Berita tentang keluarganya yang dikucilkan serta kandasnya hubungan Nadia dengan sang kekasih menambah beban pikiran Arsya di bui. Pria tiga puluh tahun tersebut menjadi semakin kurus dari hari ke hari. Makanan yang seringkali dikirimkan oleh keluarga juga tak pernah tandas, justru teman-teman satu selnya lah yang melahap hidangan tersebut.
Bagaimana bisa makan dengan nyaman jika ia terus dihantui oleh rasa bersalah? Belum lagi keyakinannya untuk bebas semakin menipis. Kehadiran dua orang pengacara yang selalu membelanya pun seolah hanya sebuah tameng rapuh, karena Arsya sendiri tidak bisa memberikan amunisi yang bisa digunakan.
Tahap-tahap persidangan pun terus bergulir. Setelah pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum, sidang dilanjutkan dengan eksepsi atau nota keberatan terdakwa, tanggapan eksepsi oleh Jaksa Penuntut Umum, penjabaran barang bukti yang semuanya disangkal oleh Arsya dan tim pengacaranya, pembacaan tuntutan oleh jaksa. Proses panjang yang biasanya memakan waktu hingga hampir satu tahun itu terjadi dalam kurun waktu hanya lima bulan. Tidak adanya barang bukti menguatkan dari pihak terdakwa adalah alasan paling kuat dari cepatnya proses ini.
“Maafin aku ya, Ma! Maafin aku.”
Selalu kalimat sesal itulah yang terucap setiap kali Arsya dikunjungi oleh keluarganya. Kali ini, satu hari setelah sidang pembacaan tuntutan, wanita itu kembali datang ke rutan. Tak hanya membawakan sang suami makanan, ia juga sangat telaten mengurus Arsya dalam keterbatasannya. Mulai dari mencukur jambang yang tumbuh, memotong rambut Arsya yang mulai memanjang hingga tampak bergelombang, hingga memotongkan kuku Arsya supaya lebih rapi. Saking perhatiannya, mereka sampai menjadi pusat perhatian pengunjung lain yang tak jarang pula mencibir. Namun, pasangan suami istri ini sama sekali tidak peduli.
“Aku masih percaya Mas gak salah. Sampai kapan pun aku bakalan nungguin Mas Arsya pulang,” ujar Citra sambil mengoleskan minyak pada rambut Arsya.
“Aku makin pesimis, Ma,” sedih Arsya. “Setelah putusan hakim nanti, aku bakalan bebasin kamu ambil keputusan, Ma. Hukumanku pasti gak akan sebentar, minimal dua puluh tahun. Aku gak mau kamu nunggu selama itu.”
“Mas ngomong apa sih? Jangan mendahului takdir gitulah!” sergah Citra tida suka.
“Tapi beneran, Ma! Kalau sampai menjelang putusan aku gak bisa membela diri, aku pasti akan membusuk di pernjara,” balas Arsya semakin tak percaya diri.
“Aku gak mau denger Mas Arsya ngomong kayak gitu lagi, ya! Cukup! Kita pasti bisa melalui ujian ini secepatnya! Kita pasti bisa berkumpul lagi kayak dulu.”
Pria itu menghela napasnya panjang. Hanya tinggal beberapa kali sidang, durasi hukuman yang mengintai Arsya akan menemukan kejelasan. Bukan sesuatu yang mengherankan jika ia menjadi semakin pesimis walau terus dikuatkan. Apalagi dengan pasal berlapis yang didakwakan padanya, jaksa mengajukan tuntutan hukuman penjara seumur hidup.
Kejahatan itu memenuhi dakwaan pada pasal 289 KUHP tentang pencabulann dengan ancaman hukuman maksimum sembilan tahun penjara, pasal 340 KUHP tentang pembunuhann berantai dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup, atau sekurang-kurangnya dua puluh tahun penjara.
“Mama, Papa, sama Kak Barrack gimana? Mereka pasti khawatir sama kamu,” tanya Arsya kemudian.
“Kak Barrack nemuin Mas lagi?” Wanita itu balik bertanya yang dibalas anggukan sang suami.
