Langkah Aluna melambat saat ia keluar dari gerbang sekolah.
Langit sudah mulai berubah warna, sore perlahan turun menggantikan siang yang panjang. Suasana di sekitar masih cukup ramai, dipenuhi siswa yang pulang berkelompok, bercanda, atau sekadar menghabiskan waktu sebelum benar-benar pulang.
Berbeda dengan Aluna.
Ia berjalan sendiri.
Tenang. Teratur. Seperti biasa.
Tasnya ia genggam ringan di pundak, sementara pandangannya lurus ke depan.
Namun langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil namanya.
“Aluna.”
Sahut suara laki-laki dari arah samping.
Aluna menoleh perlahan.
Seorang siswa berdiri beberapa langkah darinya. Seragamnya tidak serapi kebanyakan siswa lain, dasinya sedikit longgar, dan ekspresinya terlihat santai—berbanding terbalik dengan situasi yang biasanya canggung saat orang lain mendekatinya belakangan ini.
Aluna mengenalnya.
Satu kelas.
Tapi mereka tidak pernah benar-benar dekat.
“Iya?” jawab Aluna pelan.
Cowok itu melangkah mendekat, tapi tetap menjaga jarak yang wajar.
“Gue ganggu gak?” tanyanya, nada suaranya santai tapi sedikit hati-hati.
Aluna menggeleng kecil.
“Tidak,” sahut Aluna lembut.
Cowok itu mengangguk, lalu menggaruk belakang kepalanya, seolah menyusun kata-kata.
“Gue cuma mau bilang…,” ucapnya pelan, “…kalau lo butuh bantuan apa-apa, bilang aja.”
Aluna terdiam sejenak.
Kalimat itu sebenarnya sudah ia dengar berkali-kali hari ini.
Namun entah kenapa, dari orang ini… rasanya berbeda.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada rasa kasihan yang berlebihan.
Hanya… sederhana.
Aluna menatapnya sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Terima kasih,” sahut Aluna.
Cowok itu mengangguk cepat, sedikit canggung.
“Iya… sama-sama,” balasnya.
Hening sebentar.
Tidak terlalu lama, tapi cukup untuk membuat suasana terasa canggung.
Lalu tiba-tiba—
“Eh, tugas matematika kemarin lo udah ngerjain belum?” tanya cowok itu, mencoba mencairkan suasana.
Aluna sedikit terkejut.
Pertanyaannya… terlalu biasa.
Terlalu normal.
Seolah tidak ada yang berubah dari dirinya.
“Sudah,” jawab Aluna singkat.
“Serius?” sahut cowok itu dengan alis terangkat. “Boleh lihat?”
Aluna membuka tasnya tanpa banyak bicara. Ia mengeluarkan buku catatannya dan menyerahkannya.
Cowok itu menerimanya, membuka beberapa halaman, lalu tersenyum kecil.
“Rapi banget” ujarnya.
Aluna hanya mengangguk pelan.
“Kalau ada yang tidak mengerti… aku bisa bantu,” sahut Aluna dengan nada tenang.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Refleks.
Seperti dirinya yang dulu.
Cowok itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum lebih santai.
“Siap, Bu Guru,” sahutnya setengah bercanda.
Aluna sedikit menunduk, menahan senyum kecil yang hampir terlihat.
Kecil.
Tapi nyata.
Untuk pertama kalinya sejak pagi—
ia merasa… sedikit lebih ringan.
Mereka berjalan berdampingan, meski tidak terlalu dekat.
Langkah mereka pelan, mengikuti arus siswa lain yang mulai berkurang.
“Lo… pulang jalan kaki?” tanya cowok itu lagi.
“Iya,” jawab Aluna singkat.
Cowok itu mengangguk.
“Biasanya juga gitu?”
Aluna terdiam sebentar sebelum menjawab.
“Iya… sudah terbiasa,” sahutnya.
Padahal kenyataannya, hari ini berbeda.
Namun ia tidak merasa perlu menjelaskan.
Cowok itu meliriknya sekilas.
“Kalau jauh… hati-hati aja,” ucapnya.
“Terima kasih,” balas Aluna.
Sederhana.
Namun cukup.
Beberapa langkah kemudian, mereka sampai di persimpangan.
Cowok itu berhenti.
“Gue belok sini,” ujarnya sambil menunjuk arah jalan.
Aluna mengangguk.
“Ya.”
Ada jeda kecil.
Seolah keduanya tidak tahu harus menutup percakapan seperti apa.
“Eh…” cowok itu kembali bersuara. “Nama gue Reza.”
Aluna sedikit terkejut.
Selama ini mereka satu kelas… tapi bahkan belum pernah benar-benar berkenalan seperti ini.
“Aluna,” jawabnya pelan, meski itu sudah jelas.
Reza tersenyum kecil.
“Iya, gue tau,” sahut Reza santai.
Aluna kembali menunduk sedikit.
“Terima kasih… tadi,” ucapnya pelan.
Reza mengangkat bahu ringan.
“Santai aja,” sahut Reza. “Gue cuma gak enak kalau semua orang lihat lo kayak… rapuh.”
Aluna terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi… tepat.
Ia tidak menjawab.
Hanya mengangguk kecil.
“Ya udah, gue duluan,” kata Reza.
“Iya,” sahut Aluna.
Reza berbalik dan berjalan menjauh.
Aluna kembali melanjutkan langkahnya.
Sendiri.
Namun kali ini… langkahnya terasa sedikit berbeda.
Lebih ringan.
Ia menatap jalan di depannya.
Masih ada hal yang terasa normal.
Dan mungkin…
itu cukup untuk sekarang.
Di sisi lain—
sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari sana.
Di dalamnya, Arkana duduk diam.
Tatapannya mengarah ke depan.
Ke arah jalan yang baru saja dilewati Aluna.
Dan ke arah… sosok laki-laki yang tadi berjalan bersamanya.
Arkana tidak mengatakan apa pun.
Tidak ada ekspresi jelas di wajahnya.
Namun tatapannya… sedikit berubah.
“Siapa dia…” gumam Arkana pelan.
Bukan marah.
Bukan juga curiga.
Lebih seperti…
mulai memperhatikan sesuatu yang sebelumnya tidak ia anggap penting.
Sementara itu, Aluna terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Tidak tahu—
bahwa langkah kecilnya hari ini
telah mulai mengubah sesuatu.
Perlahan.
Tanpa suara.