Sudah dua hari Elliana berada disalah satu hotel terbesar di Bali, hotel yang dikelola dibawah naungan Draken Corp, pagi ini Elliana kembali meeting dengan divisi Pusat Data dan Informasi pada hotel tersebut untuk membahas tampilan aplikasi yang mereka pesan kepada Grandis Game and Software yang merupakan perusahaan start up yang dirintis oleh Elliana.
"Oke tuan dan nyonya sekalian, ini merupakan tampilan atas aplikasi yang telah kami selsaikan" ucap Elliana, menampilkan sambil memberi sekilas penjelasan singkat mengenai cara peggunaan dan fasilitas aplikasi tersebut.
Selama penjelasan Elliana, audience pada ruangan tersebut hanya mangut-magut setuju dengan semua penuturan serta ide kreatif Elliana dalam pembangunan aplikasi interaktif yang menghubungkan seluruh cabang hotel dibawah naungan Draken Corp di Indonesia yang hampir tak terhitung jumlahnya.
'kalau project kali ini deal, akan menjadi project terbesar GGS' gumamnya dalam hati sambil tersenyum bahagia sebelum menyelesaikan persentasi.
Dua jam telah berlalu meeting terakhirpun berjalan dengan lancar, tanpa diketahui Elliana ternyata seorang pria tinggi tampan dengan bola mata berwarna hazel, rahang tegas, dan tubuh atletis tengah mengawasi jalannya meeting dari lantai 2 yang tak lain adalah Aldrinan Drake Lewis, CEO dari Drake Corp.
"Smart girl" monolognya sambil tersenyum kagum sebelum berlalu pergi.
Ting Tung Ting Tung ..
Mendenar suara bell kamar hotel berbunyi, Elliana mempercepat acara beriasnya, dan melangkah ke arah pintu.
"Mbak!!" Panggil dika yang tak lain adalah adik sepupunya yang bekerja sebagai kuasa hukum sekaligus asisten pribadi Elliana
"Opo se dek?" Kesal Elliana menanggapi teriakan dika.
"Lah mbak sudah rapi? Kirain masih tidur, hmm itu cek emailnya surat perjanjian pembangunan aplikasi sudah di tandatangani semua dari pihak mereka tanpa ribet" ucap Dika dengan ekspresi bahagianya, Elliana melebarkan matanya mendengar ucapan adik sepupunya itu.
Seketika Elliana teriak dan merangkul adiknya
"Seriously? okeee ... time to party!!!"
"Gak bisa, mas Nala sudah kembali ke Yogyakarta, kita harus kembali mbak banyak yang harus di urus" Elliana menatap tidak suka ke dika.
"Alihkan pekerjaan yang mendesak ke Nala dulu, aku perlu istirahat setidaknya sehari" Timpa Elliana, sukses membuat Dika mendengus kesal.
"Mbak gak bisa se enaknya, mas Nala sebagai sekertaris mbak, masih banyak yang harus dia urus" Sungut dika karena kesal Elliana selalu melimpahkan pekerjaannya kepada Nala yang tak lain adalah kakak kandung Dika.
Dengan perdebatan panjang mereka, akhirnya Dika memilih kembali ke Yogyakarta seorang diri untuk mewakilkan pekerjaan Elliana. Sedang Elliana masih ingin beristirahat barang sehari di Pulau Dewata itu.
Elliana menikmati sunset dari balkon kamar hotelnya sambil sesekali meneguk secangkir kopi yang ia pegang di tangan kanannya. terlihat beberapa anak kecil bermain bola di pinggir pantai, beberapa orang membuat bangunan pasir, beberapa pasangan bermain air, dan beberapa dari mereka berciuman sambil bersantai di bibir pantai. Elliana hanya tersenyum melihat kearah langit yang mulai berubah warna, langit dengan warna yang paling Elliana suka ditemani laut dengan matahari yang siap meninggalkannya.
Ting Tung Ting Tung.. ..
Elliana berjalan ke arah pintu begitu mendengar suara bel kamarnya berbunyi, ia mendapati seorang pelayan membawa sebuah kotak dan buket bunga matahari
"Seorang pengunjung mengirim ini untuk nona, harap di terima" Elliana bingung, namun langsung mengambil kotak dan buket bunga tersebut.
"Terimakasih" ucapnya sambil tersenyum sebelum masuk dan menutup kembali kamarnya.
Dibukanya kotak tersebut, terdapat sebotol wine mahal dan assesories akrilik kecil bergambar naga hitam dengan gradasi emas pada sisiknya, dan selembar kertas kecil bertulis
"aku harap suatu saat dapat meminumnya bersamamu sunny"
Elliana hanya tersenyum kemudian mengambil assesories tersebut untuk ia simpan didalam tas yang dipakai hari ini.
Malam pun menyambut, dengan dress santai berwarna peach Elliana berjalan menyusuri pantai dengan lampu malam indah serta kursi santai tidak luput juga cafe bar disekitarnya yang didesain sempurna oleh pemilik hotel, menjadikan pantai lebih mempesona dimalam hari.
Elliana berjalan menuju cafe bar sembari melihat email yang menampikan surat persetujuan kontrak kerja bersama Draken Corp yang ia dapatkan hari ini, ‘betapa sempurnanya hari ini’ pikirnya ia memejamkan mata sambil tersenyum dan menarik nafas dalam.
BRUUUKK
Elliana menabrak seorang laki-laki tinggi
"Ahh, maaf maaf" ucap Elliana sambil mendangakan wajahnya untuk menatap pria tinggi itu, dan terlihat wajah tampan berkulit putih dengan mata tajam yang sangat ia kenal, tubuh Elliana melemas seketika.
"Ell .."
Ucap pria itu dengan nada terkejut sambil memegang kedua bahu Elliana. Elliana hanya terdiam melihatnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"I miss you so bad Ell, aku mencarimu dalam beberapa bulan ini, aku langsung brangkat ketika melihat posting foto terakhirmu dikafe hotel ini dua hari yang lalu" ucap pria itu sambil memeluk Elliana tanpa izin.
"Lepaskan aku Tian" ucap Elliana datar
'oh god, haruskah hari menyenangkanku diganggu dia' gumam Elliana dalam hati, memori ingatan Elliana berputar kembali ke 5 tahun yang lalu, saat dimana Elliana remaja berteman dekat selama 2 tahun dengan Bastian, mereka selalu bersama dalam apapun, mulai dari kuliah, hingga kegiatan luar kampus. Mereka sangat dekat sebelum Bastian mempermainkannya, Elliana remaja yang baru mengenal namanya rasa kagum, dan akhirnya Bastian Prayoga yang ia kagumi menyatakan perasaannya pada Elliana, baru tiga minggu hubungan mereka berlangsung Elliana mendapati Bastian menikahi wanita yang tengah dihamilinya, hingga saat itu juga Ell merasa jijik dan kecewa pada Bastian juga pada perasaannya sendiri yang telah mengagumi pria b******k tersebut.
"Aku ingin kita kembali Ell .. aku minta maaf .." ucapan Tian membuat Elliana tersadar dari lamunan masa lalunya
"Lepas!!!" sambil mendorong kuat tian yang memeluknya
"Ell maafkan aku" ucapnya lagi yang membuat Elliana geram mendengarnya, Elliana menarik satu hembusan nafas dalam.
"Aku memaafkanmu Tian" ucapan Elliana membuat Bastian tersenyum gembira dan kembali merentangkan tangannya.
Elliana yang melihat bastian akan memeluknyapun mundur beberapa langkah.
BRUUKKK
Punggung Elliana menabrak d**a bidang pria tampan dengan bola mata berwarna hazel dan tatapan yang dingin, pria itu adalah Aldrinan yang memang sengaja menghampirinya karena merasa penasaran dengan pria yang memeluk Elliana yang dia yakini adalah kekasih Elliana.
Tanpa pikir panjang Elliana berglayut manja pada lengan pria itu dan berkata
"Oh sayang, kau menyusulku?" Aldrinan tetap dengan ekspresi dinginnya sambil menatap Elliana yang juga menatapnya dengan tatapan memohon, dapat melihat Elliana dari dekat membuatnya tersenyum manis yang seketika membuat Elliana terpaku menatapnya.
"Dia siapa Ell!" Suara tian menghancurkan lamunannya, tian menarik tangan Elliana yang bebas
"Jangan sentuh aku" ucap Elliana menghentak tangannya hingga terbebas.
"Tapi Ell-" belum selesai Tian berbicara
"Benar aku memafkanmu, tapi tidak untuk kembali, ah iya .. aku lupa, ini tunanganku! Calon suamiku!" ucapnya dengan nada nyolot pada tian
"Perkenalkan dirimu padanya sayang" ucapnya pada Aldrinan dengan nada halus
Aldrinan mengulurkan tangannya, dan menyebutkan namanya "Aldrinan" ucapnya datar. Tian enggan menyambut uluran tangan Aldrinan dan berlalu meninggalkan mereka dengan hati kesal. Elliana menghembuskan nafas lega melihat Tian telah pergi beralih menatap Aldrinan di sampingnya,
"Maaf, anda siapa?" Tanya Elliana
"Calon suamimu" jawab Aldrinan lembut yang mampu membuat wajah Elliana memerah
"Hmm, maaf untuk yang tadi biar saya traktir untuk ucapan terimakasih" Elliana memilih duduk dibibir pantai sambil memanggil waiters untuk memesan makanan atau minuman.
Setelah mendapat 2 gelas s**u hangat, Aldrinan dan Elliana menikmati deburan ombak beralaskan tikar tipis khas hotel yang memang disediakan oleh waiters tadi.
"Maaf" kata Elliana sambil menatap laut lalu beralih pada bintang yang menghiasi malam.
'Sebenernya ini cowok ganteng, betapa beruntungnya aku hari ini! Udah dapat persetujuan kerjasama project, bisa menikmati liburan, sunrise, dan sekarang duduk bersama pria tampan' ucapnya dalam hati.
"Tadi siapa?" Tanya Aldrinan sambil menatap bintang yang juga di tatap Elliana.
"Hmm, bisa dibilang mantan" jawab Elliana.
"Hoo, kelihatannya masih menginginkan nona" ucapan Aldrinan membuat Elliana tersadar bahwa ia belum sempat memperkenalkan diri
"Ah, Elliana Grandis, panggil saja Elliana atau Ell" ucapan Elliana membuat Aldrinan tersenyum menatapnya.
"Jadi kita bisa berteman?" Pertanyaan Aldrinan membuat mereka saling tatap dalam dengan senyumam kecil.
"Bisa saja, jadi perkenalkan dirimu" jawab Elliana sambil menatap kedepan kembali sambil menyeruput s**u pada cangkirnya.
"Aldrinan Draken Lewis"
BRUUUUSSSSS .... Uhk uhk uhkk ..
Elliana tersedak menyemburkan minumannya hingga terbatuk tidak cukup sampai disitu rasa kagetnya, ia juga menumpahkan minumnya hingga membuat bajunya menjadi transparan mendengar nama yang sama dengan nama yang bertanda tangan pada surat perjanjian perusahaannya tadi pagi. Elliana merutuki dirinya dalam diam, mengulang memori betapa lancangnya ia didepan Bastian tadi memperlakukan klien project sebesar ini dengan sangat lancang.
"Ell, kamu kenapa?" Ucapnya panik sambil mengelus punggung Elliana. Ia langsung memanggil waiters meminta selimut, Aldrinan menutupi tubuh Elliana dengan selimut dan mengangkatnya bridal style ke arah kamarnya sendiri. Elliana masih terbatuk sambil memijat pangkal hidungnya. Aldrinan merebahkan Elliana di kasurnya, mengelap sisa s**u yang tertumpah di wajah dan lehernya, melihat perlakuan Aldrinan, Elliana mengernyitkan dahinya, menepis kasar tangan Aldrinan dan berjalan cepat keluar kamar Aldrinan.
"Ell.. .." panggil Aldrinan
"Ell aku tidak bermaksud apa-apa" triak Aldrinan sambil mengejarnya.
Tapi Elliana sudah jauh,
"Ell!" Triak Aldrinan dan memilih kembali ke kamarnya sambil menyugar kasar rambutnya dengan kedua tangannya.
"Shitt!!"
Aldrinan kemudian memilih mandi untuk menenangkan fikirannya.
BRAK
Elliana menutup kasar pintu kamarnya dan bersandar didaun pintu sambil mengepalkan tangannya. "b******k!! semua pria sama saja" triaknya, berjalan ke kamar mandi, dan mandi lalu memakai satu set baju tidur berwarna merah berbahan kain satin halus, dengan celana pendek di bawah pangkal paha dan atasan yang serupa tanktop yang sedikit longgar tanpa lengan hanya dengan seutas tali yang mengait bahunya, juga ditutupi outer transparan lengan panjang yang sedikit lebih panjang dari celananya.
Ting Tung Ting Tung.. ..
