48. Sibuk-Sibuknya

1725 Kata
"Hari ini ada meeting penting, jadi Farhan sarapan di luar aja ya, Ma," ujar Farhan sembari melalui Reima dan Fara yang duduk di meja makan. "Tumben," sahut Fara. "Loh tapie nggak ada meeting apapun pagi ini setau Mama," ucap Reima heran. "Kamu adain sendiri meetingnya?" lanjutnya dengan ekspresi terkejut sungguhan. Farhan dengan gampangnya mengangguk dan tersenyum lebar. "Ya, Ma. Sama perusahaan keluarga Velyn," ujarnya yang membuat Reima hampir tersedak oleh minumannya sendiri. "APA KAMU BILANG?!" Reima begitu marah tampaknya, ia bahkan berdiri dan matanya melebar sempurna menatap Farhan. Tapi sayangnya yang dipelototi hanya diam saja dan tampak santai seolah tidak melakukan kesalahan apapun. "Farhan! Kenapa kamu lakuin itu?! Kenapa enggak diskusi ke Mama dulu?!" seru Reima murka. "Mama gak mau tau, kamu batalin itu sekarang juga. Emangnya apa yang mau kamu bahas dalam rapat itu hah? Jangan bilang kalau kamu mau adain kerja sama perusahaan?!" Farhan tersenyum kecil, dia terkekeh pelan. "Sayangnya iya, Ma, hehe." Farhan mengusap tengkuk belakangnya dengan kekehan yang masih terdengar. "Astaga. Farhan ...." Mama tampaknya sudah putus asa menghadapi Farhan, ia bahkan terduduk kembali dengan tangan mengurut dahinya, pusing karena kelakuan Farhan ini. "Ma, kenapa memangnya? Toh Mama dulunya berhubungan baik sama mereka, kan? Apa cuma karena masalah Velyn sama Fara itu hubungan baik itu jadi putus, Ma?" tanya Farhan serius, ekspresi jenakanya lenyap dalam beberapa mili detik. Fara hanya menatap keduanya dengan mulut yang mengunyah lambat. Ia tahu kalau Farhan, kakaknya itu punya rencana mendekati Velyn karena ia tertarik padanya, tapi Fara sama sekali tidak tahu kalau seperti ini ternyata rencana yang di maksud. "Cuma kamu bilang? Masalah ini serius, Farhan. Kamu pikir apa yang dialamin adik kamu setelah kecelakaan itu? Kamu tiba-tiba amnesia?" tanya Reima mendongak ke arah Farhan. "Toh sebenernya kaki Fara bisa sembuh, kan, Ma? Dari dulu dia juga bisa sembuh kalau dia mau, Ma. Jadi ini tuh enggak kesalahan Velyn banget." Reima mengangguk-angguk. "Coba kamu tanya ke adik kamu, dia menderita gak? Kamu mau seneng-seneng diatas penderitaan dia?" Farhan menghela nafas lelah dan menatap Fara yang diam saja. Ia berbicara tanpa suara pada Fara, mengatakan pada Fara kalau Fara harus membantunya membujuk Mamanya karena mau gimanapun ini juga untuk mewujudkan keinginan Fara. Fara sendiri sebetulnya tidak begitu setuju dengan rencana Farhan. Tapi ia juga ingin mendapatkan Valerio, toh Vaden juga sudah menghilang entah kemana, yang padahal perasaan suka itu mulai tumbuh. Jadi karena Vaden sudah tidak ada, maka Valerio yang akan menggantikannya. "Iya, Ma. Bener kata kakak. Kalau dari dulu Fara mau buat terapi mungkin sekarang Fara udah bisa jalan," ujar Fara lembut. "Fara menderita memang, Ma. Tapi sekarang udah enggak begitu derita banget kok. Jadi, Mama ijinin aja Kakak buat kerja sama dengan perusahaan keluarga Velyn, Ma. Toh ini juga berguna buat perusahaan kita. Hubungan Mama dan keluarga Velyn juga bakalan membaik. Kalau Fara yang diberatin, Fara gak papa kok, Ma." Farhan sedari tadi tersenyum miring mendengar penuturan Fara, sangat menguntungkan sekali pikirnya. "Beneran kamu?" Reima memandang Fara dengan kernyitan dahi yang dalam. "Kamu gak disuruh-suruh kakak kamu, kan?" Ia kemudian melirik Farhan. "Enggak ada, Ma. Bener." Farhan menggeleng kencang membela dirinya sendiri. "Enggak, Ma," ujar Fara meyakinkan Reima sembari mengacungkan dua jarinya membentuk simbol peace. Reima pun akhirnya tidak bisa menolak lagi dengan alasan apapun. Ia membuang nafas kasar dan menatap Farhan. "Yauda sana kamu pergi," usirnya setengah marah. "Sekali lagi kalau buat keputusana tuh kasih tau Mama dulu, jangan asal aja. Mama gak mau ya kejadian-kejadian kamu dulu tuh keulang lagi. Kamu udah janji buat berubah jadi--" "Ma," sela Farhan