Seharusnya ini menjadi hal yang menakutkan bagi Fara dan juga Farhan terkait Valerio yang sudah tahu tentang fakta kaki Fara. Kaki yang sebenarnya bisa sembuh, tapi malah dibilang lumpuh selamanya dan mengakibatkan Velyn sangat merasa bersalah. Jadi, rasa bersalah Velyn yang sangat kuat itu ternyata didasarkan oleh hal yang tidak ada, hal yang ada karena dikarang-karang oleh pihak-pihak yang tentu amat merugikan.
"Kenapa diam aja, Tan?" Valerio angkat suara kembali. Ia kemudian hendak berbicara lagi, namun Reima dengan buru-buru mendekat ke arahnya dan melaluinya. Ternyata ia menuju pintu kamar tadi lalu menggedor-gedor.
"Fara! Farhan! Ayo cepat keluar kalian berdua!" seru Reima marah.
Valerio bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Reima marah alih-alih mencoba meyakinkannya kalau yang didengarnya pasti tidak benar, ia keliru. Apa wanita itu tidak tahu hal ini? Tapi tidak mungkin juga. Malah ada kemungkinan kalau orang yang menyarankan Fara untuk menyembunyikan kesembuhannya adalah Reima sendiri.
Sedangkan di dalam kamar, Farhan yang sudah duduk berhadapan dengan Fara saling lirik saat mendengar gedoran serta seruan dari Reima.
"Mama kenapa?" gumam Fara yang lebih ke bertanya pada Farhan. "Kok gedor-gedor gitu? Coba kak, kamu buka, siapa tau ada yang penting," lanjutnya menyuruh Farhan untuk berdiri menghampiri Reima.
Farhan menampilkan ekspresi mengernyit awalnya. Tapi begitu ia berbalik membelakangi Fara, ia tersenyum miring. Ini memang rencananya, biar semuanya berjalan cepat dan ia akan segera memiliki Velyn seutuhnya. Memikirkannya saja membuat hormon dopamin di dirinya melonjak tinggi.
Farhan kemudian berdeham membersihkan tenggorokannya, berusaha untuk menahan tawa yang rasanya ingin mendobrak kedua bibirnya yang tertutup rapat. Ia sudah bisa merasakan kedatangan Valerio, pendengaran yang dimiliki Farhan memang lebih tajam dibandingkan orang-orang lainnya. Maka dari itu, kelebihannya ini sangat berguna untuk situasi-situasi yang tepat seperti ini.
Pria itu kemudian memegang gagang pintu dan memutarnya lalu menariknya, ia tersenyum kecil sebelum mendongak menatap dua orang dengan ekspresi berbeda di depannya.
Reima melotot menatap Farhan, berkata melalui tatapannya, memeperingati lewat matanya. Dan Farhan hanya pura-pura tidak tahu serta mengangkat bahunya seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun.
Fara yang penasaran siapa orang itu karena seseorang selain mamanya tertutup tubuh Farjan, jadi ia tidak bisa melihat. Fara memajukan kursi rodanya, sampai ia berada di samping Farhan, barulah ia sadar dan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Valerio?!"
Melihat keterkejutan Fara membuat Reima hanya menghela nafas dan memijat dahinya pelan. Percuma, sudah terbongkar rahasia terakhir mereka. Ini pasti karena Farhan dan Fara yang membicarakan hal itu dan akhirnya Valerio mendengarkan lalu akhirnya semua orang akan tahu kalau mereka berbohong, mereka menyembunikan keadaan Fara sebenarnya.
"Kamu ke sini kok gak bilang-bilang? Kamu harusnya bilang dulu, Rio biar di siapin makanan," ujarnya dengan ceria, masih tidak paham, tidak mengerti jika Valerio sudah tahu rahasianya.
Valerio membersihkan tenggorokannya sebentar dan menatap Fara. "Mau tanya, Ra. Kamu jawab dengan jujur, bener kalau kamu sebenernya enggak lumpuh selamanya? Kamu masih bisa jalan asal terapi?"
Fara terkejut mendengar penuturan itu dan langsung menatap mamanya dengan pandangan menuduh. Seolah menyalahkan Reima atas kejadian ini karena ia berpikir siapa lagi diantara mereka bertiga yang bisa membeberkan rahasianya pada Valerio selain mamanya?
Reima yang melihat tatapan itu jelas tidak terima, ia sudah kesal dan sekarang tambah kesal akbiat ulah Fara dan Farhan, tapi kini malah ia yang dituduh.
"Kalian ... kalian berdua pasti bicarain tentang hal ini, kan? Kenapa? Mama pikir kamu di atas, Ra, makanya mama ke atas. Tapi rupanya kamu di kamar bawah sama Farhan. Apa yang kalian bicarakan? Apa coba sampai Valerio tahu hal ini, tahu rahasia kamu? Terus kamu malah salahin mama?" Reima menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan kecewa.
