Velyn sedang menata perasaannya ketika tiba-tiba sebuah nomor asing meneleponnya.. Ia tidak tahu siapa pemiliknya, tapi ia bukan Valerio yang asal memutuskan panggilan dari nomor asing, jadi Velyn dengan cepat menerima panggilan itu dan suara orang di seberang langsung membuatnya menghela nafas.
"Ini Fara. Kamu tau di mana Vaden?"
Nah, pertanyaan yang tepat tapi sekaligus pertanyaan yang tidak ingin didengar oleh Velyn saat ini. Bagaimana tidak jika ia sendiri masih tidak mau mempercayai jika Vaden sudah pergi? Lagipula, Fara adalah orang paling di wanti-wanti dalam hal ini. Velyn bahkan tidak bisa menebak akan bagaimana ia jika diberi tahu kalau Vaden sudah tidak berada di negara yang sama.
"Halo?"
Velyn menghela nafas berat. Mau bagaimana lagi, lebih baik ia jujur saja. Untuk hasilnya, nanti saja. Ia tidak punya jawaban lain selain mengungkap faktanya. "Vaden pergi," ujarnya singkat dan gugup menunggu sahutan Fara.
"Vaden apa? Pergi? Vaden pergi? Pergi kemana?"
Velyn memejamkan mata dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Ke Australia, ini kata Valerio," jawabnya yang tidak mengikut sertakan alasan yang ia pun tidak percaya jika Vaden kesana ingin betulan nikah, pertanyaannya ialah siapa perempuannya?!
"Haha ... gak mungkin. Jangan bohong kamu. Kamu pasti sembunyiin Vaden."
Dan ia sekarang malah di tuduh. Velyn jadi heran sendiri, memangnya alasan apa yang mendasarinya menyembunyikan Vaden?
"Enggak, Ra. Dia emang beneran pergi. Kamu pasti kaget, tapi bukan kamu aja karena aku juga sama. Aku hampir gak percaya sama apa yang dibilang Valerio, tapi fakta kalau Vaden emang udah gak bisa dihubungi mau gak mau buat aku percaya. Dia juga sempet kirim sms selamat tinggal gitu, gimana gak percaya, kan?' terangnya dengan nada curhat seperti ke teman akrab. Velyn memang ingin berhubungan baik dengan Fara.
"Vaden kirim pesan ke kamu?"
Velyn mengangguk. "Iya."
"Kok aku enggak?"
Benar, kepadanya memberi pesan, tapi belum tentu ke Fara juga. Kalau sudah seperti ini, Velyn jadi menyesali ucapannya sebelumnya. Fara pasti marah lagi.
"Enggak tau, Ra ... Mung--"
Ucapan Velyn terhenti karena bunyi klik di ponselnya disertai dengan layar yang menyala kembali pertanda bahwa Fara sudah memutuskan sambungan sepihak.
Velyn berdecak pelan. Jadi, ini apa lagi? Bisakah ia hidup tenang-tenang saja seperti sebelumnya? Velyn heran, semakin bertambah usianya semakin bertambah pula masalah yang harus ia pecahkan. Tapi, ia juga sadar bahwa semua orang dewasa pasti melalui hal yang sama, ada saja masalah yang harus dilalui, entah itu percintaan atau masalah ekonomi.
Velyn kemudian mencoba untuk menelepon Vaden lagi. Ia menghela nafas lelah ketika jawabannya masih sama seperti tadi, hanya suara operator yang terdengar padahal kan yang ingin didengar sebenarnya ialah suara Vaden.
"Ini orang kemana sih?" gumam Velyn geram. Namun kemudian, sebelah alisnya terangkat dan ia berucap lirih, "Apa dia ganti nomor, ya?"
***
Fara merasa kepala dan hatinya panas bersamaan begitu mendengarkan penuturan dari Velyn. Ia tadi sengaja menyimpan juga nomor Velyn di ponselnya karena entah kenapa ia mempunyai firasat kalau Velyn bisa ditanya-tanyai seputar Vaden nanti.
Dan benar saja, perempuan itu ada gunanya. Tapi masalahnya, jawaban dari Velyn itu membuatnya semakin gelisah, ia dari tadi duduk tak tenang di atas kursi rodanya.
Vaden pergi? Ke Australia? Buat apa? Berapa ia lama di sana? Satu hari atau satu minggu, atau satu bulan? Kenapa juga tidak mengabarinya?
Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti di dalam kepala Fara. Ia hanya tidak bisa berpikir, semuanya terasa buntu, ia juga amat gelisah dan cemas. Satu-satunya orang yang bisa merilekskan dirinya adalah Vaden, orang yang menjadi sebab utama Fara begini ya dia juga yang bisa menyembuhkannya.
Kecemasan Fara yang berlebih ini nyatanya menyita perhatian Farhan yang baru saja hendak pergi ke kantor karena perintah mamanya. Tapi ketika melewati Fara, ia merasa ada yang aneh dengan adik perempuannya itu.
"Fara," panggil Farhan dan Fara langsung melihat ke arahnya. "Kamu kenapa?" tanyanya langsung, ia mengernyit menatap Fara.
"Apa ini karena Velyn?" tebak Farhan, tapi Fara diam saja, tidak membuka mulut sedikitpun. "Memang hal ini buat semua orang terkejut, begitupun kakak. Tapi maaf, kayaknya kakak udah terlanjur suka sama dia, ya walaupun agak kesel juga sebenernya," sambungnya dengan senyum misterius.
Fara berdecak pelan. "Bukan itu, Kak! Aku mikirin Vaden, masa kata Velyn dia pergi ke Aussie? Enggak mungkin, aku gak percaya sama sekali," kukuh Fara.
"Oh bukan tentang Velyn ternyata, ya ... Kalau emang dia pergi kenapa rupanya?" Farhan bersikap enteng, tidak peduli adiknya sudah melempar tatapan tajam padanya.
"Jelas ini masalah buat aku, Kak. Gimanapun aku udah mulai suka sama Vaden, dia baik, perhatian, apa yang aku butuhkan ada di dia!" seru Fara menggebu-gebu, sekarang ia terlihat sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang tadi yang terlihat tenang bagai air di laut lepas.
"Oh ya? Gimana sama Valerio? Bukannya dia yang kamu kejer-kejer dari dulu? Kenapa sekarang malah pindah hati ke Vaden?" Farhan mendekatkan wajahnya pada Fara. "Lagian kamu cuma 'mulai suka' kan? Bukan udah beneran suka apalagi cinta, ya kan?"
Tangan Fara yang saling menggenggam seakin mengerat. "Dia udah punya Velyn, percuma karena aku gak bakal dapet cinta dia. Mau apapun yang aku korbanin tetep aja enggak ada apa-apanya di mata Valerio. Dia peduli sama aku cuma karena aku lumpuh, selain itu enggak ada lagi, Kak."
"Kalau gitu kenapa kamu enggak terapi aja biar kaki kamu sembuh total, kamu bisa jalan kayak orang kebanyakan dan kembali anggun seperti sedia kala. Ya gak?" Farhan terkekeh setelah kalimatnya usai. "Kalau Valerio peduli karena kasihan pas kamu lumpuh, gimana kalau ternyata Valerio masih peduli ketika kamu udah bisa jalan? Enggak ada alasan lain selain dia emang punya rasa khusus ke kamu, kan?"
Fara dengan cepat menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya, matanya bersinar tajam ke arah Farhan. "Diam, Kak! Enggak usah ngomong kayak gitu karena aku udah bertekad cuma punya Vaden."
Farhan mengangguk-angguk dengan tampang mengejek, ia mengulurkan kedua tangannya dan melepaskan kedua tangan Fara dari telinganya dengan pelan. "Cuma punya Vaden kata kamu? Kamu serius? Bukannya dia udah pergi? Ngapain sejauh itu dan gak kabarin kamu pula. Kamu pikir dia bakalan balik ke sini? Mungkin bisa jadi begitu, tapi kemungkinannya kecil. Udah gak usah ngarep besar ke dia, laki-laki yang pergi gitu aja tanpa ngabarin ke perempuan yang lagi dideketinnya itu aneh."
Fara menatap Farhan serius, kakaknya ini memang pandai menghasut. Tapi yang membuat ia jengkel, hasutannya selalu berhasil dan mempan apalagi padanya. Farhan bicara melalui logika, menyakitkan tapi memang mungkin seperti itulah faktanya.
"Masih enggak yakin?" Farhan memiringkan kepalanya dengan senyum mengejek yang terukir di wajahnya. "Sekarang kamu balik ke apa yang menjadi mau kamu dari awal. Yaitu apa? Valerio. Kamu jangan pesimis tentang apapun, deketin aja dan cari perhatiannya terus menerus. Biar aku yang urus tentang Velyn. Kamu paham, kan? Atau kamu emang enggak mau paham karena masih terpaku sama Vaden?"
Farhan berdiri tegak, menunduk menatap adiknya. Ia tersenyum kecut saat tahu apa jawaban Fara hanya dengan melihat raut wajahnya.
"Jadi tetep mau nunggu Vaden? Yauda coba tunggu aja besok, lusa, satu minggu, satu bulan, satu tahun, satu abad sekalian. Coba kamu pikir ulang, siapa sih orang yang sebenernya kamu cinta dari dulu?"
"Ini masalah aku, Kak. Kamu urus diri kamu sendiri aja dulu. Kamu gak perlu urus urusan cinta aku sedangkan urusan cinta kamu sendiri aja belum bener," balas Fara dengan kejam, tapi Farhan tidak marah, ia malah tertawa. "Kamu pikir ini lucu, Kak? Coba kasih tau lagi ke aku udah berapa perempuan yang kamu deketin, kencanin, hasilnya apa? Nihil. Bahkan sebagian dari perempuan-perempuan itu pada ngilang entah kemana gitu aja."
Ekspresi Farhan seketika berubah menjadi datar, sepertinya ucapan Fara tadi langsung telak mengenainya. "Gak perlu bahas itu, mereka aja yang bodoh."
Fara menghembuskan nafas sinis dan tersenyum sama sinisnya. "Nah, yauda mending kamu urusin urusan cinta kamu sendiri, oke? Aku udah besar dan udah tau apa yang harus aku lakuin."
"Tapi faktanya enggak gitu, Fara! Kamu harus diarahin dulu baru tau langkah apa yang tepatnya kamu ambil. Plis ini yang buat Mama selalu khawatir sama kamu. Jangan bilang kamu udah besar, udah dewasa, udah tahu apa yang harus diambil, pada akhirnya kamu yang nangis-nangis karena gagal dan ujung-ujungnya ngerepotin satu keluarga." Farhan berkata dengan cepat dan nada bicara yang cukup tinggi, membuat Fara terdiam seribu bahasa.
Farhan berdecak dan mengusap rambutnya dengan kasar, membuatnya yang tadinya rapi menjadi berantakan kembali. "Gini deh. Kakak kasih kamu sedikit pemikiran, coba pikir dengan logika, buang dulu perasaan yang kamu punya," ujarnya menunjuk hati Fara. "Gini. Kamu gak curiga Vaden yang tiba-tiba deketin kamu padahal dari awal dia deketnya sama Velyn? Kakak masih inget jelas gimana deketnya mereka ketika pesta waktu itu. Terus, semenjak Vaden deket sama kamu, Valerio ngilang dan muncul-muncul taunya udah sama Velyn. Tiba-tiba dia bocorin rahasia Velyn dan setelahnya menghilang gitu aja. Kesimpulan yang ada di benak kamu apa? Coba kasih tau sekarang."
Fara bungkam. Ia mencerna seluruh perkataan Farhan cukup lama. "Artinya ini rencana mereka bertiga?" gumam Fara.
"Enggak. Bukan bertiga, tapi berdua. Cuma Valerio dan Vaden. Velyn enggak ada sangkut pautnya dalam hal ini karena kakak bisa lihat jelas gimana murninya keterkejutan dia pas Vaden beberin rahasianya di depan kita semua," ujar Farhan menolak gagasan Fara. "Dia sengaja beberin karena pengen Velyn hidup tenang. Ya, sesuai sama sifat kamu yang kakak udah kenal banget, kamu pasti agak sering ancem Velyn dengan kecelakaan itu biar dia gak deket sama Valerio, kan?"
Ini adalah hal yang paling dibenci Fara dari seorang sepupu kandung, kadang kala hal yang ia tahu tentang sepupunya yang lain akan membuat sepupunya itu tidak beruntung.
"Nah karena itu dia beberin rahasia itu. Terus, satu lagi, pas dia pergi, enggak ada hubungin kamu, kan? Kamu bilang tadi kamu tau Vaden pergi ke Aussie dari Velyn kan yang berarti Vaden kasih tau Velyn tentang kepergiannya, dan enggak ke kamu," ujar Farhan sampai ke titik final. "Jadi, udah jelas kan semuanya? Vaden enggak murni deketin kamu, itu cuma sandiwara. Sekarang, kakak mau tanya, dua pria yang sesuai banget sama tipe kamu itu cuma Vaden dan Valerio. Vaden udah pergi dan kakak yakin enggak bakal balik. Jadi siapa lagi? Valerioa adalah satu-satunya sekarang ini."
Fara menggaruk lengannya kasar, wajahnya nampak kesal, begitu kesal. "Jadi ini cuma sandiwara? Mereka main-main sama aku?!"
Farhan tersenyum lebar dan mengangguk kuat. "Ya, mereka main-main sama kamu. Nganggep kalau kamu itu gak penting buat mereka."
"Enggak! Enggak boleh gini! Aku harus dapetin Valerio atau Vaden. Kalau emang Vaden udah pergi dan gak bakal kembali, aku bakal ambil Valerio dari Velyn!" seru Fara berapi-api, ia kemudian menatap kakaknya dengan serius. "Aku bakal tetep di kondisi kayak gini, Kak. Untuk awalnya aja karena nanti aku bakalan terapi karena dengan lumpuh begini, aku akan kalah jauh dari Velyn."
Farhan semakin mengangguk kencang. "Ini baru adik kakak. Kamu tenang aja, kakak bakalan bantu kamu. Kamu incar Valerio dan kakak ambil Velyn. Adil, kan? Jadi mereka saling ngejauh dan keinginan kita terpenuhi."
Bibir Farhan berkedut ingin tertawa melihat Fara yang tersenyum senang. Adiknya ini terkadang mudah dimanipulasi. Ya, sebenarnya Farhan sendiri sudah tidak yakin Valerio akan mau peduli lagi pada Fara atau tidak mengingat pria itu sudah tahu semuanya. Tapi Farhan begitu menginginkan Velyn, salah satu cara halusnya ialah Fara mendekati Valerio agar Valerio tidak ada waktu dengan Velyn, dengan begitu ia bisa masuk dan masuk lebih dalam.
Tiba-tiba bibir Farhan tersenyum pedih, namun wajahnya tetap terlihat senang, kombinasi yang aneh.
Maafin kakak, ya, Fara, gumamnya di dalam hati sebelum tertawa kencang.
***