Elliana membuka pintu hendak melihat siapa yang membunyikan bell sambil membawa segelas wine ditangan kirinya yang belum sempat ia minum, ia terkejut mendapati Bastian yang berdiri dengan menyunggingkan bibirnya "hai sayang" ucapnya sambil berusaha masuk mamun didorong oleh Elliana sampai menjatuhkan gelas yang ia pegang di depan pintu kamarnya, bastian memelintir tangan Elliana kebelakang punggungnya mendorong kuat, hingga terjadi pergulatan antara mereka yang sama-sama menyandang sabuk hitam taekwondo, dulu mereka sangat dekat, kemana-mana bersama seperti jari dan kuku, tak jarang mereka menjadi pasangan sparing sebelum menjalin hubungan dan Bastian mengkhianatinya.
Elliana memutar badannya, memiringkan tubuhnya dan melayangkan tendangan pada rahang Bastian, tidak menangkis atau menghindarinya, Bastian sengaja menerimanya dia tahu banyak beberapa pola gerakan Elliana karena mereka sering sekali menjadi pasangan sparing. Bastian tersenyum sambil mengusap darah pada sudut bibirnya
"Bukannya ini mengingatkan kita pada masa lalu sayang, memang hanya aku yang dapat bersanding denganmu" Bastian menunjukkan smirk devilnya, Elliana gemetar menyadari bahwa pintu kamarnya sudah terkunci, Elliana yang panik menendang bastian dengan kaki kanan tanpa pertimbangan, bastian dengan reflek yang cepat menangkap kaki Elliana "Tidak seperti kamu biasanya, kenapa ceroboh sekali?" Seringainya lalu mengeser kaki kananya kuat membentuk pola setengah lingkaran untuk menjegal kaki kiri Elliana yang bertumpu, sontak Elliana terhuyung kebelakang yang akan terjatuh terlentang, namun dengan sigap Bastian menangkap tangan dan tubuh Elliana, kemudian secepat mungkin ia menusukkan jarum suntik di paha Elliana,
"Awwww, apa yang kamu lakukan?" Tanya Elliana yang hanya dijawab dengan seringaian oleh Bastian ..
Bastian kemudian membuka jas yang ia kenakan, menampakkan tubuh atletisnya, dan menghampiri Elliana mengecup pucuk kepalanya, Elliana yang sedikit pusing tak mampu mengeluarkan tenaganya terduduk dipinggir ranjang ..
"Hanya aku yang boleh memilikimu Ell, tidak dengan pria tadi! Atau pria manapun!" Ucapnya sambil menurunkan outer Elliana untuk menciumi bahunya.
"Tidak jangan Tian tidak" Elliana menggeleng kuat dengan suara lirih, ia sadar teriak pun percuma karena kamarnya kedap suara.
Ditempat yang berbeda, Aldrinan berjalan kearah kamar Elliana untuk meminta maaf sambil mengembalikan sendal Elliana yang tertinggal di kamarnya.
Aldrinan mengerutkan keningnya ketika melihat beberapa pecahan gelas wine di depan pintu kamar Elliana, yang membuatnya tanpa pikir panjang membuka pintu kamar Elliana dengan kunci spesial, dan betapa terkejutnya ia melihat Elliana sedang dicumbu oleh Bastian dengan paksa, tangan Elliana di angkat ke atas dan bastian dengan bringasnya menciumi bagian tubuh Elliana yang masih tertutup baju tidurnya lengkap, gairah bastian membuat telinganya tuli untuk sekedar mendengar triakan Elliana ataupun suara pintu.
"Akh, lepasian aku brengsekk!!" Triak Elliana sambil meneteskan air mata,
"Teriaklah sepuasmu sayang, setelah ini kau akan menjadi milikku, kita lihat tunanganmu tidak akan lagi melihatmu setelah mengetahui wanitanya telah disentuh olehku"
Aldrinan geram mendengar perkataan Bastian kemudian memukul Bastian dan menghempaskannya menjauhi Elliana, Aldrian menggila memukul Bastian hingga tak berdaya matanya tertutupi kabut amarah mengingat beberapa bagian yang telah Bastian sentuh di tubuh Elliana membuat Aldrinan memukul Bastian kembali berkali-kali bahkan setelah bastian tidak sadarkan diri, Elliana yang melihat itu menjadi panik, seketika menarik tubuh Aldrinan dan memeluknya sambil menangis tersedu.
"Apa ada yang sakit? Apa kamu terluka?" Aldrinan panik melihat Elliana menangis pilu dipelukannya
"Su-sudah, jangan dibunuh" ucapnya pilu