Tok Tok Tok ..
Damian yang sedari kecil terbiasa dengan kehidupan keluarga ini, dengan santai memasuki rumah dan langung menuju ruang tengah,
"mom.. dad .. Damian datang" ucapnya ketika melihat Atika dan Hariawan yang tengah bersantai diruang tengah.
"ahh sayang, Damian anak laki-laki mommy" sambut Atika dengan memeluk Damian yang mereka anggap anaknya sendiri, karena semenjak orang tua Damian meninggal dalam kecelakaan pesawat, Hariawanlah yang mengurus aset orang tua Damian sampai ia dapat mengelolanya sendiri.
Damian kecil sempat dirawat dan tinggal dengan keluarga Elliana, namun setelah SMA Damian memilih untuk sekolah diluar negeri dan diizinkan oleh Hariawan dengan syarat harus rutin mengabari mereka, maklum orang tua Elliana memang sedikit protektif terhadap anak-anaknya.
Damian dan Harawan bercerita diruang tengah sementara Atika baru kembali dengan membawakan makanan favorite damian.
"ini es lemon dan chicken salad favorite anak mommy" ucap atika sambil meletakkan makanan di meja
"mommy tau aja dam lagi laper" ucap Damian sambil menyantap makanannya,
"kamu tumben datang gak ngabari, kan daddy bisa minta mang aden jemput dibandara" ucap Hariawan
"hmm, dam lagi kangen sih jadi keburu, hehe" ucap Damian frontal
"haha, tumben kangen, kamu aja selama 3 bulan jarang angkat telpon daddy"
"aku sibuk dad, lagian kan aku juga kirim pesan dan sent beberapa kegiatan aku ke daddy, biar daddy gak khawatir, lagian aku bukan kangen Daddy" ucap damian panjang sambil menyelesaikan makannya
"Jadi kangen siapa? mommy?" goda Atika pada Damian
"Elliana dong" ucap Damian sambil mencium pucuk kepala Atika lalu pergi menuju lantai dua, Atika dan Hariawan terdiam mendengar ucapan Damian, mereka lupa mengabari Damian soal pernikahan mendadak Elliana karena memang akhir-akhir ini Damian susah dihubungi
"hhmm, sayang Ell jam segini belum bangun" ucap Atika gugup yang sukses membuat Damian menghentikan langkahnya untuk menaiki tangga
"Dam mau keruang baca mi, Dam tahu kok gak mungkin Elliana bangun jam segini" ucap Damian sumeringah yang sukses membuat Atika dan Hariawan menghembuskan nafas lega, kemudian Damian melanjutkan langkahnya keruang baca.
******
"Ell, bangun sayang sudah pagi!" ucap '' Aldrinan yang kini tengah duduk disebelah Elliana yang sedang tertidur, namun Elliana tetap diam tak bergeming, Aldrinan hanya tersenyum tipis sambil mengagumi wanita yang kini resmi menjadi miliknya ini.
'tidak percuma semua yang aku lakukan Ell, kini kamu benar-benar milikku' bisiknya sambil mengelus pipi Elliana dengan lembut membuat Elliana terbangun dan mengerjapkan matanya yang belum bisa depenuhnya terbuka.
"kak Al! kenapa dikamarku!!" teriak Elliana sambil mendorong tubuh Aldrinan hingga terjatuh.
"hah? apa maksud kamu Ell? kita sudah menikah kemarin lusa" Elliana masih terdiam dengan wajah bingungnya 'jadi itu bukan mimpi?' gumam Elliana yang ternyata dapat di dengar oleh Aldrinan
"haha, apa yang kamu sebut mimpi?" tanya Aldrinan
"hah? enggak bukan apa" Elliana masih terlihat bingung, maklum setelah kejadian dengan Aldrinan waktu di Bali, Elliana sering bermimpi fulgar dengan Aldrinan yang jadi pasangannya hingga kejadian pada malam pertama mereka ia pikir itu hanya mimpi.
'enggak itu pasti hanya mimpi, gak mungkin di hari pertama menikah aku sudah melakukan itu' gumamnya dengan tidak yakin
"ehhmm kak Al, jadi kita sudah .. sudah itu?" Aldrinan tersenyum melihat tingkah Elliana yang kebingungan.
"iya sudah, kita sudah nikah, itu suratnya diatas meja" sahut Aldrinan dengan senum yang susah ia tahan, Aldrinan mengerti apa yang hendak Elliana tanyakan, namun ia sengaja menggiring opini ambigu demi melihat wajah imut Elliana yang kebingungan 'sangat menggemaskan' ucapnya dalam hati sambil memandangi wajah Elliana yang duduk dikasurnya.
"well karena kita sudah menikah nih, aku mau morning kiss dong" goda Aldrinan sambil membungkukkan badannya dan mengangkat dagu Elliana lembut, mendapat perlakuan seperti ini dari pria tampan di depannya ini jantung Elliana berdegup kencang
"Apaan sih!" sahut Elliana sengan mendorong Aldrinan kemudian memalingkan wajahnya yang tersipu, Aldrinan yang mengetahui hal tersebut hanya bisa tersenyum sambil menjauhkan diri.
"hmm jadi gak mau, okee" ucapnya yang lebih terdengar seperti ledekan, namun tak ada jawaban dari Elliana
"kalau gitu aku keluar dulu, kalau sudah mandi turun ya mami katanya bikinkan kamu sarapan sehat sebelum kembali ke Bogor tadi"
"mami sudah balik?" tanya Elliana
"iya tadi pagi sekali, kamu mandi dulu gih" ucap Aldrinan sebelum keluar untuk menelpon beberapa staff kepercayaannya untuk mendengar laporan kantor harian.
