Velyn dan Fara saling tatap dalam waktu yang cukup lama dan Valerio yang mendengar celetukan dari Velyn tentu segera menoleh dan sedikit terperangah menyadari ada Fara dan Farhan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Mereka ngapain di sini?" gumam Velyn dengan tatapan yang ia putuskan dan mencoba biasa saja dengan dirinya.
"Enggak tau," jawab Valerio. "Mungkin mau refreshing," sambungnya yang juga mengalihkan tatapanya.
"Hm gitu. Mereka kayaknya masih lihat ke arah sini. Gak kita ajak buat gabung? Lagian harus akrabin juga, kan? Enggak enak soalnya," ucap Velyn terus mencuri pandang ke arah Fara.
"Yauda kalau kamu mau. Sekarang kan tergantung kamu juga."
Velyn menatap valerio sesaat dan ketika kepercayaan dirinya menguat, ia segera bangkit berdiri diikuti oleh Valerio. Tapi kebetulan sekali, Fara dan Farhan mendekat ke arah mereka seolah tahu Velyn dan Valerio sudah welcome dengan mereka.
"Jadi kalian di sini juga, ya?" seru Farhan sebagai ucapan pembuka. Ia tidak ingin pertemuan ini diisi oleh hal-hal canggung dan gugup.
"Iya. Kalian juga di sini ternyata. Kita enggak expect bakalan ketemu kalian di sini," ungkap Velyn mengungkapkan keterkejutannya. "Ngomong-ngomong gimana Fara sama kakinya? Udah mulai sembuh?"
"Dari mana kamu tahu kalau kaki aku bisa sembuh?" Fara menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. "Pasti Valerio ya kan yang bilang."
Velyn mengangguk membenarkan ucapan Fara. "Iya, bener. Kamu kenapa enggak bilang aja kalau kamu juga bisa sembuh? Kan seenggaknya itu ngurangin rasa bersalah aku, Ra," ungkap Velyn tulus, Valerio sampai mengernyit di buatnya.
"Enggak papa, males aja." Dan jawaban Fara memang membuat Velyn mengelus d**a.
Secara diam-diam dan hanya melirik kecil. Fara bisa melihat bagaimana tampannya Valerio hari itu. Ia menelan salivanya berkali-kali karena itu. Fara semakin membara dan semakin yakin kalau ia yang akan memenangkan hati Valerio pada akhirnya.
Fara selanjutnya mendongak menatap Farhan. Memberi isyarat kalau ia ingin pergi dari sana saat itu juga. Farhan cukup aneh karena tumben Fara meminta pulang ketika ada Valerio di dekatnya. Tapi karena Fara terus meminta maka ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Alasan Fara tidak mau di sana jelas karena tidak tahan melihat Valerio dan Velyn yang begitu menempel di sana. Ia cemburu pastinya. Dengan keadaan yang sekarang, entah kenapa Fara tiba-tiba menyesali kelumpuhannya yang ia buat lama sekali sampai sekarang ini. Ia tiba-tiba merasa rendah sekali, merasa tidak apa-apanya dibanding Velyn. Jadi rasanya lebih baik pergi dari sana agar rasa insecure dan cemburunya lebih dalam lagi.
Farhan mendorong kursi roda dengan senyum yang tidak ada surutnya dari mukanya. Sebenarnya bagus saja, tapi tidak untuk Farhan karena senyum yang ia tampilkan cukup tidak enak dipandang. Terkesan seram dan siapapun yang melihatnya akan melirik heran pada pria satu itu.
"Kok diem aja?" tanya Fara ketika Farhan menggendongnya masuk ke dalam mobil. "Cemburu karena Velyn sama Valerio tadi?"
Farhan hanya tersenyum kecil dan mengedikkan bahunya sekali. Ia menutup pintu mobil di sisi Fara lalu membawa kursi roda milik adiknya itu ke bagasi mobil. Ketika ia membuka pintunya, ia melihat sebuah tangkai bunga mawar berwarna hitam di sana, ia terperangah sebentar sebelum senyumnya semakin lebar.
Ia kemudian mengambil bunga itu lalu mengedarkan pandangannya ke arah pantai. Ketika ia menemukan satu anak kecil perempuan yang lewat di depannya, ia memanggilnya dan menyuruh anak itu untuk memegang setangkai mawar hitam itu lalu memberinya instruksi-instruksi dan memberinya selembar uang.
Saat anak kecil itu berjalan menjauh darinya dan mendekati target yang sudah ia incar, Farhan tidak bisa tidak menahan senyumnya yang melebar hingga akhirnya tertawa walau pelan, tidak terlalu membahana.
Farhan kemudian melipat bibirnya sembari menutup pintu belakang mobil. Ia berjalan ke arah kursi pengemudi dan masuk ke dalamnya.
"Kakak kasih apa ke anak tadi? Aku lihat loh dari spion, kelihatan soalnya," ujar Fara begitu Farhan duduk dan memasang seatbeltnya.
"Enggak ada, cuma kasih tanda aja kalau ada sesuatu yang bakalan bangkit," jawab Farhan santai. Tapi tidak dengan Fara yang mendengarnya, ia menyipitkan matanya menatap Farhan. "Kenapa kamu? Maksudnya itu cinta aku yang bangkit," sambung Farhan tertawa puas, seolah yang ia ucapkan begitu lucu. Tapi sekali lagi, sama sekali tidak bagi Fara.
"Kamu jangan aneh-aneh loh," peringatnya. "Maksudnya ... ya ... kan emang gak papa sih kalau maksudnya tuh cinta. Tapi ... jangan sampai yang kayak waktu itu."
Farhan terdiam sesaat sebelum kembali tertawa. "Ya enggaklah. Bodoh kalau aku lakuin hal yang sama lagi," ujarnya dan mulai melajukan mobil meninggalkan pantai.
Fara masing menatap serius Farhan sebelum akhirnya menghela nafas panjang dan mencoba mempercayai segala yang diucapkan oleh kakaknya itu.
***
Valerio menepuk pelan punggung Velyn, awalnya memang pelan, tapi lama-kelamaan menguat hingga Velyn kesal dan balik menyerang Valerio.
"Sakit tau. Kamu gak segen-segen mukulnya," protes Velyn masih memukul bahu Valerio tidak kuat, tapi tetap sakit juga.
"Ya abis kamu ngelamun," bela Valerio pada dirinya. "Lagian enggak sakit ya orang aku mukulnya tetep pelan. Kamu aja yang ringkih banget."
Velyn mendongak dan memasang ekspresi pura-pura marah. "Ringkih kamu bilang? Aku? Kayaknya kamu salah paham nih."
Valerio tertawa puas dan mengacak rambut Velyn. "Iya maaf-maaf."
Velyn mendengus dan menyingkirkan tangan Valerio dari rambutnya. "Ya ... tadi itu aku cuma mikir tentang Farhan sama Fara aja sih," akuinya dengan tangan merapikan rambut yang tidak terlalu berantakan.
"Mikirin apa emang?"
Velyn menoleh dan menggeleng. "Ya ... tentang kejadian akhir-akhir ini lah. Kamu nanya lagi," ujarnya dengan wajah setengah menuduh Valerio.
Velyn menghela nafas panjang dan melihat ke depan di mana air terlihat tidak punya tepian, ia bergumam pelan menyuarakan isi hatinya. "Waktu itu sebelum Vaden pergi, kayaknya keadaannya enggak kayak gini." Velyn tersenyum miring dan tertawa. "Oh ya, mau gimanapun kan kamu sama Fara pernah pacaran, jadi setiap kamu jumpa sama dia sekarang, kamu gak ngerasain apaa gitu? Apalagi dengan fakta kalau dia masih ngejer kamu."
Valerio memicingkan matanya membalas tatapan Velyn sebelum menggeleng memberinya jawaban. "Enggak. Sama sekali enggak. Emang ya dulu sempet mulai tumbuh rasa suka yang diluar dari rasa peduli aku selama ini, tapi tiba-tiba semuanya ilang dan malah biasa aja sekarang kalau ketemu dia," jawab Valerio dengan sejujur-jujurnya.
"Ilang? Karena aku, ya?" Velyn terkekeh pelan. "Kok aku ngerasa bersalah ya, Vale?"
"Mau bohong tapi gak guna juga. Jadi iya, aku rasa karena kemunculan kamu." Valerio memeluk Velyn kembali dari samping tubuhnya. "Kamu gak perlu ngerasa bersalah, toh emang gitu kan harusnya?"
"Tapi kan kalau aku gak muncul, kalau aku gak kembali ke sini, mungkin kamu udah sama dia, kan? Udah tunangan mungkin. Tapi karena faktanya aku datang dan aku ngerusak semuanya. Itu fakta yang bener-bener buat sakit banget sih." Velyn menunduk menikmati rasa sakit yang menyerang hatinya. "Aku kasian aja sama Fara. Lagian kalian kenapa sih buat rencana Vaden deketin dia? Kan ujung-ujungnya Vaden pergi ninggalin dia. Ujung-ujungnya dia juga ngejer kamu lagi. Jadi kayak yang kalian lakuin sia-sia aja," lanjutnya masih menunduk menatap kedua kakinya.
"Kamu salah. Pertama nih, kamu udah gak boleh ngandai-ngandai karena percuma masa lalu itu tetep masa lalu, Vel. Enggak akan bisa kamu balik. Kedua, rencana itu bukan enggak punya manfaat sama sekali, mau tau hasilnya? Ya aku sama kamu di sini itu hasilnya," jelas Valerio tersenyum kecil.
