Tubuh yang terikat di kursi kayu bertangan itu menggeliat perlahan. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk sekarang terangkat. Suara erangan lirih menyertai gerakan kepala berambut pirang itu. Pelan, mata birunya terbuka. Mengerjap beberapa kaki sebelum akhirnya terbuka sempurna. Sepasang alisnya mengernyit melihat pemandangan yang tak biasa. Dia masih belum menyadari keadaannya, masih belum sadar jika tubuhnya terikat. Dia masih mengamati keadaan ruangan yang ditempatinya. Dinding yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk, berlubang-lubang sehingga dapat diperkirakan jika usia dinding itu sudah tidak muda lagi. Mungkin saja lebih tua dari usianya sendiri. Lampu berwarna oranye yang menggantung di tengah-tengah ruangan, cukup untuk menerangi seluruh ruangan ini, dan membuatnya dapat melihat jik

