Aku Melakukannya

1605 Kata
"Su-sudah, jangan bunuh dia" ucapnya sambil tersedu tanpa sadar membuat Aldrinan mendengus kesal "Kau masih mencintainya?" Tanya Aldrinan sembari melepaskan pelukannya beralih memegang kedua bahu Elliana.     "Tidak, aku hanya tidak ingin kau terlibat masalah karena aku" jawaban Elliana membuat kedua sudut bibir Aldrinan sedikit terangkat, Aldrinan mengangkat tubuh Elliana kesofa sambil menghubungi anak buahnya untuk membawa Bastian ke rumah sakit dan membereskan kamar Elliana, mereka tertidur dalam posisi duduk dengan Elliana dipangkuannya. Sudah satu jam berlalu, Elliana mengerjapkan matanya sembari berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa berat, Aldrinan terbangun merasakan gerakan Elliana “Are you Okay?” tanyanya pada Elliana “Haus” jawab Elliana setengah sadar Aldrinan menggeser tubuh Elliana dipangkuannya untuk mengambil segelas air, yang langsung Elliana minum dengan rakus hingga sebagian air tumpah membasahi sudut bibir, dagu, dan leher jenjang Elliana. “Al .. !” panggilnya lirih  “iya ?” tanya Aldrinan yang masih berdiri disebelah Elliana yang sedang duduk “panas Al” jawabnya Aldrinan langsung menurunkan suhu AC, namun Elliana tetap terlihat bingung dan meracau kepanasan, Aldrinan mengambil handphonenya untuk menghubungi dokter, namun sebuah pesan masuk membuat darahnya mendidih seketika. Message From Rio (maaf tuan, dikamar tunangan tuan terdapat sebuah suntikan yang berisi sisa cairan obat perangsang) isi pesan dari salah seorang anak buahnya yang membawa Bastian ke rumah sakit “b******k!!” triaknya sambil menendang meja di dekatnya. 'harusnya kubunuh saja dia tadi!'  ucapnya dalam hati “Al .. !” panggil Elliana yang sontak mengalihkan perhatian Aldrinan “iya?” Aldrinan mendapati Elliana yang sudah membuka outernya dan sekarang berusaha membuka baju bagian atasnya, Aldrinan langsung berjalan cepat ke arah Elliana lalu menahan tangan Elliana yang akan membuka pakaiannya. “jangan Ell” ucapnya sambil menahan tangan Elliana “panas sekali Al” ucapan Elliana dengan wajahnya yang memelas membuat Aldrinan tak tega melihatnya, Aldrinan terdiam sejenak memejamkan matanya sambil berfikir cara yang tepat untuk menyembuhkan Elliana, belum satu menit berlalu, Elliana sudah merangkul leher Aldrinan dan mengecupnya dengan penuh gairah membuat beberapa kissmark disana, "emphh Ell .." eramnya beberapa saat hingga Aldrinan tersadar dan menjauhkan tubuh Elliana,  “Al ..” ucapnya penuh gairah sambil mendekatkan kembali tubuhnya dangan tubuh Aldrinan dan melumat bibir Aldrinan rakus sambil menyusupkan tangannya untuk bergeriliya dibalik baju hitam polos Aldrinan. “Eempph .. Ell jangan ” Aldrinan mencoba menyadarkannya ditengah ciuman mereka. Namun suara Aldrinan semakin membuat Elliana b*******h melanjutkan ciuman mereka yang masih tidak dibalas oleh Aldrinan. Aldrinan hanya terdiam menahan hasrat yang dari tadi memuncak, setiap sentuhan Elliana membuat hasratnya melonjak tak karuan, namun ia tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan Aldrinan tidak ingin Elliana membencinya. “Ell su-d aaahhh .. Ell, janga- ahh ..” ucapnya sambil mengigit bibir bawah miliknya hingga berdarah demi menahan gairah yang semakin meninggi, karena entah sejak kapan Elliana sudah melucuti bajunya hanya menyisakan g-string dan bra dengan warna senada, Elliana kini telah terduduk di pangkuan Aldrinan sambil mengecup, menjilat, dan menggigit kecil setiap inchi leher Aldrinan membuat kissmark hingga tak terhitung lagi berapa jumlahnya. 