Message From Dika:
Kak, dikantor ada problem, tolong cek email kakak sekarang.
Tidak lama setelah membaca pesan dari Dika, ia mengecek email dengan segera, dan betapa kagetnya Elliana mendapati tiga tender besarnya memutuskan kontrak sepihak, dengan tergesa Elliana menelpon sekertarisnya.
"Nala, apa maksud ini semua? Minta Penalti segera!"
Kontraknya berpindah tangan kak, setelah Nala baca lagi kontrak yang kita tandatangani, tidak ada poin yang menjelaskan perkara Penalti untuk perusahaan kita.
"Apaaa??? Gak mungkin aku se ceroboh itu Nala! Cepat baca lagi" ucap Elliana dengan nada paniknya
"Kakak tenang dulu kak" ucap Nala dari telpon seberang
"Gimana bisa tenang, kalau seperti ini kita bisa colabs Nala! Ini tiga kontrak besar!"
"Kakak balik sekarang!"
"Lebih baik jangan dulu kak, dikantor juga sedang ada demo karyawan, kita sekarang gak punya uang untuk membayar gaji karyawan, karena harusnya dua minggu lalu kita dapat pembayaran project dari tiga kontrak tersebut, tapi karena pembatalan ini kita kehabisan kas kantor"
"Kenapa kamu baru kasih tau sekarang?"
"Awalnya Nala sama Dika mengira bisa mengatasi ini sendiri kak, ternyata setelah kita teliti lagi kontraknya tidak ada poin Penalti dari pihak kita" ucap nala dengan ragu-ragu
Elliana tidak menjawab, hanya menarik nafas dalam dan menggigit jarinya sembari berfikir.
"Nala, berapa kerugian kita? Dan berapa kas yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua project dan gaji karyawan? Ditotal saja nanti kakak kirim uangnya"
"Kerugian kita kira-kira empat miliyar kak, gaji karyawan yang belum dibayar kurang lebih dua Miliyar, sisa project berjalan membutuhkan sekitar dua miliyar jadi sekitar delapan miliyar"
Kepala Elliana mendadak pusing mendengar suara angka-angka yang baru saja disebutkan oleh adiknya tersebut.
"Kerugian apa itu banyak sekali Nala!"
"Itu kerugian yang kita dapat dari pemutusan 3 kontrak besar tersebut kak"
"Kamu tahu alasan mereka memutus kontrak?"
"Kemarin Nala sudah sempat rapat bersama masing-masing perusahaan tersebut ternyata mereka memutus kontrak dengan alasan yang sama kak, ada prusahaan rintisan baru yang menawarkan harga yang jauh lebih murah dengan konsep yang sama, bahkan desainnya sama persis dengan milik kita kak, menurut Nala ada orang yang sengaja membocorkan konsep project kita"
"Kamu awasi semua karyawan mulai sekarang, cari tau siapa yang berkhianat diantara mereka"
"Baik kak, tapi ada 20 karyawan yang mengundurkan diri, kita juga harus bayar uang gedung bulan ini kak jangan lupa"
"Astaghfirullah" ucap Elliana frustasi
"Kakak ada 2M, sementara kita pakai untuk uang karyawan dulu, kurangnya biar kakak coba ngmong sama daddy, tolong urus perusahaan dengan baik selama gak ada kakak jangan ambil project apapun dulu, jangan ikut tander dulu, km selesaikan projectnya damian dengan baik dan kembangkan beberapa game kita saja dulu, hanya itu yang bisa kita lakukan dikondisi kritis seperti ini"
"Baik kak"
Elliana berendam sembari memikirkan cara mendapatkan sisa uang yang dia butuhkan untuk menyelesaikan permasalahan kantornya.
Tok tok tok .. ..
"Non, tuan Aldrinan ingin bertemu"
"Ell masih mandi bi, suruh tunggu di taman belakang saja nanti Ell menyusul"
"Baik non"
'Mau apa lagi si iblis tampan?' Gumamnya dalam hati.
Elliana melihat jam menunjukkan pukul 11 siang, ia berbusana sopan menuju ruang kerja Hariawan.
