Memang benar kapan dan di mana saja keajaiban bisa datang, siapapun yang terdesak oleh suatu keadaan pastilah akan mengharapkan sebuah keajaiban datang padanya dengan segera. Namun, takdir tidak selalu seperti itu, mungkin bisa saja keajaiban datang di waktu tertepat tapi itu sangat jarang. Kebanyakan orang mengalami hal yang namanya ekspetasi tidak sejalan dengan realita. Sebesar apapun harapan jika takdir tidak mengijinkan, maka jawabannya tidak.
Vaden adalah salah satu dari orang-orang yang ekspetasinya tidak sesuai realita. Tapi hal itu tidak bisa di katakan tidak beruntung karena ada tidaknya sebuah keajaiban, sebuah takdir yang menuntun ke satu arah biasanya adalah yang terbaik untuk dilalui. Meskipun pada awalnya mengira ini hal buruk, pemahaman akan segera menghampiri begitu menjalani.
Vaden langsung bertemu dengan Dieza begitu ia sampai di bandara. Perempuan itu ikut menunggunya di sana. Tapi Vaden masih tidak ada rasa apapun padanya, rasa ingin mengucapkan terima kasih pun tidak ada muncul pada dirinya. Sepanjang perjalanan ke rumah keluarga Dieza, Dieza satu-satunya yang terus membuka topik obrolan tapi Vaden tidak pernah menanggapinya, sekalipun tidak, berdeham pun tidak juga.
Ketika sampaipun Vaden hanya turun dan menyapa seluruh keluarga Dieza dan keluarganya yang sudah berkumpul di sana. Sepertinya mereka tidak ingin mengundur lebih lama lagi, begitu Vaden tiba semua harus dipersiapkan segera. Vaden sampai heran, yang mau menikah dia atau keluarganya?
Vaden juga diam saja tidak ikut berpartisipasi dalam obrolan dua keluarga itu. Ia sibuk meminum air putih di gelasnya terus-terusan hingga perutnya terasa kembung.
Hal ini tentu diperhatikan oleh Dieza. Siapapun yang melihat raut wajahnya pasti paham dengan isi hatinya. Dieza tampak sedih karena Vaden tampak tidak memiliki ketertarikan pada acara penting mereka ini.
Tapi memang Dieza juga tidak mau membatalkannya, bukan? Jadi semua resiko ditanggung oleh Dieza. Sebenarnya, ada satu alasan mengapa Dieza yakin jika Vaden akan membalas perasaannya suatu saat nanti. Pria itu sebetulnya punya hak juga untuk membatalkan perjodohan ini, tapi Vaden malah diam saja. Dieza merasa jika Vaden bisa saja menyembunyikan dirinya kalaupun hal ini sungguh di paksa. Tapi nyatanya, Vaden malah dengan tanpa paksaan tetap datang jauh-jauh ke Australia untuk melangsungkan acara pernikahan mereka.
Apa coba alasan lain Vaden tidak menolak perjodohan ini kalau bukan karena ia sudah tertarik pada Dieza sebelumnya. Katakanlah Dieza punya kepercayaan diri yang tinggi, tapi ia yakin pendapatnya benar.
Setelah hari pernikahan mereka pun, semuanya seperti datar-datar saja. Sama sekali tidak ada yang berbeda dan membuat keduanya bahagia. Sepuluh hari sudah diberikan dari keluarga Vaden ke Vaden agar ia bisa berdua saja dengan Dieza. Tapi nyatanya sepuluh hari yang ada malah dipakai untuk menatap laptop terus-terusan oleh Vaden. Di sini Dieza mulai ragu dengan keputusannya yang waktu itu terasa bulat dan penuh keyakinan.
Vaden sendiri tidak peduli. Jika Dieza berpikir Vaden tidak bisa bergerak karena sudah tertarik padanya dari awal mereka bertemu, maka Vaden berbeda. Ia terpaksa menuruti permintaan keluarganya karena perjodohan ini dulunya sudah diatur oleh buyutnya. Ada sejarah tersendiri kenapa bisa sampai pada Vaden. Ia juga tidak ingin mengecewakan keluarganya dan terakhir, ia tidak mendapatkan hati Velyn, ia putus asa dan merasa sudah tidak punya kesempatan lain.
Bicara tentang Velyn. Vaden sudah tidak bisa mendeskripsikan seberapa besar rindunya pada baby girlnya itu. Baru beberapa hari saja sudah sebesar ini, bagaimana jika berminggu-minggu? Vaden tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia juga penasaran bagaimana kelanjutan dari masalah itu? Apa Velyn berhasil melaluinya dan baik-baik saja? Vaden sungguh penasaran dan khawatir dalam satu waktu. Ia kerap kali melihat ponselnya padahal ia sadar nomornya sudah tidak yang dulu, ia sudah mengganti semuanya kecuali akun instagramnya. Ia tidak berani melihat dan sengaja mematikan data untuk i********: agar semua orang mengira ia sudah menonaktifkan instagramnya.