Citra tahu, kakaknya beberapa kali datang berkunjung hanya untuk memaksa Arsya agar melepaskan dirinya. Setelah berkali-kali membujuknya dan tidak berhasil, Barrack beralih menekan Arsya. Beruntung Citra segera mengetahuinya, sehingga ia bisa terus meyakinkan Arsya jika dirinya tidak akan pernah kemana-mana.
“Udah, gak perlu dianggep. Dari dulu kak Barrack ‘kan emang gitu,” pesan Citra lembut.
Arsya meraih jemari sang istri yang masih betah mengelus setiap helai rambutnya. Diarahkannya wanita itu agar duduk disampingnya dan tanpa mempedulikan pengunjung lain, Arsya merengkuh Citra dalam pelukannya. Hanya rasa damai yang bisa ia jabarkan setiap kali melakukan hal ini. Aroma vanila yang menguar dari tubuh wanita itu memberikan ketenangan pada pikirannya yang dipaksa untuk tetap waras.
“Kalau bukan kamu yang jadi istriku, pasti sekarang aku udah jadi duda. Makasih, Ma! Aku sayang banget sama kamu.”
Citra memaksakan senyum di tengah getirnya perjalanan hidup mereka saat ini. Sama seperti sang suami, ia tidak peduli pada pandangan orang yang mencibir aksi bermesraan keduanya. Telinga mereka juga menyaring setiap cibiran yang sebenarnya terus berdengung layaknya lebah membuat sarang.
=====
Hiruk pikuk manusia dengan segala aktivitasnya menjadi pemandangan biasa di bandara internasional paling sibuk di Asia Tenggara ini. Sebuah pesawat rute Dubai Jakarta mendarat beberapa saat lalu. Sebagian besar penumpangnya sedang dalam proses imigrasi, tetapi ada juga yang sudah bisa keluar. Mereka adalah golongan spesial yang menggunakan pintu khusu VIP.
Seorang pria tengah menarik kopernya yang berukuran sedang. Ia berjalan melalui pintu keluar dengan gaya khasnya yang menarik perhatian. Pakaiannya mungkin terlihat kasual, tetapi bagi pencinta mode, mereka akan langsung bisa mengetahui harga selangit dari setiap helai busana yang dikenakan pria itu.
Langkahnya baru terhenti saat melihat seorang wanita muda berdiri dibalik pagar pembatas dengan senyum manis tengah menunggu kedatangannya. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera menghampiri wanita dengan pakaian formal tersebut.
“Welcome back, Mr. Morais,” sapa wanita itu ramah.
Pria yang dipanggil Morais itu membuka kacamata hitamnya tanpa menunjukkan ekspresi yang berarti. Tatapannya tajam mengintimidasi. Hal itu membuat senyum di wajah wanita itu memudar seketika.
“Melupakan perintahku, Nona Diandra?” tanya pria itu dengan senyum miringnya.
Diandra, wanita itu kembali menerbitkan senyumnya yang sayang tampak kikuk.
“Ekspresimu menakutiku, Harland,” ujar Diandra menyebut nama depan pria itu dan menanggalkan formalitasnya.
“Itu lebih baik,” balas Harland seraya beranjak dari posisi mereka menuju area parkir. “Kamu hanya sekretaris saat kita sedang di kantor atau ada partner. Tapi saat berdua, kamu wanitaku, Diandra.”
Pria berperawakan bule itu meraih pinggang Diandra saat keduanya berjalan beriringan. Bukanlah sebuah pemandangan aneh melihat pasangan yang berjalan dalam posisi sedemikian rupa.
“Mau langsung ke apartemen?” tawar Diandra kemudian.
“Restoran dulu, aku lapar. Makanan di pesawat tidak enak,” sahut Harland.
“Baiklah. Mau makan apa?” tanya Diandra lagi.
“Seafood.”
Wanita itu tertawa kecil. “Kecintaanmu pada seafood itu patut menjadi legenda.”
“Terlalu nikmat untuk dilewatkan,” Harland membela diri.
Setelah menyimpan koper Harland di bagasi, keduanya segera masuk ke dalam mobil dengan Diandra yang mengemudi. Selain Harland yang baru saja tiba dari sebuah perjalanan jauh, ia juga tidak memiliki surat izin mengemudi di negara ini.
Wajar saja, Harland berkewarganegaraan Amerika. Keberadaannya di Indonesia adalah sebagai seorang ekspatriat yang memiliki urusan bisnis dengan beberapa perusahaan terkenal di negeri ini. Saking seringnya berkunjung, ia pun mempekerjakan Diandra, wanita yang dikenalnya secara tidak sengaja di sebuah klub malam untuk menjadi sekretaris sekaligus teman wanitanya.
“Apa kali ini kamu akan lama disini?” tanya Diandra kemudian.
“Seperti biasa, hanya beberapa minggu,” jawab Harland dengan kepala yang bersandar pada pintu mobil. Kondisi panas dan macet di Jakarta memperparah jet lag yang dialaminya.
“Kamu akan meninggalkanku lagi?” tanya Diandra terdengar sendu.
“Bukankah yang penting aku tidak pernah telat mengirimkan ‘gaji’mu?” Harland balik bertanya.
Diandra mengerucutkan bibirnya tanda protes. Gaji sekaligus uang jajan yang diberikan oleh Harland memang sangat mencukupi kebutuhan hidupnya hingga ia bisa bergaya mewah. Bahkan mobil keluaran Eropa ini juga didapatkannya dari uang jajan yang diberikan Harland. Namun, terkadang ia juga ingin sering bersama dengan pria royal tersebut.
“Kamu pergi berbulan-bulan dan hanya menyisihkan sedikit waktu untukku,” keluh Diandra.
“Pekerjaanku sangat banyak, Babe,” balas Harland membela diri.
“Tetap saja,” Diandra belum ingin memaklumi.
Harland menghela napasnya panjang lalu meraih sebelah tangan Diandra. Ia mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut dan setelahnya sama sekali tidak melepas genggaman tangan mereka.
“Nanti kita ke klub malam lagi, kita bersenang-senang sampai kamu puas,” usul Harland.
“Bener, ya!”
“Tentu!”
Bujukan seperti itu selalu bisa meluluhkan kekesalan Diandra. Jika tidak, maka barang-barang mewah adalah solusi terakhir dan sudah bisa dipastikan akan sangat manjur untuk membujuk wanita dua puluh enam tahun tersebut. Harland sangat memahami wanitanya.
Saat melalui gedung pengadilan, atensi pria itu menemukan kerumunan orang-orang yang sepertinya tengah berdemo dengan membawa spanduk. Ramai sekali sampai-sampai arus lalu lintas menjadi tersendat.
“Ada demo apa?” tanya Harland penasaran.
Diandra menengok sekilas kearah pengadilan, lalu kembali fokus pada jalanan. “Sidang kasus pembunuhan berantai. Serem, deh.”
“Pembunuhan berantai?” Harland membeo.
“Iya. Kayaknya kamu masih disini juga waktu beritanya heboh dulu,” jelas Diandra.
“Oh yang sebelum aku balik ke New York waktu itu?”
“Iya yang kita nonton evakuasi salah satu korban yang deket sama apartemen kamu waktu itu.”
“Pelakunya udah ketemu? Kok bisa?” tanya Harland penasaran.
Diandra mengedikkan bahunya tak acuh. “DNA pelaku cocok sama yang tertinggal pada korban katanya.”
“Beneran? Bukannya pelaku bersih dan rapi banget?” Harland masih belum yakin.
“Gak tahu. Pas lagi ceroboh mungkin,” tebak Diandra.
“Bisa jadi,” balas Harland. “Syukurlah kalau ketemu.”
Diandra melepaskan pegangan tangannya dari Harland saat akan memindahkan gigi mobilnya. Keduanya kemudian saling terdiam dan menikmati jalanan yang kepadatannya mulai terurai.
“Aneh juga bisa cocok.”
“Ngomong apa barusan?”
“Ah, enggak. Bukan apa-apa.”
=====