Sesuai dengan kemauan diri Velyn tadi. Sekarang, ketika Valerio sedang fokus menyetir mobilnya entah hendak kemana karena pria itu juga tidak memberitahunya, Velyn langsung bertanya to the point.
"Jadi apa tadi yang kamu pikirin?" tanya Velyn menoleh menatap ke arahnya. "Jangan bohong. Kalau kamu ada masalah, apapun itu, bilang ke aku, siapa tahu aku punya jalan keluarnya, kan?"
Valerio berdeham pelan. "Enggak, kok. Udah kamu anteng aja. Enggak ada apa-apa bener deh."
Velyn mendengus kesal, sudah ia duga jawabannya pasti akan seperti ini. "Emangnya apa? Kasih tau lah. Apa ini dari papa? Papa ada bilang sesuatu ke kamu?"
Valerio mengangguk membenarkan tebakan dari Velyn. "Iya bener, Vel. Tapi gak papa, gak berat kok. Tapi maaf, aku enggak akan kasih tau ke kamu karena tugas ini harusnya diemban aku sendiri. Kamu duduk anteng aja tunggu aku, okey?"
"Gimana mau anteng kalau kamu aja enggak kasih tau, buat penasaran tau gak? Atau nanti aku aja yang tanya langsung ke papa gimana? Hayo gimana?" Velyn menunjuk-nunjuk wajah Valerio dengan jari telunjuknya yang sangat dekat dengan wajah pria itu.
"Apanya yang gimana? Yauda kamu tanya aja. Aku yakin enggak dikasih tau juga. Palingan kalau di kasih tau pun, kamu enggak akan tau harus buat apa." Valerio tersenyum kecil. "Tapi gak papa, kita harus optimis."
"Emangnya apa sih? Kamu buat penasaran aja." Bibir Velyn melengkung ke bawah. "Yaudalah kalau gak mau kasih tau, gak papa. Tapi gantinya, kamu harus kasih tau kita ini mau kemana?!"
Valerio melirik Velyn yang juga berpakaian kasual sama sepertinya. Terlihat rapi dan ia jadi khawatir mengungkapkan tempat yang menjadi tujuannya. Mungkinkah perempuan itu akan marah?
"Vale? Kita kemana ini? Kamu jangan diem aja dong. Ini mau kemana? Awas aja kalau enggak ada tujuan." Velyn menatapnya tajam dengan dahi mengerut dalam.
Valerio pun tertawa tergelak, sebelah tangannya terulur mengusap dahi Velyn menghilangkan kerutan itu sebelum turun ke pipi berisinya yang lembut dan mengusapnya tak kalah lembut.
Velyn termangu diperlakukan seperti itu oleh Valerio. Ia tak mampu menahan senyumnya memikirkan tempat apa yang akan dikunjungi mereka kali ini? Mungkinkah tempat romantis yang belum pernah Velyn datangi?
"Tempatnya sebenarnya belum ada, Sayang."
Celetukan dari Valerio di tengah-tengah Velyn yang sedang menerka-nerka dengan gembira tentu membuat mood Velyn terjun bebas ke dasar terbawah. Ia menoleh pada Valerio dengan tatapan kosong yang menakutkan sebelum menurunkan paksa tangan Valerio yang masih betah mengelus pipinya.
"Vel ... soalnya ada sesuatu yang aku mau kamu tau. Dan aku butuh tempat buat jelasinnya. Cuma ya memang aku bingung di mana tempat yang tepat."
"Kuburan aja sekalian," jawab Velyn mendongakkan dagunya. "Ya harusnya kamu riset kek harus kemana. Aku tadi udah buru-buru banget dan rupanya kamu malah enggak tau harus kemana. Cape, Vale." Velyn menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melipat tangannya didepan tubuhnya, wajahnya masam sekarang.
Velyn sepertinya benar-benar kesal, pikir Valerio. Tak mau berlarut-larut, ia mencoba memutar otaknya menentukan tempat yang tepat untuk mengungkapkan rahasia Fara dan juga tempat yang cocok untuk kencan. Istilahnya itu, menyelam sambil minum air, ia dapat dua manfaat.
Tiba-tiba, arah pandang Valerio terpaku pada kaca spion tengah, di sana ada sebuah kain persegi panjang berwarna merah yang sangat lebar. Ia tahu lebar karena ia pernah memakainya. Bohlam di atas kepala Valerio seolah bersinar sebelum ia tersenyum miring. Ia kini tahu tempat apa yang cocok untuk dituju.
"Aku udah tau tempatnya. Kamu jangan ngambek gitu lah, jelek banget," ujar Valerio hendak menggapai pipi Velyn. Tapi Velyn menjauhkan wajahnya hingga tangan Valerio tidak sampai.
"Fokus aja nyetir sana!"
Valerio tersenyum lucu sebelum ia mengikuti permintaan Velyn untuk fokus ke jalanan.
***
Hari ini hari pertama Fara melakukan fisioterapi. Kedua kaki Fara memang mati rasa namun ia tidak lumpuh total. Penanganannya cukup bagus hingga Fara memiliki sedikit kemajuan walau baru pertama ia melakukan terapi ini.