"Vaden," panggil Dieza ketika Vaden sedang memperhatikan lekat ponselnya, perempuan itu berdiri di samping sofa yang diduduki Vaden.
Hubungan mereka yang tegang dan canggung di rumah pribadi mereka ini tidak diketahui keluarga keduanya. Ketika di tanya, Dieza berbohong jika dirinya dengan Vaden sudah memiliki hubungan yang berkembang pesat, padahal nyatanya tidak sama sekali.
"Hm?" Vaden menonaktifkan ponselnya lalu mengambil remot dan menyalakan televisi raksasa di depannya.
"Aku akan berbelanja--"
"Hm pergilah," sahut Vaden cepat, bahkan Dieza belum menyelesaikan ucapannya. Ia kemudian mengambil sebuah apel dan sebuah pisau yang tersedia di meja, lalu mulai mengupas kulitnya.
"Boleh gak aku minta kamu nemenin aku?" tanyanya dengan suara pelan, bahkan Vaden bisa melewatkannya kalau tidak mempertajam pendengarannya.
"Nemenin? Kenapa harus di temenin?" Vaden mendongak menatap Dieza yang ciut. Sayangnya, pria itu tidak memperhatikan arah tangannya hingga pisau yang ia pegang untuk mengiris kulit apel malah berbalik mengiris kulit jarinya.
"s**t!" umpat Vaden melihat jarinya yang mengeluarkan cairan merah. Ia meletakkan pisau dan apel ke tempatnya semula dan hendak berdiri mengambil plester, hanya saja ....
"Tunggu! Kamu di sini aja, biar aku yang ambil plester sama antiseptik!"
Vaden terperangah melihat Dieza yang kalang kabut padahal ia yang terluka dan lukanya hanya luka kecil. Vaden menunduk ke lantai di mana ada setitik darah yang jatuh dari ujung jarinya. Sepertinya memang luka kecil, tapi kenapa darahnya banyak sekali?
Dieza datang dengan membawa sebuah mangkuk berisi air, antiseptik, kapas dan plester. Ia tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada Vaden--seperti yang ia sering lakukan, langsung mengambil jari Vaden yang terluka lalu ia bersihkan dengan air di dalam mangkuk. Ia kemudian mengeringkannya dengan tisu yang ada di meja. Dieza memberi sedikit antiseptik pada kapas sebelum menekankannya pada jari Vaden yang terluka, dan terakhir ia memplesternya. Selesai.
Dieza menghela nafas panjang begitu pekerjaannya selesai. Ia bahkan sampai keringatan. Seperti baru melakukan pekerjaan berat saja.
"Lain kali hati-hati, Vaden. Kamu beruntung ini masih jari kamu yang tersayat, kalau kepotong gimana?" Dieza memarahi Vaden sesaat, kemudian ia membawa barang-barangnya kembali ke dapur.
Vaden hanya tersenyum miring dan memperhatikan jarinya yang diplester begitu rapi, tidak heran karena Dieza pernah terjun ke dalam dunia kesehatan dalam beberapa waktu.
Tak lama kemudian, Dieza kembali ke ruang tamu dan menatap Vaden. "Em maaf kalau tadi aku terlalu lancang," ujarnya tidak enak. "Kalau gitu aku pergi sekarang aja, kamu jaga rumah."
Belum genap langkah Dieza, Vaden bangkit dan menyuruhnya berhenti. "Sini kuncinya, aku yang nyetir," pinta Vaden dengan tangan menengadah meminta kunci mobil yang ada di tangan Dieza.
"Hah?"
Tapi karena Dieza melambat pikirannya, akhirnya Vaden dengan sedikit kasar merebut kunci itu lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Dieza yang masih tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
"Jangan melamun di situ! Kunci pintu rumah!"
Seruan dari Vaden menyadarkan Dieza dari lamunannya, ia menjawab dengan cukup gagap sebelum berlari kecil menyusul Vaden kalau tidak ingin ditinggal oleh pria itu.
"Udah di kunci?" tanya Vaden yang sudah duduk anteng di dalam mobil begitu Dieza masuk dan duduk di kursi penumpang di sebelahnya.
"Hm udah." Dieza mengangguk kecil. "Kamu kenapa ... eh gak jadi." Dieza tertawa kecil yang canggung. Bagaimana tidak jika bibirnya hampir melontarkan pertanyaan mengapa Vaden mau mengantarnya padahal tadi tidak mau. Karena kalau itu sampai terjadi, bisa saja setan buruk Vaden kembali merasukinya dan ia mengurungkan niat untuk menemani Dieza berbelanja kebutuhan dapur.
Sedangkan Vaden hanya melirik Dieza tanpa mengucapkan apa-apa sebelum ia menekan pedal gas meninggalkan pekarangan rumah.
Di jalan, Dieza sering mencuri pandang pada Vaden dan Vaden cukup risih sebenarnya sampai ia bertanya tentang apa yang ingin disampaikan oleh Dieza.
"Aku mau tanya satu hal, tapi ini agak sensitif pastinya," ujar Dieza.
"Bilang aja."
Dieza menggaruk keningnya sesaat dan menarik nafas dalam. "Kamu masih cinta sama Velyn?" tanyanya cepat sebelum kepercayaan dirinya menghilang.
Vaden tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. "Jujur, masih," jawabnya terang-terangan. "Kamu pastinya enggak mau denger hal yang enggak bener, kan?"
Dieza tertawa hambar dan mengangguk-angguk beberapa kali. Memang siapa yang ingin mendengar hal tidak benar? Tapi kalau jujur pun menyakiti perasaan, rasanya lebih baik mendengar hal dusta saja.
"Kamu sekarang udah jadi suami aku, jadi kamu lupain dia, ya," pinta Dieza tersenyum kecil. "Kalau kamu gak bisa sekarang, gak papa kok. Aku yakin lama-kelamaan pasti bisa lupain dia."
Vaden hanya mendengarkan tanpa merespon. Ia tidak tahu bisa atau tidak, tidak pasti akan perasaannya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah mall besar. Sebenarnya Vaden malas sekali harus menemani perempuan berbelanja, pasti akan lama sekali. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Vaden gatal seolah ada ribuan kutu di sana.
"Tenang. Aku gak lama kok kalau belanja," celetuk Dieza yang mengejutkan Vaden. "Cuma aku kurang hati-hati makanya kadang harus ada orang lain yang nemenin."
Vaden mengangguk paham sebelum turun dari mobil diikuti oleh Dieza.
Karena Vaden tidak tahu seluk beluk mall ini dan hanya Dieza yang tahu di mana tempat yang menjual sayuran. Jadi ia hanya mengikuti Dieza dari belakang seperti bodyguardnya. Kadang Vaden melihat-lihat situasi sekitar untuk menghilangkan jenuhnya. Memang Dieza tampak lebih cepat berbelanja dari pada perempuan lainnya, tapi tetap saja belanja lima menit dirasa seperti lima belas menit bagi Vaden.
"Kamu capek? Atau bosen?" Dieza perhatian. "Bentar ya satu bahan lagi, aku lupa tadi belinya," ujarnya dengan wajah meringis dan cepat-cepat kembali. Mau tak mau Vaden pun mengikutinya lagi.
Seperti yang sudah dikatakan oleh Dieza sebelumnya jika ia tipikal perempuan yang kurang hati-hati. Vaden bisa melihat dengan jelas kalau perempuan itu meninggalkan selembar uangnya. Uang itu terjatuh atau bagaimana?
Vaden berdecak pelan lalu melangkah hendak mengambil uang itu. Tapi seorang pria lebih dulu mengambil uang itu, membuat Vaden berhenti dan mengernyit. Ia sudah akan berteriak pada pria itu karena perbuatannya tapi pria itu lebih dulu berseru dan seruan itu ditujukan pada Dieza.
Dieza yang merasa ada seseorang yang berseru padanya jadi menoleh dan heran melihat ada dua pria di belakangnya yang melihat ke arahnya. Tapi perhatian Dieza teralih karena seorang pria mendekat ke arahnya sembari menyerahkan selembar uang padanya. Awalnya Dieza tidak paham sampai pria itu menjelaskan detailnya.
"Uangmu tertinggal di sana."
Dieza tertawa dan memaki dirinya sendiri di dalam hati. Ia mengambil uang itu dan mengucapkan terima kasih. Si pria tidak berlalu setelah Dieza mengucapkan terima kasih, ia berdeham dan hendak mengatakan sesuatu. Tapi sayang, Vaden sudah lebih dulu mendekati Dieza dan mendorong pelan perempuan itu agar menjauh dari pria asing tadi.
"Maaf, dude. Tapi dia istriku," ujar Vaden dengan wajah datar dan menarik tangan Dieza dari sana, meninggalkan si pria asing yang jatuh malu karena memang ia tadinya hendak mengobrol karena ia tertarik pada Dieza.
Vaden sendiri tidak mengatakan apapun dan hanya menarik Dieza pergi sampai mereka di parkiran. Dieza yang melihatnya hanya tersenyum kecil, hatinya mengembang senang. Dari sini, setidaknya ia mempunyai harapan baru jika Vaden sebenarnya mulai memiliki perasaan khusus itu padanya.
***