
Ia tersenyum kecil.
“Di sini… aku bisa tetap belajar.”
Jawabannya sederhana.
Tapi cukup untuk membuat suasana kelas berubah.
Bukan lagi hanya iba.
Melainkan… kagum.
Saat istirahat, beberapa teman mendekatinya lagi.
Membawa makanan. Minuman. Bahkan hanya sekadar duduk di sampingnya.
“Kamu harus makan, ya,” ujar salah satu dari mereka.
Aluna mengangguk.
“Iya.”
Ia menerima semuanya dengan sopan.
Tidak menolak.
Tidak juga berlebihan.
Hanya… menerima.
Namun di balik itu—
Aku tidak ingin merepotkan siapa pun.
Ia memegang botol minuman yang diberikan temannya.
Tangannya sedikit mengerat.
“Terima kasih,” ucapnya lagi.
Di sudut kelas, tanpa disadari—
ada seseorang yang memperhatikan.
Seorang siswa laki-laki yang sejak tadi diam.
Tatapannya tidak penuh iba seperti yang lain.
Lebih seperti… penasaran.
Sementara itu, Aluna kembali duduk di bangkunya.
Ia membuka buku, mencoba membaca.
Tapi huruf-huruf itu terasa samar.
Pikirannya melayang.
Ke rumah yang kini kosong.
Ke kejadian beberapa hari lalu.
Dan… ke pria yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Tangannya berhenti di atas halaman.
Untuk sesaat—
ia hampir menangis.
Hampir.
Namun ia segera menunduk lebih dalam, menutup matanya sejenak.
Menarik napas perlahan.
Dan menahan semuanya kembali.
Saat ia membuka mata—
ekspresinya sudah kembali seperti biasa.
Tenang.
Rapi.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Hari itu berjalan seperti hari biasa.
Pelajaran demi pelajaran berlalu.
Aluna tetap duduk di tempatnya.
Belajar.
Mendengarkan.
Menulis.
Seperti tidak ada yang berubah.
Padahal di dalam dirinya—
semuanya telah berubah.
Saat bel pulang berbunyi, Aluna merapikan bukunya dengan tenang.
Ia berdiri, memasukkan buku ke dalam tas.
Beberapa temannya kembali menghampiri.
“Kamu pulang sendiri?”
“Iya,” jawab Aluna.
“Kami temenin, ya?”
Aluna tersenyum kecil.
“Tidak perlu. Terima kasih.”
Lembut.
Tidak menolak dengan kasar.
Tapi cukup jelas.
Ia berjalan keluar kelas.
Menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi.
Langkahnya tetap sama.
Tenang.
Terkendali.
Namun kali ini…
ada satu hal yang berbeda.
Ia menyadari—
hidupnya mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.
Tapi bukan berarti ia harus berhenti.
Di bawah langit sore, Aluna melangkah keluar gerbang sekolah.
Sendiri.
Seperti pagi tadi.
Dan seperti yang ia inginkan.
Ia menatap lurus ke depan.
Aku tidak ingin hanya dikasihani.
Tangannya menggenggam tali tasnya lebih erat.
Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri.
Meski pelan…
meski sulit…
ia akan terus berjalan.