Reima tidak bisa mendampingi Fara dikarenakan pekerjaannya yang menumpuk. Alhasil, Farhan lah yang akhirnya menemani sang adik.
"Kita pulang sekarang, Kak?" tanya Fara menatap Farhan yang duduk di bangku kemudi, Fara juga menggerak-gerakkan kecil kakinya agar semakin terbiasa.
"Iya, mau kemana lagi kamu emang?" Farhan tidak membalas tatapan Fara, ia hanya fokus menatap ke depan, jalanan agak macet jadi para supir harus ekstra hati-hati kalau tidak ingin mengalami insiden sekecil apapun.
"Hm kemana, ya? Aku juga bingung. Intinya jangan pulang dulu lah," ujarnya meminta. Ia bosan di rumah, itu alasan paling kuat dari Fara.
"Hm yauda kita gak pulang dulu." Farhan santai saja menerima permintaan adiknya itu.
"Beneran?! Mau kemana emang kita?" Fara tiba-tiba terkekeh pelan. "Kakak aja yang tentuin, aku ngikut aja asal kursi roda aku juga enak jalan. Aku bingung soalnya mau kemana."
Farhan tersenyum dan mengangkat ibu jarinya ke atas. "Siap."
Fara membalas senyum Farhan dengan senyum lebar, senyum itu begitu berharga, Farhan kadang merasa tersakiti ketika melihat senyum Fara yang lepas. Bagaimana tidak jika senyum adiknya itu selalu tertahan karena pria-pria brengs*k yang mendekatinya lalu menjauhinya atau meninggalkannya begitu saja.
Farhan tahu pesona Velyn itu seperti apa. Ia juga tidak menyalahkan Velyn tentang ini sama sekali. Hanya saja ia kesal pada dua pria itu, jika mereka sudah tahu tidak bisa berpaling dari Velyn, harusnya tidak mendekati Fara dan memberikannya harapan palsu.
"Kita mau ke pantai?"
Ucapan Fara membuat Farhan tersadar. Ia mengerjap beberapa kali sebelum mengangguk membenarkan perkataan Fara. "Iya. Pantai. Hari ini cuacanya enggak panas enggak juga mendung, pas banget buat liat suasana pantai," beritahunya.
"Iya sih emang. Tapi aku pakai kursi roda, emang bisa? Kan banyak pasir di sana, pastinya enggak bisa dong, kak," ucap Fara lesu. Di momen-momen seperti ini ia sadar kalau anugrah bisa berjalan adalah hal yang sungguh luar biasa yang tidak bisa dimengerti oleh orang-orang yang tidak pernah merasakan bagaimana menderitanya tidak bisa menggerakkan kakimu dalam rentang waktu yang cukup lama.
"Bisa. Tapi emang enggak di pinggir pantai banget. Gak papa, kan? Seenggaknya bisa lihat, dengerin ombak dan rasain anginnya."
Fara tersenyum mengangguk menyetujui ucapan Farhan. Terkadang Farhan bisa begitu baik dan menjalankan perannya sebagai kakak. Tapi terkadang juga, di beberapa waktu, Farhan bisa benar-benar berubah dan sama sekali tidak mempedulikan Fara. Sudah lama Fara menyadari hal ini, tapi ia tidak pernah protes apalagi curiga pada kakaknya ini.
"Oke sampai. Bentar ya." Farhan turun begitu ia memparkirkan mobilnya. Ia ke bagasi dan menurunkan kursi roda Fara, lalu membawanya ke depan dan membuka pintu mobil di sisi Fara.
"Coba aku sendiri yang turun," gumam Fara yang langsung mendapat gelengan kuat dari Farhan.
"Enggak! Kamu itu baru sehari terapi udah belagu banget. Mana bisa Ra langsung turun gitu aja. Yang ada kamu malah jatoh dan akhirnya yang kena marah Mama siapa?" tanya Farhan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya deh." Fara menyerah dan akhirnya dibopong Farhan sebelum diletakkan di atas kursi rodanya.
Setelahnya, Farhan mendorong kursi roda Fara mendekati pantai. Ada banyak orang di sana, jelas saja karena ini hari libur, semua orang sebisa mungkin keluar dari rumah mereka menuju satu tempat untuk bersenang-senang melepaskan penat.
Orang-orang yang berpapasan dengan mereka, sekali dua kali mencuri pandang. Mungkin mereka mengira Farhan dan Fara adalah sepasang kekasih, hal yang sudah tidak asing bagi mereka. Mungkin juga mereka mengira kalau Farhan begitu baik mau membawa seorang perempuan di kursi roda ke tempat ini karena amat jarang sekali ada pria seperti itu.
Farhan tidak membawa Fara betul-betul mendekati bibir pantai. Ia berhenti sekitar seratus meter jauhnya dari pantai. Mendengar tawa, deburan ombak, merasakan angin yang menyejukkan wajah dan mengibarkan anak rambut membuat hati merasa damai. Kedamaian itu sungguh merasuk masuk ke dalam relung hati Fara maupun Farhan.
