Valerio agak lega melihat raut Velyn yang normal-normal saja seperti biasanya. Tidak ada kesedihan apapun di sana dan itu sudah membuatnya sangat ingin mengelus d**a. Ia pikir Velyn akan sangat stress, dan memikirkan itulah yang membuatnya memutuskan untuk meminta sekretarisnya untuk menunda seluruh pekerjaannya. Ia tidak fokus jika Velyn masih belum normal suasana hatinya.
"Kenapa?" Itu adalah hal pertama yang ditanya oleh Velyn. Terdengar cuek memang, tapi Valerio malah merasa senang mendengarnya.
"Enggak, cuma mau tau keadaan kamu aja. Jadi gimana? Udah mendingan, kan?" tanya Valerio lembut. "Aku yakin mama sama papa kamu juga udah tau, tapi kayaknya biasa-biasa aja ya suasananya."
Velyn melempar tatapan sengit. "Biasa kata kamu? Orang tadi meledak banget kok. Sekarang aja udah agak normal. Tapi tadinya aku jantungan tau," ujar Velyn dengan bibir merengut. "Tapi ... aku mau tanya, rencana ini emang kamu yang bikin sama Vaden, ya?"
Valerio dengan jujur menggeleng. "Aku sebenernya tega aja buat bongkar, tapi kayaknya enggak bisa pas liat kamu udah stress duluan. Ini tuh yang rencanain Vaden, dia minta bantuan aku dan yauda, jadinya gini. Maaf ya kalau kamu kaget."
"Kaget banget lah." Velyn berseru kesal. "Tapi gak papa deh, berkat kalian semuanya udah aman, aku udah lega banget, makasih ya."
Valerio tersenyum lucu, ia hendak membalas perkataan Velyn namun Velyn dengan cepat berkata lebih dulu karena ia merasa dan bisa menebak perkataan selanjutnya yang Valerio lontarkan pasti mengesalkan.
"Oh iya! Aku penasaran apa alasan Vaden ngelakuin ini? Terus kenapa dia tiba-tiba deketin Fara?" tanyanya pelan dengan dahi mengernyit, mencoba menjawab pertanyaannya sendiri walau ujung-ujungnya ia tak menemukan jawaban apapun.
Valerio menghela nafas dan berdecak pelan. "Aku bela-belain dateng ke sini cuma buat bahas Vaden, ya?" ujarnya yang membuat Velyn cengengesan. "Mungkin kamu belum tahu, dan mungkin kamu bakalan kaget denger ini. Tapi sebenarnya Vaden itu udah pergi, Vel. Katanya sih siang, tapi pagi setelah keluar dari rumah Fara itu, dia langsung berangkat ke bandara."
Valeyn menjeda sesaat. "Tunggu, kamu serius?" tanyanya dengan ekspresi tidak percaya.
Valeario mulai menatap Velyn serius dan mengangguk. "Hm. Dia udah enggak ada lagi di sini. Kalau alasan dia gak ngasih tau kamu hal ini, aku enggak tau."
"Kamu bohong. Gak mungkin lah," tawanya menolak percaya. Tapi sayangnya,yang dikatakan Valerio itu memang benar adanya, ia juga tidak balas tertawa melihat Velyn yang tertawa hambar.
"Jadi ... ini serius? Vaden pergi?" Dan Valerio kembali mengangguk pasti.
Tiba-tiba sebuah pesan yang dikirim Vaden tadi muncul dalam kepalanya. Mata Velyn melebar, ia sadar sekarang apa maksud dari Vaden. Kata selamat tinggal alih-alih sampai jumpa ia juga sadar dengan pasti. Untuk sesaat Velyn seolah disedot kuat oleh pikirannya, berpikir tentang Vaden dengan keras, melupakan jika ada seseorang di depannya yang sekarang melihatnya dengan intens.
Velyn tertawa singkat dan memiringkan kepalanya. "Kayaknya Vaden bohong. Fara aja enggak tau kalau dia pergi sedangkan dia lagi pdkt kan sama Fara? Enggak mungkin, Vale," ujarnya menatap Valerio. "Ya, kan? Mungkin dia bohong sama kamu."
"Kenapa kamu kayaknya nolak buat percaya gitu?" Pertanyaan itu membungkam Velyn. "Kalau kamu enggak percaya, coba aja telepon dia, emang diangkat?"
"Hp aku di dalem kamar, tapi emang sih tadi pagi gak di kesambung, tapi gak tau kalau sekarang," ujar Velyn pelan, ia menunduk dan terlihat berpikir. "Tapi kan, enggak mungkin pergi gitu aja, Vale? Ada Fara yang gak mungkin dia tinggalin gitu aja? Lagipula apa alasan Vaden buat pergi gitu aja?"
Wajah Valerio mendatar seketika, tak ada ekspresi apapun yang ditampilkan olehnya. "Vaden enggak tertarik sama Fara, itu faktanya. Jadi, dia gak perlu repot-repot kabari Fara tentang ini."
Mata Velyn semakin membesar, nafasnya tertahan. Entah kenapa ucapan Valerio yang ini mudah ia percaya, ini karena faktanya Vaden masih menanyakan tentang sebuah cinta padanya. Tentu tidak mungkin ia melakukan itu jika sudah menyukai Fara, bukan?
Tapi tunggu, kalau begitu apa alasan Vaden mendekati Fara?
Velyn kembali larut dalam pemikirannya sendiri. Ia masih mengernyit dalam beberapa detik sebelum akhirnya terdiam dengan pandangan kosong.
"Tunggu ...," lirih Velyn mendongak perlahan menatap Valerio. "Jangan bilang Vaden deketin Fara supaya kita ada waktu buat berdua tanpa adanya Fara ngehalangin?" tebaknya dengan pandangan berharap agar Valerio menyanggah pemikirannya. Karena kalau sampai itu terjadi ... mungkin ia akan bertemu dengan penyesalan lain yang akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya setelah penyesalan-penyesalan sebelumnya.
Tapi sepertinya Valerio tidak ingin berbasa-basi, tidak mengucapkan kata-kata pendukung di awal, ia langsung ke poin utama. "Iya. Emang gitu rencananya."
Velyn lemas seketika, punggungnya bersandar pada sofa dengan wajah yang lesu. "Enggak mungkin. Vaden ... aku harus ketemu Vaden sekarang juga!"
"Dia udah pergi. Kenapa kamu gak percaya dan kenapa terkejut banget kayak gitu? Aku sadar kalau hal ini pastinya ngejutin kamu, tapi kayaknya kamu berlebihan," tutur Valerio memicing menatap Velyn yang masih merasa kacau dengan dirinya sendiri.
"Enggak! Gak mungkin!" seru Velyn kemudian. "Valerio. Kamu pikir sebesar apa pengorbanan Vaden buat hubungan kita? Dia sebenernya enggak tertarik ke Fara, tapi bela-belain ndeketin supaya aku sama kamu punya waktu berdua dan hubungan kita bisa kembali, iya kan? Dia bisa lakuin itu padahal dia sebenernya ... dia sebenernya ... punya rasa ke aku." Kalimat terakhir Velyn terdengar pelan. Kemudian perempuan itu mengusap wajahnya kasar. "Dan dia ... dia buat rencana tentang beberin rahasia ini juga karena kebaikan aku sendiri tapi aku malah marah ke dia. Dia ... dia pasti ngelakuin karena dia mau pergi. Iya, kan? Tapi dia pergi kemana? Apa alasannya? Kamu pasti tau kan, Vale."
Melihat Velyn yang frustrasi, yang terlihat panik karena Vaden pergi, membuat Valerio merasa hatinya dicubit oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tidak mungkin Velyn juga mencintai Vaden, ia tidak percaya dua cinta dalam satu hati, tapi reaksi Velyn kenapa sejauh ini?
"Valerio ... kamu pasti tau, kan ...."
Valerio menunduk. "Ke Australia, karena mau nikah," jawab Valerio singkat. "Dia juga enggak bakal balik ke sini. Abis nikah, dia tinggal di sana terus."
Fakta-fakta selanjutnya membuat Velyn semakin sesak nafas. Ia tidak tahu dan tidak mengerti kenapa dirinya bisa sampai seperti ini. Tapi yang jelas, ia merasa sakit hati, ia merasa kehilangan yang besar dan sedih yang luar biasa. Seperti ingin menggapai tapi hal yang ingin digapai sudah tidak ada, begitu jauh dan tidak bisa diraih kembali.
"Nikah? Nikah sama siapa di sana?" tanya Velyn tak ingin percaya ucapan Valerio.
Valerio diam tidak menjawab, ia menatap Velyn lurus-lurus. "Kamu cinta sama Vaden?" tanyanya telak, tidak ingin bertele-tele karena soal perasaan tidak boleh dibuat mengambang.
"E--enggak. Kenapa kamu bisa mikir gitu?" Velyn tampak menetralkan ekspresinya, begitupun postur tubuhnya. "Aku kaget aja Vaden bisa pergi gitu aja. Gimanapun dia udah aku anggap kayak kakak aku sendiri."
"Oh ya?"
Velyn melirik Valerio yang mengangguk-angguk pelan, tiba-tiba ia merasa bersalah. "Vale ... maaf."
"Gak papa, asal yang aku tebak tadi enggak bener," ujar Valerio sembari bangkit berdiri. "Kamu rileksin diri aja dulu, emang gini faktanya. Aku mau balik ke kantor sekarang. See you."
Setelah Valerio pergi yang Velyn pun tak bisa menghentikannya, Velyn mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak rambutnya yang tertata rapi tadinya. Ia kemudian bertopang dagu dan mulai berpikir, meluruskan semua yang terasa berantakan di kepalanya.
"Jadi Vaden udah gak di sini?" gumamnya, ia merasa ada ruang kosong di hatinya sekarang, seperti ditinggalkan oleh pemiliknya. "Kenapa aku ngerasa gini?" Velyn menyentuh dadanya dan memejam pelan, ia menggeleng, tidak mungkin ia menyukai Vaden.
"Jadi akhir-akhir ini Vaden sering sama Fara karena aku, ya? Karena hubungan aku sama Valerio?" Velyn memejamkan matanya erat, ia ingin menangis sekarang saking frustrasinya. "Astaga kenapa jadinya gini??" Ia juga tidak menampik bahwa ia merasa tidak enak mengetahui fakta bahwa Vaden sudah tidak ada di tanah yang sama dengannya, tidak enak yang berasal dari hatinya.
Velyn menghembuskan nafas dari mulut dan membasahi bibirnya dengan lidahnya, ia kemudian bangkit dan cepat-cepat berjalan ke arah kamarnya. Ia mengambil ponselnya dengan super cepat, menekan nomor Vaden dengan kecepatan yang sama.
Velyn berharap-harap cemas selagi menunggu deringan ponsel yang tak berkesudahan. Tapi sepertinya apa yang dikatakan Valerio benar adanya, Vaden sudah pergi.
Sebelah tangan Velyn yang memegang ponsel terkulai lemas di sisi tubuhnya, hasilnya masih sama seperti tadi, tersambungpun tidak.
"Nikah? Nikah sama siapa?" gumam Velyn menjambak pelan rambutnya, ia putus asa dengan perasaannya sekarang.
Inginnya teriak, tapi tidak bisa karena nanti mamanya akan bertanya-tanya apa yang terjadi. Velyn akhirnya hanya diam melesu, kenapa ia merasa kehilangan Vaden pergi? Seperti kehilangan tempat ia bersandar rasanya. Valerio dan Vaden memanglah dua orang yang paling sering berada di sisinya, mereka berdua spesial di hatinya, hanya saja tidak sama. Valerio dan Vaden menempati posisi yang berbeda walau hampir sama pentingnya.
Velyn menarik dalam-dalam nafasnya dan menghembuskannya dari mulut. Ia mengerjapkan matanya berulang kali dan mengangguk. Sekarang, yang sangat membuatnya penasaran ialah dengan siapa Vaden menikah? Atau apa memang sungguhan menikah? Vaden tidak ada cerita apapun tentang pernikahan. Dia juga masih mendeklarasikan cinta pada Velyn, tapi sebenarnya ia sudah punya calon pengantin?
Velyn bertopang dagu. Kalau begitu ada dua jawaban. Cinta Vaden ke Velyn hanya bualan belaka atau pernikahan itu adalah pernikahan terpaksa.
***
Informasi tentang kepergian Vaden sebenarnya hanya diketahui oleh Valerio dan Velyn, sedangkan Fara belum. Tapi perempuan satu itu juga tidak bisa dibohongi begitu saja. Ia curiga kenapa Vaden sedari tadi dihubungi tidak bisa. Mungkin ini masih bisa ditoleransi, tetapi kenapa semua akun media sosial Vaden juga tidak aktif?
Vaden dan Fara memang tidak saling bertukar nomor telepon, tapi mereka sudah saling follow di berbagai akun sosial media. Fara masih ingat dengan jelas kalau Vaden bilang ia adalah orang yang cukup aktif di sosial media, lihat-lihat pebisnis katanya, tapi ini apa? Sudah beberapa jam dan Vaden masih tidak aktif. Aneh.
"Fara ...." Reima datang dan memanggilnya lembut. "Kamu enggak mau terapi, Sayang? Apa lagi yang mau kamu tunggu? Valerio udah jelas sama Velyn, Vaden yang sama kamu, lagipula Mama yakin dia bakalan lebih seneng kalau tau kamu sebenernya masih bisa jalan," ujarnya dengan ceria.
"Mama bukannya malu ya punya anak cacat begini?" balas Fara yang mengejutkan Reima. "Maaf, Ma. Tapi Fara pernah denger kalau Mama sebeneernya suka anak yang sempurna."
"Eh kan kamu emang sempurna, Sayang. Kaki kamu kan sebenernya masih sehat, cuma perlu sedikit terapi aja. Kamu sempurna." Reima menekankan seluruh katanya.
Fara hanya melirik Reima sebelum kembali menatap ponselnya yang tidak ada notifikasi dari Vaden, padahal ia sangat mengharapkannya.
"Yauda. Ini udah siang banget, Mama ada urusan di kantor. Mungkin malam baru pulang." Reima bangkit, mengecup kening Fara dan berlalu pergi dari hadapannya.
Fara tidak menyahut, menoleh pun tidak melihat kepergian Reima. Ia hanya fokus dan fokus ke benda di atas pahanya. Ia mulai curiga, ada sesuatu yang terjadi dengan Vaden, ia yakin itu.
Fara adalah tipe perempuan yang punya kesabaran tingkat dewa, terbukti dari ia yang tak kenal lelah mengejar Valearaio dari mereka SMA. Sekarangpun, di posisi yang sama, hanya waktunya saja yang sudah berbeda karena sekarang sudah menunjukkan pukul sore, Fara masih duduk dengan tatapan tak lepas dari ponselnya.
Fara tersenyum kecil. Sudah bulat keyakinannya jika ada sesuatu yang telah terjadi pada Vaden. Sesaat, Fara bingung harus menghubungi siapa. Sampai dengan berat hati, ia mencoba menghubungi Velyn, mungkin satu perempuan itu tahu di mana keberadaaan Vaden.
Tapi, Velyn tampaknya agak sibuk karena hingga telepon ke4, panggilan Fara tidak di terima juga. Hingga panggilan ke5 barulah telepon itu diterima oleh Velyn.
"Ini Fara. Kamu tau di mana Vaden?"
Fara langsung on point, ia menunggu jawaban Velyn dengan tak sabar sedangkan Velyn menjawab begitu lama, membuatnya geram dan kesal.
"Halo?"
Terdengar helaan nafas dari seberang. "Vaden pergi."
***