Mungkin sebuah bencana jika Vaden pergi. Karena tidak ada siapapun yang menahan Fara. Tapi jika bukan menjadi bencana untuk semua orang, maka menjadi bencana bagi Vaden sendiri.
Sudah beberapa hari berlalu tapi Vaden memang menghilang seolah ditelan bumi, jujur saja Velyn merasa kehilangan. Ia pikir rasa kehilangan itu nantinya akan hilang, tapi ternyata tidak, malah semakin kuat. Ditambah lagi dengan rasa penasaran akan siapa calon istri Vaden membuatnya semakin memikirkan pria itu setiap harinya.
Velyn sudah mencoba menstalking akun i********: Vaden, melihat siapa yang ia ikuti di sana, mencari seseorang yang mungkin bisa ditanyai tentang hal ini. Velyn juga pernah kepikiran ingin ke Australia, tapi ia berpikir kembali. Australia luas, tidak mungkin ia mencari Vaden diantara jutaan orang di sana.
"Vel?"
Velyn menoleh pada Valerio yang duduk di sampingnya, sekarang ia merasa sudah seutuhnya memiliki Valerio, tidak ada gangguan dan semuanya berjalan aman serta tentram, kehidupan yang ia inginkan. Tapi, tak ada Vaden, rasanya kurang. Ia juga rindu dengan panggilan sayang pria itu.
"Kamu mikirin apa?" tanya Valerio lembut. "Vaden lagi?"
Valerio memang tidak bisa dibohongi, ia bisa menebak perasaan Velyn dengan tepat kadang-kadang.
"Iya. Bukan apa-apa, Vale. Tapi dia itu udah jadi salah satu orang penting di hidup aku, kadang dia yang ada sama aku pas kamu gak ada, jadinya ya rasanya kosong aja enggak ada dia," ujar Velyn yang sudah berapa kali ia katakan ketika Valerio bertanya kenapa ia memikirkan Vaden selalu.
"Kamu suka sama dia?"
Velyn menatap Valerio lesu, perkataan itu sering dilontarkan Valerio dan ia selalu menjawab, "Enggak, Vale. Suer," ujarnya sembari terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang selalu kaku ketika sudah membahas Vaden.
"Kalau kamu di posisi aku, gimana? Aku punya sahabat perempuan yang deket banget, sampai orang-orang mikirnya kita pacaran. Tapi akhirnya dia pergi karena suatu alasan, aku kembali ke kamu dan masih terus inget dia. Apa yang kamu bakal lakukan dan apa yang kamu rasain?" Valerio mencoba membuat Velyn tahu rasanya cemburu ketika orang yang dicinta malah terus-terusan memikirkan orang lain.
Velyn bisa merasakannya, bagaimana jika ia ada di posisi itu dan jujur ia merasa sakit hati. Mungkin ini juga yang dirasakan Valerio. Tidak, tidak 'mungkin' lagi tapi memang seperti itu.
Velyn menghela nafas dan memeluk Valerio dari samping, ia memeluknya erat hingga Valerio tidak mampu bergerak lagi. "Maaf, Vale. Maaf banget. Iya, aku gak bakal inget dia lagi, maaf ya."
"Kamu gak perlu lakuin itu kalau terpaksa, gak papa, pikirin dia aja terus."
Velyn merengut dan melepaskan pelukan, ia menatap Valerio sebal. "Serius ini? Aku inget Vaden terus gak papa? Kamu sendiri yang nyuruh, kan? Padahal aku udah gak mau ingat."
Valerio dengan gemas mencubit bibir Velyn hingga si empu tak bisa berbicara lagi. "Ini bibir ya ...," geram Valerio sebelum terkekeh pelan meliha bibir Velyn yang sudah seperti muncung ikan, tapi kemudian ia melepaskannya, membuat Velyn bersungut kesal dan mencoba melakukan hal yang sama pada Valerio, hanya saja tidak bisa karena Valerio sudah memegang kedua tangannya terlebih dahulu.
"Kamu curang!"
Valerio hanya tertawa, tapi sesaat setelahnya matanya berpendar serius. "Serius, Vel. Kamu gak boleh mikirin dia, inget-inget dia, kamu paham kan? Seenggaknya hargai aku di sini."
Tawa Velyn surut sebentar mendengar penuturan itu, tapi kemudian ia memasang senyum lebar. "Iya. Aku bakal coba buat enggak mikirin dia lagi," ujarnya.
"Bukan cuma 'bakal coba' tapi kamu 'harus' lupain dia. Kamu juga enggak perlu penasaran dan mikirin tentang istri Vaden itu. Kalau dia mau ngenalin suatu saat nanti, pastinya kita bakal tau. Kamu juga gak perlu bertanya-tanya sama diri kamu sendiri tentang Vaden yang beneran nikah atau enggak, karena yang dia bilang ke aku ya kayak gitu." Sebelah tangan Vaden mengusap lembut punggung tangan Velyn.
"Iya deh. Tapi jujur aku tuh masih gak nyangka aja Vaden pergi gitu aja tanpa kabarin aku sebagai sahabat dia. Kamu juga, kamu tahu dia pergi tapi gak bilang-bilang ke aku," ujar Velyn menuduh Valerio.
"Kan dia yang minta. Aku gak bisa apa-apa," balasnya mengangkat kedua bahunya pelan. Tapi sejujurnya Valerio juga tidak mau memberitahu Velyn walau ada kesempatan, apa ia jahat? Entahlah.
Velyn hendak menjawab namun sebuah deringan dari ponselnya membuatnya mengurungkan kalimatnya. Ia melihat si penelepon dan ternyata mamanya. Velyn melirik Valerio terlebih dahulu dan pria itu mengangguk barulah ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah balkon ruangan Valerio.
"Halo, Ma." Velyn menyapa lebih dulu, sebelah tangannya merapikan rambutnya yang berantakan ditiup angin.
"Vel? Kamu di mana sekarang?"
Velyn menoleh ke belakang sesaat. "Di kantor Valerio, Ma. Ada apa mama nelepon Velyn? Tumben banget." Velyn mengernyitkan dahinya.
"Kamu bisa pulang sekarang? Bawa Valerio sekalian, ada yang penting."
Sebenarnya dari nada suara mama saja Velyn sudah bisa menebak kalau ada yang penting yang akan disampaikan mamanya karena jika tidak, mamanya tidak akan seperti ini. Dan jarang sekali menghubunginya di saat siang hari karena mama selalu berpikir kalau siang adalah waktu dimana semua orang tidak dapat di ganggu. Tapi sekarang? Hal penting apa yang membuat mama melanggar prinsipnya itu?
"Vel? Bisa?"
"Em bentar aku tanya ke Valerio dulu ya, Ma." Velyn menoleh ke belakang di mana Valerio juga menoleh ke arahnya. "Kamu di ajak mama ke rumah sekarang. Gimana?" tanyanya yang terdengar oleh mama di seberang sana.
Valerio mendenga itu langsunng cerah ceria, ia dengan cepat mengangguk menerima ajakan itu. Lagipula siapa yang tidak excited jika calon mertua mengundang untuk datang ke rumah? Ini pertanda bagus, mungkin.
Setelahnya Velyn berbalik kembali dan melanjutkan percakapannya dengan mamanya.
"Iya, Ma. Kata Valerio 'iya'. Emangnya ada apa ya, Ma? Yang penting yang mama bilang tadi apa?"
"Udah kamu ke sini aja dulu. Secepetnya ya." Dan setelahnya panggilan di putuskan sepihak oleh mama, membuat Velyn semakin terheran-heran.
"Gak biasanya mama kayak gini," celetuk Velyn berdiri menghadap Valerio. "Memangnya hal sepenting apa yang buat mama seserius ini?"
"Kamu berpikir positif aja, mungkin hal penting yang di maksud itu hal bagus tentang hubungan kita," ujar Valerio dengan nada lucu, ia juga tertawa. Tapi, tawanya tidak sampai ke Velyn. Perempuan itu yakin kalau ada sesuatu yang penting tapi tidak bagus sedang menunggu mereka di rumah. Tapi apa? Velyn juga tidak tahu, ia tidak bisa menebak sama sekali.
***
Siang itu di sebuah ruang tamu rumah yang tidak asing, duduk tiga perempuan dengan suasana yang cukup kaku. Tidak ada percakapan yang tercipta.
"Velyn pulang sebentar lagi," ujar mama Velyn pada dua perempuan di depannya. "Dia juga bawa Valerio, seperti yang kalian minta."
Di depan mamanya Velyn, ada Reima dan putrinya, siapa lagi jika bukan Fara. Mereka tiba-tiba saja datang padahal tidak diundang, mengetuk pintu rumah dan meminta masuk.
Mama sebenarnya sudah punya feeling tidak enak ketika ibu dan anak satu ini datang ke kediamannya, ia sudah menduga jika hal ini pasti berkaitan dengan Velyn. Dan ya, benar saja. Mereka ingin mama bertanya di mana Velyn, jika ia sedang bersama Valerio, maka suruh dia pulang sekarang juga.
Mama tidak ingin menuruti awalnya. Tapi Reima dengan santai berkata.
"Fara sudah lumpuh bertahun-tahun, ia perlu bahagia dan bahagianya itu ketika ia memiliki Valerio di sampingnya. Dari awal, Velyn udah ninggalin Valerio. Fara yang ada di sampingnya, dan udah jelas kalau harusnya Valerio bersama Fara."
Mama hanya tersenyum. Firasatnya waktu itu benar. Tapi, itu permintaan mereka, tidak tahu Valerionya akan bagaimana. Entah menolak atau menerima. Mama tidak memprotes apapun dan hanya menelepon Velyn. Toh jawaban ada di tangan Valerio, tapi salahkah mama jika yakin kalau Valerio menolaknya?
"Kenapa lama banget ya?" Fara melenguh, ia juga mengusap dahinya yang berpeluh. "Ruang tamunya enggak ada AC, ya, Tan? Kok kerasa panasnya?"
"Ada tapi cuma satu," jawab mama terkekeh pelan. "Harusnya tadi kamu bawa kipas angin genggam biar enggak kepanasan. Orang sejuk gini kok."
Fara terdiam mendengarnya, mungkin kalimat itu berisi sebuah saran. Tapi di telinganya, entah kenapa kalimat itu menyindirnya.
"Udah kamu tunggu aja, bentar lagi mereka sampai," gumam Reima mengusap punggung Fara.
Benar, tidak lama setelahnya, suara sebuah mobil terdengar dari halaman depan rumah. Fara tertarik dan menoleh ke belakang, menanti seseorang yang akan berjalan melalui pintu depan.
Mama hanya menatap Fara dengan tatapan bersimpati, kasihan. Jadi, setelah Vaden pergi, ia ingin merebut Valerio kembali? Bukankah Fara sadar kalau sikapnya itu seperti orang yang mengemis cinta? Kalau mama jadi Fara, mungkin mama masih akan memikirkan tentang harga diri. Bagaimana orang menilainya jika ia berbuat terlalu jauh seperti ini?
Beberapa detik setelahnya, Velyn dan Valerio berjalan bersebelahan masuk ke dalam rumah. Mereka berdua sama-sama terkejut ketika melihat ada Reima dan Fara duduk di sana, di depan mamanya.
Mama menatap Velyn dan Velyn menatap mamanya. Dari mata saling pandang dengan mama yang mengedikkan dagunya ke arah Velyn saja, membuat Velyn sudah paham tujuan anak dan ibu itu datang ke rumahnya.
Ia tersenyum di dalam hati sebelum melirik mendongak pada Valerio yang menatapnya penuh dengan tanda tanya. Velyn lalu menarik pergelangan tangan Valerio agar pria itu kembali melanjutkan langkahnya sampai mereka berdua duduk di sofa yang sama di samping mama.
"Ada apa ya ini?" tanya Velyn berbasa-basi sembari terkekeh pelan. Ia juga menyalami Reima lebih dulu diikuti Valerio. "Tante sama Fara tumben main ke sini. Ada apa, ya?"
"Fara, kamu apa kabar?"
Fara tersenyum lesu karena harapannya Valerio yang berkata seperti itu, tapi malah Velyn yang menanyakannya.
"Biasa aja," jawab Fara singkat.
Untuk sesaat tidak ada lagi obrolan, semuanya diam. Valerio sibuk melirik Velyn dan yang dilirik tidak melirik balik. Valerio hanya ingin bilang ke Velyn, kalau apapun yang terjadi nanti, Velyn jangan mendorongnya ke Fara. Ia tidak mau!
"Jadi ...."
Seluruh pasang mata menatap Reima ketika wanita itu mulai berbicara.
"Tante mau tanya ke Valerio. Kamu masih cinta ke Fara?"
Fara menatap mamanya dengan kaget, tiga orang yang lainnya bisa melihat dengan jelas. Ini karena yang ditanyakan Reima keluar dari skenario, harusnya ia tanpa bertanya, tanpa berbasa-basi, langsung mengatakan kalau Fara mencintai Valerio dan menginginkan Valerio kembali. Kenapa malah bertanya?! Karena pasti jawaban Valerio akan ....
"Enggak, Tante. Maaf. Valerio cintanya sama Velyn," jawab Valerio mantap. "Dan mungkin bisa diralat sedikit, Valerio sebenernya enggak cinta ke Fara, tapi lebih ke peduli. Maaf sekali lagi, Tante."
Reima tahu Fara sedang menatapnya dengan kesal, kecewa. Tapi ia juga punya alasannya sendiri. Ia tidak ingin terlihat kasihan karena meminta Valerio kembali bersama Fara sementara ia tahu benar kalau cintanya Valerio hanya ada untuk Velyn. Jadi, ia tidak ingin malu saja di depan Mamanya Velyn dan juga Velyn sendiri.
"Tapi Fara masih cinta sama Valerio!" seru Fara karena sudah bisa menebak kalau mamanya tidak akan mengucapkan apapun lagi. Mungkin jawaban Valerio adalah hal mutlak, tidak bisa dinegosiasi dan semuanya usai.
"Bukannya terakhir kali kamu sama Vaden, Ra? Kamu cinta kan sama dia?" Valerio membalas.
"Iya tapi dia pergi, Rio! Dia ninggalin aku!"
"Jadi karena kamu ditinggal dia baru ke aku?"
"Enggak-enggak! Bukan gitu! Aku salah paham tentang perasaan aku ke Vaden, sebenernya aku cintanya sama kamu, bukan ke Vaden," ujar Fara dengan tatapan sedih, matanya sudah berkaca-kaca hendak menangis.
Tapi Valerio tersenyum, ia menggenggam tangan Velyn lembut. "Maaf, Ra. Tapi aku juga salah paham tentang perasaan aku ke kamu, sebenarnya dari dulu emang Velyn yang selalu ada di hati aku. Bukan kamu."
Fara terperangah tidak percaya mendengar kalimat itu. Menurutnya itu terlalu gamblang, menolaknya di depan semua orang, apakah Valerio sudah tidak memiliki rasa apapun lagi padanya sampai melakukan hal seperti ini?
***