Fara sudah tidak bisa berkata-kata sedangkan Farhan terlihat tenang saja. "Valerio ... aku lakuin ini karena ada hal yang harus aku lalui, makanya aku rela begini," tuturnya dengan wajah panik. "Tapi mau gimanapun kamu pasti enggak akan percaya ya kan?" Raut wajahnya berubah dengan cepat, ia kini tampak sinis.
Valerio memicing menatap Fara. "Bukan masalah itu, Fara. Kamu bohong ke semuanya. Kalau dari awal kamu bilang kamu enggak lumpuh selamanya, semua gak akan kayak gini jadinya," balas Valerio marah. "Kamu pikir sebesar apa rasa bersalah Velyn atas ini? Kalau aja kamu jujur dari awal, dia juga pastinya enggak overthinking tentang kamu."
"Iya! Kalau aku bilang dari awal, kamu enggak akan ada buat aku, kan?" seru Fara langsung begitu ucapan Valerio terhenti. "Aku bener, kan? Kamu ada cuma karena kasihan. Dari awal udah begitu, jadi rasa cinta kamu enggak akan turun sedikitpun."
Reima hanya menghela nafas pelan sebelum berbalik dan menjauhi tiga orang itu. Ia sudah lelah akan hal ini. Satu hal yang menjadi akhir dari rahasia sudah diketahui satu orang yang jelas akan menyebarkannya ke orang-orang yang lain. Jadi, tidak ada lagi yang ia bisa jadikan alasan, semuanya terbongkar oleh ulah anaknya sendiri.
Farhan sendiri menunduk dengan sesekali melirik ke arah Valerio yang tampak marah dengan tenang. Farhan mengernyit, untuk apa selalu menahan amarah? Sangat tidak enak menurutnya jadi kalau marah, langsung saja sembur orang yang menyebabkan amarah itu keluar.
"Terserah ... terserah kamu. Aku juga gak peduli banget lagi." Fara mendongak dan tersenyum sinis pada Valerio. "Kalau orang-orang udah gak peduli sama aku walau aku cacat. Maka udah waktunya aku keluar dari zona sulit ini. Aku bakalan bisa jalan lagi."
Valerio tersenyum kecil. "Bagus. Biar Velyn enggak perlu ngerasa bersalah lebih lama. Toh ternyata orang yang selama ini ia pikirin ternyata bohong ke dia, bohong ke semua orang. Jadi ... bagus."
Fara semakin kesal jadinya. "Aku bakalan ambil kamu lagi dari dia, Rio!"
"Kamu sendiri yang bilang kalau aku deket sama kamu cuma karena kasihan, kan?" tanyanya telak, membuat Fara terdiam. "Makanya, aku peduli sama kamu, Ra, bukan kasihan. Tapi itu dulu, kamu beda banget sekarang. Kamu juga susah banget nerima kenyataan dan selalu cari-cari kesalahan orang lain."
"Coba kamu tuh lapang d**a, terima aja apa yang emang seharusnya terjadi. Gak terlalu nuntut sama apa yang udah jadi takdir. Mungkin semua orang bakal sayang sama kamu karena sabar banget hadepin semuanya. Tapi kenyataannya beda, kamu ngelakuin hal yang benar-benar bertolak belakang," ujar Valerio panjang lebar, matanya menyorot teduh.
Farhan melirik Fara yang terpana akan kalimat Valerio jadi tidak terima. Ia tidak akan membiarkan adiknya terhasut oleh pria di depannya.
"Bohong. Kamu gak perlu hasut Fara, ya. Ini udah jadi jalan terbaik yang harus ditempuh Fara. Hal ini semua jadi bukti siapa-siapa aja yang tetep peduli sama Fara. Yang namanya peduli, tetep ada kan walau yang dipeduliin mungkin ngelakuin kesalahan?" balas Farhan dengan mendongakkan sedikit dagunya, pertanda ia menantang Valerio.
Merasa sudah sampai di sini saja, Valerio menghela nafas dan tersenyum kecil. "Aku pulang dulu kalau gitu. Sampai jumpa," pamitnya tanpa basa-basi dan segera berbalik melangkah keluar dari sana.
Sekilas, ia melihat Reima yang duduk di sofa dengan mata terpejam dan tangan yang mengurut dahinya. Valerio tebak mungkin ibu satu itu kelelahan mengurus dua anaknya yang terkadang tingkahnya bisa terlalu diluar batas.
Tentang Farhan. Valerio mengernyit memikirkannya sembari menyetir ke arah kantornya. Farhan yang ia kenal sebelumnya adalah orang yang baik, ramah. Tapi sejak ia tidak bersama Fara, pria itu berubah drastis benar-benar memusuhinya. Padahal jika di pikir-pikir, pria seperti Farhan yang pemikirannya luas seharusnya tidak bersikap seperti itu.
