Aku memberikan benda pipih entah yang keberapa kali pada Reeve. Bibirnya sudah entah tidak bisa dikondisikan. Moodnya sudah hancur juga. "Kenapa lagi sih? Hmm?" ucapnya akhirnya duduk dari kasur. Aku juga ikut duduk di sampingnya dan berdecak kesal. "Udah satu tahun kita nikah. Ini garis masih satu aja. Kapan dua nya dong, yang?" tanyaku kesal. "Ya sabar dong. Belum dipercaya namanya, Ra. Masih dikasih waktu buat pacaran kitanya." Lagi-lagi aku berdecak kesal, "Ya kenapa lama? Aku udah nggak tahan sama saudara jauh kamu. Tiap ketemu bahasnya keturunan lagi, cucu lagi. Aku kan jadi kasihan sama mama kalau kaya gitu." Bukannya menjawab pertanyaan dan ucapanku, Reeve malah duduk membelakangiku. Malah tidak pakai baju, Cuma celana saja. Kan buyar fokus untuk marah-marahnya. For your in