'uhh .. sial, kenapa ini nikmat sekaliii'  grutunya dalam hati sambil merutuki dirinya yang sangat mendamba sentuhan demi sentuhan Elliana. “ah Ell .. sud- ahh.. El.. ahh ..” Aldrinan mengeram terbata sambil meremas kedua b****g Elliana karena tidak tahan dengan kilatan gairah dari Elliana yang memilin p****g Aldrinan sambil menekan nekan tubuh bagian bawahnya pada milik Aldrinan. ‘Ell kalau seperti ini bagaimana bisa aku menahan diri’ ucapnya dalam hati. Aldrinan yang sudah tak kuasa menahan gairahnya, berdiri melucuti pakaiannya sendiri, hingga tersisa celana dalam, terlihat tubuh atletis dengan d**a dan perut kotak-kotak yang terukir indah di tubuhnya.  “oh Al, so sexy you are ..” ucap Elliana sambil mencium dan menjilat d**a bidang Aldrinan, yang langsung di tanggapi dengan seringai penuh kabut gairah oleh Aldrinan. "jangan pernah menyesal atau melupakan hari ini Ell .." ucapnya parau dengan nafas yang sudah memburu Direbahkannya tubuh Elliana ke kasur dengan dia diatas Elliana, dilumatnya bibir Elliana rakus sambil membuka bra Elliana, diremasnya p******a seksi yang cukup besar itu hingga terdengar erangan seksi dari Elliana, bibir Aldrinan turun menyusuri leher jenjang Elliana dan mengecupnya, membuat beberapa kissmark disana sambil memilin p****g p******a Elliana. “Ah.. Ah.. Al.. more Al” pinta Elliana sambil mendangak memberi akses lebih sambil meremas lengan kekar Aldrinan Aldrinan mengemut, menghisap dan mengigit kecil p****g Elliana sambil menciptakan beberapa kissmark disana, Elliana mengerang kenikmatan sambil menekan kepala Aldrinan agar lebih dalam mencumbunya. Aldrinan melepaskan cumbuannya, menarik nafas dalam sejenak sambil menutup mata, Elliana mengerang tidak suka pada Aldrinan yang melepaskannya.  “sabar sayang” bisiknya sambil mengecup pucuk kepala Elliana. Aldrinan memakainkan bra dan baju yang tadi Elliana pakai, memakai boxernya sendiri, kemudian diikatnya tangan Elliana kebelakang juga kaki Elliana dengan kain bajunya yang sengaja ia sobek.  “Argh sakit Al!” triaknya.     Aldrinan yang masih diliputi kabut gairah tak mampu menjawabnya, diangkat tubuh Elliana bridal style ke bathtub, ia merendam dirinya dan Elliana di pangkuannya dengan air dingin untuk meghilangkan gairah mereka. Elliana yang tidak dapat melawan karena diikat hanya dapat meracau tidak jelas mencoba membebaskan diri, namun tidak bisa karena Aldrinan memeluknya erat.     “Diam dan tenanglah Ell” ucapnya dengan nada frustasi karena dia juga merasakan gairah yang sama dengan Elliana namun ia tak mampu melepaskannya, ia tak ingin menyakiti Elliana, Aldrinan hanya ingin melindungi Elliana bukan merusaknya. Setelah satu jam berlalu dengan Elliana meronta berkali-kali, mereka akhirnya tertidur karena lelah dalam bathtub yang berisi air dingin, Aldrinan terbangun dan dilihatnya jam ditangannya menunjukkan pukul 7 pagi yang artinya sudah 4 jam lebih mereka berendam dan suhu tubuh Elliana juga sudah normal, Aldrinan mengganti pakaian Elliana dengan bathrobe sambil memalingkan wajahnya, membaringkan tubuh Elliana dan tubuhnya diranjang untuk melanjutkan tidur, mengelus lembut pipi Elliana sambil bergumam “you will be mine” dan mengecup kening Elliana sebelum mimpi menjemputnya.     Elliana terbangun dari tidurnya dilihatnya jam diatas nakas menunjukkan pukul 10 pagi, ia berbalik ketika ia melihat tangan besar yang melingkar di badannya, betapa terkejutnya ia mendapati Aldrinan menggunakan bathrobe dengan banyak kissmark dileher ia membranikan diri sedikit menyingkap bagian d**a Aldrinan dan benar sekali di d**a Aldrinan juga terdapat banyak sekali kissmark, Elliana terdiam mencoba mengingat apa yang terjadi, ia berlari kearah kamar mandi terkejut melihat dirinya memakai bathrobe dan juga memiliki kissmark yang sama dengan Aldrinan walau tidak sebanyak milik Aldrinan.     “What the hell !!” umpatnya di depan kaca pelan agar Aldrinan tidak terbangun, ia mengambil handphone mengirim pesan pada adiknya Dika Message To Dika: (mbak mau balik sekarang! tolong cepat diurus!)  beberapa menit kemudian masuk pesan dari Dika yang berisi tiket pesawat untuk dua jam kedepan, ia bergegas hanya membawa tas kecil, karena yang ada dikamarnya hanya beberapa baju saja, sedangkan barang penting dan dokumen lainnya sudah dibawa kedua adiknya kemarin. ******     Elliana melenggang keluar rumah sakit dengan wajah lega, benar saja ia telah melakukan visum dan cek ke dokter kandungan untuk memastikan apa yang telah terjadi pada dirinya semalam, namun tidak ada luka ataupun tanda-tanda pada bagian tubuh bawah Elliana yang menandakan bahwa ia telah berhubungan suami istri, hingga dokter dengan sangat yakin menyatakan Elliana masih perawan, tanpa perlu melakukan test dua jari.     Di tempat yang berbeda Aldrian mengecek CCTV hotelnya dan meminta anak buahnya untuk mengecek semua jadwal penerbangan hari ini, benar saja Elliana kembali ke Yogyakarta beberapa jam yang lalu  ‘kau tidak akan bisa pergi dariku untuk ketiga kalinya Elliana!! tidak setelah kau menyentuhku semalam!’ pikirnya sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.     Elliana meringis, sesekali tersenyum dengan wajahnya yang memerah sembari melihat handphonnya yang berisi rekamannya semalam antara dirinya, Bastian, dan Aldrinan. Elliana memang selalu meletakkan beberapa kamera kecil yang dapat ia pantau dengan handphonnya di dalam kamar hotel yang ia tempati yang sialnya kamera tersebut tidak ia ambil kembali karena terburu-buru.     Alasan Elliana memasang kamera karena beberapa bulan yang lalu ia sempat diberi obat tidur oleh saingan bisnisnya ketika mengikuti tender di Kalimantan yang menyebabkan Elliana tidak dapat berpartisipasi dalam tender tersebut, namun perusahaan Elliana memenangkan tender tersebut berkat adik sepupunya yaitu Nala yang menjabat sebagai sekertaris Elliana sangat dapat diandalkan. “Dor!!!” suara Dika dari belakang mengejutkan Elliana yang sedang duduk di ruang tengah. “Astaga apa sih dek!!” ucapnya kesal sambil berbalik menghadap Dika. “Lah mbak fokus gitu lihatin hp sampai gak sadar dari tadi Dika sama Nasya disini” ucapnya sambil menyalami Elliana dengan mencium tangannya layaknya seorang adik, kemudian diikuti oleh Nasya yang berstatus pacar Dika. “mbak lihat apa sih?” tanya Dika penasaran sambil mencoba merubut HP Elliana “apaan sih kepo aja!” Elliana mengunci hpnya. “eh bentar deh! ini apaan!” sungut Dika dengan nada gak suka setelah menyibak rambut Elliana dan dilanjutkan menarik baju di sekitar leher Elliana hingga menampikan bahu, tengkuk dan sebagian d**a depannya. Dika membulatkan matanya dan menatap Elliana dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Elliana menarik nafasnya dalam sebelum berbicara  "bentar dek! ini gak seperti yang Dika pikirkan" jawabnya pada Dika yang wajahnya sudah tidak bersahabat lagi. “kenapa banyak bercak-bercak! Siapa yang lakuin ini?” Dika berdiri sambil melototkan matanya, Elliana hanya bisa menarik nafas dalam sebelum menjelaskan semuanya kepada adik over protektifnya ini. "Nay, kamu boleh tinggalin mbak sama Dika dulu ya"  ucap Elliana pada Nasya yang hanya dianggukinya. PLAKK Dika yang merasa diabaikan oleh Elliana spontan menampar pipi Elliana "Dikaa !" sungut Elliana sambil menarik nafas dalam, kaget dengan Dika yang berani menamparnya karena selama ini tidak ada satupun adiknya yang berani padanya. “kenapa? mbak jawab!!! siapa yang berani melakukan ini!!!” teriak Dika menggelegar sambil menggoyang-goyangkan bahu Elliana. “Saya yang melakukan itu!”  Deg Jantung Elliana seakan ingin melompat mendengar suara baritone yang sangat ia kenali mengisi ruang rumahnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN