41. Maaf, Tidak.

1820 Kata
Velyn melirik ke bawah di mana tangan Valerio menggenggam tangannya erat, sungguh erat seolah ia ingin mengucapkan sesuatu dari kaitan dua tangan itu. Velyn paham, Valerio menyuruhnya untuk menahan. Hal apa yang harus ditahan pun Velyn juga tahu. Maka dari itu, ia berusaha tenang dan diam saja saat .... "Aku kayak gini karena Velyn!" seru Fara murka. Velyn memejamkan matanya erat. Kenapa Fara melakukan ini? Bukankah ini hal yang cukup memalukan? Ia tampak terlalu mengemis cinta Valerio. "Dan kamu Velyn! Harusnya kamu sadar kalau karena kamu, semua kebahagiaan aku hilang! Coba dari awal aku gak pernah ketemu kamu, mungkin hidup aku enggak bakalan kayak gini!" Dan Fara semakin murka, ia mulai kehilangan kendali dan ini buruk. "Kalian udah rencanain ini, kan?! Ngatur seolah Vaden peduli, cinta sama aku, padahal aslinya enggak! Vaden cuma mau nyita perhatian aku biar aku lengah dari Valerio dan kalian berdua bisa bersama. Iya, kan?!" Genggaman di tangan Velyn semakin mengerat. Valerio benar-benar memintanya untuk tetap diam. Ya lagipula Velyn tidak tahu harus membalas apa, yang dikatakan Fara memang benar adanya. "Itu dilakuin biar kamu enggak terlalu sakit hati, Ra. Niat kita enggak buruk. Cuma--" "Kamu bilang enggak buruk aku dapet harapan palsu? Gak buruk kamu bilang?! Jadi kalau itu enggak buruk, gimana bentuk yang buruknya?" Fara mendongak menantang Valerio. "Coba kasih tau aku! Kalian cuma tau mempermainkan perasaan orang lain! Coba kalian yang ada di posisi aku, gimana perasaan kalian hah?!" Fara mulai menitikkan air mata, ia juga menjambak rambutnya sendiri dan sesekali memukuli dadanya seolah ia merasa begitu sakit di dalam sana. Velyn melirik Valerio yang menggeleng padanya. Valerio memberi isyarat agar Velyn tetap di posisinya. Pria itu tidak mau jika Velyn terenyuh dengan kondisi Fara dan akhirnya merelakannya pada Fara. Tolong, masalahnya di sini ialah Valerio yang tak rela, ia tidak mau berpisah lagi dengan Velyn. "Fara. Kamu harusnya enggak sejauh ini. Banyak yang peduli sama kamu, mama dan kakak kamu contohnya. Kenapa kita enggak berhubungan baik aja kayak sahabat. Aku sama Velyn pasti dengan senang hati--" "Enggak mau!!" teriak Fara dengan gelengan kencang. "Aku gak mau cuma sahabat, Valerio! Aku gak mau ...." Fara melemah dan Reima yang dari tadi sudah berlutut di depan anaknya dengan cepat menyanggah tubuh Fara yang lunglai serta merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Mama Velyn tidak angkat bicara sekalipun. Ia dengan mimik datar hanya mengawasi semua kejadian yang terjadi di depan matanya. Satu-satunya hal yang membuatnya terkejut adalah fakta bahwa Vaden memberi harapan palsu pada Fara. Setelah ini, ia mungkin akan menanyakan pada Velyn lebih lanjut. Jelas saja karena sebagai seorang ibu, melihat anak tersayang ditipu cinta oleh seseorang, ia pasti merasa sakit hati. Mama hanya berharap jika Velyn tidak ikut-ikutan dalam rencana itu, karena kalau iya, mama akan sangat marah padanya. "Ssst, Sayang. Udah, ya. Kamu harus tenang. Jangan biarkan emosi kamu ambil alih, okey?" Reima mencoba menenangkan Fara yang nafasnya naik turun tidak beraturan. "Kalau gak, kita pulang aja, ya. Mama bakal panggil dokter yang kamu paling suka. Oke?" Fara menggeleng kuat. Ia masih kukuh dengan kemauannya yaitu kembali menjalin hubungan dengan Valerio, terlihat sekali dari pancaran yang terpancar dari kedua matanya. "Enggak, Ma. Fara gak mau." Gerakan demi gerakan di depan mata Velyn seolah melambat, Velyn terenyuh melihat bagaimana Reima begitu peduli pada Fara walaupun Velyn yakin Reima paham betul kalau hal ini sebenarnya agak memalukan. Velyn melepas genggaman Valerio membuat pria itu terkejut dengan aksinya. Tapi Velyn tak peduli, ia berjalan ke arah Fara dan ikut berlutut di samping Reima, membuat ibu dan anak itu saling menoleh pada Velyn. "Ra. Kamu gak boleh gini," ujar Velyn pelan. "Kamu gak bisa maksa sesuatu yang gak bisa sama kamu, kamu harus paham. Jangan terlalu berlebihan karena suatu saat kamu yang nyesel udah permaluin diri sendiri." "Tahu apa kamu tentang permaluin diri sendiri?" tanya Fara mendongak dengan mata mengarah ke bawah. "Kamu yang enggak tau malu, kamu rebut semua kebahagiaan aku. Kamu gak malu? Oh jelas enggak, seorang Velyn enggak pernah punya malu." "Jaga mulut kamu." Mama menyela cepat. "Velyn udah enggak punya masalah apapun sama kamu. Semuanya udah selesai, damai. Ditawari bantuan, mama kamu enggak mau. Jadi enggak perlu ungkit-ungkit tentang kecelakaan itu lagi." "Dan harusnya kamu ngaca, Fara. Siapa yang enggak tau malu? Kamu atau Velyn? Di sini saya enggak pandang bulu, tapi logikanya, kamu yang enggak tau malu. Udah tau kan kalau Valerio punya Velyn, keduanya saling cinta. Tapi kamu malah dateng-dateng minta Valerio balik padahal Valerio sendiri enggak mau. Jadi, siapa yang enggak punya malu sekarang?" Mama mendongak menatap Fara, menirukan gaya Fara tadi ketika melihat Velyn, begitu merendahkan. Sebagai ibu, tentu ia tidak terima Velyn diperlakukan seperti itu. Tapi sebagai manusia yang baik budi pekerti, secara logikanya, jelas Fara lah yang urat malunya sudah putus. "Kamu juga jaga mulut kamu," desis Reima yang hanya ditanggapi senyuman oleh mamanya Velyn. "Aku gak akan begini kalau anak kamu enggak mancing, Reima. Fara itu cantik, pinter, semuanya hampir sempurna, ada banyak pria di luar sana dan beberapa pasti tulus. Kenapa harus selalu berputar pada Valerio? Kayak enggak ada pria lain aja," ujar mama pelan, bermaksud mengingatkan Fara kalau iapun berharga, jadi jangan bertindak rendah karena seharusnya harga diri Fara itu tinggi sekali. Fara terdiam, begitupun Reima. "Tapi Fara cintanya sama Valerio, Tante," lirih Fara, ia menunjukkan sisi terapuhnya pada mama. "Gimana bisa Fara ke pria lain sedangkan hati Fara masih kekunci sama Valerio," sambungnya dengan air mata berlinang. "Ada caranya. Kamu harus ikhlas kalau takdirnya Valerio harus sama Velyn. Kamu harus lapang d**a kalau kebahagiaan Valerio ada di Velyn. Toh, kamu cinta, kan ke Valerio? Harusnya kamu bisa luas hati buat lepasin Valerio, bukan malah maksa, kamu keliatan obsesi alih-alih cinta ke Valerio," turur mama panjang lebar. Tadinya diam, sekali bicara, menyakitkan. Reima pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang benar harusnya begitu. Tapi apa daya, Reima hanya ingin anak-anaknya bahagia. Maka dari itu sebisa mungkin ia selalu mengabulkan apa-apa saja yang menjadi keinginan mereka. "Tante gak tau dan Tante gak paham sama apa yang aku rasain! Jadi diem aja! Enggak perlu ngomong panjang-panjang, toh aku gak mau dengerin," ujar Fara dengan tawa yang terdengar aneh. Mereka bertiga selain Reima bahkan mengernyit mendengar suara tawa Fara. Aneh, dan sedikit menyeramkan. Reima yang sadar situasi dan kondisi fisik serta hati Fara mulai down, dengan cepat menyadarkan Fara. Ia juga dengan sepihak mendorong kursi roda Fara begitu saja. Sayangnya, Fara tidak mau pergi, ia memegang roda kursinya agar tidak berputar. Ia tidak peduli telapak tangannya memerah karena ia sungguh tidak bisa pergi saat itu juga. Ia ingin Valerio kembali padanya lebih dulu baru lah ia mau pergi dari sana. "Enggak, Ma. Enggak! Fara mau tetep di sini. sama Valerio. Biarin Fara di sini aja, Ma!" serunya sedari tadi, tidak peduli ia sekarang sudah menjadi pusat perhatian. "Ra, kita pulang dulu ya. Kamu harus pulang biar kondisi kamu norma kembali? Gimana?" tanya Reima pelan, ia berkata lembut sekali karena memang, jika ia semakin memarahi atau membentak Fara, maka jiwanya akan semakin terguncang. "Tapi, tapi Fara masih perlu denger jawaban dari Valerio, Ma," jawab Fara lesu, ia menunduk dengan bibir merengut, matanya kembali berair dan tumpah. Valerio berdeham mendengar kalimat terakhir Fara. "Kalau kamu mau pergi abis aku ucapin jawaban final kamu, baik aku bakal jawab. Jawabannya adalah, Maaf, enggak. Aku sadar aku enggak akan bisa, Ra." Fara menatap Valerio penuh sakit hati. "Apa kamu kayak gini karena aku cacat?" Valerio menggeleng. "Kalau karena kelumpuhan kamu aku nolak, maka dari dulu aku enggak akan mau, ya kan Ra? Ini bukan soal fisik, tapi hati dan hati gak bisa dipaksain, Ra." Fara menipiskan bibirnya, ia menggeleng. "Ini tuh karena Velyn! Harusnya dari awal dia tuh gak balik ke sini! Pasti Valerio bakalan tetep sama aku!" Velyn hanya melihat Fara tanpa bersuara sedikitpun, ia sudah tidak tahu harus apa. Fara tamppaknya begitu kukuh mendapatkan Valerio, tapi ia juga tidak mungkin melepaskan pria itu karena ia pun juga mencintainya. "Justru karena Velyn kembali makanya aku sadar sama perasaan aku sebenernya, Ra. Kalau hubungan itu terus lanjut dan pada akhirnya hampa, ujung-ujungnya malah sengsara. Jadi ini yang terbaik, Ra. Yakin aja kalau takdir ini yang terbaik buat kamu." Valerio menoleh ke Velyn yang sedang menatapnya, ia mengedikkan dagunya ke samping memberi isyarat agar Velyn kembali ke tempat duduknya. Percuma, ia berlutut di sana mencoba menenangkan Fara pun yang ada perempuan itu semakin histeris. "Enggak! Aku gak mau! Aku gak mau kayak gini, Valerio! Kalian udah nipu aku dan kalian harus bertanggung jawab! Valerio harus sama aku!" Reima sudah tidak tahan, ia sakit hati melihat Fara yang seperti ini. Ia berdiri dan segera mendorong kursi roda Fara pergi dari sana. Sudah tidak sempat lagi untuk sekedar berpamitan karena ia juga sibuk fokus pada Fara agar anaknya itu tidak memberontak. "Mama! Fara belum mau pulang!" teriak Fara di ambang pintu rumah Velyn. Ia hendak berdiri dari kursi rodanya, tapi sadar kalau kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali. "Mama ... plis, Fara masih mau perjuangin Valerio," lirihnya kemudian. Reima menahan tangis, ia masih mendorong kursi roda Fara menjauh. Ia memang tidak tahu permintaan Fara bisa terpenuhi atau tidak, tapi mungkin ia akan berusaha sekeras mungkin. "Kita pulang dulu ya, Ra. Kita bahas lagi di rumah, bareng kakak kamu." Fara terisak, ia berkali-kali tersedak karenanya. Di dalam dirinya, sudah tidak ada rasa malu mengemis cinta seperti ini. Hati Fara sudah beku, ia tidak peduli apa kata orang lain karena yang terpenting ialah keinginannya yang terpenuhi, entah dengan cara apapun. *** Farhan berdiri di ambang pintu kamar Fara dengan sebelah tangan masuk ke dalam sakunya dan bahu yang menyandar pada kusen pintu. Ia terdiam dengan bibir rapat melihat ke arah Fara yang juga diam menatap ke arah luar jendela. "Jadi ... tadi kamu ke rumah Velyn? Terus jumpa Velyn sama Valerio juga? Dan dengan bodoh mohon cintanya Valerio gitu?" Farhan terkekeh. "Ra, kenapa kamu kayak gini? Ini udah keterlaluan, kamu gak perlu rendahin diri kamu begitu. Udah kakak bilang kan kakak ada rencana buat misahin mereka berdua, tapi kamu malah bertindak sendiri dan ujung-ujungnya kecewa lagi." Fara masih diam, nafasnya naik turun beraturan. "Mau kamu sampai sujud di kakinya pun, emang enggak akan bisa dipisahin, udah jelas banget, Ra." "Kalau gitu berarti emang enggak ada kesempatan buat aku dapetin Valerio dan kakak dapetin Velyn, ya kan?" sahut Fara cepat. "Oh enggak! Maksudnya, ya kalau dengan cara biasa, kayak yang kakak bilang, sujud pun enggak bisa. Tapi beda cerita kalau kita lakuin rencana yang enggak biasa," tutur Farhan tersenyum miring. Fara mengernyit dan memutar kursi rodanya hingga ia berbalik menatap Farhan. "Rencana enggak biasa? Rencana apa?" Farhan mendongak dan mengedikkan dagunya ke arah kaki Fara. "Ada. Dan pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah terapi secepat mungkin supaya kamu bisa jalan lagi." Fara menunduk menatap kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan sama sekali. Memang benar, ia pun juga sudah bosan dengan keadaan seperti ini. Jadi ia harus bisa sembuh dan bisa berjalan kembali agar ia cantik seperti gadis kebanyakan. Jadi untuk soal fisik, ia tidak kalah dari Velyn. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN