44. Ingin Sembuh

1732 Kata
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya oleh Fara. Ia akan terapi untuk menyembuhkan kakinya agar ia bisa berjalan kembali. Hal ini tentunya didukung juga oleh Reima yang sebenarnya dari lama ingin Fara melakukan terapi untuk kedua kakinya. Tapi tentu tidak memakan waktu yang sedikit. Awalnya Fara merengut agak kesal karena ia ingin cepat agar segera memamerkan dirinya yang baru ke Valerio. Tapi, ketika dokter bilang kalau ia lebih sering melatih kakinya maka penyembuhan akan semakin cepat, membuatnya merasa energinya kembali dan berantusias untuk melakukannya dengan semangat. Tujuannya melakukan ini hanya satu, mendapatkan Valerio kembali. Ia tidak mempan, begitu kebal akan apapun larangan dan perintah orang-orang untuk menjauhi Valerio karena nyatanya ia tetap saja kukuh dengan keinginannya. Farhan juga apalagi, ia sama semangatnya dengan Fara agar adiknya itu bisa sembuh, menarik Valerio padanya dan ia sendiri akan mendapatkan Velyn bagaimanapun caranya. Reima yang melihat kedua anaknya akur dan sama-sama semangat jadi ikut bahagia. Ia ingin keluarganya seperti ini selalu. Membantu satu sama lain dan bahagia bersama. Tidak perlu memikirkan siapapun kalau ujung-ujungnya hanya sedih yang di dapat. Melihat Fara yang begitu semangat, membuatnya prihatin juga. Karena Valerio sudah tidak akan berpaling padanya, pria itu pada Velyn sudah benar-benar expired. Tidak bisa diperbaharui kembali. Tapi biarlah. Toh walaupun itu terjadi nanti, Fara sudah berani mengambil resiko terburuk dan akan pergi dari negeri ini. Reima hanya berharap yang paling serius agar anaknya itu kelak mendapat kebahagiaan yang tiada tara. *** Hari ini hari libur. Valerio datang ke rumah Velyn dengan pakaian kasual, ia terlihat seperti pria remaja dengan usia belasan tahun sekarang. Membuat Velyn yang membukakan pintu melihatnya dari atas ke bawah dengan sebelah alis yang terangkat. "Kenapa?" tanya Valerio memiringkan kepalanya. "Aku terlalu ganteng, ya?" sambungnya dengan ekspresi biasa saja, tidak menjengkelkan atau apapun. "Kamu mau ngelucu tapi gak lucu sama sekali," ujar Velyn menggelengkan kepalanya pelan. "Aku emang gak mau ngelucu btw. Aku emang ganteng, kan?" Velyn mengernyit seolah ilfeel dengan ucapan Valerio. "Aku baru tau kalau tingkat kepedean kamu naik jauh lebih pesat." Valerio tersenyum lucu dan mengangkat kedua bahunya. "Kamu gak nyuruh aku masuk nih? Mama sama Papa kamu di rumah?" tanyanya mendongak mengintip suasana di dalam rumah. Velyn menoleh ke belakang sesaat sebelum menatap Valerio kembali. "Ada di dalam. Papa lagi bantu Mama masak. Entah gimana deh jadinya nanti." "Masak?" Valerio melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang cukup kekar. "Jam sembilan? Baru masak? Enggak sarapan?" "Kamu lupa? Kan emang kebiasaannya gitu tiap hari libur, sarapan jam sepuluh paling lambat," tuturnya memberitahu kembali hal yang mungkin Valerio lupakan. "Lagian kamu ngapain sih pagi-pagi gini dateng, suka banget dateng jam segini." Valerio terkekeh pelan, ia memang tidak memberitahu Velyn kalau ia akan mengajak gadis itu pergi hari ini. "Iya, aku mau ajak kamu pergi sekalian ada yang mau aku bicarain," ucapnya tersenyum manis. "Udah sana kamu siap-siap dulu." Velyn menatap Valerio dengan tajam melalui ujung ekor matanya sebelum tertawa dan membuka lebar pintu rumahnya. "Ayo masuk. Kamu pagi-pagi ngerepotin banget." Valerio cengengesan dan matanya berpendar lucu menatap punggung Velyn di depannya. Dengan cepat dan singkat ia memeluk perempuan itu dari belakang, membuat Velyn terkejut namun tak sempat protes karena orang tuanya tiba-tiba sudah berada di depannya. Ini alasan mengapa Valerio tidak lama-lama memeluk Velyn, ia sudah tahu orang tua Velyn akan keluar dari dapur. "Pagi, Om, Tante," sapa Valerio lebih dulu sembari memberi senyum terbaiknya. "Maaf ganggu Om, Tante, pagi-pagi gini soalnya mau ajak Velyn pergi." Velyn melempar tatapan membunuhnya pada Valerio karena perkataan pria itu seperti ia sudah mengajak Velyn tapi Velynnya tidak bersiap-siap. Lihat saja, pasti papa atau mamanya akan mengatakan .... "Loh jadi Velyn kok belum siap-siap?" sahut papa yang sesuai dengan tebakan Velyn. "Kalau kamu bilang ke mama kan sarapannya bisa dimajuin, Vel," timpal mama dan sekarang benar-benar menjadi yang bersalah di sini. Valerio awalnya menertawakan Velyn dalam hatinya. Namun, ketika sadar gadis itu kesal padanya, ia pun cepat-cepat membalas ucapan papa dan mama Velyn. "Oh em enggak kok, Om, Tan. Valerio emang belum kasih tau Velyn tentang ini, makanya dia belum siap-siap," ujar Valerio masih dengan senyumannya yang teduh itu. "Nah itu baru bener, Ma, Pa. Dianya aja yang sering dateng tiba-tiba gini, bukan salah Velyn dong kalau belum siap-siap, salahnya dia." Velyn menunjuk wajah Valerio dan jari telunjuknya hanya berjarak beberapa centimter dari wajah pria itu. "Oh gitu ...." Papa dan mama beroh ria barulah Velyn menurunkan tangannya ke sisi tubuhnya. "Jadi Valerio udah sarapan belum?" tanya Mama menatap ke arahnya. "Udah, Tante." "Jadi kamu enggak sarapan lagi?" Velyn mendongak padanya. "Kalau kamu yang nawarin, aku mau." "Jadi kalau Tante yang nawari, kamu gak mau?" Mama menatap Valerio dengan tampang lesu, membuat Velyn sedikit mengolok mamanya. "Mau juga dong, Tan." "Mama ini ikut ajaa," ledek Velyn yang mendapat gelakan tawa dari papa. Sedangkan mama hanya membalas ucapan Velyn dengan tatapan mengejek yang dibuat-buat. "Yauda kalau gitu kamu sama Velyn duduk di meja makan aja dulu, ya. Sama Papa juga duduk aja dulu, biar Mama yang siapin makanannya ke piring." Velyn melenguh pelan. "Yang duduk dulu papa sama Valerio aja. Aku bantu Mama nyiapin, masa iya aku duduk aja, Ma. Aku kan anak cewe." "Yauda bagus sadar diri," balas Mama yang sukses membuat mood Velyn hancur pagi itu. "Udah enggak usah merengut, ayo ikut Mama." Sementara mama dan Velyn di dapur menyiapkan segalanya. Papa dan Valerio duduk berhadapan dengan papa duluan yang membuka obrolan. Bukan tentang pekerjaan, tapi tentang Velyn. "Jadi, apa Fara masih kukuh mau sama kamu, Val?" tanya papa serius, tangannya saling menggenggam di atas meja. Valerio menjawab jujur. "Iya, Om. Kayaknya masih gitu. Tapi, dia pasti enggak selama itu bakalan begini terus, pasti bakal ngerasa bosen juga, Om." "Kamu yakin bakal begitu?" Valerio mengangguk tegas, ia yakin dengan pendapatnya. "Yakin, Om. Enggak ada orang yang sabar banget nungguin hal yang mungkin menurut dia sendiri udah enggak pasti bakal berpihak ke dia." Papa tertawa. "Jadi maksud kamu, Fara udah paham kalau kamu udah gak bakal ke dia gitu? Terus apa kamu gak cinta lagi sama Fara? Om tahu bener gimana hubungan kamu sama Fara selama tiga tahun itu, enggak mungkin rasanya kalau kamu bilang kamu ke dia cuma sebatas peduli aja." Valerio tersenyum. "Mungkin aja, Om. Walaupun belum tau pastinya gimana, tapi biasanya orang enggak sesabar itu nunggu, Om. Dan jujur aja sebelum Velyn balik ke sini, memang ada setitik rasa buat Fara. Tapi semuanya musnah pas Velyn balik, Om. Semuanya diambil balik sama Velyn. Tapi bukan berarti pulangnya Velyn semuanya jadi kayak gini. Justru karena Velyn, semuanya jadi jelas dan ginilah akhirnya, Om." Papa mengangguk-angguk paham. "Om paham. Om juga tahu kamu mau lebih serius sama Velyn, tapi Om enggak akan kasih restu sebelum Fara bener-bener ikhlas lepasin kamu. Om khawatir kalau kalian udah ke jenjang yang serius tapi Fara masih ikutin hubungan kalian, memang kamu ngabaikan, enggak peduli, tapi pastinya hal itu ngeganggu hubungan kalian. Jadi karena itu, Om enggak akan kasih lampi ijo sebelum kamu bisa pastiin Fara udah lupain kamu sepenuhnya." Papa tersenyum, hatinya lega akhirnya bisa menyampaikan gagasannya tersendiri. Memang hal ini sudah ia pikirkan dari beberapa hari yang lalu. Ini memang keputusannya sendiri tanpa berdiskusi dengan mama, tapi ia yakin kalau mama pun akan setuju dengan pendapatnya jika ia membeberkan alasannya. Toh tujuan dari gagasannya ini hanya karena ingin yang terbaik untuk anak semata wayang mereka. Valerio sendiri menelan ludah susah payah. Ia tahu permintaan papanya Velyn tidak susah. Ya, tidak susah kalau Fara pengertian dan berpikiran luas kalau pria bukan hanya ada Valerio di dunia. Tapi akan betul-betul sulit ketika Fara tidak mau memberi pengertiannya sedikitpun dan semakin mengejar Valerio. Memikirkannya saja sudah membuat Valerio takut, lebih takut dari film terhoror yang pernah di tontonnya. Masalahnya, kalau Fara masih mengejar-kejar dirinya, maka ia tidak  bisa menikahi Velyn dan jelas saja hal itu akan menjadi hal terhoror di hidupnya. "Iya, Om. Mudah-mudahan sesuai aja sama ekspetasi semuanya," ujar Valerio mau tak mau. Ia bersyukur mama dan Velyn sudah datang dengan makanan, piring-piring bersih, empat gelas berisi air putih. Begitu Velyn meletakkan gelas minuman ke meja di depan Valerio, pria itu dengan cepat menyambarnya dan menenggaknya dengan pelan dan lambat tapi dengan volume air yang banyak hingga hanya dalam tiga tegukan, air di dalam gelas sudah tandas. Velyn menatap Valerio heran. Ada apa dengan pria gila satu ini? batinnya bertanya-tanya. Papa yang melihatnya hanya tersenyum kecil, ia maklum Valerio tegang, tapi ia tetap tidak akan mengendurkan persayaratannya, Fara harus benar-benar pergi dari kehidupan Valerio. Sedangkan Mama sudah sibuk memerintahkan Velyn yang terdiam untuk segera mengisi ulang gelas Valerio. "Vel, cepet isi, kenapa malah bengong aja?" seru Mama sekali lagi setelah entah berapa kali ia menegur Velyn. "Iya, Ma. Bentar ya, Vale," ujar Velyn pelan, mengambil gelas Valerio dan membawanya ke dapur. Velyn yakin ada sesuatu yang dipikirkan Valerio hingga pria itu berkelakuan seperti itu. Ia juga tampak cemas walau tidak terlalu kentara. Tapi pertanyaannya, apa yang ia cemaskan? Apa yang ia pikirkan hingga bersikap seperti itu? "Lama banget, Vel, padahal cuma isi minum," protes Mama begitu Velyn kembali dengan gelas yang sudah penuh dengan air putih. Mamanya itu sudah duduk di kursi di sebelah papanya. "Iya, Ma, tadi ke kamar mandi bentar," jawab Velyn meletakkan gelas itu di tempatnya semula. Sebelum ia berjalan mengambil tempat duduknya, ia sempat menatap Valerio dan mengisyaratkan jika pria itu harus memberitahunya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Valerio diam saja tidak menjawab isyarat dari Velyn itu karena ia sendiripun tidak akan memberitahu Velyn tentang ini. Biar ia saja yang tahu dan ia sendiri yang menuntaskannya. Acara sarapan itu diselesaikan cukup cepat, mungkin sekitar lima belas menit. Ini dikarenakan semua harus diam ketika sedang makan. Jadi semuanya hanya fokus dengan makanan mereka masing-masing. Ya, walau kali ini tidak semua karena Valerio terus memikirkan hal yang dikatakan papa tadi. Jujur ia juga khawatir apa bisa atau tidak? Apa Fara betulan pergi atau tidak? "Vel, kamu langsung naik ke atas aja ganti baju, kasian Valerio udah nunggu lama. Ini piring-piringnya biar mama sama papa yang beresin," ujar mama dengan tangan mengayun mengusir Velyn dari sana. "Iya kamu cepet dandan gih sana," timpal papa yang membuat Velyn mau tak mau menuruti. "Vale, tunggu bentar ya," ucap Velyn pada Valerio dan dijawab anggukan kecil dari pria itu. Selagi berganti baju, Velyn merengut karena ia sangat yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan Valerio darinya. Tapi apa? Ia tidak bisa menebak sama sekali. Satu-satunya jalan hanya meminta atau memaksa Valerio untuk memberitahu tentang hal yang ia sedang pikirkan saat ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN