Ada yang pernah bilang jika sebuah rahasia yang begitu kuat di simpan, di tutup rapat-rapat pada akhirnya akan terbongkar juga, tercium juga dengan cara yang mereka sendiri tidak pernah terpikirkan.
Setelah kejadian siang itu. Velyn agak kaku dengan Valerio dan Valerio sudah mensugestinya berulang kali untuk tidak bersikap canggung. Alasan satu-satunya Velyn seperti ini hanyalah Fara. Walaupun masalah kecelakaan itu selesai dengan begitu saja, pihaknya meminta maaf dan pihak Fara tidak mempermasalahkan lagi meski tidak ada kata memaafkan, tetap saja Velyn merasa amat bersalah.
"Aku cuma ngerasa gak enak sama Fara. Kamu paham, kan? Kayak gimana gitu, Vale. Aku tau pasti, tau banget kalau dia cinta sama kamu, itu mungkin faktor terpenting kebahagiaan dia kalau dilihat dari gimana dia kukuh banget tadi, tapi aku malah diem aja dan biarin dia menderita. Kayak ... dia pasti udah suffer karena aku ... tabrak dia dan sekarang aku buat dia suffer lagi karena punya kamu sedangkan dia mau kamu."
Valerio mengangguk-angguk mengerti dengan perasaan. Tapi masalahnya .... "Coba jawab, kamu cinta gak sama aku?"
Velyn menoleh pada Valerio dengan tatapan sengit. "Kamu tau sendiri apa jawabannya."
"Emang apa?"
"Ya iya!"
Valerio tersenyum. "Yauda kalau gitu bertahan, awas aja kalau kamu ujung-ujungnya minta aku ke Fara, aku gak akan mau." Valerio berterus terang. "Aku tau kamu empati ke Fara, tapi gak sampai ngorbanin apa yang kamu punya, Vel."
"Aku tau ...," jawab Velyn pelan dan lirih. "Jadi harus gimana ke Fara?" tanyanya kemudian, ia terlalu bingung padahal menurut Valerio, jawabannya hanya satu.
"Yauda hapus rasa empati kamu."
Seperti yang Velyn duga, Valerio ini terkadang bisa benar-benar hilang rasa simpatinya ketika orang yang ia simpatikan sudah berulang kali berulah, jadi sudah kebal saja sekaligus muak.
"Gak segampang yang kamu pikirin," jawab Velyn bertopang dagu. Ia lalu melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. "Udah sore, kamu pulang aja, tadi di kantor kamu masih ada kerjaan juga, kan?"
Valerio menatap Velyn lurus-lurus. "Janji dulu kalau kamu gak akan mikirin itu mulu, trus kalau kamu mikirin sesuatu, coba kasih tau ke aku apa itu. Jangan kamu pendem dan rupanya malah ngecewain banyak orang," ujarnya serius.
Velyn tersindir rasanya, tapi memang terkadang ia memang melakukan hal yang diucapkan Valerio. "Iya, udah kamu pulang sana."
Valerio mengangguk dan bangkir berdiri, ia mengambil kepala Velyn dan mengecupnya tepat di puncak kepalanya sebelum kemudian mengambil langkah keluar dari rumah besar itu.
Setelah Valerio pergi, Velyn mengedarkan pandangannya mencari mamanya yang menghilang semenjak Fara dan mamanya angkat kaki dari rumah mereka.
Ia berdiri dan berjalan ke arah dapur di mana mamanya tadi pergi. Baru Velyn ingin menyerukan mamanya, ternyata si mama sedang duduk di halaman samping rumah, sendirian.
"Ma?" Velyn mendekat, heran melihat mamanya yang seperti itu, karena tidak biasanya mama diam dengan pandangan kosong seperti ini. "Mama kenapa?" tanyanya ketika dirinya sudah berada di samping tubuh mama.
"Gak papa, mama cuma pengen di sini aja, sejuk kena angin," ujar mama yang masih tidak membuat keheranan Velyn berkurang.
"Mama marah karena yang tadi? Yang Fara bilang kalau Valerio sama Vaden ngerencanain ini semua?" tanya Velyn lagi karena ia tidak percaya dengan jawaban mamanya.
"Enggak, Vel. Enggak ada apa-apa. Mama cuma mau di sini aja." Mama tetap memandangi lurus-lurus sebuah tanaman di depannya.
"Ma, Velyn serius, Mama kenapa sih? Pasti ada yang ganjel nih makanya mama gini." Velyn protes dan berlutut di samping mamanya. "Kenapa sih, Ma?"
Mama menarik nafas panjang dan menoleh ke Velyn. "Mama gak suka kalau ada yang marah-marah ke kamu kayak tadi. Cuma Mama yang berhak lakuin itu, enggak siapapun apalagi Fara. Kamu juga kenapa diam aja digituin? Mama gak suka, kamu harus lawan, harus balas balik kalau seseorang sakitin kamu, Vel."