Elliana masih melamun mengingat ingat kembali apa yang terjadi semalam yang ia anggap sebagai mimpi, Elliana tersipu ketika mengingat semua yang ia lakukan dengan Aldrinan.
'aaahh itu benar-benar bukan mimpi' gumamnya sambil mengacak kasar rambutnya
Elliana kemudian menggerakkan badannya yang terasa kaku 'ah sakit semua badanku' pikirnya sambil meregankan lengan dan punggungnya, 'apa yang iblis tampan itu lakukan sampai badanku terasa remuk begini?' gumamnya
"ah gatau ah! bisa gila aku mikirin dia!!" monolog Elliana sebelum beranjak ke kamar mandi
Bruaaakkk ..
"aaauuuuuwwww" triak Elliana sampai terdengar keluar yang kebetulan pintu kamar tidak tertutup sepenuhnya, Damian yang gak sengaja lewat kamar tersebut spontan membuka kamar karena mendengar triakan yang tidak asing.
"Ellianaa!!" Damian berlari kearah Elliana mendapati keadaan Elliana yang sedang terjatuh dilantai dan darah yang berceceran dengan banyak pecahan kramik disekitarnya yang merupakan aksesories ruangan tersebut,
"Dam .. " ucap Elliana sebelum kehilangan kesadarannya
"bik yum!!!! minta peralatan saya ke suster lily cepat!" triak damian panik, suster lily adalah suster yang bertugas sebagai asisten pribadi Damian yang merupakan seorang perawat yang dulu mengasuh Elliana dan Damian, suster lily masih tinggal dikediaman Hariawan untuk mengawasi kesehatan keluarga Hariawan sebagai ganti Damian.
Damian mengangkat tubuh Elliana yang lemas keatas kasur, Damian sedikit bergetar dengan air mata yang tak lagi tetahan, Damian tidak sanggup melihat darah orang yang ia sayang.
"Ell, jangan tutup matamu Ell" ucap Daminan dengan bergetar.
"ini Tuan muda!" ucap suster lily menyerahkan satu set emergency trolley
"sudah steril?"
"sudah tuan"
"bantu saya melihat lukanya" Damian menjahit luka pada pelipis Elliana yang diduga luka merupakan luka dengan pendarahan terbanyak, sedangkan suster lily mencabut pecahan kaca pada luka terkecil
******
mendengar ribut-ribut, Aldrinan memasuki kamarnya dan mendapati Elliana sedang dirawat oleh seorang laki-laki yang jelas sangat Aldrinan kenal, karena Aldrinan mengerahkan beberapa mata-mata untuk mengawasi Elliana, ia sangat tahu bahwa laki-laki yang sedang merawat istrinya saat ini adalah pria yang sangat mencintai Elliana.
"Apa-apaan ini?" suara Aldrinan menginstrupsi, namun Damian yang tidak mengerti situasi sebenarnya hanya fokus menyelesaikan pengobatan Elliana, kemudian memasangkan infus pada Elliana dibantu suster Lily, Aldrinan yang sedikit paham akan situasinya memilih bungkam karena tidak ingin Damian salah tindak jika tersulut emosi,
'aku benci mengakuinya, tapi aku percaya dia pasti memberikan yang terbaik untuk Elliana' ucap aldrinan sambil menahan emosi dengan menggepalkan tangan.
setelah selesai Damian menyuruh bik Yum membersihkan ruangan tersebut,
"oh, saya minta maaf atas apa yang terjadi, anda partner kerja daddy bukan?" tanya Damian ramah, hanya tatapan tajam bak usiran yang Damian terima dari Aldrinan, namun Damian tidak menghiraukan hal tersebut
"suster sudah siapkan yang saya minta?" tanya Damian
"sudah tuan muda"
"baiklah antar saya kesana" ucap Damian sambil perlahan membopong Elliana ala bridal style, Aldrinan yang tak tahan melihat hal tersebut mengeratkan rahangnya kemudian menepuk bahu Damian dari belakang
"Heiii kau!!! mau dibawa kemana dia!!" tanya Aldrinan yang terdengar jelas seperti orang ngajak ribut, Damian menarik nafas dalam
"aku tidak mungkin membiarkan pasienku terbangun di tempat dimana ia terjatuh, aku menjaga psikisnya" jawab Damian, tanpa pikir panjang Aldrinan merebut Elliana dari gendongan Damian
"hmm dimengerti, sekarang kau pergi saja, biar aku yang bawa ISTRIKU" ucapnya dengan penuh penekanan, yang sukses membuat Damian terpaku
"Antar saya suster lily" lanjut Aldrinan
"Baik Tuan Aldrinan"
'ah, istri katanya? pantas saja' ucap Damian dalam hati
Damian duduk didepan tempat Elliana dipindahkan, selang beberapa menit Aldrinan keluar dari ruangam tersebut, Damian memandang sinis Aldrinan yang sedang menutup pintu kamar Elliana,
BRUUAKK, BRUUUKK ..
Satu tonjokan keras mendarat pada pipi Aldrinan, namun ia hanya diam mengusap darah segar yang pada sudut bibirnya ..
"BRENGSEEKKKK !!!!" ucap Damian penuh emosi kemudian melancarkan pukulan selanjutnya pada Aldrinan