Untuk beberapa detik, Valerio tiba-tiba berpikir di dalam kepalanya kalau mungkin saja Farhan punya dua kepribadian alias kepribadian ganda, tapi tidak mungkin rasanya walau mungkin-mungkin saja hal itu terjadi.
***
Farhan, Fara dan Reima duduk bersama di ruang tamu dengan pikiran yang berbeda-beda. Reima dengan pikirannya yang ruwet akan masalah percintaan anaknya, Farhan yang memikirkan langkah yang ia harus tempuh selanjutnya dan Fara dengan kedua kakinya.
"Besok Fara udah mau mulai terapinya, Ma," celetuk Fara yang membuat Reima mendongak ke arahnya. "Kalau bisa hari ini pun Fara mau, Ma. Fara harus sesegera mungkin bisa jalan lagi."
Reima menatap Fara lurus. "Besok, hari ini gak bisa. Mama bakalan bawa kamu ke dokter terbaik biar kamu cepet sembuh, tapi bisa Mama pinta satu hal dari kamu?"
"Apa, Ma?" tanya Fara antusias, matanya melebar dan tampak menunggu kelanjutan ucapan mamanya.
"Jauhin Valerio."
Bukan, bukan Reima yang berujar, melainkan Farhan. Ia menyela begitu saja dengan mata menunduk memperhatikan kukunya. Reima yang baru saja hendak berbicara jadi menoleh pada Farhan yang tampak santai di sebelahnya.
Farhan mendongak kemudian dan menatap Fara serta Reima bergantian. "Kenapa? Yang mau Mama ucap bener, kan? Jauhin Valerio, ya kan?"
Reima menarik nafas panjang dan menyandarkan punggungnya yang lelah ke sofa, ia melipat tangannya di d**a sedangkan Fara menatap Reima dengan pandangan bertanya-tanya. Sebelum Fara bertanya, Reima sudah mendongak dan mengangguk kecil padanya.
"Yang dibilang Farhan itu bener. Itu permintaan Mama. Kamu harus jauh dari dia." Reima serius, tatapannya tajam. "Mama cuma gak mau kamu larut dalam kesedihan, Ra. Kamu pantes bahagia, pantes dapetin pria lain yang lebih baik dari Valerio. Enggak usah lah ya kejer dia lagi, toh enggak akan bisa juga, Ra. Dia itu udah takdirnya sama Velyn," sambungnya menekankan seluruh katanya tapi tetap dengan nada yang tenang dan lembut.
Fara menipiskan bibirnya. Ia ingin menyanggah keras gagasan mamanya, tapi melihat Reima yang frustrasi, ia pun juga tidak berani begitu membantah.
"Aku tetep kejer dia, Ma."
Reima menghembuskan nafas kasar mendengarnya.
"Mama harus kasih aku dokter terbaik karena kesembuhan aku juga untung di Mama, kan? Mama gak perlu malu lagi punya anak cacat kayak gini."
Reima mengernyit. "Sejak kapan Mama bilang Mama malu punya kamu yang enggak bisa jalan? Enggak pernah, Ra. Kamu enggak bisa persepsikan satu hal kecil jadi terlalu besar, itu enggak akan masuk akal."
Fara terdiam, cukup lama hingga bermenit-menit kemudian. "Yauda," gumamnya yang ditunggu-tunggu Reima dan Farhan. "Fara bakal tetep kejer Valerio, tapi Fara janji ini yang terakhir, kalau enggak dapet juga, Fara nyerah."
Sebenarnya tidak sesuai dengan ekspetasi, tapi Reima sungguh senang! Bibirnya tersenyum lebar. Ini tentu kemajuan yang bagus!
"Okey. Mama pegang janji kamu. Kalau gitu sekarang juga Mama telepon dokter kenalan Mama."
"Terus Fara boleh minta satu hal lagi gak, Ma?" tanyanya yang membuat Reima terdiam dan khawatir dengan permintaan Fara selanjutnya.
"Iya? Apa itu?"
"Fara mau Fara tinggal di luar negeri aja. Biar Fara lupain semuanya," ungkapnya yang membuat Reima terdiam beberapa detik sebelum berseru kencang karena permintaan itu sesuai sekali dengan rencananya untuk putrinya itu.
"Ya ampun, Sayang. Iya iya pasti, Mama bakalan siapin yang terbaik buat kamu!" seru Reima mendekati anaknya dan memeluknya, membuat Fara terkekeh.
"Kenapa Mama seneng banget gitu? Belum tentu juga Valerio beneran nolak Fara, kan?"
Celetukan dari Farhan itu membuat Reima melempar tatapan tertajamnya pada anak sulungnya. "Kamu jangan ngerusak suasana!"
Farhan hanya mengangkat kedua pundaknya tak acuh. Ia juga tidak terlalu peduli bagaimana hasilnya untuk Fara. Toh sepertinya adiknya itu sudah menerima kegagalannya. Yang terpenting ialah ia sendiri, ia sungguh penasaran dengan Velyn dan harus mendapatkannya.
***