Tok tok tok .. ..
"Boleh Ell masuk?"
"Masuk saja sayang" ucap Hariawan
"Terimakasih dad"
Elliana duduk disebelah daddynya yang sedang fokus dengan laptop
"Ada apa anak Daddy yang cantik ini siang-siang merusuh pekerjaan daddy? Kamu kan berlibur, sana jalan-jalan bersama Aldrinan mumpung dia ada disini"
"Ckk" decak kesal Elliana
"Lah kok begitu?"
"Elliana gak mau jalan sama Aldrinan ah"
"Hahahaha, yasudah sini sama Daddy saja, ada apa sih?" Hariawan mengusap lembut pucuk kepala Elliana.
"Daddy, Ell mau daddy kasih Ell duit" ucap Elliana dengan manja
"Hahaha kok tumben minta duit? Memangnya Elliana tidak punya duit? hmm.."
"Bukan tidak punya duit sih daddy, tapi .." ucap Elliana ragu
"Tapi ..?" Hariawan melanjutkan kalimat Elliana
"Elliana bangkrut" bisik Elliana didekat telinga Hariawan
"Elliana sudah koreksi kebangkrutannya?"
"Sudah daddy"
"Elliana bisa bangkit lagi?"
"Bisa Daddy"
"Yasudah kalau begitu Elliana bangkit lagi"
"Ihh daddy! Tapi Elliana butuh uang buat tutup kebangkrutannya"
"Kemarin kamu buat perusahaan tanpa bantuan Daddy bisa, tapi sekarang malah minta bantuan Daddy"
"Iya kan kemarin cm dengan modal yang gak seberapa daddy, sekarang Elliana butuh untuk menutupi kebangkrutan Elliana, gak banyak kok daddy, kan perusahaan Elliana bukan perusahaan besar Elliana pinjam 8 M aja"
"Hmmm ..."
"Boleh gak daddy?"
"Ada syaratnya"
"Apaan?"
"Elliana harus nikah sebelum kembali ke Jogja"
"Haaaa??"
"Elliana cuma pinjam daddy kok gitu sih"
"Daddy gak ingin kasih pinjam, Daddy bisa kasih Elliana uang segitu atau lebih, tapi pertimbangkan usiamu sayang, kamu ini sudah usia berapa kalau kamu terus-terusan menunda pernikahan nanti kamu jadi perawan tua"
"Ih daddy kok nyumpahin sih"
"Siapa yang nyumpahin sih? Yaudah pkoknya daddy gak mau tau! Elliana harus nikah dalam minggu ini!"
"Daddy menikah tidak mudah itu! Persiapannya kan banyak dad"
"Daddy hanya ingin km menikah sayang, menikahlah biar daddy menjadi tenang, semakin besar bisnismu, kamu perlu seorang pendamping"
"Sama siapa daddy?"
"Sama Aldrinan, why? Dia mencintai kamu! Ini cek 8 M kamu urus perusahaan kamu! daddy siapkan pernikahannya, lusa kalian harus sudah menikah!"
Elliana keluar dari ruang kerja daddynya dengan membawa cek 8 M tersebut, Elliana berjalan menuju kamarnya dengan lesu, menyimpan cek tersebut dilaci nakas lalu merebahkan tubuhnya.
'Menikah ya?' Gerutunya dalam hati sembari memejamkan mata dikamar yang menemani tumbuh kembangnya hingga dewasa.
'Masih senyaman dulu' ucapnya dengan sangat pelan sebelum benar-benar terlelap.
******
Dari satu jam yang lalu Aldrinan menunggu Elliana di taman belakang ditemani satu gelas orange juice.
'Nampaknya dia melupakan janjinya padaku' ucapnya dengan tersenyum kecil
Aldrinan masuk kembali kerumah hendak memasuki ruang baca, namun ketika melewati kamar Elliana dia menderngar triakan Elliana di sela pintu yang tidak tertutup.
"Ell, are you oke?"