pelan. Ekspresinya sekarang sungguh datar. "Farhan tau kok. Mama gak perlu ungkit-ungkit hal itu," sambungnya tersenyum hambar. Fara menatap Farhan serius. Benar, kejadian demi kejadian hari itu mungkin sudah membuat Farhan jera, tapi tidak tahu juga bagaimana ia sekarang, tampaknya baik-baik saja. "Yauda. Makanya kamu jangan aneh-aneh." Reima mengacungkan jari telunjuknya, benar-benar memperingati Farhan. "Udah sana kamu pergi, ntar mereka pada nunggu." Tepat setelah Reima berbicara, Farhan langsung berbalik pergi dari sana dengan langkah lebar. Fara berdeham pelan dan melanjutkan acara makannya walau ia sudah tidak selera. Pertengkaran kecil seperti ini rasanya menghabiskan energinya walau ia juga tidak banyak bicara. "Maaf. Mama tadi kelepasan," gumam Reima termenung menatap makanannya di atas meja. "Farhan sakit hati enggak ya?" Jelas ia tampak khawatir. "Enggak, Ma. Pasti enggak," balas Fara tersenyum lebar. "Gitu ya. Yauda Mama mau ke dapur dulu, abisin ya makanannya." Sementara Mama bangkit berdiri dan berjalan ke arah dapur, senyum Fara masih terlukis di wajahnya. Tapi ketika Reima masuk ke dalam dapur, senyum itu surut dan hanya lurus datar tak berekspresi sama sekali. Ia jelas masih ingat bagaimana kelamnya kehidupan mereka ketika Farhan ternyata punya begitu banyak masalah di luar pulau. Fara yang sudah menderita karena kekurangan kasih sayang, rasanya punya hidup yang semakin hampa dan hanya stress serta depresi yang ada. Mengingat itu dan mengingat kejadian sekarang, mengingat semuanya, membuat Fara berpikir kapan ia akan bahagia? *** Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya jika Velyn akan menjadi satu-satunya penerus perusahaan keluarga mereka, jadi Velyn diusahakan harus datang setiap ada meeting penting, salah satunya kerja sama antar perusahaan kali ini. Farhan dan Velyn duduk saling berhadapan, Farhan melempar senyum dan Velyn membalas senyumnya dengan ramah. Proyek ini juga mengharuskan pemimpinnya turun ke lapangan, dan karena kebetulan tempat yang akan menjadi latar proyek mereka berada di luar kota maka papanya Velyn meminta Velyn sendiri yang akan ke sana dan bersama Farhan. "Pa? Papa serius?" bisik Velyn pada papanya ketika Farhan tengah berpresentasi. Papa menatap Velyn tersenyum dan mengangguk. "Iya, ini juga pembelajaran buat kamu, Vel. Banyak hal yang bakal kamu pelajari di sana." Velyn terdiam tidak bisa berkata-kata, ada banyak pikiran yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya. Tapi yang paling ia pikirkan adalah, apa ia harus pergi? Dengan Farhan? Sebenarnya ia merasa tidak apa juga karena Farhan sepertinya orang yang humble. Namun, kepergiannya ini pasti akan membuatnya jauh dari Valerio. Mana mereka pergi selama lima hari, itu sudah termasuk lama sekali. Selesai rapat, papa langsung kembali ke ruangannya sedangkan Velyn ke kantin bersama Farhan. Mereka mulai membicarakan tentang kepergian mereka itu. "Emang harus lima hari ya?" tanya Velyn yang mendapat anggukan dari Farhan. "Lama juga ya." Farhan terkekeh. "Bisa cepet kalau kamu mau. Tinggal buat semuanya jadi lebih cepet aja, ya otomatis hari kamu di sana lebih singkat." Velyn mendengus pelan mendengarnya. Ya, dan pulang-pulang ia pasti sudah sangat lemas karena tenaga yang terkuras. Mana mungkin ia bisa melakukan itu apalagi ia masih butuh banyak pelajaran. "Oh ya ngomong-ngomong, gimana keadaan Fara? Dia mulai membaik?" tanya Velyn agak canggung karena memulai topik yang mungkin sedikit sensitif.  "Maaf. Karena aku, Fara jadi kayak gini." Farhan tersenyum kecil dan menggeleng pelan. "Gak papa. Fara juga udah mulai lakuin terapi supaya sembuh total dan rebut Valerio dari kamu." Velyn mengernyit mendengar kalimat itu, ia mendongak dan menatap Farhan dengan tanda tanya besar di wajahnya. Tapi yang di pandang tidak menjawab tanda tanyanya, ia malah tersenyum. "Kamu juga udah tau kan tentang Fara yang sebenernya bisa sembuh? Pasti tau dari Valerio," tebak Farhan yang tentu tidak meleset. "Heem, dari Valerio," jawab Velyn membenarkan, ia jadi merasa aneh karena ucapan Farhan tadi, rasanya begitu gamblang menyebutkan Fara yang ingin mengambil Valerio darinya. "Okelah ... hm mungkin hal ini ngejutin kamu karena sesuai yang dibilang Fara kalau dia lumpuh selamanya, padahal itu enggak bener. Tapi sebenernya Fara punya alasan sendiri kok kenapa dia enggak bocorin ke orang-orang kalau dia bisa jalan kembali. Ya mungkin hal ini jadi berat di kamu ya." Farhan terkekeh segan. "Maaf ya," ujarnya tulus dengan senyum yang sama tulusnya, membuat Velyn sedikit terpaku. Ya, Velyn sebenarnya expect kalau Farhan ini tipe orang songong dan menyebalkan. Ya walaupun terkadang memang seperti itu, tapi di lain waktu, seperti ini, ia bisa menjadi seseorang yang betul-betul dewasa. Membuat Velyn takjub karenanya. "Vel?" Farhan heran melihat Velyn yang terdiam dengan pandangan kosong. "Aku minta maaf atas Fara, mungkin kamu ngerasa dirugiin banget kali ini." Velyn menggeleng dan tersenyum lebar. "Enggak kok. Memang pas Valeiro ceritain hal ini ke aku, agak terkejut. Tapi di sisi lain aku seneng kok, itu berarti ada kesempatan Fara buat kayak kita lagi. Seenggaknya kecelakaan tiga tahun lalu, yang aku bener-bener minta maaf ngelampauin maafnya kamu, enggak ngaruh apa-apa lagi ke Fara." Farhan mengangguk dan tersenyum. Ia jadi semakin tidak sabar untuk pergi ke luar kota bersama Velyn. "Sebenernya ... aku agak keberatan tentang keberangkatan kita besok," gumam Velyn yang masih bisa didengar Farhan. "Kenapa memangnya?" Farhan bertanya balik, padahal ia pun sudah bisa menebak apa yang membuat Velyn keberatan. Tapi mau Velyn menjabarkannya atau tidak, ia tidak akan memberi dispensasi dan mereka tetap harus pergi esok hari. "Aku enggak tau Valerio bakal ngijinin atau enggak." Tepat sekali! Persis yang ada di pikiran Farhan. Ia bahkan hampir tertawa kalau saja tidak menahannya. "Vel, kamu mentingin Valerio atau papa kamu? Atau perusahaan keluarga kamu? Lagian cuma lima hari, Valerio harusnya maklum." Velyn menatap Farhan sedikit lekat. Masalahnya, dari apa yang diucapkan Farhan tentang Fara yang ingin merebut Valerio begitu gamblang membuatnya jadi khawatir. Apa ketika ia pergi nanti, Fara akan melancarkan aksinya? Velyn menghela nafas lirih dan memejamkan matanya sesaat. Ia tidak bisa langsung berprasangka buruk. Belum tentu Valerio terbujuk dan Fara juga pastinya harus rajin terapi agar kedua kakinya semakin sembuh. Ia harusnya tidak perlu berpikiran buruk lebih dulu karena apa yang ia ekspetasikan terkadang tidak sesuai dengan kejadian yang ada. "Iya kamu bener, Valerio pasti paham. Dan ya, aku lakuin ini karena papa, jadi harus semangat!" seru Velyn dan mereka berdua sama-sama tertawa. Velyn menatap kedua mata Farhan yang berpendar lucu. Sepertinya Farhan adalah pria baik, ia juga terkadang lucu. Mungkin Velyn akan mempunyai teman lelaki kedua setelah Vaden, yakni Farhan. Mungkin saja karena ucapan Farhan tentang Fara yang merebut Valerio masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya. "Oh ya aku mau tanya." Velyn berdeham membersihkan tenggorokannya. "Fara terapinya setiap hari atau gimana? Terus perkembangan dia sekarang gimana?" "Iya harus tiap hari kalau mau hasil yang sempurna. Perkembangan dia sekarang yaa masih duduk di kursi roda, kakinya udah bisa digerakin dikit tapi belum bisa jalan," terang Farhan. Velyn mengangguk-angguk, ia lega sekali. Setidaknya ketika ia pergi nanti, Valerio akan baik-baik saja. Dan ia juga lupa satu hal, biarpun Fara nanti melancarkan aksinya, belum tentu Valerio akan meladeninya, kan? Siapa tahu jika Valerio malah menolaknya terang-terangan? Memikirkan itu semua sudah membuat Velyn bebas dari segala keraguan. Sekarang, sattu-satunya hal yang ia harus kerjakan adalah memberitahu Valerio akan keberangkatannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN