Sang Surya telah turun saat Aluna membuka pintu rumah.
Langkahnya pelan saat ia masuk, melepas sepatu dengan rapi sebelum menaruh tasnya di kursi dekat pintu.
Rumah itu… masih terasa sama seperti pagi tadi.
Besar. Sepi. Terlalu tenang.
Sejenak, Aluna berdiri diam.
Seolah menunggu sesuatu.
Namun tidak ada siapa pun yang menyambut.
Ia menghela napas pelan.
Memang tidak akan ada.
Tanpa banyak berpikir, ia berjalan menuju dapur. Mengambil segelas air, lalu duduk di kursi makan.
Hari ini melelahkan.
Bukan karena aktivitasnya.
Tapi karena… harus tetap terlihat baik-baik saja.
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.
Aluna menoleh.
Arkana.
Pria itu berjalan masuk dengan pakaian kerja yang masih rapi, wajahnya tetap seperti biasa—tenang, sulit ditebak.
Aluna segera berdiri.
“Selamat malam,” sapa Aluna pelan.
Arkana mengangguk singkat.
“Malam,” sahut Arkana.
Hening.
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.
Aluna kembali duduk perlahan, tapi tetap menjaga sikapnya.
“Sudah makan?” tanya Arkana tiba-tiba.
Aluna mengangkat wajahnya sedikit.
“Sudah, Pak,” jawab Aluna.
Ia masih menggunakan panggilan itu.
Masih terasa lebih aman.
Arkana terdiam sejenak.
“Jangan panggil saya seperti itu di rumah,” ujar Arkana datar.
Aluna sedikit terkejut.
Ia menunduk sebentar, berpikir.
“Lalu… saya harus memanggil apa?” tanya Aluna hati-hati.
Arkana menatapnya beberapa detik.
“Arkana,” jawabnya singkat.
Aluna terdiam.
Nama itu terasa… terlalu dekat untuk diucapkan.
Namun ia mengangguk pelan.
“Baik… Arkana,” sahut Aluna pelan.
Ada jeda kecil setelah itu.
Seolah keduanya sama-sama menyadari perubahan kecil tersebut.
“Kamu tetap pergi ke sekolah hari ini?” tanya Arkana.
“Iya,” jawab Aluna.
“Bagaimana?” lanjut Arkana.
Pertanyaan sederhana.
Namun entah kenapa, Aluna tidak langsung menjawab.
Ia menunduk sedikit, menatap tangannya sendiri.
“Baik,” sahut Aluna akhirnya.
Singkat.
Sederhana.
Seperti biasanya.
Arkana memperhatikannya.
“Kamu tidak perlu memaksakan diri,” ujar Arkana.
Nada suaranya tetap datar, tapi tidak sepenuhnya dingin.
Aluna menggeleng kecil.
“Aku tidak memaksakan diri,” sahut Aluna lembut.
“Aku hanya… tidak ingin berhenti.”
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
“Kalau aku berhenti sekarang, aku takut… aku tidak bisa mulai lagi.”
Kalimat itu keluar pelan.
Tapi jujur.
Arkana tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Aluna, seolah mencoba memahami sesuatu.
Beberapa saat kemudian, Aluna berdiri.
“Aku akan ke kamar dulu,” ucap Aluna sopan.
Namun sebelum ia benar-benar melangkah—
“Aluna.”
Ia berhenti.
Menoleh perlahan.
“Iya?” sahut Aluna.
Arkana terdiam sejenak, seolah memilih kata-kata.
“Kalau ada yang kamu butuhkan…” ujarnya, “…katakan saja.”
Aluna menatapnya.
Untuk beberapa detik.
Ia tahu maksud kalimat itu.
Bantuan. Fasilitas. Apa pun.
Namun—
Aluna menggeleng pelan.
“Terima kasih,” sahut Aluna lembut.
“Tapi untuk sekarang… aku masih bisa sendiri.”
Nada suaranya tidak menolak.
Tidak juga keras.
Hanya… memilih.
Arkana memperhatikannya.
“Kamu tidak harus melakukan semuanya sendiri,” ujar Arkana.
Aluna tersenyum kecil.
Senyum yang tipis.
“Bukan karena harus,” sahut Aluna.
“Cuma… aku ingin tetap bisa.”
Hening.
Kali ini lebih lama.
Dan entah kenapa… terasa berbeda.
Aluna akhirnya menunduk sedikit.
“Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi… aku ke kamar dulu,” ucapnya.
Arkana mengangguk.
“Iya.”
Aluna berbalik dan berjalan pergi.
Langkahnya tetap pelan. Tenang. Tidak terburu-buru.
Namun saat ia sudah hampir sampai di ujung lorong—
“Terima kasih sudah tetap datang ke sekolah.”
Suara Arkana terdengar lagi.
Aluna berhenti.
Perlahan menoleh.
Ia tidak langsung bicara.
Seolah memastikan apa yang ia dengar.
“Untuk apa?” tanya Aluna pelan.
Arkana menatapnya.
“Karena kamu tidak membuat semuanya menjadi lebih sulit,” jawab Arkana.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa…
Aluna tidak tahu harus merasa apa.
Ia menunduk kecil.
“Memang seharusnya begitu,” sahut Aluna.
Jawaban yang rapi.
Sopan.
Seperti biasanya.
Aluna kembali berjalan menuju kamarnya.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Begitu sendirian—
ia duduk di tepi tempat tidur.
Diam.
Tangannya menggenggam ujung bajunya pelan.
Percakapan tadi terulang di kepalanya.
Pendek.
Biasa.
Tidak ada yang istimewa.
Namun—
Setidaknya… kami berbicara.
Ia menunduk.
Menarik napas perlahan.
Masih terasa jauh.
Sangat jauh.
Tapi mungkin…
ini adalah awal dari sesuatu.
Atau setidaknya—
awal dari memahami satu sama lain.
Di luar, Arkana masih berdiri di tempatnya.
Diam.
Tatapannya kosong, namun pikirannya tidak.
Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini.
Tidak terbiasa dengan seseorang yang—
tidak menuntut.
tidak memanfaatkan.
dan tidak mencoba mendekat.
Arkana menghela napas pelan.
“Mandiri…” gumamnya.
Untuk pertama kalinya—
ia tidak merasa terganggu.
Tapi juga…
tidak benar-benar bisa mengabaikannya.