Velyn mengerjap beberapa kali. Jadi, mama diam saja karena hal ini? Karena memikirkan dirinya?
"Kamu udah gede, bentar lagi pasti bakal jauh dari Mama sama Papa. Kamu harus bisa bedain mana yang bener-bener harus kamu balas dan enggak. Mama tau kamu gak enakan karena kecelakaan itu, tapi jelas kan kamu gak sengaja, udah minta maaf juga, jadi mereka harusnya enggak nuntut ini itu ke kamu. Dan kamu pun enggak perlu nahan-nahan diri buat bela diri kamu sendiri. Kamu paham, kan?"
"Iya, Ma. Maaf. Tapi bukan karena gak enakan juga kok, Ma. Velyn juga males ladenin sebenernya," ungkap Velyn tertawa pelan.
"Beneran?"
Mengangguk kuat, Velyn menambahkan. "Suer, Ma. Tapi jujur agak kaget begitu masuk rumah udah ada Fara dan Tante Reima. Kirain ada sau hal yang penting banget sampai tumben dateng ke sini, Mama juga tumben-tumbenan nelepon siang hari. Eh rupanya ini nyangkut tentang Valerio juga," kekehnya.
"Bukan kamu doang yang kaget, Vel. Mama awalnya juga kaget, Mama juga enggak dikasih tau tujuan mereka sebenernya apa. Mereka cuma minta Mama hubungi kalian, sampai ... ya gitu."
Velyn tersenyum miris. Ia menarik nafas dalam dan berkata, "Yauda deh, Velyn naik ke atas dulu ya, Ma. Mama masih mau di sini aja?"
"Enggaklah! Panas gini kok," seruan mama membuat Velyn memundurkan kepalanya. Buset, sifatnya berubah sekejap mata?
"Mama mau masuk." Dan mama pergi lebih dulu begitu saja meninggalkan Velyn yang geleng-geleng kepala melihat sifat mama yang mudah berubah seperti musim pancaroba.
***
Valerio tidak benar-benar pulang atau kembali ke rumahnya. Ada sesuatu yang mengganjal di perasaannya maupun pikirannya.. Ia sungguh ingin membangun sebuah hubungan yang baik dengan Velyn, hubungan serius yang nantinya bisa dibawa ke tahapan yang lebih serius. Tapi segigih apa Valerio, segigih itu pula Fara mendapatkan Valeiro. Ini jelas membuat langkahnya menjadi tersandung. Untuk itu Valerio harus menyingkirkan apapun yang menghalanginya, atau jika tidak ingin menggunakan aksi kasar dan jahat, ia harus meminta baik-baik agar apapun yang membuatnya tersandung jangan lagi menampakkan diri di hadapannya.
Untuk itu, Valerio memutuskan untuk datang ke rumah Fara. Ia ingin membicarakan hal ini lebih lanjut dengan perempuan itu. Lebih privasi dan ia ingin bertukar pikiran dengan Fara, mensugesti Fara tentang kebahagiaan yang tidak hanya berpusat pada pria apalagi Valerio.
Fara harus tahu gagasan tersebut.
Beberapa menit kemudian Valerio sampai di rumah Fara. Ia menarik nafas dalam dan meyakinkan dirinya lebih jauh lagi kalau tindakannya ini, tindakan yang ia rahasiakan dari Velyn memberi dampak baik bagi hubungannya dengan Velyn.
Valerio melangkah pasti ke arah beranda, ia mengetuk pintu rumah pelan dan menekan bel rumah. Berbeda dari biasanya yang super duper cepat dibukakan pintu oleh seseorang, kali ini lebih lama dari biasanya.
Valerio mengetuk pintu lagi dan agak kuat kali ini, ia juga menekan bel rumah lebih banyak dari awal tadi. Karena sudah dua menit dan tidak ada tanda-tanda orang yang akan membukakan pintu untuknya, membuat Valerio memutuskan untuk berbalik pulang, oh tidak maksudnya kembali ke kantor. Jelas tidak bisa bersantai di apartemennya sedangkan pekerjaan di kantornya sudah bertumpuk karena akhir-akhir ini ia selalu disibukkan dengan masalah percintaan yang entah sampai kapan habisnya.
Tapi, tiba-tiba seseorang dari belakang membuka pintu rumah, membuat Valerio mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia berbalik dan sudah menahan nafas berpikir orang yang akan ia lihat adalah Fara, tapi rupanya bukan. Orang yang berdiri di ambang pintu adalah Reima, bukan Fara.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Reima pelan, tidak ada kesinisan di wajahnya, tapi juga tidak ada ekspresi yang berarti ia hanya menampilkan wajah datar.
"Maaf Tante sebelumnya, tapi saya boleh ketemu Fara?" Valerio berujar pelan. Soalnya ini di luar ekspetasinya yang berpikir kalau Fara yang membukakan pintu untuknya, maka ia hanya harus mengajaknya ke taman depan rumah dan membicarakan segalanya. Tapi yang ada malah Reima, Valerio tidak yakin ia akan diijinkan masuk ke dalam rumah.
"Untuk apa? Gak capek kamu sakitin hati anak saya? Kamu cintanya ke Velyn, kan? Yauda sana sama dia aja, enggak perlu ke Fara lagi karena kamu harus mikir kalau kamu yang selalu ada di depan dia itu buat dia susah move on. Itu kan yang kalian mau? Terus kenapa dateng-dateng begini? Apa rencana kamu?" Reima sudah kehilangan prasangkan baiknya pada orang lain, khsusunya Valerio dan Velyn.
"Ada yang Valerio bicarakan sama Fara, Tante. Ini mungkin agak sensitif tapi Valerio mau Fara bisa bahagia dengan cara lain, bukan kayak gini karena dia juga yang kasihan," tutur Valerio dengan amat jujur, wajah dan hatinya sungguh tersinkron. Dan hal itulah yang akhirnya membuat Reima mengatakan ...
"Yauda boleh," ujarnya memundurkan tubuhnya, memberi ruang untuk Valerio masuk ke sana. "Kamu tunggu di ruang tamu aja, saya mau panggilin Fara," sambungnya sembari menutup pintu rumah.
Sesuai dengan arahan Reima, Valerio duduk di sebuah sofa mewah dan melirik arlojinya berkali-kali untuk menghitung waktu kira-kira kapan yang tepat untuk ia kembali ke perusahaan lalu mengerjakan semuanya dengan tepat waktu.
Sampai sesaat kemudian, Valerio mendengar sayup-sayup orang yang sedang berbincang serius dari sebuah kamar. Valerio mengernyit, ia jelas mengenali suara itu walaupun perkataannya tidak begitu jelas di telinganya, tapi ia tahu orangnya, ia adalah Fara. Berbicara dengan seorang pria yang Valerio tebak adalah Farhan
Valerio mengernyit, kalau begitu kenapa Reima repot-repot ke atas untuk memanggil Fara? Tapi tunggu, Valerio mengingat sesuatu, Fara memang pernah berkata padanya kalau ia punya dua kamar, masing-masing di lantai atas dan juga bawah. Ia suka yang di bawah karena jendela kamarnya berhadapan langsung dengan sebuah taman bunnga matahari yang ia amat suka pandangi.
Karena Reima tak kunjung kembali, Valeiro pun bangkit dan dengan cepat mendekati pintu kamar di mana suara Fara dan Farhan berasal. Valerio menunggu selama semenit di depan pintu, suara mereka masih tidak jelas karena semakin ia mendekat ke arah pintu kamar semakin pelan bicara mereka.
Valerio awalnya hanya berjarak selangkah dari pintu, tapi karena semakin penasaran maka ia lebih mendekatkan tubuhnya. Belum juga sampai betul-betul ke pintu, sebuah seruan selanjutnya yang ia dengar dari Fara membuatnya terdiam di tempat.
"Aku besok bakalan terapi! Biar bisa jalan lagi!"
Mata Valerio membulat. Ia terkejut mendengarnya. Jadi Fara sebenarnya masih bsia sembuh? Lalu kenapa ia sering-sering menangis tentang hal ini padahal ia juga tahu sendiri jika Fara bisa berjalan kembali. Kalau memang benar begitu, maka Velyn menipu semua orang.
"Iya. Tenang aja, besok kakak temenin kamu. Kamu harus cantik supaya bisa kalahin Velyn di mata Valerio. Kakak yakin kamu bisa, asal kamu gigih aja okey?"
"Okey!"
Percakapan itu begitu lancar selayaknya air yang mengalir dari hulu ke hilir. Tapi keterkejutan dan rasa penasarannya yang lebih dalam itu harus terhenti saat itu juga karena tiba-tiba Reima memanggilnya.
"Valerio? Kamu ngapain di situ?!" Reima berseru tidak suka.
Valerio berbalik 90 derajat ke arah Reima dan tersenyum kecil. "Jadi sebenarnya, ada kesempatan untuk Fara bisa jalan lagi, Tan?"
Valerio tampak anteng dan santai saja walau rasa terkejutnya masih tidak ada habisnya. Berbeda lagi dengan Reima yang menampilkan ekspresi terkejut yang amat sangat seolah ia menelan sebuah batu raksasa dan tersangkut di tenggorokannya.
.
***