Namun, kedamaian mereka berdua tidak berlangsung lama ketika mereka melihat sepasang perempuan dan laki-laki berpakaian kasual sedang tertawa di bawah rindangnya pohon kelapa.
***
"Jadi pantai yang kamu maksud?" Velyn menatap Valerio dan Valerio mengangguk sebagai respon. "Yaudalah gak papa. Buruan turun, aku udah penasaran sama apa yang mau kamu bilang ke aku."
Valerio termenung sesaat setelah Velyn menyelesaikan ucapannya. Ia hanya berharap Velyn tidak marah ketika ia memberitahunya nanti. Marah sebenarnya tidak apa karena merasa dibohongi, tapi Valerio khawatir Velyn sungguh tidak terima nantinya.
Menghela nafas dan mengangguk yakin, Valerio kemudian turun, mengambil kain yang tadi ada di tersampir di bangku belakang lalu mengunci mobil.
"Kamu emang udah rencanain ke sini atau gimana?" tanya Velyn ketika melihat kain tebal yang di bawa Valerio. "Terus kalau emang udah rencana, kenapa bawa kain? Aturan kan karpet gulung gitu."
Valerio menjawil pelan pipi Velyn gemas. "Enggak. Ini enggak direncanain, kebetulan aja ada kain ini di belakang mobil."
Velyn manggut-manggut saja dan mengikuti kemana Valerio melangkah. Pria itu membawanya ke suatu spot bersih di bawah pohon kelapa. Tidak ada orang juga di tempat itu jadi mereka bisa lebih dulu mengklaim.
Valerio menggelar kain itu dan untungnya memang cukup besar, jadi muat untuk mereka berdua.
"Ini gini aja? Enggak ada makanan gitu?" gumam Velyn mengedarkan pandangannya mencari pedagang yang tidak terlihat satupun. "Kok gak ada ya?"
"Ya mungkin belum dateng," respon Valerio yang sudah duduk bersandar pada batang pohon, ia kemudian mendongak menatap Velyn yang masih berdiri. "Udah sini kamu duduk. Ada yang mau aku bicarain."
Velyn menghela nafas berat lalu duduk tepat di samping Valerio, ia bersandar pada d**a pria itu dan Valerio memeluknya dari samping.
"Apa yang mau kamu bilang?"
"Ini tentang Fara. Aku gak akan basa-basi, tapi kamu enggak boleh marah-marah dulu," ujar Valerio menatap wajah Velyn yang begitu dekat. "Sebenernya Fara enggak lumpuh selamanya, dia bisa sembuh, asal lakuin terapi sesering mungkin."
Velyn terdiam sesaat, ia menoleh dan menatap Valerio lurus-lurus bertanya apa Valerio serius lewat tatapan matanya.
"Hm itu aku denger dari mereka sendiri. Intinya, dia bisa sembuh. Dia bohong pas bilang dia enggak akan bisa jalan lagi. Jadi, kamu enggak perlu merasa sebersalah itu karena nyatanya kakinya bisa kembali kayak semula, Vel," tutur Valerio.
"Tunggu, kamu gak bercanda, kan? Kalau gitu, buat apa Fara tetep setia di kursi rodanya selama tiga tahun? Kalau dia bisa sembuh, harusnya dua bulan atau tiga bulan sejak kecelakaan harusnya udah bisa normal dong, Vale," ujar Velyn mengutarakan keganjalan hatinya. "Nanti kamu salah gak?"
Valerio menggeleng tegas. "Enggak. Ini bener. Mungkin dia punya alasan lain kenapa enggak terapi langsung."
Velyn masih berpikir keras tentang ini, menurut logikanya tidak mungkin Fara tahan seperti itu terus, jika memang ada alasannya, maka masih bisa dimaklumi. Tapi alasannya apa?
Melihat Velyn yang begitu serius sembari bertopang dagu, membuat pipinya yang berisi semakin menggembung membuat Valerio gemas dan mengecup pipinya dengan cepat.
Tapi rupanya tindakannya itu tidak mendapat respon apa-apa dari Velyn, ia masih berpikir dan berpikir.
"Udah gak perlu sekeras itu mikirnya, intinya ia bisa sembuh," gumam Valerio sembari menepuk pelan jidat Velyn.
"Valerio! Kamu sembarangan banget, nanti kalau IQ aku berkurang gimana?" seru Velyn tidak terima.
"IQ? Emang kamu punya IQ?"
Velyn yang sudah kesal jadi semakin kesal lagi dibuat Valerio. Apalagi Valerio yang tertawa senang karena berhasil membuatnya kesal. Tapi tawa Valerio itu terlalu renyah dan lucu, jadi Velyn tertular dan tertawa juga walau kecil dan kadang masih memarahi Valerio di sela tawanya.
Namun kemudian, tawa Velyn sukses berhenti ketika matanya tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang baru saja mereka bicarakan, berada tidak jauh dari tempat mereka sekarang ini.
"Fara?"
***