Valerio dan Velyn sedang duduk berhadapan di ruang tamu rumah Velyn dengan keheningan yang tidak enak. Keduanya sudah diam dari beberapa menit yang lalu tapi tetap tidak ada yang mau berbicara duluan diantara mereka.
Tadi, Velyn bingung sekali bagaimana cara memberitau Valerio tentang ini padahal esok ia sudah harus berangkat. Ketika ia melihat jam yang tergantung di dinding dan sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia semakin putus asa dan akhirnya menelepon Valerio lalu menceritakan semuana, tentang yang ia berangkat dan alasan mengapa ia menuruti permintaan papanya.
Valerio jelas menolak, ia tidak mau Velyn pergi, apalagi perginya bersama Farhan. Pria itu sudah menolak melalui percakapan jarak jauh mereka itu, tapi Velyn jelas tidak bisa, keberangkatannya sudah di depan mata. Karena itulah, makanya Valerio datang malam-malam ke rumah Velyn hanya karena ingin bertanya lebih lanjut tentang hal ini.
"Vale." Velyn memanggil. "Ini tuh demi kelancaran hubungan dua keluarga ini juga. Papa bisa aja sebenernya nolak, tapi ini tuh penting. Kamu inget kan segimana marahnya Tante Reima kemaren itu. Jadi bisa dibilang, dari proyek ini diharapkan hubungannya akan baik lagi," terang Velyn, berusaha menjelaskan pada Valerio yang sedari tadi diam dengan tangan terlipat di depan tubuhnya.
"Vale, kalau kamu diem aja mending kamu pulang aja deh."
Valerio mengernyit menatap Velyn. "Kok ngusir?" tanyanya melempar tatapan tidak suka terang-terangan.
"Ya kan kamu diem aja dari tadi. Yauda mending pulang aja," ujar Velyn ikut melipat tangannya di d**a.
"Kok jadi kamu yang marah?"
Velyn menghela nafas dari mulutnya dan tangannya terlerai, ia menatap Valerio tidak percaya. Kenapa pria ini jadi sangat menyebalkan begini?
"Kan aku udah bilang aku lakuin ini juga karena papa. Aku juga udah ijin ke kamu baik-baik, kan? Kok kamu jadi ngeselin gitu?" Velyn kesal sekarang, soalnya ia sedang serius tapi Valerio terkesan main-main walau tampangnya memang datar tidak berekspresi sama sekali.
"Mau aku nolak pun pastinya kamu tetep ke sana kan sama dia?" Valerio tetap pada pendiriannya, ia tetap tidak terpengaruh dengan tampang kesal Velyn.
"Ya mau gimana lagi, kan? Lima hari doang kok," ujarnya yang sebenarnya dalam hati keberatan dengan lima hari tersebut.
"Lima hari?!"
Pecah sudah ketenangan Valerio. Tadinya ia memang tidak setuju, sama sekali tidak setuju! Tapi karena Velyn terlihat putus asa mau bagaimana lagi, ia jadi tak tega dan akhirnya berencana untuk menyetujui gagasan itu, toh mereka masih bisa komunikasi serta antara Velyn dan Farhan tentu tidak ada kontak yang lebih serius karena ia percaya pada Velyn.
Tapi! Ia pikir hanya sehari, ternyata malah lima hari! Tanpa pikir panjang, otaknya langsung menyalakan alarm kalau ia sama sekali tidak setuju rencana ini.
"Iya, lima hari. Harusnya malah lebih dari segitu kata papa tadi, tapi dipersingkat aja jadi lima hari. Jadi ya itu udah harga mati, enggak bisa ditawar-tawar lagi," ujarnya terlihat lesu.
"Itu lama banget, Vel," seru Valerio. "Aku gak setuju. Kamu juga baru deket kan sama Farhan? Bukan apa-apa tapi aku sendiri gak tau gimana masa lalunya, gimana persis orangnya, kita gak bisa nilai gitu aja dari awal," lanjutnya panjang dan cepat, ia tampak sebal berbeda dengan dirinya yang tadi.
"Itu dia. Emang lama. Tapi mau gimana lagi, Vale." Velyn mengangkat kedua pundaknya. "Yaudalah ya, lima hari aja, pasti bisa. Nanti aku bakal sering kabarin kok."
Valerio tetap tidak tenang, ia sedang memikirkan sesuatu tapi pada akhirnya ia menghela nafas kasar juga. "Aku pengen banget ikut, tapi masalahnya pekerjaan di kantor numpuk, apalagi ada meeting-meeting penting yang aku harus hadiri besok sama lusa. S*al!" Valerio mengusap kepala belakangnya dengan tak sabaran.
"Yauda kamu tetep di sini aja, enggak perlu ikutan segala. Tenang aja aku juga bakalan waspadalah.," ujar Velyn dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, meskipun hatinya gundah gulana.
Valerio kembali ke mode tenangnya setelah menghela nafas panjang berulang kali. Tapi meskipun begitu, otak di dalam kepalanya terus berputar memikirkan cara apa yang tertepat agar ia tak khawatir Velyn di luar sana bersama seorang pria.
Namun sekeras apapun ia berusaha berpikir, ia tetap tak menemukan titik terang. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan ya ikut kemana Velyn pergi, tapi ia juga tidak bisa melakukan itu dalam waktu lima hari.
"Vale? Gak papa, ya? Lima hari aja kok," ujar Velyn tersenyum meyakinkan Valerio.
"Tapi aku ngerasa khawatir, aku takut kamu kenapa-napa," ungkap Valerio akhirnya, hatinya sangat resah, ia tidak bisa menyangkalnya sama sekali.
"Aku pasti baik-baik aja."
Valerio bertopang dagu sesaat, masalahnya ia tidak tahu seperti apa Farhan itu. "Gimana kalau aku ikut aja? Masalah kantor bisa nanti."
"Kamu gak boleh maksain diri kamu sendiri, Vale."
Valerio terdiam, matanya terlihat sayu dan pandangannya kosong sesaat, ia seperti memikirkan sesuatu. "Oke kalau gitu. Tapi aku tetep khawatir jadi aku bakal tetep ada di samping kamu."
"Vale--"
"Bukan aku," sela Valerio cepat. "Bukan aku yang ini yang aku maksud di samping kamu. Tapi aku bakal suruh satu orang supaya jagain kamu di sana."
"Padahal kamu enggak perlu lakuin itu," ujar Velyn menghela nafas panjang.
"Aku tetep cemas, aku juga enggak tau gimana Farhan itu. Jadi aku putusin buat kayak gini," jelas Valerio dengan wajah yang tak enak di pandang, ia tampak memikirkan ini dengan keras. "Gak tau kenapa, aku pengen kamu tetep tinggal, enggak perlu pergi, tapi aku juga enggak bisa ngelarang."
Velyn pun merasa agak aneh karena baru kali ini Valerio bersikap seperti ini padanya, kecemasannya berbeda level dengan yang sebelum-sebelumnya.
"Lagian di sana bukan cuma aku sama Farhan aja kok. Ada petinggi lain walaupun mereka enggak terlibat banyak dalam proyek ini." Velyn memaparkan informasi terakhir yang harapannya bisa membuat kecemasan Valerio sedikit berkurang.
"Yauda kalau gitu, kamu hati-hati." Valerio bangkit berdiri, berjalan ke arah Velyn dan mengecup keningnya begitu lama.
***