Tidak ada sahutan dari pemilik kamar
"Aku masuk ya?" Ucap Aldrinan kembali
Aldrinan melihat Elliana tertidur di ranjangnya dengan setengah badan dikasur, dan kakinya berada di lantai.
"Astaga Ell kamu segitu lelahnya sampai tidak memperbaiki posisi tidurmu?"
Aldrinan mengangkat tubuh Elliana dan memperbaiki posisi tidurnya, ketika meletakkan Elliana di kasur, Aldrinan berada tepat didepan wajah Elliana, untuk kesekian kali debaran kencang memenuhi dadanya.
"Aku tidak mau menikah" rintih Elliana dalam tidurnya
Deg .. debaran Aldrinan mendadak berhenti, rasanya menyesakkan mendengar rintih yang terdengar menyakitkan ditelinganya.
"Kenapa tidak mau menikah?" Tanya Aldrinan sambil mengusap kening Elliana lembut
"Rasa cinta hanya akan saling menyakiti" ucapnya dengan suara sangat sedih
"Elliana pernah merasakan sakit hati?" Tanya Aldrinan kembali
"Pernah, bahkan oleh orang yang sangat aku percaya, orang yang tidak munggkin menggoreskan luka, namun kenyataannya tidak ada laki-laki yang dapat dipercaya" ucapnya dalam lelap.
'Dia pernah sesakit itu? Wajar saja dia tidak pernah mau menerima cintaku' ucapnya dalam hati sambil mengusap kening Elliana lembut.
'Kalau kau menjadi milikku, aku tidak akan membiarkanmu terluka' ucap Aldrinan kembali, mengecup kening Elliana singkat sebelum keluar dari kamarnya.
******
Dua hari berlalu, Aldrinan dan kedua orangtuanya yang merupakan sehabat dari orang tua Elliana masih menginap dirumah Elliana sampai hari pernikahan mereka dilaksanakan.
Diandra ibu dari Aldrinan menemani Elliana yang dirias di kamarnya.
"Wah kamu sangat cantik sayang" ucap Diandra tulus
"Terimakasih tante" jawab Elliana lesu.
"Jangan panggil tante dong, panggil mami seperti Aldrinan" Ucapnya sambil mengelus pundak Elliana
"Iya mami" sahut Elliana.
"Elliana tidak suka menikah dnegan Al?" Tanya Diandra tulus sambil memegang kedua bahu Elliana dan menatap kedua matanya, mendadak airmata jatuh dari kedua mata Elliana dengan sendirinya.
"Bu-bukaann .. hikss ..."
"Kenapa menangis sayang? Cerita sama mami, apa Aldrinan pernah menjahati Elliana?"
"Ti-tidak mi, hiks.. hiks.."
"Jadi kenapa sayang? Tenangkan dirimu dulu"
"Aldrinan selalu bersikap baik mi, selalu, Elliana hanya takut menjalin hubungan serius, Elliana pernah kecewa oleh orang yang sangat Elliana percaya mi"
"Elliana tau gak? Al sangat mencintai Elliana?"
"Hmm? Enggak, memangnya ia mi?"
"Sangat, Aldrinan sudah mengurus perusahaan ayahnya sejak dia lulus SMA, dia belajar mengelola perusahaan ayahnya sambil kuliah, dan yang Aldrinan pegang itu perusahaan cabang di Surabaya yang bekarjasama dengan daddymu dengan banyak campur tangan daddymu pastinya karena Al masih belajar, jadi Al sering datang ke perusahaan daddymu untuk belajar bisnis kalau kalau ada yang tidak ia ketahui, nah disitu sepertinya Al sering melihatmu ketika bersama daddymu atau ketika Elliana mengunjungi kantornya, Aldrinan sering menelpon mami dan papi menanyakan namamu, menceritakan kalau dia ketemu kamu, sampai saat ini tidak pernah ada wanita lain yang ia ceritakan kepada mami selain kamu sayang"
"Jadi kak Al sudah mengenal Elliana lama mi? Kenapa Elliana baru tahu?"
"Dia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita Sayang, mungkin dia malu" ucap sang mami
"Kak Al? Tidak pernah? Kenapa bisa? Kak Al yang setampan itu mi?"
"Hmm ya mami juga tidak tahu, kamu tanya saja pada calon suamimu nanti, jadi gimana? Elliana mau membatalkan pernikahan ini? Biar mami bantu kalau Elliana tidak senang jangan dipaksa sayang, mami tidak ingin memaksakan, mami banyak berhutang budi pada daddymu, tapi mami juga menyayangi kamu, mami gak ingin kamu terluka" ucapnya dengan memeluk Elliana.
Elliana menangis haru dengan tersedu dipelukan Diandra,
"Tidak mi, Elliana mau melanjutkan pernikahan ini"
"Benarkan?" Tanya Diandra dengan mata berbinar
"Benar mi" ucapnya dengan senyum yang antusias.
Akad nikahpun berjalan lancar, tidak ada pesta karena ini mendadak dan keduanya harus kembali pada aktivitas masing-masing minggu depan.
"Eh kalian mau kemana?" Triak Atika melihat kedua pengantin baru tersebut melangkahkan kaki ke kamar masing-masing, spontan mereka membalikkan badan menghadap sang mommy yang menegur.
"Mandi lah mom! Mau istirahat"
"Lah kenapa kalian masuk kamar masing-masing?"
Elliana dan Aldrinan saling tatap dengan tatapan bingung dan mengangkat kedua bahu mereka pertanda bahwa mereka tidak mengerti ucapan mommynya.
"Hah kalian ini gimana sih, kalian kan sudah suami istri, kalian harus satu kamar mulai sekarang" ucap Atika sambil menggandeng tangan sepasang suami istri tersebut.
"Mommy sudah siapkan kamar utama buat kalian, jadi mulai hari ini kalau kalian kembali kerumah ini, kalian istirahatnya disini, ini sekarang kamar kalian"
Atika menunjukkan kamar yang baru di renovasi tersebut kepada kedua anaknya.
"Wow, gede banget mom, kapan mommy bikin kamar ini?" Tanya Elliana penasaran.
"Sudah lama, mommy sengaja membuatnya kalau-kalau kamu sudah menikah nanti" sahut Atika
"Loh ini kan??" Aldrinan terkejut melihatnya.
"Ia, daddy design ruangan yang pertama kali kamu tunjukkan ke daddy waktu kamu masih baru memulai bisnis" ucap Hariawan dari belakang mereka.
Aldrinan tersenyum manis sambil melihat keseluruh ruangan.
"Daddy memakai design ini karena daddy menyukainya, dan daddy juga menyukaimu, daddy percaya kalian berjodoh, dari dulu kan kamu selalu senyum-senyum sendiri kalau melihat Elliana bermain di kantor" sahut Hariawan yang tak dapat di pungkiri oleh Aldrinan.
"Terimakasih dad, terimaksih sudah mempercayakan Elliana pada Al, terimakasih juga sudah pernah membimbing karir Al" ucapnya tulus
"Yasudah sekarang kalian ganti baju istirahat, semua pakaian sudah mommy siapkan, barang-barang penting Al dan Elliana juga sudah dipindah tadi, selamat istirahat" ucap Atika lalu pergi, wajah Elliana memerah menyadari mereka berada di satu ruangan yang sama.
"Kamu kenapa El?" Tanya Aldrinan memastikan karena dari tadi Elliana hanya menunduk saja.
"Ti-tidak apa, kak Al silahkan mandi duluan"
"Hah? Apa? Hahahaha siapa katamu? Gak salah denger aku?" Hahahaha
"Enggak, silahkan mandi duluan"
"Bukan itu, panggilanmu tadi siapa?" Tanya Aldrinan dengan menundukkan wajahnya mencoba melihat wajah Elliana yang sesari tadi menunduk.
"K-kak Al .." ucapnya ragu..
"Hahahaha, yasudah aku mandi dulu" aldrinan mencium pucuk kepala Elliana lalu pergi ..
"Huuuufffttttt ... mau copot rasanya jantungku" ucap elliana sambil terduduk di sofa.