Velyn tak tahu harus bilang apa karena dibalik kebahaagiannya sekarang, ada seseorang yang begitu lelah menahan sakit semuanya. Ia hanya mencoba memposisikan dirinya di posisi Fara dan hanya seperti itu saja ia sudah bisa merasakan apa yang dirasaakan Fara selama ini. Karena itulah, Velyn meraa bersalah pada Fara, bukan hanya karena kecelakaan itu saja, tapi semuanya. Velyn hanya berharap suatu saat nanti, Fara menemukan kebahagiannya sendiri. Dan ketika hari itu terjadi, dia akan menjadi orang pertama yang mengatakan selamat pada Faara.
"Kamu mikirin dia ya?"
Velyn tersenyum dan mengangguk. "Iya," jujurnya tersenyum kecil.
"Walaupun sampai sekarang dia masih kejer-kejer aku? Coba buat rebut aku dari kamu?"
Velyn mengangguk. "Iya tau dia mau rebut kamu. Tapi tetep aja aku kasihan ke dia."
"Kalau kamu bilang ini ke dia pun, pasti dia marah karena dia enggak suka dikasihani," timpal Valerio yang membuat Velyn terkekeh pelan.
"Iya tau, kamu tuh--"
"Kak."
Panggilan dengan suara nyaring itu membuat Velyn dan Valerio menoleh ke arah sumber suara dan mengernyit ketika menemukan seorang anak perempuan berdiri di belakang tubuh Velyn dengan membawa setangkai mawar hitam.
"Iya dek? Loh adek kenapa di sini?" tanya Velyn perhatian, soalnya ia khawatir anak ini terpisah dari orang tuanya.
"Ini, Kak." Anak kecil itu hanya memberi Velyn mawar hitam tadi tanpa menjawab pertanyaan dari Velyn. "Ambil, Kak," perintahnya karena Velyn tak kunjung mengambil bunga itu.
Valerio yang awalnya mengernyit heran, dengan cepat sadar dan mengambil alih bunga itu, ia yang menerimanya lalu ia taruh di samping tubuhnya.
"Itu bunga dari siapa ya?" tanya Velyn mencoba memegang pundak anak itu, tapi ia malah menjauh.
"Itu bunganya buat kakak ini," ujarnya menunjuk Velyn dengan tatapan mata mengarah ke Valerio seolah menyuruh Valerio untuk mengembalikan bunganya ke Velyn.
"Iya nanti kakak terima. Tapi ini bunga dari siapa? Siapa yang nyuruh kamu kasih bunga ini? Gak mungkin kamu yang bawa," ujar Velyn dengan kekehan pelan agar anak kecil itu tidak ketakutan dan berakhir tidak menjawab pertanyaannya.
"Pokoknya bunga itu untuk kakak." Anak kecil tadi berbalik begitu saja dan berlari meninggalkan dua orang di belakangnya yang masih penuh tanda tanya.
Velyn terus memperhatikan anak itu dan ia berakhir bergabung dengan sebuah keluarga. Tidak ada yang aneh, tidak ada gelagat kalau keluarga itu yang menyuruhnya karena di sekitaran pantai memang tidak ada yang menjual bunga. Lantas siapa?
"Coba lihat bunganya," pinta Velyn pada Valeiro yang sibuk meneliti bunga itu.
Tapi Valerio tak kunjung memberi bunga itu ke Velyn. Ia malah menaruh bunga itu ke samping tubuhnya di atas pasir.
"Bener atau enggak tentang mawar hitam, intinya aku enggak suka bunga itu, apalagi yang kasih anonim, lebih baik dibuang aja," ujar Valerio langsung. "Lagian bunganya agak layu dan hangat, aku yakin dia abis diambil dari satu ruangan. Dari baunya, aku yakin itu diambil dari bagasi mobil," sambungnya yang membuat Velyn bergidik ngeri, pasalnya ucapan Valerio sudah detektif ternama yang ia kenal.
"Beneran?" Valerio mengangguk yakin. Velyn juga tahu apa arti mawar hitam, tapi ia juga tidak terlalu peduli dan percaya.
"Kayaknya tempat ini udah enggak ada di sisi kita lagi," celetuk Valerio sebelum bangkit berdiri dan menunduk menatap Velyn yang mendongak ke arahnya. "Ayo kita pulang," ajaknya kemudian.
"Sekarang? Kok cepet banget," protes Velyn dengan pandangan kembali ke bawah dan tak sengaja menatap mawar hitam itu kembali. Sejujurnya ia penasaran siapa pengirimnya.
"Udah ayo, mau hujan lagian." Valerio menarik Velyn paksa membuat perempuan itu merengut marah padanya, tapi sayangnya Valeiro tidak memperhatikan. Valerio kemudian mengambil kain dan membersihkan pasir yang menempel, melipatnya lalu mengajak Velyn untuk berjalan meninggalkan pantai, meninggalkan mawar hitam yang setengah layu itu tergeletak di atas pasir sendirian.
***